NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 20: Saksi yang Menentukan Nasib

Cahaya pagi yang temaram masuk melalui celah kecil di dinding sel tahanan, membentuk garis-garis cahaya tipis yang jatuh tepat di wajah Alek yang pucat. Dia tidak tidur semalaman. Matanya terbuka, menatap kosong ke langit-langit yang penuh bercak jamur. Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Bagas yang kosong selalu muncul—mata yang tidak bernyawa, darah yang mengalir dari belakang kepala, dan keheningan yang mengerikan setelah tubuh itu jatuh.

Bunyi gembok sel yang dibuka membuat Alek tersentak. Seorang petugas tahanan—pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah datar—membawa nampan berisi nasi putih, semangkuk sayur bening yang hampir tidak ada isinya, dan segelas air putih.

"Sarapan," kata petugas itu sambil menaruh nampan di lantai, mendorongnya masuk melalui celah bawah jeruji.

Alek melirik makanan itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Perutnya kosong, tapi tenggorokannya terasa tersumbat. Dia tidak yakin bisa menelan apapun tanpa muntah.

"Lo nggak makan, lo bakal tambah lemah. Besok sidang pertama. Lo butuh tenaga," kata petugas itu lagi sebelum pergi.

Sidang pertama.

Kata-kata itu bergema di kepala Alek. Besok, dia akan berdiri di depan hakim, di depan keluarga Bagas yang menuntut keadilan, di depan publik yang sudah menghakiminya lewat media sosial. Dan dia... dia harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Atau setidaknya, tidak sepenuhnya bersalah.

Alek mengambil gelas air itu dan meminumnya perlahan. Air dingin itu mengalir di tenggorokannya yang kering, memberikan sedikit kelegaan. Tapi hanya sedikit.

***

**Kantor Polisi Sektor Bandung Timur - Pagi Hari**

Di luar sel tahanan, dunia terus berputar. Di ruang tunggu kantor polisi, dua keluarga duduk di sisi yang berlawanan—masing-masing dengan beban dan kesedihan mereka sendiri.

Di sisi kiri, duduk Ibu Bagas—seorang wanita paruh baya dengan mata sembab dan tangan yang tidak berhenti gemetar. Dia memegang foto Bagas saat wisuda SMP, memeluknya erat di dada sambil terisak pelan. Di sampingnya duduk Ayah Bagas—Pak Sutrisno, seorang pengusaha properti lokal yang dikenal keras dan berpengaruh. Wajahnya merah padam, rahang terkatup rapat, matanya menatap ke arah pintu ruang tahanan dengan tatapan penuh kebencian.

Di sisi kanan, duduk Ibu Alek—wanita yang biasanya tenang dan anggun kini tampak hancur. Rambutnya yang biasanya rapi kini acak-acakan, matanya bengkak karena menangis sepanjang malam. Pendeta Daniel duduk di sebelahnya, tapi tidak menyentuhnya, tidak menghiburnya. Dia duduk dengan tangan terlipat di dada, wajah dingin seperti patung.

Tiba-tiba, Pak Sutrisno berdiri. Dia berjalan dengan langkah berat menuju sisi kanan, berdiri tepat di depan Pendeta Daniel.

"Anak Anda membunuh anak saya," kata Pak Sutrisno dengan suara bergetar antara amarah dan kesedihan yang mendalam. "Anak saya yang baru berusia 17 tahun. Masa depannya hilang. Impiannya hancur. Semuanya... karena tangan anak Anda."

Pendeta Daniel tidak mengangkat wajahnya. Dia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Saya akan pastikan anak Anda membayar dengan hukuman maksimal," lanjut Pak Sutrisno, suaranya kini lebih keras. "Saya punya pengacara terbaik. Saya punya koneksi. Dan saya akan pastikan... dia membusuk di penjara."

"Pak... Pak Sutrisno..." Ibu Alek berdiri dengan gemetar, tangannya terulur seperti memohon. "Saya... saya sebagai ibu... saya mohon maaf. Saya tahu anak saya salah. Tapi... tapi dia tidak bermaksud—"

"TIDAK BERMAKSUD?!" Pak Sutrisno membentak. "Anak saya MATI! Dia tidak akan pernah pulang lagi! Tidak akan pernah saya lihat lagi! Dan Anda bilang tidak bermaksud?!"

Ibu Alek menangis, lututnya hampir lemas. Ibu Bagas yang tadinya duduk kini juga berdiri, menghampiri suaminya, menarik lengannya.

"Sudah... sudah, Pak. Kita biarkan hukum yang bicara," bisik Ibu Bagas dengan suara yang hampir hilang karena tangisan.

Pak Sutrisno menatap Pendeta Daniel sekali lagi dengan tatapan yang penuh luka. "Anda pendeta. Anda seharusnya mengajarkan anak Anda tentang kasih, bukan... bukan membunuh."

Kata-kata itu menghantam Pendeta Daniel seperti pukulan telak. Tapi dia tetap diam. Tidak membela diri. Tidak membela Alek. Hanya... diam.

***

**Ruang Interogasi - Siang Hari**

Dimas duduk di kursi yang sama dengan yang Alek duduki semalam. Tangannya terkepal di atas meja, matanya merah karena kurang tidur. Dia belum pulang ke rumah sejak kejadian itu. Dia tidak bisa. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat Bagas—teman yang pernah dia anggap saudara—tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya.

Inspektur Haryanto duduk di seberangnya, membuka berkas tebal yang penuh dengan catatan dan foto-foto dari TKP.

"Dimas Prasetyo. 18 tahun. Teman dekat korban dan tersangka," kata Inspektur Haryanto sambil membaca. "Kamu ada di pesantren malam itu. Ceritakan apa yang kamu lihat."

Dimas menarik napas dalam. "Gue... gue datang setelah semuanya terjadi. Gue dengar suara ribut dari ruang operator, terus gue naik. Waktu gue sampai di sana... Bagas udah jatuh. Alek ada di sampingnya, penuh darah."

"Kamu lihat mereka bertengkar sebelumnya?"

"Nggak. Gue nggak lihat."

Inspektur Haryanto mengangguk, mencatat. "Tapi kamu kenal mereka berdua dengan baik. Apa ada masalah antara Alexander dan Bagas sebelum kejadian ini?"

Dimas terdiam lama. Ini adalah momen yang menentukan. Dia bisa saja bilang tidak tahu apa-apa. Dia bisa bilang Alek yang mungkin menyerang Bagas karena dendam lama dari geng. Itu akan mempermudah kasus jaksa, mempermudah hukuman untuk Alek.

Tapi...

Dimas ingat saat Alek memutuskan keluar dari geng. Alek yang dipukuli Kevin dan Bagas, tapi tidak membalas. Alek yang bertarung dengan Dimas dan menang, tapi tidak memanfaatkan kemenangannya untuk balas dendam. Alek yang... berubah.

Dan Dimas juga ingat Bagas. Bagas yang obsesi dengan Khansa. Bagas yang selalu bilang "gue akan kasih pelajaran ke Alek." Bagas yang... membawa pisau belati itu kemana-mana sejak tiga bulan lalu.

"Inspektur," kata Dimas akhirnya, suaranya berat. "Bagas... Bagas punya masalah dengan Alek. Dendam lama."

Inspektur Haryanto mengangkat alis. "Jelaskan."

"Alek dulunya anggota geng kita. Venom Crew. Tapi dia keluar... karena dia mau berubah. Bagas... Bagas nggak terima. Dia ngerasa Alek ngkhianatin kita semua."

"Jadi ada motif dari Bagas untuk menyakiti Alexander?"

Dimas mengangguk pelan. "Iya. Dan... Bagas punya pisau. Belati. Dia selalu bawa kemana-mana. Gue pernah tanya kenapa, dia cuma bilang 'buat jaga-jaga'. Tapi gue tau... dia bawa itu buat Alek."

Inspektur Haryanto menatap Dimas tajam. "Kamu yakin dengan kesaksian ini? Karena ini bisa mengubah arah kasus."

Dimas menatap balik dengan tatapan yang lelah tapi tegas. "Gue yakin. Gue kenal Bagas. Dan gue kenal Alek. Kalau ada yang menyerang duluan malam itu... itu Bagas."

***

**Ruang Interogasi Lain - Sore Hari**

Khansa duduk dengan tubuh kecil yang tampak semakin mengecil di kursi interogasi. Cadar hitamnya basah di bagian mata—tanda bahwa dia menangis sejak tadi. Di sampingnya duduk Ustadzah Halimah, seorang pengurus pesantren yang bertindak sebagai wali selama interogasi.

Inspektur Haryanto—yang sudah pindah ruangan setelah selesai dengan Dimas—kini menatap Khansa dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. Dia tahu ini bukan tersangka. Ini adalah korban yang terjebak dalam situasi yang tidak dia inginkan.

"Khansa Azza Nabila. 17 tahun. Santriwati Pesantren Al-Hikmah," kata Inspektur sambil membuka berkas. "Apa hubungan kamu dengan tersangka, Alexander Panjaitan?"

Khansa menjawab dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik. "Kami... teman. Dari kegiatan sosial sekolah dengan pesantren."

"Hanya teman?"

Khansa mengangguk. "Hanya teman."

"Korban, Bagas Pratama, punya foto kamu. Foto tanpa cadar. Apa kamu tahu tentang itu?"

Khansa menggeleng pelan, air matanya kembali mengalir. "Saya... saya tidak tahu. Saya tidak pernah tahu ada yang ambil foto saya seperti itu."

"Alexander bilang dia datang ke pesantren malam itu untuk menghentikan penyebaran foto tersebut. Untuk melindungi kamu. Apa itu benar?"

Khansa terdiam. Tangannya yang terlipat di pangkuan gemetar. "Saya... saya tidak pernah minta dia datang. Saya tidak pernah minta dia melindungi saya. Saya tidak tahu... saya tidak tahu dia akan..."

Suaranya pecah. Dia menundukkan kepala, menangis dalam diam.

Ustadzah Halimah segera menggenggam tangan Khansa. "Inspektur, Khansa adalah korban di sini. Fotonya diambil tanpa seizinnya, mau disebarkan untuk merusak nama baiknya. Dia tidak tahu apapun tentang pertengkaran antara Alexander dan Bagas. Dia bahkan tidak ada di ruang operator saat kejadian."

Inspektur Haryanto mengangguk. "Saya mengerti. Tapi saya perlu tahu... apakah Alexander punya motif kuat untuk melindungi kamu? Apakah ada hubungan lebih dari sekadar teman?"

Khansa mengangkat wajahnya, menatap Inspektur melalui air matanya. "Mas Alexander... dia orang baik. Dia berubah dari yang dulu. Dia... dia mencoba menjadi lebih baik. Tapi saya tidak pernah minta dia berkorban untuk saya. Tidak pernah."

"Tapi dia melakukannya."

"Dan sekarang... sekarang seseorang meninggal. Dan Mas Alexander di penjara. Semuanya... semuanya karena saya." Khansa menangis lebih keras, tubuhnya bergetar. "Saya tidak pernah mau ini terjadi. Saya tidak pernah..."

Ustadzah Halimah memeluk Khansa, mengelus punggungnya dengan lembut. "Sudah, Nak. Sudah. Ini bukan salah kamu."

Tapi di dalam hati Khansa, dia tidak percaya kata-kata itu. Dia merasa... semua ini salahnya.

***

**Ruang Besuk - Sore Hari**

Alek duduk di kursi plastik di ruang besuk, dipisahkan dari pengunjung oleh kaca tebal dan telepon lama yang tergantung di dinding. Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan jas hitam dan kacamata tebal masuk—Pak Hendrik, pengacara senior dari jemaat gereja ayahnya.

"Alexander," sapa Pak Hendrik sambil duduk dan mengangkat telepon. Alek mengangkat telepon di sisinya.

"Pak Hendrik..." suara Alek serak.

"Saya sudah baca berkasmu. Saya sudah dengar kesaksian Dimas. Dan saya punya kabar... ada harapan."

Alek menatap Pak Hendrik dengan tatapan kosong. Harapan? Apa masih ada harapan setelah semua ini?

"Dari kesaksian Dimas, kita bisa membangun pembelaan bahwa ini adalah self-defense. Bagas yang membawa pisau. Bagas yang menyerang duluan. Kamu hanya melawan untuk melindungi nyawamu sendiri."

"Tapi... tapi gue yang bantingin dia. Gue yang bikin dia jatuh dan kepalanya kena rak besi itu," kata Alek dengan suara yang bergetar.

"Dalam hukum, ada yang namanya pembelaan terpaksa. Pasal 49 KUHP. Kalau terbukti kamu dalam ancaman nyawa yang nyata, dan tindakanmu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri, kamu tidak bisa dipidana. Atau setidaknya, hukumannya akan jauh lebih ringan."

"Tapi keluarga Bagas... mereka pasti nggak akan terima."

Pak Hendrik mengangguk. "Mereka tidak akan. Mereka punya pengacara yang kuat juga. Tapi kita akan hadapi di pengadilan. Kita akan buktikan bahwa kamu bukan pembunuh berdarah dingin. Kamu hanya... anak muda yang mencoba melakukan hal yang benar dengan cara yang salah."

Alek terdiam lama. "Pak... apa ayah gue... apa dia percaya gue?"

Pak Hendrik terlihat tidak nyaman. "Ayahmu... dia sedang dalam kesulitan. Sebagai pendeta, dia di bawah tekanan dari jemaatnya. Banyak yang mempertanyakan bagaimana dia mendidik anaknya sendiri."

"Jadi... dia malu sama gue."

Pak Hendrik tidak menjawab. Tapi diamnya sudah jadi jawaban.

***

Satu jam kemudian, Riki datang. Saat Alek melihat sahabatnya itu di balik kaca, dia hampir menangis. Riki terlihat kurus, matanya merah, wajahnya pucat.

"Lex..." suara Riki bergetar lewat telepon.

"Rik..."

Mereka berdua terdiam sejenak, hanya saling menatap melalui kaca yang dingin.

"Dimas udah kasih kesaksian. Dia bilang Bagas yang bawa pisau, Bagas yang punya dendam. Itu... itu bisa nolongin lo, Lex," kata Riki.

Alek mengangguk pelan. "Gue tau. Pengacara gue udah bilang."

"Sekolah... sekolah heboh banget. Media dateng tiap hari. Semua orang ngomongin lo. Ada yang bela lo, ada juga yang... bilang lo pembunuh."

"Gue nggak peduli apa kata mereka."

"Terus... Khansa?" tanya Riki hati-hati.

Alek terdiam. Hanya mendengar nama itu sudah membuat dadanya sesak.

"Dia... dia nggak baik-baik aja, Lex. Maryam bilang dia nggak makan, nggak tidur. Dia ngerasa semua ini salah dia."

Alek mengepalkan tangannya yang bebas. "Gue... gue pengen dia baik-baik aja. Gue nggak mau dia tersiksa gara-gara gue."

"Lo masih mikirin dia? Lo yang sekarang di sini, Lex!"

Alek tersenyum pahit. "Justru karena gue di sini... gue lebih mikirin dia, Rik. Karena gue tau... gue ada di sini karena gue pilih lindungin dia. Dan gue nggak nyesel. Meski gue kehilangan segalanya... gue nggak nyesel."

Riki menatap sahabatnya dengan tatapan yang campuran antara kagum dan sedih. "Lo... lo beneran berubah, Lex."

"Terlambat, tapi iya. Gue berubah."

***

**Pesantren Al-Hikmah - Malam Hari**

Khansa duduk sendirian di kamarnya yang gelap. Maryam sudah tidur di kasur sebelahnya, tapi Khansa tidak bisa tidur. Dia duduk di sajadah, Al-Quran terbuka di pangkuannya. Tangannya gemetar saat membalik halaman, mencari penghiburan dalam ayat-ayat suci.

Dia berhenti di Surah Yusuf, ayat 87:

*"...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir."*

Khansa membaca ayat itu berulang-ulang. Bibir bergetar mengikuti huruf Arab yang sudah dia hafal di luar kepala. Tapi kali ini, kata-kata itu tidak memberikan ketenangan seperti biasanya.

"Ya Allah," bisiknya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Hamba tidak mengerti hikmah di balik semua ini. Kenapa harus ada yang meninggal? Kenapa Mas Alexander harus di penjara? Kenapa... kenapa hamba yang jadi sebab dari semua ini?"

Air matanya jatuh ke halaman Al-Quran, meninggalkan bercak basah di kertas tipis itu.

"Ya Allah, berilah kekuatan kepada Mas Alexander. Berilah dia keadilan. Dan ampuni hamba... yang telah menjadi sebab dari penderitaan banyak orang."

Dia sujud panjang di atas sajadah, menangis dalam diamnya yang pahit.

***

**Sel Tahanan - Tengah Malam**

Alek berbaring di kasur tipis, menatang jeruji besi yang memisahkan dia dari dunia luar. Besok, sidang pertama akan dimulai. Besok, nasibnya akan mulai ditentukan.

Dia tidak takut. Atau setidaknya, dia mencoba untuk tidak takut.

Dia mengangkat tangannya yang penuh luka, menatapnya di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah kecil. Tangan yang pernah memukul orang tanpa alasan. Tangan yang pernah memegang pisau untuk tawuran. Tangan yang pernah penuh darah karena kekerasan.

Dan sekarang... tangan yang membawa dia ke sini.

"Apa gue salah?" bisiknya pada diri sendiri. "Apa gue salah lindungin dia?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang berhembus pelan.

Tapi kemudian, dia ingat wajah Khansa. Senyum di balik cadar. Mata yang teduh. Suara yang lembut.

"Nggak," gumamnya dengan lebih yakin. "Gue nggak salah. Gue melakukan yang benar. Meski harganya... harganya gue kehilangan segalanya."

Dia menutup mata, mencoba tidur. Besok adalah hari yang panjang. Besok adalah hari di mana kebenaran akan diuji.

Dan entah bagaimana, di tengah kegelapan sel tahanan itu, Alek merasakan sesuatu yang aneh.

Ketenangan.

Bukan ketenangan yang palsu. Tapi ketenangan dari seseorang yang tahu... dia sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa.

***

**Bersambung ke Bab 21...**

*"Keadilan tidak selalu datang dengan cepat. Tapi bagi mereka yang tulus, keadilan pasti akan datang. Meski harus melalui jalan yang panjang dan penuh duri."*

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!