Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Malam itu rumah terasa sunyi meski lampu-lampu di ruang tengah masih menyala. Aaliyah sudah tertidur dengan nafas teratur, sementara pipinya masih meninggalkan sedikit jejak basah. Mommy Amira duduk di tepi ranjang selama beberapa menit setelah memastikan putrinya benar-benar lelap. Jari-jarinya membelai rambut Aaliyah dengan perlahan, seolah takut membangunkan gadis itu.
Dalam diam, tatapan Mommy Amira menjadi keras. Tenang di permukaan, tapi badai besar sedang menggulung di dada seorang ibu yang terluka. Ia menatap putrinya seolah sudah berjanji pada dirinya sendiri—bahwa ia akan melakukan apa pun, mengorbankan apa pun, untuk memastikan kejadian itu tidak akan menghancurkan
Aaliyah lebih jauh.
Setelah mencium kening putrinya, Mommy Amira bangkit perlahan, berjalan keluar kamar, dan menutup pintu dengan sangat hati-hati.
Begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah.
Senyuman lembut menghilang. Berganti tatapan gelap penuh tekad.
Di ruang keluarga, hanya lampu meja yang menyala. Mommy Amira mengambil ponsel dari tasnya, membuka daftar kontak, dan berhenti pada satu nama:
Hendrick Millers
Sahabat mendiang suaminya. Lelaki berusia awal lima puluhan. Dulu bekerja sebagai analis intelijen swasta—seorang pria yang bisa mencari keberadaan seseorang hanya dengan secuil informasi.
Dulu pekerjaan itu ditinggalkannya, tapi kemampuan tidak pernah benar-benar hilang.
Dan malam ini…
Mommy Amira membutuhkannya.
Ia menekan tombol call. Suara dering bergetar beberapa kali sebelum tersambung.
[Amira? Sudah lama sekali kau tidak menghubungi ku, ada apa sampai Nyonya Edward Jhonson menghubungi ku malam – malam begini ?] suara laki-laki itu terdengar berat tapi ramah.
Tapi Mommy Amira tidak sedang dalam mood bercanda.
“Aku butuh bantuanmu,” ujar Mommy Amira langsung.
Hening sejenak, kemudian Mr. Hendrick bertanya,
[Bantuan seperti apa?]
Mommy Amira menghela napas, tapi suaranya tetap tegas. “Bantuan yang hanya kau yang bisa lakukan.”
[Berikan alamatmu. Aku akan datang esok, pagi – pagi sekali.]
Beberapa detik kemudian, percakapan terputus.
Mommy Amira meletakkan ponselnya dan memijat pelipis. Ia menatap foto keluarga mereka yang terpajang di atas meja. Sesekali ia merasa dadanya sesak melihat kenyataan bahwa gadis kecilnya kini mengandung hasil dari malam yang kelam—malam yang bahkan tak bisa diucapkan oleh Aaliyah tanpa gemetar.
Ia tidak bisa hanya tinggal diam.
Tidak bisa menunggu.
Tidak bisa mempercayakan semua pada waktu.
Lelaki itu harus ditemukan.
Bagaimanapun caranya.
-----
Ke esok Hari...
Pukul 06.15 waktu London Hendrick tiba di kediaman Edward Johnson. Rumah mewah yang di bangun dari hasil kerja keras sang sahabat untuk anak dan istrinya.
Hendrick turun dengan mantel tebal dan langkah cepat. Mom Amira membukakan pintu sebelum ia sempat memencat ball.
“Masuk,” ucap Mommy Amira.
“Ada apa? Kau terlihat sangat tertekan dan cemas,” ujar Hendrick sambil melepas sarung tangannya.
Mommy Amira menatapnya, ada gemuruh yang ditahan di balik pandangan itu. “Ini soal Aaliyah.”
Hendrick mengangguk. “Apa dia baik-baik
saja?”
Mommy Amira menelan ludah, lalu menggeleng.
Hendrick menunggu. Ia tidak pernah memaksa cerita. Ia tahu, dari dulu, Amira adalah wanita yang selalu butuh beberapa detik untuk mengumpulkan keberanian sebelum mengungkap sesuatu yang berat.
“Aaliyah… hamil,” ucap Mommy Amira akhirnya, suaranya pecah pada kata terakhir.
Hendrick terdiam sesaat. Wajahnya berubah serius. “Aku mengerti kenapa kau terlihat sangat kacau. Tapi… siapa ayahnya?”
Mommy Amira menghela napas panjang.
“Itu masalahnya. Aaliyah tidak bercerita dengan detail pada ku.…” Mommy Amira memejamkan mata, “ Tapi anak itu bukan hasil dari kenakalan putri ku dengan kekasihnya.... melainkan..”
Hendrick mengangkat wajah, menatapnya hati-hati. “Amira… kau sedang mengatakan kalau—”
“Ya.” Mommy Amira menahan suara gemetar. “Anak itu hasil pemerk*sa*n. Hasil dari kejadian yang tidak pernah Aaliyah inginkan.”
Hendrick mengepalkan tangan di pangkuannya. “Siapa laki-lakinya? Kau tahu namanya?”
“Entah, aku tak tahu, Aaliyah tak memberitahu nama bajing*n itu,” jawab Mommy Amira. “Kejadian terjadi satu bulan yang lalu. Ketika Aaliyah datang ke acara salah satu klien-nya di sebuah hotel di kawasan Mayfair. Aal hanya bercerita itu saja pada ku, Hen. Ia tak menyebut nama b*jingan itu. “
Hendrick mengangguk perlahan. “Kau ingin aku mencari dia ? “
“Ya... Tapi.. Apa kau bisa mencari seseorang tanpa tahu siapa nama orang tersebut ? “ tanya Mommy Amira. “ Kalo kau bisa aku ingin tahu siapa dia dan dimana pria itu tinggal. “
Wajah Mommy Amira mengeras. Kedua tangannya menggenggam erat.
“Aku ingin tahu segalanya tentang lelaki itu.”
Hendrick menatapnya lama. “Ini akan sedikit sulit, untuk ku mencari tahu tentang pria itu. Tapi kau tak perlu khawatir. Seorang Hendrik Millers akan mudah mendapat infomasi orang tersebut. “
“Ini yang aku suka dari mu, Hen. Dan tak perlu di ragukan lagi ” jawab Mommy Amira.
Hendrick mengangguk tegas. “Baik, lah akan ku usahi mencari pria itu sampai dapat. "
“Aku ingin kau lakukan ini tanpa Aaliyah tahu,” tegas Mommy Amira. “Aku tidak ingin membuatnya stres. Kondisinya kembali rapuh. Dia bahkan baru bisa tidur setelah menangis seharian kemarin.”
Hendrick mengangguk. “Aku akan lakukan semuanya secara diam-diam.”
Mommy Amira memejamkan mata dalam-dalam, mencoba menahan air mata. “Aku hanya ingin keadilan, Hendrick. Aku ingin tahu siapa dia. Aku ingin tahu apa dia masih bernafas dengan tenang setelah menghancurkan hidup putri ku.”
“Baik lah. Aku ka mulai dari hotel itu,” kata Hendrick. “Kapan Aaliyah menginap di sana?”
Mommy Amira menyebut tanggalnya. Hendrick langsung mengambil ponselnya, mencatat, lalu membuka laptop yang ia bawa dalam tas.
“Hotel biasanya menyimpan rekaman CCTV
selama sebulan jika tidak ada laporan kriminal. Jika kejadian ini sudah lewat dari satu bulan, rekaman mungkin sudah terhapus.”
“Itu artinya kita tidak punya banyak waktu,” ucap Mommy Amira tegang.
Hendrick mengetik cepat. “Aku akan mencoba menghubungi kenalan ku yang bekerja di bagian administrasi keamanan tempat itu. Mudah-mudahan ia masih bekerja disana. "
Mommy Amira memijat pelipisnya. “Hendrick... aku takut. Kalau pria itu sudah kabur ke negara-nya setelah kejadian malam itu. "
“ Apa dia orang Asing ? Bukan pria asli sini, Mir ? ”
" Ya. Dia bukan pria asli Inggris. Yang kemarin Aal ceritakan paku ku, kalo pria itu seperti orang Asia. "
Hendrick mengagungkan kepala tanda mengerti dengan informasi tambahan dari Mommy Amira. Cukup sulit sih, karena pria itu bukan asli warga Inggris malainkan WNA.
Tapi Bagi Hendrick Millers tak ada kata sulit. Semua hal pasti akan Hendrick Millers temukan dengan mudah.
---
Sambil Hendrick bekerja, Mommy Amira berdiri di depan jendela besar ruang kerja. Lampu taman belakang masih memantulkan warna kekuningan, menerangi hujan rintik yang membasahi halaman rumah pagi ini.
Dalam hatinya, rasa marah bercampur rasa takut. Ia ingin memukul lelaki itu, ingin menamparnya, ingin mengajarinya bahwa perempuan bukan barang untuk direnggut sesuka hati.
Tapi di balik semua itu, ia juga takut menghadapi kenyataan paling pahit: Bagaimana jika lelaki itu tidak sekadar brengsek? Bagaimana kalau dia berbahaya?
Mommy Amira menggeleng keras, mengusir ketakutan itu. “Tidak. Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan lelaki itu menyentuh anakku lagi.”
Ia kembali duduk, memperhatikan Hendrick mengetik.
“Bingo…” gumam Hendrick. Senang akhirnya ia mendapatkan rekaman Cctv pada tanggal yang di sebuatkan Mommy Amira tadi, dari kenalannya.
“Ada apa?”
“Aku sudah mendapatkan rekaman tersebut dari kenalan ku yang bekerja di hotel tersebut. "
“Syukur lah" ucap Mommy Amira lega.
“Lihat rekaman ini, Mir. " Hendrick memutar laptop miliknya supaya Mommy Amira bisa melihat rekaman Cctv pada kejadian malam dimana kegadisan Aaliyah di renggut paksa.
“ B*jing*n, Si*lan !! " seru Mommy Amira kesal. Melihat bagaimana Aaliyah di tarik paksa masuk ke dalam sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar oleh pria tersebut.
Suara jeritan dan tangusan Aaliyah yang meminta di lepaskan, membuat wanita berusi empat puluh delapan tahun itu teriris sembilu mendengarnya.
Hendrick menatapnya dengan tatapan heran. Melihat wanita yang biasanya bertutur kata lembut dan sopan. Kali ini sangat begitu berbeda, istri mendiang sahabatnya itu bisa mengumpat juga pada sesorang.
" Aku tak mau tahu, Hen. Aku mau kau temukan pria itu secepatnya. "
Hendrick mengangguk patuh. Tangan lincah mengetik di atas keyboard laptop
miliknya dengan lincah. Sebuat keberuntungan video Cctv itu menangkap wajah Pramana dengan sangat jelas. Membuat Hendrick mudah untuk melacak siapa pria tersebut dengan mudah.
Lima menit kemudian, Hendrick mendapatkan nama dan pekerjaan dari pria itu dengan cepat. Hanya dengan pendeteksi wajah, ia bisa mendapatkan informasi Pramana dengan details.
" Dapat. Aku sudah menemukan informasi pria keparat itu, Mir. " ucap Hendrick sambil tersenyum senang mendapat keberuntungannya.
“Siapa?” Mommy Amira mencondongkan tubuh.
“Pramana Adiyaksa.” ucap Hendrick membaca nama dari pria tersebut.
Mommy Amira membeku. “ Pria yang telah merusak putri ku ? .”
Hendrick mengangguk kepalnya pelan, " Hmm. Dia pria yang telah merusak Gummy rabits ku. "
Gummy Rabbits merupakan nama panggilan kesayangan Aaliyah dari Hendrick dan kedua putrinya. Sewaktu kecil Aaliyah sangat begitu menyukai permen jelly berbentuk Kelinci. Sampai akhirnya Rebecca, anak sulung Handrick memanggil Aaliyah dengan Gummy Rabbits, dan jadi panggilan kesayang keluarga Millers.
Hendirck memperlihatkan laptop miliknya pada Mommy Amira. Supaya wanita itu busa
membaca dengan details infomasi lengkap tentang Pramana. Hanya infomasi tentang data pribadi Pramana saja, tidak sampai sosial media Handrick berikan pada Mommy Amira.
Ia merasa curiga dengan pria bernama Pramana ini. Dari foto - foto yang ia lihat di social media milik Pramana. Pria itu sangat begitu dekat dan mesrah dengan seorang pria yang ada di foto tersebut.
Apa jangan - jangan pria itu Gay ? Tapi kalo Gay, ko bisa merenggut kesucian seorang wanita dengan kejam dan tanpa belas kasihan.
Ini seperti teka - teki yang harus Handrick pecahkan. Ia tidak akan memberitahu dahulu pada Mommy Amira. Takut wanita itu semakin emosi.
Mommy Amira menahan napas.
Nama: Pramana Adiyaksa
Usia: 32
Kewarganegaraan: Indonesia
Alamat tercatat: Kingston Residence, West London
Pekerjaan: Konsultan Finalsial
Nomor telepon: private
Email: unknown
Mommy Amira meremas lututnya dengan kuat. “Dia tinggal.... di komplek yang sama dengan ku ?”
Hendrick menatapnya sambil mengangguk, " Hmm. Ia tinggal di komplek yang sama dengan mu dan hanya terpaut tiga rumah dari rumah mu. "
Mommy Amira semakin menggeram marah mendengar penuturan Hendrick barusan. Ternyata B*jingan itu tinggal di komplek yang sama dengan dirinya dan hanya terpaut tiga rumah dari kediamannya.
" Mir.. menurut ku kau jangan gegabah untuk melabrak pria itu. Lebih baik kau tenangkan Aaliyah terlebih dahulu. Aku takut ketika kau mendatangi pria tersebut, mental Aaliyah takut semakin tergunjang. " Hendrick tahu pasti Amira akan mendatangi kediaman Pramana untuk melabrak pria itu. Maka dari itu Hendrick lebih dulu memberitahu Mommy Amira untuk tidak gegabah melabrak Pramana disaat Aaliyah masih keadaan tidak baik - baik saja.
Biarkan Amira menemani putrinya terlebih dahulu. Sampai Aaliyah aman dan nyaman
baru lah, Mommy Amira bisa melabrak sambil memaki Pramana sepuasnya.
Mommy Amira tak setuju dengan usulan Handrick. “Tidak bisa ! Aku akan menemui B*jing*n kaparat itu.”
Hendrick tersenyum tipis. “Kau masih sama seperti dulu. Keras kepala.”
“Ini soal anakku,” jawab Mommy Amira tanpa ragu. “Tidak ada yang bisa menghentikan aku.”
"Tapi kalo kau seperti ini Aaliyah akan semakin ketakutan, Mir. Lebih baik kau urus Aaliyah saja. Gummy Rabbits ku baik - baik saja. "
Mommy Amira terdiam. Benar juga kalo ia membuat keributan di kediaman Pramana
dan jadi tontonan tetangga, nanti malah Aaliyah tahu kalo sang mencari orang tersebut tanpa sepengetahuannya.
" Kau benar, Hen. Aku akan mengurus Aaliyah dahulu. " ucap Mommy Amira. " Nanti siang adalah pertemuan pertama Aaliyah dengan psikiater. "
“Aku akan mencari tahu lebih lanjut tentang pria itu. Aku pulang dulu takut Aaliyah menemukan ku disini. ” Hendrick berdiri.
Mommy Amira ikut berdiri. “Hendrick… terima kasih.”
Hendrick menatapnya. “Aaliyah seperti darah dagingku sendiri. Aku tidak akan biarkan dia terluka seperti ini.”
Mommy Amira tersenyum tipis, lelah, tapi penuh harapan. “Kau tidak tahu… betapa aku bersyukur masih punya sahabat seperti kau.”
Sebelum pergi, Hendrick mendekat. “Jaga Aaliyah dengan baik, ini masa tersulit Aal. Jangan pernah kau tinggalkan dia seorang diri, Mar."
Mommy Amira mengangguk cepat. “Aku akan selalu berada di samping putri ku. Kalo perlu 24 jam aku akan selalu di sisinya."
Hendrick tersenyum kecil sambil menepuk pundak Mommy Amira pelan. Usai berpamitan Handrick melangkah pergi. Mobilnya melaju menjauh, meninggalkan rumah besar itu dalam hening.
Mommy Amira kembali ke kamar Aaliyah. Ia membuka pintu perlahan. Aaliyah masih tidur dengan posisi meringkuk, satu tangan memeluk guling seolah mencari rasa aman.
Mommy Amira duduk pelan di tepi ranjang, mengusap rambut putrinya.
“Mommy janji, Sayang,” bisiknya. “Mommy akan memberikan pelajaran pada pria kampret itu secepatnya."
Ia mengecup kening Aaliyah, menahan air mata agar tidak jatuh.
Di luar, angin pagi menerpa jendela, membawa dingin London yang menusuk tulang.
Tapi di dalam hati Mommy Amira, hanya ada
satu hal:
Api amarah seorang ibu yang siap membakar dunia demi melindungi anaknya.
Bersambung…