Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Pahlawan Berdarah di Gerbang Depan
Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat hambar bagi Erian. Di hadapannya, Nadya tampak asyik mengobrol dengan Stefani seolah-olah wanita itu adalah adik kandungnya sendiri. Erian hanya bisa menunduk, menelan nasi goreng yang terasa seperti pasir di tenggorokannya.
"Mas, jangan lupa ya. Hari ini kamu harus ke kantor cabang bareng Marlon untuk cek proyek baru," ujar Nadya memecah keheningan.
"Iya, Nad. Aku ingat," sahut Erian pendek. Ia melirik Stefani yang sedang tersenyum penuh kemenangan di balik cangkir tehnya.
Beberapa saat setelah Erian berangkat, Nadya baru menyadari kalau bahan masakan untuk makan malam nanti sudah habis. Karena hanya tinggal berdua dengan Erian tanpa asisten rumah tangga, Nadya biasanya selalu rapi dalam urusan belanja. Namun kali ini, ia benar-benar lupa. Malas mengeluarkan mobil ke mal, Nadya memutuskan untuk berjalan kaki ke gerbang depan kompleks perumahan elit mereka demi mencari tukang sayur yang lewat.
Kompleks itu tampak sepi dan tenang, sampai sebuah motor butut dengan dua orang pria mencurigakan melintas pelan di belakang Nadya.
SRET!
"AAAKHHH!" Nadya berteriak histeris saat tas bermerek yang tersampir di bahunya ditarik paksa hingga ia tersungkur di aspal.
"JAMBRET! TOLONG!" teriak Nadya, suaranya menggema di jalanan kompleks yang sunyi.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan suara decitan ban yang tajam. Seorang pria bertubuh gagah dan tampan keluar dengan gerakan cepat. Dia adalah Marlon, rekan kerja Erian.
Tanpa ba-bi-bu, Marlon langsung mengejar si jambret. Terjadi baku hantam yang cukup brutal di pinggir jalan. Si jambret yang sebenarnya adalah orang bayaran Marlon berakting sangat totalitas. Ia melayangkan pukulan keras tepat ke arah wajah Marlon.
BUGH!
Bibir Marlon pecah, darah segar mulai mengalir di sudut mulutnya. Namun, Marlon berhasil merebut tas Nadya kembali sebelum akhirnya si jambret itu melarikan diri dengan sangat cepat.
"Marlon! Ya Tuhan, kamu nggak apa-apa?" Nadya berlari mendekat dengan wajah pucat pasi.
Marlon terengah-engah, tangannya memegang tas Nadya sambil meringis menahan sakit. "Ini tas Anda, Mbak Nadya. Maaf, saya tidak bisa menangkap pelakunya."
"Sudahlah, Marlon! Nggak usah dikejar lagi. Yang penting tasnya sudah aman," ujar Nadya dengan nada khawatir yang luar biasa. "Tapi lihat itu... bibirmu sampai berdarah begitu. Ayo, kita ke dalam dulu. Aku obati."
Di teras rumah, Nadya dengan telaten membersihkan luka di bibir Marlon dengan kapas dan antiseptik. Posisi mereka sangat dekat. Marlon menatap wajah Nadya yang penuh kecemasan dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan penuh obsesi yang tersembunyi dengan rapi.
"Akhirnya... aku punya alasan untuk lebih sering berada di dekatmu, Nadya," batin Marlon sambil tersenyum tipis, meski bibirnya terasa perih.
Sementara itu, di dalam rumah, Stefani menyaksikan adegan mesra di teras itu dari balik gorden jendela. Ia tidak marah, justru matanya berkilat senang. Ia merasa telah menemukan sekutu yang sempurna untuk menghancurkan rumah tangga Nadya dan Erian.
"Ayo masuk, Marlon. Di luar panas, nggak enak kalau tetangga lihat kita di teras seperti ini," ajak Nadya sambil membimbing Marlon masuk ke dalam ruang tamu yang sejuk.
Marlon hanya menurut, langkahnya sengaja dibuat agak goyah supaya Nadya terus memegangi lengannya. Begitu duduk di sofa beludru yang empuk, Nadya segera mengambil kotak P3K. Ia duduk tepat di samping Marlon, sangat dekat hingga lutut mereka bersentuhan.
"Tahan sebentar ya, mungkin ini agak perih," bisik Nadya.
Nadya mulai membasahi kapas dengan cairan antiseptik. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Nadya begitu fokus pada luka di sudut bibir Marlon, hingga ia tidak menyadari napas hangat Marlon yang menerpa kulit wajahnya.
Tangan Nadya yang lembut mulai menyentuh bibir Marlon. Dengan perlahan dan penuh perasaan, ia menekan kapas itu ke luka yang masih basah. Setiap kali Nadya menyentuh bibirnya, Marlon memejamkan mata, seolah sedang meresapi setiap inci sentuhan wanita yang selama ini menjadi obsesinya.
"Sshhh..." Marlon meringis pelan, sengaja untuk memancing perhatian lebih.
"Aduh, maaf... perih banget ya?" Nadya panik, jemarinya secara refleks mengusap pinggiran bibir Marlon untuk menenangkan rasa sakitnya.
Sentuhan itu berlangsung cukup lama. Nadya terus mengusap bibir Marlon dengan ibu jarinya, sementara matanya menatap lekat ke arah bibir pria itu untuk memastikan luka itu bersih. Di posisi ini, jarak bibir mereka sangat teramat dekat. Hembusan napas Marlon terasa begitu nyata di bibir Nadya.
Marlon bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia menatap bibir Nadya yang ranum, seolah ingin segera menerjangnya. Namun, ia harus tetap pada aktingnya sebagai pria budiman.
"Mbak Nadya..." gumam Marlon pelan, suaranya sengaja dibuat serak.
Nadya tersentak, baru menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini. Ia menatap mata Marlon yang dalam, seolah sedang menghipnotisnya. Untuk beberapa detik, Nadya membeku, tangannya masih tertahan di bibir Marlon.
"Ekhem."
Suara dehaman pelan dari arah tangga membuat Nadya terlonjak kaget dan segera menarik tangannya. Ia menoleh dan melihat Stefani berdiri di sana, menatap mereka dengan dahi berkerut dan tatapan penuh tanya.
"Oh, Stefani... ini, Marlon, rekan kerja Mas Erian. Tadi aku dijambret di depan kompleks, dan Marlon yang menolongku sampai bibirnya luka begini," jelas Nadya dengan nada gugup, mencoba menutupi kegalauannya.
Marlon bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatap Stefani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebagai pria yang licik, Marlon langsung bisa menangkap aura yang sama dari wanita ini.
"Marlon," ujarnya singkat sambil mengulurkan tangan.
"Stefani. Aku asisten sekaligus sahabat Mbak Nadya," sahut Stefani sambil menyambut uluran tangan Marlon.
Saat tangan mereka bersentuhan, ada tatapan mata yang tajam antara keduanya. Stefani memperhatikan luka di bibir Marlon, lalu beralih ke wajah Nadya yang masih kemerahan. Di dalam otaknya yang cerdik, Stefani mulai berpikir: Pria ini tidak mungkin kebetulan ada di sini. Dan cara dia menatap Nadya... dia bukan sekadar teman.
Marlon pun membatin hal yang sama: Wanita ini asisten rumah tangga? Tidak, gayanya terlalu berani. Dia punya rahasia, dan sepertinya dia bisa jadi kunci untuk rencanaku.
Setelah mengobati luka Marlon, Nadya tampak masih sedikit gemetar. "Tunggu sebentar ya, Marlon, Stef. Aku ambilkan minum dingin dulu ke atas, tadi aku taruh botol minum baru di kamar karena dispenser di bawah habis. Sekalian aku ambilkan kemeja bersih milik Mas Erian untuk kamu, Marlon. Bajumu kotor kena aspal tadi."
Begitu sosok Nadya menghilang di balik tangga, suasana di ruang tamu langsung berubah drastis. Keheningan yang tadi terasa canggung kini berubah menjadi medan magnet yang penuh gairah gelap.
Marlon menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Stefani dengan tatapan menilai. Sementara Stefani, dengan langkah yang disengaja agar pinggulnya bergoyang, mendekati Marlon. Ia tidak duduk di sofa seberang, melainkan langsung duduk di samping Marlon, tepat di posisi Nadya duduk tadi.
"Marlon, ya? Rekan kerja Mas Erian?" tanya Stefani dengan suara yang sengaja dibuat manja dan berbisik.
"Iya. Dan kamu... asisten yang terlalu cantik untuk hanya sekadar mengurus butik," balas Marlon dengan suara berat. Ia tidak mundur, justru menikmati kehadiran wanita yang jelas-jelas sedang memancingnya ini.
Stefani tertawa kecil. Ia memajukan tubuhnya, sengaja membusungkan dadanya ke arah Marlon. Di balik daster sutra tipis yang ia kenakan, lekukan dadanya yang bulat dan kenyal terlihat begitu jelas, seolah sengaja dipamerkan untuk menguji iman pria di depannya.
"Kamu berani sekali ya, sampai berdarah begini demi menolong Mbak Nadya," ujar Stefani sambil mengangkat tangannya. Jemarinya yang lentik menyentuh sudut bibir Marlon yang terluka. "Kasihan... pasti perih banget."
Stefani tidak berhenti di situ. Ia menarik wajah Marlon agar lebih dekat ke wajahnya. Jarak mereka kini bahkan lebih dekat daripada saat Nadya mengobatinya tadi. Nafas Stefani yang beraroma vanila menyapu wajah Marlon. Perlahan, Stefani memajukan bibirnya yang merah merekah, nyaris menempel pada bibir Marlon.
Marlon bisa merasakan sensasi panas dari tubuh Stefani, tapi otaknya tetap bekerja tajam. Ia melihat Stefani sebagai wanita yang berbahaya sekaligus bisa dimanfaatkan.
"Boleh aku minta nomor kontakmu? Siapa tahu... aku butuh asisten sepertimu suatu saat nanti," ujar Marlon pelan, matanya menatap tepat ke mata Stefani, lalu turun ke dadanya yang membusung.
Stefani tersenyum nakal. Ia mengambil ponsel Marlon yang tergeletak di meja, mengetikkan nomornya di sana dengan gerakan genit. "Ini. Jangan lupa hubungi aku kalau kamu sedang... kesepian di kantor."
Stefani kembali mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. Ia seolah ingin melahap Marlon saat itu juga, tidak tahu bahwa pria yang ia goda ini sebenarnya adalah otak di balik drama penjambretan tadi. Bagi Stefani, Marlon hanyalah pria gagah lainnya yang mungkin bisa ia jadikan mangsa baru selain Erian.
Tepat saat bibir Stefani hampir benar-benar mendarat di bibir Marlon, suara langkah kaki Nadya terdengar dari atas. Dengan gerakan secepat kilat, Stefani mundur dan kembali duduk dengan posisi sopan, sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Marlon pun kembali ke ekspresi datarnya, menyimpan ponselnya ke dalam saku tepat saat Nadya muncul membawa botol minum dan sebuah kemeja bersih.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭