Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kontrak Perubahan Nasib
Bapak Trisno tersenyum, menyolok flash disk itu ke laptopnya yang sudah terhubung dengan layar proyektor besar. Gambar logo Siman terpampang jelas di sana. Ruangan itu terasa hening, hanya ada suara ketikan Bapak Trisno saat dia mengamati logo tersebut.
Raut wajah Bapak Trisno, yang semula datar, perlahan berubah. Senyumnya mengembang, matanya membesar karena kagum. Dia mengangguk-angguk kecil, mengamati detail ornamen, gradien warna, hingga tipografi.
“Siman… ini…” Bapak Trisno berdecak kagum, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Ini… di luar dugaan saya! Betul-betul… menggambarkan semuanya. Warna, ornamen, bentuk… ide yang begitu segar, sekaligus merepresentasikan jati diri kopi kita. Bagaimana Anda bisa secepat ini? Dan idenya… orisinalitasnya begitu kuat! Bahkan jauh lebih bagus dari desainer saya yang dulu!”
Pujian itu bagaikan alunan melodi indah di telinga Siman. Hatinya membuncah. Bangga, haru, dan perasaan lega yang tak terkira. Semua kerja kerasnya semalam, ditambah 'bantuan' dari akik, telah membuahkan hasil luar biasa. Rasa lelahnya mendadak sirna, berganti oleh kekuatan baru. Bahkan rasa tidak enak yang Siman rasakan dulu kepada Dina juga seakan sirna.
“Semalam saya cari inspirasi di berbagai tempat, Pak. Ternyata, ide itu bisa datang dari mana saja. Saya mencoba menghubungkannya dengan suasana hati saya yang paling senang,” jawab Siman, tersenyum tulus. Kali ini, ia tak merasa berbohong. Baginya, itu adalah kerja kerasnya, bukan sekadar akik belaka. Kehadiran Murni, semangat dari orang tuanya, hingga pujian dari Pak Hartoko dan Rido. Itu semua adalah bagian dari dirinya. Bagian dari 'Akik Creative Studio' Siman.
Bapak Trisno mematikan proyektor, lalu menatap Siman. Matanya, kini tidak lagi menelisik, melainkan penuh kekaguman. “Saya tidak pernah ragu. Anak muda sepertimu ini… memang punya sesuatu yang luar biasa, Siman. Tidak peduli bagaimana Anda mendapatkan inspirasi, tapi hasilnya jelas menunjukkan Anda punya bakat. Anda punya integritas, Siman. Ini bukan lagi soal menang atau kalah di tender kemarin. Ini soal bagaimana Anda bisa konsisten dan terus berinovasi.”
Hati Siman diliputi kelegaan. Integritas. Kata itu terasa begitu mengena. Dia memang tidak boleh sombong, harus konsisten, tidak boleh putus asa. Itu pelajaran penting yang Siman dapatkan setelah jatuh mental dan Murni menyelamatkannya. Kekalahan kemarin tidak berarti apa-apa.
“Oke, Siman. Saya sudah siapkan kontraknya. Nilai proyeknya… di atas rata-rata yang saya berikan kepada desainer saya sebelumnya, bahkan jauh di atas ekspektasi Anda saya rasa,” kata Bapak Trisno sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen. “Anggap saja ini sebagai bentuk apresiasi saya. Karena… Anda pantas mendapatkan ini, Siman.”
Tangan Siman gemetar saat menerima dokumen itu. Nominalnya. Angka itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Lima puluh juta. Untuk satu proyek! Angka itu bahkan jauh melampaui semua penghasilan Siman selama ini, dari proyek Bang Bimo dan honor bengkel digabungkan!
“Saya harap ini bisa menjadi awal yang baik untuk Akik Creative Studio Anda, Siman,” lanjut Bapak Trisno, tersenyum tulus. “Saya juga akan memperkenalkan Anda kepada rekan-rekan bisnis saya yang lain. Mungkin saja ada peluang lain yang bisa kita garap.”
Siman terpaku. Lima puluh juta. Dan jaringan bisnis? Ini adalah mimpi yang tak pernah terbayangkan akan jadi nyata. Akik biru laut di jarinya tiba-tiba berdenyut kuat, memancarkan kehangatan yang luar biasa, menenangkan semua kekagetan Siman. Itu bukan kebetulan semata. Itu bukan lagi sebuah kebetulan. Ini semua adalah hasil dari konsistensinya untuk terus berinovasi.
Terima kasih, bisik Siman dalam hati, tidak lagi hanya kepada akiknya, melainkan kepada semua orang yang telah mendukungnya, termasuk Bapak Trisno, dan terutama Murni.
Kini ia tahu, Akik Creative Studio-nya akan melangkah jauh. Dia tidak perlu takut pada siapa pun. Tidak perlu peduli dengan cemoohan Dina. Dia adalah Siman, penakluk sejati atas ketakutannya sendiri.
Malam harinya, setelah pulang dari studio, Siman langsung memeluk ibunya di rumah yang tak lagi bocor. Dia menumpahkan nominal uang yang ia dapatkan kepada kedua orang tuanya. Keduanya menangis haru.
“Bu… aku… aku akan membalaskan dendamnya Dina, Bu,” ucap Siman, suaranya sedikit serak karena terlalu gembira, sambil terus memeluk ibunya. Dia mengamati akiknya, berwarna biru laut yang terpancar. “Akan kutunjukkan kepadanya bahwa Siman bukan anak kampung yang bisa dibuang begitu saja. Akan kupindahkan Ibu dan Bapak dari lingkungan ini. Janjiku. Aku tidak akan menganggap remeh diriku sendiri, tidak akan menganggapku adalah ‘sampah’ lagi. Ini adalah awal bagi kita untuk mendapatkan yang terbaik, Bu.”
“Ibu… Ibu sangat bangga padamu, Nak,” bisik Ibu Siman di telinganya. Tangannya mengusap kepala Siman. “Aku harap kamu tidak lupakan Tuhan, dan Murni, ya.”
“Aku nggak akan lupa, Bu.” Siman melepas pelukannya, menatap ibunya dengan tatapan penuh janji. Dia membalaskan perkataannya. Dan dia tidak akan pernah lupakan Murni. Cinta Murni tak terganti.
Pagi-pagi sekali, Siman terbangun, perasaannya diliputi kebahagiaan luar biasa. Ini adalah momen-momen Siman menjadi seseorang. Di hari ini, Akik Creative Studio yang ia jalani di tempat Bapak Hartoko akan benar-benar terisi. Siman melihat ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Pak Kusuma, yang baru ia ingat. Bapak Trisno kemarin malam mengatakan kepadanya akan ada telepon dari Pak Kusuma untuk melihat perjalanannya dalam tender. Itu hal yang biasa.
Ini aneh. Kata Bapak Trisno dia yang menghubunginya. Tapi justru nomor itu dikirim kepadanya.
“Siman, kamu adalah permata yang perlu digosok, Nak.”
“Selamat pagi, Bapak. Saya ingin merekrut Bapak, untuk sebuah pekerjaan penting saya.”
Jantung Siman berdebar. Dia tak dapat memercayainya. Ia menatap ke arah cincinnya. Biru laut, warnanya sama seperti hari Siman menemuinya. Itu indah.
“Mulai hari ini, Akik Creative Studio bukan lagi sekadar studio desain biasa.”
“Saya akan buat Bapak lebih bangga dari ini semua, Murni!”
“Kamu pasti kaget mendengar kabar baikku ini!” Siman bergumam. Ia tak bisa menahan dirinya lagi.
Ia melangkah keluar studio, meninggalkan pesan itu di ponsel. Wajahnya tersenyum tipis. Dina, bersiaplah untuk kaget melihat semua ini, untuk diriku, dan juga... Murni.
“Apa lagi nih? Pagi-pagi sudah heboh begitu!” Suara ceria Murni membelah pagi, menunggunya di depan studio.
“Sini! Masuk dulu! Ada kejutan buat kamu!” Siman tak bisa menahan dirinya untuk berkata apa-apa.
"Haduh, kaget-kaget apa, sih? Cerita itu yang bener dong! Kenapa kamu teriak-teriak? Bapakmu dengar, lho!" Murni terkekeh, menggelengkan kepalanya melihat Siman yang aneh pagi itu. "Cepetan cerita, aku penasaran banget!"
"Kita... kita mau pindah rumah, Mur!" Seruan Siman menggetarkan udara pagi. Wajahnya berseri-seri, nyaris tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang meluap. Bola matanya memancarkan kegembiraan murni yang jarang Murni lihat.
Murni melongo, bakul sayur di tangannya nyaris terjatuh. Matanya mengerjap, mencerna perkataan Siman. Mulutnya sedikit terbuka, tanda tak percaya. Siman ini aneh-aneh saja pagi ini. Semalam memang terlihat lelah, tapi kini? Terlalu heboh.
***