Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Di usir.
Jam istirahat menjadi hal yang paling dinantikan Aira. Gadis itu tampak jauh lebih bersemangat, melangkah lebar menuju kantin bersama ketiga sahabatnya.
"Ingat, Aira. Tidak boleh mendekat!" Peringatan Anya bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di kantin langsung membuat bahu Aira merosot lesu. Langkahnya seketika melambat.
"Astaga... boleh tidak sih rencana itu dibatalkan saja? Aku sudah tahu kalau semua itu tidak benar, jadi untuk apa aku menjauhi my mine coba?" keluhnya dengan suara yang nyaris tenggelam.
Ketiga sahabatnya menghela napas kasar. "Begini, Aira. Mau kamu sudah tahu atau belum, itu tetap belum membuktikan apa pun tentang perasaan Leonel padamu. Jadi terima saja. Bukan dua tahun kok, cuma dua bulan!" Nathaniel menarik bahu Aira, merangkulnya paksa masuk ke dalam area kantin.
Saat melewati meja yang biasanya ia tempati bersama Leonel, Aira merasa sedikit lega sekaligus was-was. Syukurlah, Leonel belum terlihat di sana.
"Sepertinya Tuhan tahu rencana kita dan mempermudah jalannya, Aira," kekeh Nathaniel sembari menggiring Aira duduk di antara dirinya dan Denada.
Setelah pesanan datang, mereka mulai makan dalam obrolan ringan yang santai. Namun, ketenangan itu terusik saat Aldaren tiba-tiba muncul di samping meja mereka.
"Oh, Kak Aira sudah pindah tempat duduk?" Pertanyaan itu membuat kunyahan Aira terhenti seketika.
"Biar tidak diganggu hantu saja," jawab Aira singkat, mencoba kembali fokus pada makanannya.
"Oh, jadi dua orang yang kemarin-kemarin itu hantu, ya, Kak? Baguslah kalau Kakak akhirnya sadar. Memang tidak baik kalau bidadari duduk bersisihan dengan hantu, takutnya bidadarinya malah berubah jadi kuntilanak—"
Uhukk! Uhukk!!
Anya tersedak hebat mendengar kalimat frontal Aldaren. "Air... tolong, Nathan! Air!"
"Kak, hati-hati makannya. Banyak lho orang mati karena tersedak. Aku masih heran, mereka itu bakal gentayangan atau langsung ke neraka ya?" lanjut Aldaren tanpa dosa.
"Aldaren!!" bentak Aira, membuat cowok itu akhirnya bungkam.
Aldaren hanya menyeringai, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada seolah meminta maaf. "Maaf, Kak, kalau omonganku yang jujur ini membuat kalian takut. Tapi jangan terlalu dipikirkan, biasanya aku ini malaikat pembawa cahaya. Kalau kalian mengizinkanku duduk di sini, aku jamin kalian bakal panjang umur," ujarnya, lalu langsung duduk tanpa menunggu izin dari siapa pun.
Di tengah makan yang dibarengi ocehan Aldaren, yang beberapa kali nyaris membuat mereka tersedak, kantin mendadak heboh. Teriakan dan bisik-bisik siswa-siswi terdengar riuh, memaksa Aira dan teman-temannya berhenti makan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Hahaha, benar kan kataku! Tidak mungkin mereka pacaran. Leonel itu selama ini tidak terlihat menyukai siapa pun, mana mungkin tiba-tiba pacaran dengan Cleo!"
"Iya, gila. Ternyata cuma sekadar mengantar pulang karena sakit. Tapi salut sih sama Leonel, mau repot-repot mengantar Cleo kemarin, padahal itu cuma pura-pura."
Suasana kantin dipenuhi rasa lega dari para penggemar Leonel, namun tidak bagi cowok di samping Aira.
"Hah, maksudnya kanebo kering itu tidak jadi pacaran? Kok bisa sih?" celetuk Aldaren spontan. Dari semua penghuni kantin yang bersorak karena berita itu tidak benar, sepertinya hanya Aldaren yang tampak tidak suka.
"Maksud kamu apa?" tanya Aira ketus, menatap Aldaren dengan pandangan tidak senang.
"Ya tidak suka sajalah, Kak. Kalau begitu kan hanya akan memberi peluang buat Kak Aira mendekati si kanebo itu lagi," gerutu Aldaren sambil bersedekap. "Padahal apa sih hebatnya dia? Gantengan juga aku, keren aku. Harusnya Kak Aira mengejar aku saja, kan?"
"Mengejar kamu? Kagak mau!" jawab Aira cepat, tanpa keraguan sedikit pun.
"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang mengejarmu, Kak!" putus Aldaren. Ia menyunggingkan senyum lebar sembari mengerlingkan mata kirinya dengan sengaja ke arah Aira.
Aksi sok keren itu seketika membuat tangan Aira gatal. Ia nyaris saja melempar sendok di genggamannya tepat ke arah wajah cowok di depannya itu kalau saja ia tidak ingat sedang berada di tempat umum.
"Aldaren, diam atau aku benar-benar akan membuatmu gentayangan siang ini juga!" ancam Aira dengan nada yang sudah berada di puncak kesabaran.
"Kalau aku mati, memangnya kamu sanggup hidup tanpa calon pacar ini, Kak?" balas Aldaren dengan nada yang sangat percaya diri, seolah-olah kematiannya akan menjadi tragedi terbesar dalam hidup Aira.
Aira mendengus kasar, benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala cowok di depannya ini. "Sanggup banget. Malah mungkin aku bakal buat syukuran tujuh hari tujuh malam karena akhirnya telingaku bisa tenang dari ocehanmu," sahut Aira sinis.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di atas rooftop sekolah, Leonel sedang berkutat dengan laptopnya. Dia tidak sendirian; ada Rizky dan Nando yang siang itu rela melewatkan jam makan demi menemaninya. Di depan mereka, Yura duduk tertunduk sembari mengakui semua kebenaran di balik postingan akun base tersebut.
"Oke, selesai. Lain kali, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika hal seperti ini terjadi lagi," ujar Leonel dengan nada dingin yang menusuk.
Tadi, kemarahannya sempat tersulut saat mendengar pengakuan Yura. Namun, menyadari bahwa gadis di depannya berada di bawah tekanan besar, Leonel memilih untuk menahan diri. Jemarinya bergerak taktis di atas keyboard, menghapus semua postingan sampah yang telah mencoreng namanya dalam hitungan detik.
"Terima kasih, Kak," bisik Yura, suaranya masih bergetar karena terintimidasi oleh aura Leonel.
Leonel tidak menjawab. Dia hanya menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas, lalu berdiri tanpa sepatah kata pun. Nando dan Rizky segera bangkit, menyamakan langkah mereka di belakang Leonel yang berjalan dengan aura yang sangat tidak bersahabat.
"Terus kamu mau ke mana, El? Memberi peringatan pada Cleo? Apa itu perlu?" tanya Rizky dengan raut khawatir. Dia tahu benar kalau Leonel sudah bergerak seperti ini, dampaknya tidak akan main-main.
Leonel tetap bungkam. Namun, arah langkahnya sudah sangat jelas. Dia menuju ke kantin.
Leonel sempat terpaku menatap mejanya sendiri yang kosong melompong. Pandangannya kemudian beralih ke arah meja di mana Aira duduk bersama teman-temannya dan lagi-lagi, bersama anak baru itu. Sial. Tanpa ada yang menyadari, jemari Leonel terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia sempat mencoba duduk di mejanya sendiri, menunggu dalam diam dengan harapan Aira akan datang menghampirinya seperti biasa. Namun, jangankan menghampiri, menoleh pun tidak. Fokus Aira benar-benar tersedot pada adu mulut dengan Aldaren yang terus-menerus menguji kesabarannya.
Mendadak, suasana kantin yang ber-AC itu terasa panas bagi Leonel. Ia akhirnya bangkit berdiri, melangkah mendekat ke meja mereka dengan raut datar yang justru membuat seluruh penghuni kantin menahan napas.
"Bisa geser?" tanyanya dingin. Suaranya rendah, namun matanya terkunci rapat pada Aira yang seketika terdiam di tempatnya.
"Bisa si—"
"Maaf, sudah penuh, Leonel. Kamu bisa cari tempat lain!"
Belum sempat Aira menyelesaikan kalimatnya, Denada sudah memotong dengan cepat. Ia terang-terangan mengusir Leonel dari sana tanpa keraguan sedikit pun.
"Iya, di sini wujud kanebo tidak diperkenankan," sahut Aldaren ikut memanaskan suasana. Ia menyindir dengan nada yang sengaja dibuat santai namun menusuk. "Lihatlah kami semua berekspresi, akan terlihat aneh kalau ada kanebo, atau kalau kata Kak Aira, jenis hantu yang ikut duduk di sini!"Aldaren tersenyum penuh kemenangan saat melihat teman-teman Aira mengangguk setuju dengan ucapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...