"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
..
..
Lampu kristal raksasa di ballroom Hotel Grand Hyatt memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah bintang-bintang jatuh dan terperangkap di langit-langit ruangan itu. Wangi parfum mahal, dentingan gelas sampanye, dan tawa basa-basi para sosialita menciptakan simfoni kemewahan yang palsu.
Di tengah kerumunan, Clarissa berdiri dengan gaun couture berwarna emas yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia adalah ratu malam ini. Senyumnya menyapa setiap kamera, namun matanya terus melirik ke arah pintu masuk, menantikan mangsa yang sudah ia siapkan lubang kuburnya.
"Dia tidak akan berani datang, Clarissa," bisik salah satu rekan modelnya. "Gadis dari rusun itu pasti gemetar hanya dengan melihat daftar tamu malam ini."
Clarissa menyesap sampanyenya, matanya berkilat licik. "Oh, dia akan datang. Liam terlalu sombong untuk membiarkannya bersembunyi. Dan saat dia melangkah masuk, aku akan memastikan semua orang tahu bahwa berlian di tubuhnya tidak bisa menutupi aroma kemiskinan di kulitnya."
Tiba-tiba, gumaman di ruangan itu mereda. Pintu ganda ballroom terbuka lebar.
Langkah kaki yang tegas dan berirama terdengar di atas lantai marmer. Bukan langkah yang ragu atau takut, melainkan langkah seorang penguasa.
Liam Jionel melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, memancarkan aura dominan yang menekan oksigen di sekitarnya. Namun, bukan Liam yang menjadi pusat perhatian. Perhatian semua orang tertuju pada wanita yang lengannya bertaut erat di lengan Liam.
Kalea.
Dia tidak memakai gaun merah menyala atau emas yang berlebihan. Dia mengenakan gaun midnight blue berbahan beludru yang jatuh hingga ke lantai, memberikan kesan misterius sekaligus elegan. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh, membingkai wajah pucatnya yang kini dipoles riasan bold—menekankan pada mata cokelatnya yang tajam dan bibir merah yang menantang.
Tidak ada lagi jejak gadis kantor yang lelah. Yang berdiri di sana adalah seorang dewi yang lahir dari api kesakitan.
"Bernapaslah, Kalea," bisik Liam rendah, hanya bisa didengar oleh gadis di sampingnya. Ia bisa merasakan jemari Kalea yang sedikit menekan lengannya. "Kau adalah pusat gravitasi malam ini. Jangan biarkan mereka melihat celah."
Kalea mendongak sejenak, menatap Liam dengan tatapan dingin yang tidak goyah. "Aku tidak bernapas untuk mereka, Liam. Aku bernapas untuk memastikan Clarissa tidak bisa tidur nyenyak malam ini."
Saat mereka melangkah lebih dalam ke tengah ruangan, para tamu mulai berbisik. Kilatan kamera paparazzi menghujani mereka. Kalea tetap tegak, dagunya terangkat tinggi. Ia tidak tersenyum ramah, ia justru memberikan tatapan tenang yang mengintimidasi—sebuah taktik yang ia pelajari dari Liam.
Clarissa berjalan menghampiri dengan langkah anggun yang dipaksakan. "Liam, akhirnya kau datang. Dan... oh, Kalea. Kau terlihat... sangat berbeda. Gaun itu pasti sangat berat untuk seseorang yang tidak terbiasa memakai sesuatu yang asli, bukan?"
Kalea berhenti tepat di depan Clarissa. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma sandalwood Liam dan parfum mawar Clarissa beradu di udara.
Kalea tersenyum tipis—senyuman yang sangat halus namun mematikan. Ia mengangkat tangan kanannya, membiarkan berlian di jarinya menangkap cahaya lampu kristal tepat di depan mata Clarissa.
"Berlian ini memang berat, Clarissa. Tapi tidak seberat beban untuk terus mempertahankan senyum palsu di depan kamera seperti yang kau lakukan," ucap Kalea dengan suara yang merdu namun tajam. "Tentang gaun ini... yang asli memang selalu terasa nyaman di kulitku. Mungkin karena aku tidak terbiasa memakai 'topeng' seperti orang-orang di ruangan ini."
Wajah Clarissa menegang sesaat. Ia tidak menyangka "gadis peliharaan" ini akan langsung menyerang balik di depan publik.
"Keberanianmu menarik, Kalea," desis Clarissa, suaranya kini merendah penuh ancaman. "Tapi di dunia ini, keberanian tanpa silsilah hanya akan membawamu ke jurang. Kau tahu apa yang dibicarakan orang-orang di pojok sana? Mereka mempertanyakan berapa harga yang Liam bayar untuk mendandani gadis dari gang sempit sepertimu."
Liam hendak menyahut, namun Kalea lebih cepat. Ia melangkah satu tahap lebih dekat ke arah Clarissa, mengabaikan tatapan mata semua orang.
"Jika mereka ingin tahu harganya, suruh mereka bertanya pada Liam," sahut Kalea tenang. "Tapi jika kau ingin tahu bagaimana rasanya tetap berdiri tegak setelah kehilangan segalanya, kau bisa bertanya padaku. Karena saat kau kehilangan gaun emasmu itu, Clarissa, kau tidak akan punya apa-apa lagi. Sedangkan aku? Aku tetaplah api, dengan atau tanpa berlian ini."
Liam yang berdiri di samping Kalea merasakan desiran aneh di dadanya. Ada rasa bangga yang tidak bisa ia jelaskan saat melihat mangsanya berubah menjadi pemangsa yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
"Sudah cukup bicaranya," Liam memotong, tangannya berpindah ke pinggang Kalea, menariknya lebih rapat dalam klaim posesif yang nyata. "Acara utamanya akan dimulai. Mari kita lihat siapa yang akan memberikan donasi paling besar malam ini, Clarissa. Karena di dunia ini, hanya hasil akhir yang dihitung, bukan asal-usul."
Liam membawa Kalea berlalu, meninggalkan Clarissa yang berdiri dengan tangan mengepal hingga kuku-kukunya memutih. Di sudut ruangan, dari kejauhan, Aruna dan Ghea yang bertugas meliput acara itu menatap pemandangan tersebut dengan air mata yang tertahan.
Kalea telah berubah. Dia bukan lagi sahabat mereka yang makan nasi kucing di halte bus. Dia adalah wanita yang sedang menari di atas bara api, dan mereka hanya bisa berdoa agar api itu tidak menghanguskannya sebelum perang ini berakhir.
Kepergian Kalea dan Liam meninggalkan jejak bisik-bisik yang menjalar liar di setiap sudut ruangan, seperti racun yang merayap di bawah lantai marmer. Para sosialita yang memegang gelas sampanye mulai berkerumun, melempar tatapan tajam ke punggung Kalea yang menjauh.
"Kau dengar tadi? Berani sekali dia bicara begitu pada Clarissa," gumam seorang wanita dengan kalung zamrud yang mencolok. "Gadis dari gang sempit? Benar-benar skandal. Liam Jionel pasti sudah kehilangan akal sehatnya. Membawa 'proyek amal' ke acara seperti ini adalah penghinaan bagi kita semua."
"Jangan salah," sahut pria di sampingnya, seorang kolega bisnis yang menatap Kalea dengan ketertarikan yang tidak sehat. "Wanita seperti itu biasanya punya 'daya tarik' yang berbeda di balik pintu tertutup. Liam mungkin hanya sedang bosan dengan wanita aristokrat dan ingin mencicipi sesuatu yang... liar dari jalanan. Kita lihat saja berapa lama dia akan bertahan sebelum Liam membuangnya kembali ke asalnya yang kumuh."
Tawa kecil yang merendahkan meledak di antara mereka, tenggelam oleh dentingan piano yang mendadak terdengar lebih kencang saat acara lelang akan segera dimulai. Di tengah hiruk-pikuk itu, Kalea terus berjalan dengan punggung yang tegak lurus, mengabaikan setiap belati kata-kata yang dilemparkan padanya. Ia tahu, di ruangan ini, ia tidak punya teman. Ia tidak punya pelindung kecuali seorang pria yang telah membelinya.
Namun, saat Liam mempererat cengkeramannya di pinggang Kalea, gadis itu menyadari satu hal pahit: di antara ribuan cahaya lampu kristal yang mewah ini, kegelapan yang paling pekat justru ada di sampingnya, membungkusnya dalam kepemilikan yang mutlak. Perang ini baru saja dimulai, dan Kalea sudah menyiapkan dirinya untuk menjadi abu, asalkan ia bisa menghancurkan dunia palsu ini bersamanya.