NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 11: Topeng Sang Matahari Yang Retak

Setelah percakapan singkat namun penuh makna dengan Valerius di perpustakaan, Rubellite melangkah menyusuri lorong istana yang mulai temaram. Pikirannya masih dipenuhi oleh aroma kayu cendana dari sapu tangan yang ia genggam. Begitu sampai di paviliun, Anna langsung menyambutnya dengan wajah penuh kekhawatiran yang familiar.

"Nona, Anda terlihat sangat lelah," ucap Anna sambil membantunya melepas jubah luar.

Rubellite duduk di tepi ranjangnya yang empuk, matanya menatap kosong ke arah lilin yang menyala. "Anna... Pesta Kebun itu, kapan tepatnya akan dimulai?"

Anna tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut. "Besok siang, Nona. Seluruh bangsawan tinggi akan berkumpul di taman mawar pusat. Apakah Nona merasa gugup?"

Rubellite menggeleng pelan. "Tidak gugup. Aku hanya perlu memastikan kapan aku harus mulai memakai topengku lagi."

KEESOKAN PAGINYA

Cahaya matahari pagi menerobos celah tirai sutra, namun Rubellite sudah berdiri di dekat jendela, menatap taman paviliun yang masih diselimuti embun. Ia merasa tubuhnya jauh lebih baik berkat ramuan Valerius semalam, namun kecemasan tentang "debut" resminya di depan publik tetap ada.

Tok. Tok. Tok.

Seorang pelayan paviliun masuk dengan langkah terburu-buru, membawa sebuah kado besar yang dibungkus kain beludru hitam dengan pita perak yang elegan.

"Nona Rubellite, mohon maaf mengganggu. Sebuah kiriman baru saja tiba dari kediaman Duke Vermilion," ucap pelayan itu sambil membungkuk dalam.

Mata Rubellite sedikit melebar. Ia memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan kado tersebut di atas meja. Begitu pelayan itu pergi, Anna dengan antusias membantu membuka bungkusnya.

"Astaga..." Anna menutup mulutnya karena terkejut.

Di dalam kotak itu, terbaring sebuah gaun yang sangat indah. Warnanya bukan merah terang yang mencolok, melainkan merah delima (Rubellite) yang dalam dan elegan, dengan sulaman benang perak yang membentuk motif halus di bagian pinggang. Warnanya seolah menyerap cahaya di ruangan itu, memberikan kesan misterius namun sangat mewah.

Di atas gaun itu, terselip sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas:

"Pakailah ini. Merah adalah warnamu, dan aku tidak ingin investasiku terlihat biasa saja di depan orang-orang bodoh itu. Aku akan menunggumu di pesta."

— V.V.

Rubellite menyentuh permukaan kain yang lembut itu. Ia tidak menyangka Valerius akan bertindak sejauh ini. Ini bukan sekadar gaun; ini adalah pernyataan perang sekaligus perlindungan. Dengan memakai gaun pemberian Duke Vermilion, ia menunjukkan pada seluruh istana bahwa ia memiliki dukungan dari keluarga paling berpengaruh di kekaisaran.

"Nona, ini benar-benar serasi dengan warna mata Anda," bisik Anna kagum.

Rubellite tersenyum tipis—sebuah senyum yang penuh dengan tekad baru. "Siapkan air mandiku, Anna. Hari ini, aku akan menunjukkan pada mereka siapa Putri Valtia yang sebenarnya."

Di dalam kamar, Anna baru saja selesai menyematkan bros perak kecil di bagian pinggang gaun Rubellite. Rambut hitam legam Rubellite dibiarkan terurai sebagian dengan gelombang halus, sementara sebagian lagi dijepit dengan perhiasan mutlak—sederhana, namun memberikan kesan dewasa yang tak terduga.

"Nona... Anda benar-benar terlihat seperti mawar merah yang mekar di tengah salju," bisik Anna takjub.

Rubellite menatap pantulan dirinya. Mata merahnya yang biasanya terlihat lelah, kini berkilat tajam selaras dengan warna gaun pemberian Valerius. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak permata biru dari Raze di lehernya—satu-satunya warna kontras yang ia miliki.

"Ayo berangkat, Anna. Jangan biarkan para tamu menunggu terlalu lama."

Krieet...

Pintu kamar terbuka. Di luar, Raze sudah berdiri tegak dalam posisi siaga. Begitu mendengar suara pintu, Raze segera berbalik untuk memberikan penghormatan formal. Namun, gerakan Raze terhenti di tengah jalan.

Tangan Raze yang hendak diletakkan di dada justru membeku di udara. Matanya yang tajam melebar, menatap sosok Rubellite dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia kehilangan kata-kata. Nona kecil yang ia temukan bersimbah darah dan penuh luka di paviliun, kini berdiri di hadapannya seperti seorang ratu muda yang agung.

"Raze?" panggil Rubellite pelan karena pengawalnya itu hanya diam mematung.

Raze tersentak, segera menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menutupi rona merah yang tiba-tiba muncul di telinganya. "M-mohon maaf atas kelancangan hamba, Nona. Anda... Anda terlihat sangat luar biasa hari ini."

Namun, saat mata Raze menyisir detail kain gaun tersebut, ia menyadari sesuatu. Tekstur kainnya, sulaman benang peraknya, dan aura kemewahan yang terpancar—itu bukan gaun buatan penjahit istana yang biasa dikirim untuk Rubellite.

"Nona," suara Raze merendah, ada nada protektif yang terselip di sana. "Gaun ini... apakah ini kiriman dari kediaman Duke Vermilion?"

Rubellite mengangguk sambil berjalan melewati Raze. "Valerius mengirimnya pagi ini. Dia bilang ini adalah 'investasi' agar aku tidak terlihat memalukan di depan para bangsawan."

Raze mengepalkan tangannya di hulu pedang. Ada perasaan tidak nyaman yang bergejolak di dadanya—sebuah rasa cemburu yang ia sendiri tidak pahami sebagai ksatria. Harusnya ia merasa senang karena Nona-nya mendapatkan perlindungan dari keluarga Duke, tapi melihat "tanda" Valerius melekat begitu sempurna di tubuh Rubellite, ia merasa gagal memberikan yang terbaik.

"Hamba mengerti," sahut Raze pendek, suaranya terdengar sedikit lebih kaku. Ia segera menyesuaikan langkah di belakang Rubellite, auranya kini berubah menjadi jauh lebih intimidasi. "Kalau begitu, hamba akan memastikan bahwa tidak ada satu pun pasang mata yang berani menatap Anda dengan tidak sopan hari ini. Termasuk... putra Duke itu."

Rubellite melirik Raze dari sudut matanya, menyadari kekakuan pengawalnya. "Kau terlalu tegang, Raze. Tapi aku suka semangatmu."

Udara di taman mawar sore itu terasa begitu pengap, bukan karena panas matahari, melainkan karena ratusan pasang mata yang kini tertuju pada sosok kecil di gerbang taman. Rubellite melangkah masuk dengan tangan yang bertumpu ringan pada lengan Raze. Gaun merah delima pemberian Valerius itu tampak berkilauan, menyerap cahaya sore dan memantulkannya kembali dengan aura yang sangat agung.

"Putri Rubellite Valtia telah tiba," seru petugas protokol.

Keheningan yang mencekam menyelimuti taman. Para bangsawan yang biasanya sibuk berbisik, kini seolah lupa cara berbicara. Mereka menatap Rubellite—gadis yang rumornya hanya "anak buangan"—kini berdiri dengan martabat yang bahkan melampaui standar istana.

"Nona, tetaplah tegak. Hamba ada di sini," bisik Raze dengan suara rendah namun tajam, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan tidak ada yang berani mendekat tanpa izin.

Langkah Rubellite terhenti di depan meja teh utama, di mana Scarlet sedang berkumpul dengan teman-teman bangsawannya. Scarlet yang mengenakan gaun kuning cerah tampak sangat kontras, namun dalam artian yang buruk—ia terlihat pucat dan biasa saja di samping Rubellite yang serba merah dan hitam.

"Rubellite!" Scarlet menghampiri dengan wajah yang sudah memerah karena emosi. "Beraninya kau memakai warna yang begitu mencolok? Dan gaun ini... dari mana kau mencurinya? Tidak mungkin penjahit istana memberikan kain semewah ini untukmu!"

Rubellite hanya menatap Scarlet dengan tenang. Tatapan mata merahnya yang selaras dengan warna gaunnya memberikan kesan intimidasi yang kuat. "Aku tidak perlu mencuri untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi hakku, Kakak. Dan soal gaun ini..."

"Saya yang mengirimkannya, Putri Scarlet."

Suara dingin dan berat itu memecah kerumunan. Valerius De Vermilion melangkah keluar dari kerumunan bangsawan. Ia mengenakan setelan hitam dengan bros merah yang sangat identik dengan warna gaun Rubellite. Valerius berdiri tepat di samping Rubellite, memberikan penghormatan kecil yang terlihat sangat intim di depan publik.

"Apakah Anda baru saja mempertanyakan selera Keluarga Vermilion, Putri Scarlet?" tanya Valerius dengan nada datar yang menusuk.

Wajah Scarlet seketika pucat pasi. Suasana taman yang tadinya panas kini terasa sebeku es. Seluruh tamu kini menyadari satu hal: Rubellite bukan lagi putri yang bisa mereka injak, karena di belakangnya berdiri kekuatan militer paling berpengaruh di kekaisaran.

Prok... Prok... Prok...

Suara tepuk tangan yang ritmis dan tenang memecah ketegangan yang membeku di tengah taman mawar. Semua kepala menoleh ke arah sumber suara. Caspian melangkah maju dengan keanggunan seorang calon penguasa, senyum 'Matahari'-nya kembali terpasang sempurna di wajahnya yang tampan.

"Cukup, cukup. Hari ini kan bukan waktunya untuk bertengkar di bawah sinar matahari yang indah ini," ucap Caspian sambil berdiri di antara Scarlet dan Valerius.

Caspian menatap Valerius dengan binar mata yang seolah penuh persahabatan, namun ada ketegasan di sana. "Maafkan atas perilaku emosional adikku, Tuan Muda Valerius. Scarlet tampaknya terlalu bersemangat menyambut kemunculan perdana Rubellite hingga ia kehilangan kendali atas kata-katanya."

Meskipun Caspian berkata "maaf", nada suaranya terdengar seperti seorang kakak yang sedang menenangkan tamu di rumahnya sendiri—menegaskan bahwa istana ini adalah wilayahnya.

Caspian kemudian beralih menatap Rubellite. Matanya menyapu gaun merah delima itu dengan kilat yang sulit diartikan. "Dan kau, Rubellite... kau benar-benar membuat kejutan besar. Merah Vermilion benar-benar melekat erat padamu hari ini."

Rubellite hanya menunduk sedikit, tetap mempertahankan jarak emosionalnya. "Terima kasih, Pangeran Caspian."

"Scarlet," Caspian menoleh pada kakaknya yang masih gemetar. "Kurasa kau butuh udara segar di sisi lain taman. Pergilah, tenangkan dirimu sebelum Ayahanda datang."

Scarlet menggigit bibirnya, menatap Rubellite dan Valerius dengan dendam yang tak tertutup, namun ia tidak berani membantah Caspian. Ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan aroma parfum mawar yang menyengat.

Caspian kembali menatap Valerius dan Rubellite yang berdiri bersisian. "Nah, sekarang ketegangan sudah mencair. Bagaimana kalau kita menikmati teh bersama? Aku ingin tahu lebih banyak tentang 'investasi' luar biasa yang sedang kau bangun ini, Valerius."

Valerius menyunggingkan senyum miring, ia tidak terlihat terintimidasi sedikit pun oleh kehadiran Caspian. "Tentu, Pangeran. Namun, investasi yang berharga biasanya membutuhkan perhatian khusus. Saya khawatir teh Anda tidak akan cukup untuk membayar waktu yang saya luangkan untuk Nona Rubellite hari ini."

Caspian tertawa kecil mendengar jawaban lancang Valerius di hadapan para bangsawan tadi. Meskipun senyumnya tetap terkembang, tangannya yang tersembunyi di balik jubah emas tampak meremas sarung tangan putihnya hingga kainnya berderit pelan. Ia kemudian memberikan isyarat tenang agar pelayan segera menyiapkan meja bundar di bawah naungan pohon ek yang paling rindang, menjauhkan mereka sedikit dari kerumunan namun tetap menjadi pusat perhatian.

Rubellite duduk di antara mereka berdua. Di sisi kanannya, Caspian—sang Pangeran Matahari yang kehadirannya begitu menyilaukan namun menyimpan bayangan yang dalam. Di sisi kirinya, Valerius—sang Bayangan dari Keluarga Vermilion yang dingin, namun telah menjadi satu-satunya tempat ia berpijak saat dunia mencoba menghancurkannya.

Suara denting cangkir porselen yang beradu dengan piring perak mengisi keheningan yang menyesakkan. Para bangsawan di sekitar tetap menjaga jarak, menatap dengan napas tertahan pada pemandangan langka tersebut.

"Silakan, Rubellite," ucap Caspian sambil menuangkan teh dengan gerakan yang sempurna. "Teh ini dikirim langsung dari wilayah selatan. Rasanya manis, namun memiliki aroma yang tajam. Sangat mirip denganmu hari ini."

Rubellite menerima cangkir itu, namun ia tidak langsung meminumnya. Ia melirik Valerius, yang hanya menatapnya dengan binar mata yang seolah berkata, ‘Jangan biarkan dia mengendalikan langkahmu.’

Caspian kembali menyesap tehnya, lalu menatap botol ramuan ungu yang masih digenggam Rubellite. "Perhatianmu pada adikku sungguh luar biasa, Valerius. Tapi bukankah sedikit... berlebihan?" tanya Caspian, nadanya lembut namun terselip racun. "Orang-orang bisa mengira kau sedang mencoba 'membeli' kesetiaan seorang Putri Valtia sebelum keluarganya sendiri sempat memberikan pelukan hangat."

Valerius menyandarkan punggungnya, membiarkan keheningan menyiksa Caspian sejenak. "Membeli kesetiaan?" Valerius mendengus sinis. "Aku hanya memberikan apa yang seharusnya didapatkan oleh seorang anak di rumahnya sendiri, Pangeran. Jika hal-hal dasar ini dianggap 'berlebihan', bukankah itu artinya standar kemanusiaan di istana ini memang sudah serendah itu?"

Wajah Caspian menegang, otot di pelipisnya berdenyut. "Hubungan darah kami tidak akan bisa kau ganti dengan sebotol ramuan, Valerius."

"Hubungan darah?" Valerius meletakkan cangkirnya dengan dentingan yang terdengar seperti lonceng kematian. Ia mencondongkan tubuh, menatap lurus ke mata biru Caspian. "Lantas di mana kau saat adikmu meringkuk kedinginan di kekaisaran? Di mana 'ikatan darah' itu saat dia harus menjilat sisa air di jambangan bunga karena pelayanmu lebih suka melihatnya mati kehausan?"

Caspian tersentak, tangannya yang memegang cangkir bergetar hebat. "Valerius, kau tidak mengerti... ada protokol di istana ini—"

"Yang aku mengerti adalah fakta bahwa aku, seorang 'orang luar', jauh lebih mengenal setiap parut luka di jiwanya daripada kau yang mengaku sebagai kakak kandungnya!" potong Valerius telak. "Aku adalah orang yang mengirimkan orang-orangku secara rahasia untuk memastikan dia tidak mati dibunuh saat kau sedang sibuk berpesta merayakan kemenanganmu. Apa gunanya darah yang sama jika hatimu bahkan tidak bisa merasakan saat adikmu sedang dihancurkan tepat di bawah hidungmu sendiri?"

Caspian terdiam seribu bahasa. Ia menunduk, menatap pantulan dirinya di air teh yang pecah karena tangannya yang gemetar. Rasa malu dan bersalah menghantamnya begitu hebat.

Rubellite meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi clack yang tegas di atas meja marmer, memutus ketegangan itu.

"Jika kalian berdua sudah selesai memperebutkan siapa yang paling 'berjasa', aku ingin menikmati kue ini dengan tenang," ucap Rubellite datar. Ia menatap mereka bergantian dengan mata merah yang sebeku es. "Aku sudah belajar bahwa di istana ini, rasa manis sering kali hanyalah cara untuk menutupi rasa pahit yang membusuk. Aku lebih suka tehku apa adanya—dingin, jujur, dan tanpa basa-basi keluarga yang palsu."

Caspian tetap membisu, sementara Valerius menyunggingkan senyum kemenangan yang paling tipis. Sore itu, di bawah langit Valtia yang mulai berubah jingga, Pesta Kebun itu bukan lagi acara sosial. Itu adalah deklarasi perang di atas meja teh. Rubellite telah memilih jalannya, dan ia tidak akan lagi menjadi mawar yang hanya bisa diam saat dipetik.

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!