persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Tentang Hari Senin dan Dingin yang Gagal Mencair
Senin pagi adalah musuh alami bagi setiap siswa yang masih ingin memeluk bantal. Di SMA, hari Senin berarti upacara bendera, keringat yang menetes di balik kerah seragam, dan tatapan tajam guru piket yang seolah-olah bisa mendeteksi siapa saja yang belum mengerjakan tugas rumah dari jarak seratus meter. Saya memarkir Si Kumbang tepat di bawah pohon kamboja, tempat yang sekarang sudah sah menjadi wilayah kekuasaan saya.
Saya berjalan melewati koridor dengan gaya yang sangat santai, seolah-olah saya bukan lagi Bumi yang mudah retak hanya karena melihat bayangan motor merah di kejauhan. Di tangan saya ada buku "Seni Mengabaikan Hal-Hal yang Tidak Penting" pemberian Dara. Membacanya di depan umum membuat saya merasa sedikit lebih intelektual, meskipun sebenarnya saya hanya ingin menutupi kegugupan saya.
"Bumi! Tunggu!"
Saya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara yang cempreng namun merdu itu. Kayla berlari kecil menghampiri saya. Wajahnya tampak sedikit kusam, mungkin karena kurang tidur atau karena terlalu banyak menghirup polusi mal semalam.
"Kenapa, Kay? Ada pengumuman perang?" tanya saya sambil terus berjalan.
Kayla menyejajarkan langkahnya. "Kamu kemarin di Braga sama Dara sampai jam berapa?"
"Sampai semua buku di sana merasa bosan kami perhatikan," jawab saya asal.
Kayla merengut. "Bukannya kemarin kamu bilang mau istirahat karena sakit perut? Kok tiba-tiba bisa jalan-jalan ke Braga? Sama Dara lagi."
Saya berhenti berjalan, lalu menatap Kayla dengan tatapan yang paling datar yang bisa saya buat. "Kemarin pagi saya memang sakit perut, Kay. Tapi sorenya perut saya sudah sembuh dan mendadak lapar akan literatur. Kebetulan Dara mengajak saya, jadi ya saya ikut. Memangnya ada undang-undang yang melarang Bumi pergi ke Braga di hari Minggu?"
Kayla terdiam sebentar, mulutnya sedikit terbuka seolah ingin membalas tapi tidak punya kata-kata yang pas. "Ya... tidak ada sih. Cuma aneh saja. Kamu kan biasanya tidak suka tempat ramai."
"Dulu, Kay. Dulu. Sekarang saya sedang mencoba menyukai hal-hal yang baru. Biar hidup saya tidak stagnan seperti layout mading yang itu-itu saja," kata saya, lalu melanjutkan langkah menuju lapangan upacara.
Upacara bendera pagi itu terasa lebih panas dari biasanya. Saya berdiri di barisan belakang, tepat di samping Togar yang sedang sibuk berusaha tidur sambil berdiri. Di barisan seberang, saya melihat Arkan berdiri dengan posisi istirahat di tempat yang sangat sempurna, seolah-olah dia sedang berpose untuk sampul majalah militer.
Setelah upacara selesai, saat semua orang berdesak-desakan menuju kelas untuk mencari air minum, Arkan menghampiri saya dan Kayla.
"Pagi, Bumi. Bagaimana bukunya? Sudah selesai dibaca?" tanya Arkan dengan nada yang entah kenapa terdengar seperti sedang meremehkan.
"Sudah sebagian, Kan. Isinya bagus, tentang bagaimana cara membedakan mana emas dan mana kuningan yang dipoles biar kelihatan seperti emas," jawab saya sambil menatap matanya langsung.
Arkan tersenyum tipis. "Menarik. Oh iya Kay, nanti istirahat kita harus ke ruang Kepsek ya. Beliau mau lihat progres mading kita sebelum dicetak massal."
Kayla mengangguk pelan. "Iya, Kan. Aku ingat kok."
"Bagus. Sampai ketemu di sana ya," Arkan menepuk bahu saya sekali—tepukan yang terasa sangat menyebalkan—lalu pergi.
Saya dan Kayla berjalan masuk ke kelas. Di bangku saya, Dara sudah duduk tenang sambil menulis sesuatu di buku catatannya. Saya duduk di sampingnya tanpa bicara.
"Senin pagi yang berisik," gumam Dara tanpa menoleh.
"Sangat berisik, Dara. Terutama suara-suara yang merasa dirinya paling penting," sahut saya.
Tiba-tiba, Kayla yang sudah duduk di bangku depannya berbalik ke arah kami. "Dara, kamu kemarin kasih buku apa ke Bumi sampai dia jadi ketus begini?"
Dara mengangkat kepalanya, menatap Kayla dengan tatapan dingin yang biasanya sanggup membekukan air dalam gelas. "Saya tidak memberi dia obat ketus, Kayla. Saya cuma memberi dia cermin. Kalau kamu merasa dia ketus, mungkin itu karena kamu sedang melihat pantulan rasa bersalahmu sendiri."
Suasana mendadak jadi sangat dingin. Saya bisa merasakan ketegangan yang mengalir di antara mereka berdua. Kayla tampak tersinggung, wajahnya memerah.
"Aku tidak merasa bersalah! Aku cuma merasa Bumi berubah!" suara Kayla sedikit meninggi.
"Semua orang berubah, Kayla. Bumi juga harus berevolusi agar tidak hancur tertabrak meteorit yang datang tiba-tiba," jawab Dara tenang, lalu kembali fokus pada catatannya.
Kayla berbalik kembali ke depan dengan kasar. Saya bisa melihat bahunya sedikit bergetar. Sejujurnya, ada bagian dari hati saya yang ingin menghibur Kayla, ingin bilang "Jangan dengerin Dara, Kay". Tapi bagian lain yang lebih besar menahan saya. Saya teringat bagaimana rasanya diabaikan di perpustakaan dan di kantin.
Pelajaran pertama adalah Matematika. Pak Danu sibuk menuliskan rumus logaritma di papan tulis. Saya mencoba fokus, tapi pikiran saya melayang. Saya menyadari bahwa kehadiran Dara di hidup saya telah memberikan perspektif baru. Dia adalah antitesis dari Kayla. Jika Kayla adalah matahari yang hangat tapi kadang membakar, Dara adalah bulan yang dingin tapi menenangkan.
Saat istirahat tiba, Kayla langsung pergi bersama Arkan menuju ruang Kepsek. Saya melihat mereka berjalan beriringan di koridor, dan anehnya, rasa sesak di dada saya sudah tidak sehebat minggu lalu. Mungkin dosis "mengabaikan" dari buku Dara mulai bekerja.
"Mau ke kantin?" tanya saya pada Dara.
"Saya bawa bekal. Tapi kamu boleh temani saya makan di taman belakang kalau kamu tidak malu terlihat bersama gadis aneh yang suka astronomi," jawab Dara.
Kami duduk di taman belakang sekolah, tempat yang sepi dan hanya dihuni oleh pohon-pohon tua yang rimbun. Dara membuka kotak bekalnya yang berisi nasi goreng dengan telur mata sapi yang bentuknya sangat simetris.
"Bumi, kamu tahu kenapa Uranus berputar menyamping?" tanya Dara tiba-tiba di sela kunyahannya.
"Tidak tahu. Kenapa?"
"Karena dia pernah ditabrak oleh sesuatu yang sangat besar di masa lalunya. Hal itu mengubah porosnya selamanya. Tapi meski miring, dia tetap sebuah planet. Dia tetap berputar. Dia tetap punya tempat di tata surya."
Saya menatap Dara. "Kamu sedang bicara tentang saya lagi ya?"
"Saya sedang bicara tentang astronomi. Tapi kalau kamu merasa relate, itu bukan salah saya," jawab Dara dengan senyum tipis yang sangat jarang dia perlihatkan. Senyum itu tidak semanis senyum Kayla, tapi terasa sangat jujur.
Sore harinya, saat saya sedang bersiap-siap pulang, saya melihat Kayla berdiri di dekat Si Kumbang. Dia sendirian. Arkan tidak ada di sana.
"Bumi, bisa bicara sebentar? Berdua saja. Tanpa Dara, tanpa Arkan," pinta Kayla. Suaranya terdengar lelah.
Saya menghela napas, lalu melepaskan kembali helm saya. "Bicara apa, Kay?"
"Kamu beneran mau menjauh ya? Apa kamu tidak ingat semua hal yang sudah kita lewati? Cuma gara-gara Arkan, kamu jadi begini?"
"Ini bukan cuma gara-gara Arkan, Kay. Arkan itu cuma katalisator. Dia cuma mempercepat proses yang sebenarnya sudah terjadi. Saya sadar kalau selama ini saya terlalu bergantung pada kamu. Dan itu tidak sehat buat saya," kata saya sejujur mungkin.
"Tapi aku butuh kamu, Bumi! Arkan itu rekan kerja yang hebat, tapi dia bukan kamu. Dia tidak tahu kalau aku takut suara guntur, dia tidak tahu kalau aku tidak suka seledri di bakso..." suara Kayla mulai serak.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang itu ke dia? Kenapa kamu malah pulang bareng dia, rapat bareng dia, dan membiarkan dia mengubah tulisan saya?" tanya saya balik. "Kay, kamu tidak bisa memiliki dua bumi sekaligus. Kamu harus memilih di mana kamu mau berpijak."
Kayla terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak mau milih. Aku mau semuanya tetap seperti dulu."
"Dunia tidak bekerja seperti itu, Kay. Waktu bergerak maju, bukan mundur," kata saya sambil kembali memasang helm. "Pulanglah. Arkan pasti sudah menunggumu di depan."
Saya menyalakan Si Kumbang dan pergi meninggalkan Kayla yang masih berdiri membeku di bawah pohon kamboja. Di spion, saya melihatnya menghapus air matanya. Hati saya perih, sungguh perih. Tapi saya tahu, jika saya berbalik sekarang, saya akan kembali ke orbit yang sama, orbit yang perlahan-lahan akan menghisap massa saya sampai habis.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa terkadang kita harus membiarkan seseorang menangis agar mereka paham bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap perubahan yang mereka buat.
saya yang memacu motor di bawah langit Bandung yang mulai gelap, menyadari bahwa meski poros saya sekarang sedikit miring seperti Uranus, saya masih tetap berputar. Dan itu sudah lebih dari cukup.