NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Kegelisahan Morgan Aston

 "Sial". Clara Aston melempar ponselnya dengan kasar. Terhitung sudah satu minggu sahabatnya tidak ada kabar. Rasa takut membuatnya susah untuk berpikir jernih. Kemarin, ia memberanikan diri untuk datang ke kediaman mewah milik keluarga Moses, namun sang pemilik rumah sepertinya enggan untuk bertemu dengannya. Seorang pengawal muda menemuinya dan mulai mengucapkan kalimat ambigu yang paling dibenci Clara.

"Nona Ervana sedang tidak ingin diganggu. Dalam waktu dekat ia akan menyerahkan surat pengunduran diri kepada perusahaan Aston", Clara bahkan masih berusaha mencerna setiap perkataan sang pengawal sampai ia tidak sadar lawan bicaranya telah meninggalkannya.

"Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan Ervana?" Tubuh Clara tersentak kaget mendengar suara berat itu. Di depan pintu ruangannya, Morgan berdiri angkuh khas seoarang pria terhormat.

"Belum".

"Kenapa bisa? Kau benar-benar tidak becus". Clara menaikkan sebelah alisnya dengan penuh rasa curiga. Dilihat dari sudut manapun, pria di depannya ini seperti terlalu berlebihan. Morgan Aston yang biasanya tenang dan penuh perhitungan kini seperti pria yang kehilangan separuh harga dirinya.

"Kakak begitu mengkhawatirkan Ervana. Kenapa?"

"Tentu saja aku mengkhawatirkannya. Dia salah satu karyawan terbaik perusahaan ini. Bagaimana jika gadis itu membocorkan rahasia perusahaan? Kau benar-benar bodoh!" Baiklah, sebuah keanehan baru mulai muncul. Sejak kapan kakaknya setakut itu? Morgan yang ia kenal adalah pria tanpa rasa takut. Morgan yang ia kenal adalah pria dengan pengendalian diri yang luar biasa. Pria berjas hitam yang berdiri di depan Clara ini seperti sosok asing sekarang.

"Bukankah kalian bersahabat? Kenapa gadis itu tidak mengatakan ke mana ia pergi? Persahabatan seperti apa yang kalian jalin? Benar-benar sangat aneh". Morgan menatap wajah lelah sang adik dengan tajam. Pria bertemperamen buruk itu ingin sekali mengetuk kepala gadis berkacamata di depannya itu. Semakin hari rasanya Clara Aston semakin terlihat bodoh di matanya.

"Kenapa marah-marah? Kau seperti perempuan yang sedang datang bulan. Katakan saja jika kau menyukai Ervana! Gengsimu benar-benar menggelikan". Clara tak peduli dengan tatapan tajam pria di depannya ini. Mereka mengkhawatirkan orang yang sama, namun cara Morgan menunjukkan kekhawatirannya membuat gadis itu tersenyum sinis. Itu semua rasanya terlalu berlebihan untuk seorang Morgan Aston.

"Omong kosongmu benar-benar menggelikan! Jika kau bukan adikku, sudah sejak tadi aku menjambak rambut jelekmu itu. Lagipula, siapa yang memberimu izin untuk mengecat rambutmu? Kau pikir kau cantik dengan rambut coklat begitu? Lebih mirip ekor kuda daripada rambut seorang manusia".

"Hei kenapa pembahasannya melebar ke mana-mana? Ini rambutku dan kau tidak perlu mengatur apapun".

"Katakan sekali lagi jika kau berani padaku". Tatapan itu berubah tajam, membuat tubuh Clara menegang. Pria di depannya ini lebih pantas menjadi malaikat pencabut nyawa.

"A-aku akan mengembalikan ke warna semulanya".

"Hmm". Pria itu menutup pintu ruangan adiknya dengan gerakan kasar, meninggalkan Clara yang hanya bisa protes dalam hati.

"Di mana gadis itu?" Morgan menelungkupkan wajahnya ke atas meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen penting yang belum sempat diperiksanya. Ketidakhadiran Ervana membuat pria itu susah untuk berpikir jernih. Ada perasaan asing yang mulai menyusup pelan sanubarinya. Terlalu asing sampai ia sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya.

"Kurasa ada yang tidak beres dengan keluarga Moses. Bagaimana bisa putri kandung keluarga itu diizinkan untuk bekerja pada perusahaan keluarga lain?" Pria itu mengetatkan rahangnya. Ketidakhadiran Ervana membuat pria itu dilanda kegundahan asing yang begitu rumit.

"Dia bahkan tidak memberi kabar pada Clara. Bukankah mereka sangat akrab? Gadis cengeng itu bahkan bersujud di hadapanku hanya supaya aku memberikan beasiswa pada Ervana. Astaga, kenapa aku baru menyadari satu hal? Ervana lahir dari keluarga Moses, namun ia harus melibatkan Clara dalam urusan pendidikannya. Ini benar-benar sangat aneh! Sebenarnya, apa yang mereka sembunyikan. Arkhhh, itu bukan urusanku". Pria itu menjambak rambutnya dengan frustrasi.

"Kenapa aku begitu gelisah?" Tubuh pria itu menegang, menyadari satu hal yang membuat dadanya bergemuruh hebat.

"Apa karena menyukainya?" Pria itu berbisik pelan, entah pada siapa.

"Maaf Tuan".

"Kau kehilangan sopan santunmu atau bagaimana, Jane?" Morgan menatap nyalang wajah sang sekretaris yang berdiri mematung di hadapannya.

"Aku sudah mengetok pintu berkali-kali, Tuan". wanita berkacamata itu menelan ludahnya dengan kasar, tak siap mendapatkan amarah sang tuan yang kerap bertingkah sesukanya itu.

"Ada apa?"

"Sejam lagi ada pertemuan bersama Tuan Kevin Baskara".

"Apa kau sudah menyediakan berkas-berkasnya?"

"Sudah Tuan". Jane mengangguk mantap. Wanita itu selalu bisa diandalkan.

"Baiklah, kau ikut denganku".

"Tuan, bukankah harusnya Nona Clara yang ikut?" Jane menaikkan sebelah alisnya dengan penuh kebingungan. Pria perfeksionis di depannya ini seperti sosok asing sekarang.

"Kau yakin dengan ucapanmu itu, Jane? Aku belum siap dipermalukan oleh gadis sinting itu. Belum lagi rambutnya yang seperti kuda itu". Jane menutup mulutnya rapat-rapat, terlalu takut salah bicara.

"Kak". Suara nyaris itu membuat Jane nyaris melemparkan beberapa berkas penting di tangannya. Sementara Morgan hanya menatap adiknya dengan tatapan membunuh. Clara Aston menggaruk tengkuknya dengan asal, terlalu bingung berada di situasi secanggung ini.

"Bisakah kau mengetuk pintu dulu? Kau pikir ini rumahmu sehingga kau bebas berteriak sesuka hati? Tunjukkan sedikit saja sikap profesionalmu, Nona Clara".

"Maaf, Kak eh Tuan". Clara meneguk ludahnya dengan kasar, takut sekali melihat sumber uangnya itu marah. Sejak ayahnya meninggal 10 tahun lalu, Morgan Aston adalah laki-laki satu-satunya yang ia miliki, yang selalu melakukan apapun asalkan ia dan ibu mereka bahagia.

"Kau boleh keluar ,Jane".

"Permisi, Tuan". Jane melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, terlalu malas mendengar drama kakak adik yang kerap membuatnya bosan.

"Ada apa?"

"Ini soal, Ervana". Morgan melepaskan pulpen di tangannya dengan gerakan kasar. Nama yang baru saja diucapkan oleh sang adik seperti mantra di telinganya.

"Bagaimana? Informasi apa yang kau dapatkan?" Morgan berusaha sekuat tenaga untuk menekan rasa ingin taunya. Terlalu memalukan jika ia mengkhawatirkan kondisi gadis lain di depan adiknya.

"Pengawal kepercayaan keluarganya baru saja menghubungiku. Pria itu mengatakan jika Ervana dimasukkan ke rumah sakit jiwa di pusat kota".

"Rumah sakit jiwa? Bagaimana bisa?" Morgan berdiri lalu meraup wajahnya dengan kasar.

"Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya bereaksi". Clara menggigit ujung jarinya, itu yang selalu dilakukan ketika ia merasa terancam.

"Jangan menggigit kuku! Bukankah aku sudah memperingatkanmu berulang-ulang?"

"Kak, bagaimana kondisinya? Ervana adalah satu-satunya sahabatku. Aku akan menghabisi keluarga Moses jika terjadi hal buruk pada Ervana".

"Tenanglah! Suaramu membuatku susah berpikir".

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!