NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: KEJUTAN DARI LARA DAN KULIT NAGA ASURA

Rimba Dipa Johanson berdiri mematung di pertigaan jalan masuk Desa Kenanga. Angin pagi berembus pelan, memainkan ujung kemeja flanelnya yang terbuka. Ia menatap jalanan aspal yang tampak lengang, menantikan bus antarkota yang tak kunjung tampak batang hidungnya. Di tengah keheningan itu, sebuah pemikiran praktis melintas di kepalanya. Ia baru saja menghajar tiga preman dan hendak menuju kota kabupaten untuk membeli ponsel dan memulai bisnisnya, namun ia menyadari satu hal: ia adalah seorang pemuda yang baru saja memiliki akses ke teknologi dimensi yang tak terbatas.

"Kenapa aku harus repot-repot membeli barang di luar jika aku punya 'sumbernya' di dalam?" gumam Rimba.

Sambil melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada penduduk desa yang memperhatikan, ia menggenggam liontin giok di lehernya dengan erat. "Masuk!"

Dalam sekejap mata, realitas di sekitarnya terlipat. Udara panas jalanan berganti dengan kesejukan aromatik rumah besarnya di dimensi independen. Rimba muncul tepat di ruang tengah, di mana Lara sedang duduk santai dan Cesar sedang melingkar malas di lantai.

Lara sedikit terlonjak, matanya yang indah mengerjap karena terkejut. "Lho, kok kamu sudah kembali secepat ini, Rimba?"

Cesar hanya menegakkan kepalanya sebentar, menatap Rimba dengan tatapan yang seolah berkata, "Alah, paling ada yang ketinggalan," sebelum akhirnya kembali merebahkan kepalanya ke lantai marmer dengan suara dengusan kecil.

Rimba tersenyum lebar, langkahnya mantap mendekati Lara. "Aku baru ingat sesuatu, Ra. Kamu pernah bilang, kalau aku butuh sesuatu, aku tinggal bicara sama kamu dan kamu akan menyediakannya selama kamu bisa. Benar kan?"

Lara berdiri, merapikan gaunnya yang anggun. "Ya, selama itu masih dalam jangkauan otoritas asisten dimensi ini. Apa yang kau perlukan?"

"Sebentar, biar aku perlihatkan visualnya agar kau tidak bingung," terang Rimba.

Ia bergegas menuju ruang kontrol. Di depan panel superkomputer Aether, jemari Rimba menari dengan lincah. Sebagai anak IT, ia tahu persis bagaimana memberikan spesifikasi yang sempurna. Pertama, ia meminta Aether mendesain sebuah motor legendaris: Harley Davidson Fat Boy. Namun, ini bukan motor biasa; Rimba meminta desain yang lebih sederhana namun elegan, dengan sentuhan warna hitam matte yang macho dan mesin yang nampak gahar—sebuah kendaraan yang akan membuat siapa pun menoleh saat ia melintas.

Kedua, ia mendesain sebuah smartphone. Karena ponsel lamanya sudah hancur lebur dihajar preman, ia menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia merancang ponsel dengan bodi titanium tipis, layar tanpa batas, dan spesifikasi yang melampaui teknologi tercanggih di dunia luar saat ini.

Setelah dua desain itu terpampang nyata di layar monitor raksasa, Rimba memanggil Lara dari ambang pintu. "Lara! Coba ke sini sebentar. Lihat ini."

Lara melangkah masuk, mengekori Rimba dengan rasa penasaran. Ia menatap layar monitor yang menampilkan gambar motor besar dan ponsel futuristik itu.

"Bisakah kau menyediakan satu motor seperti ini, dan dua ponsel seperti ini?" tanya Rimba dengan mata berbinar penuh harap. Ia ingin menguji sejauh mana "kekuatan" asisten cantiknya ini dalam memanifestasikan materi.

Lara menatap gambar itu cukup lama, lalu perlahan ia menggelengkan kepalanya dengan lemah tanpa mengeluarkan suara.

Kilatan kecewa sempat melintas di mata Rimba. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Ah, tidak apa-apa kalau tidak bisa. Aku lupa kalau ini mungkin terlalu modern untuk dimensi kuno ini. Nanti aku beli ponselnya di kota saja, dan motornya... mungkin nanti kalau giok kita terjual."

Rimba mencoba tersenyum kembali, berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja meski harapannya sedikit patah. Ia berjalan keluar dari ruang kontrol dengan langkah yang agak galau. Lara mengikuti di belakangnya dalam diam.

Namun, begitu mereka sampai di ruang makan, langkah Rimba terhenti mendadak. Matanya tertuju pada meja makan kayu yang besar. Di sana, terletak dua buah kotak putih elegan dengan logo yang belum pernah ia lihat. Rimba memiringkan kepalanya, mendekat dengan jantung berdebar. Ternyata, itu adalah dua buah smartphone yang persis dengan desain yang ia buat di layar Aether tadi!

Rimba menoleh cepat ke arah Lara. Gadis itu hanya mengangkat bahunya pelan, namun di sudut bibirnya yang ranum, terukir sebuah senyum misterius yang sangat manis.

"Hahahaha! Aku suka caramu bercanda, Ra!" seru Rimba sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Lara, merasa tertipu sekaligus sangat bahagia.

Rimba langsung membuka kotak-kotak tersebut. Begitu melihat unit ponselnya, ia terkagum-kagum. Bodinya terasa dingin, mewah, dan sangat ringan. Setelah puas memeriksa keduanya, ia memasukkannya ke dalam ransel sekolahnya yang lusuh.

Ia kemudian menatap Lara lagi, menggerakkan alisnya naik-turun seolah bertanya, "Lalu, di mana yang satu lagi? Motornya?"

Lara kembali mengangkat bahunya, senyumnya semakin menawan. Tanpa membuang waktu, Rimba berlari menuju pintu keluar rumah dan membantingnya terbuka. Di halaman gubuk yang biasanya tenang, kini telah berdiri tegak sebuah motor besar impiannya. Harley Davidson Fat Boy dengan desain khusus Aether, berkilau di bawah cahaya dimensi.

Rimba menghambur ke arah motor itu. Ia mengelus tangki bensinnya yang kekar, meraba jok kulitnya yang empuk, dan memeriksa setiap detail kromnya. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyuman kemenangan.

Setelah puas, ia berbalik dan melihat Lara yang berdiri di ambang pintu. Perasaan bahagia yang meluap-luap membuatnya kehilangan kendali sesaat. Tanpa ba-bi-bu, Rimba menyergap Lara, mengangkat tubuh semampai itu dan menggendongnya sambil berputar-putar di halaman.

"Waaaaa!" Lara berteriak kecil karena terkejut. Secara insting, ia merangkul leher Rimba erat-erat agar tidak jatuh. Suara tawa mereka berdua pecah dan memenuhi udara dimensi yang sunyi. Jika ada orang asing yang melihat, mereka pasti akan menyangka keduanya adalah pasangan kekasih yang sedang merayakan kebahagiaan besar.

Rimba berhenti berputar, namun ia belum menurunkan Lara. Rimba menengadahkan wajahnya. Menatap wajah Lara yang berada di atas kepalanya. "Sudah pintar ngerjain aku ya sekarang?" tanya Rimba sambil tertawa.

Lara hanya tersenyum-senyum, wajahnya sedikit memerah namun ia tidak melepaskan pelukannya.

"Tapi aku suka, karena dengan begitu kamu terlihat lebih 'manusia'. Aku jadi tambah sayang sama kamu," kata Rimba tulus. Dalam kegembiraannya, ia secara spontan menciumi perut Lara yang tertutup gaun tipis itu karena posisinya yang sedang ia gendong tinggi.

"Iiiih! Geli, Rimba! Turunkan!" Lara terkikik geli, mencoba mendorong kepala Rimba dengan tangannya yang lembut.

Akhirnya Rimba menurunkan Lara ke tanah. Setelah berpamitan dan memastikan Cesar tetap dijaga dengan baik, Rimba naik ke atas motor besarnya. Ia menggenggam liontin gioknya dan berbisik dalam hati, "Keluar."

---

Vruuummm!

Rimba langsung muncul di pertigaan desa tadi, tepat di posisi semula. Bedanya, kini ia tidak lagi berdiri menunggu bus, melainkan sedang duduk di atas motor besar yang gagah. Ia menghidupkan mesinnya. Raungan suara knalpot yang berat dan dalam terdengar sangat menyenangkan di telinganya. Dengan kacamata hitam yang ia temukan di laci motor, ia melaju membelah jalanan menuju kota kabupaten.

Tujuannya semula adalah membeli ponsel, namun karena Lara sudah menyediakannya, ia segera beralih menuju kantor provider seluler. Rimba membeli dua buah kartu SIM terbaik dan langsung mengaktifkan kedua ponsel futuristiknya.

Setelah urusan komunikasi selesai, ia beranjak ke kantor Bank utama. Di sana, ia membuka sebuah akun rekening baru. Prosesnya cukup cepat karena aura wibawa yang dipancarkannya membuat para pegawai bank melayaninya dengan sangat hormat meski pakaiannya hanya kemeja flanel dan jeans sobek.

Setelah urusan bank beres, Rimba mencari sebuah studio tato yang nampak profesional di pusat kota. Begitu menemukan satu yang nampak bersih dan terpercaya, ia segera masuk. Seorang pria dengan kedua lengan penuh tato dan tindikan di telinga menghampiri Rimba.

"Ada yang bisa saya bantu, Dek?" tanya pria itu sambil mengamati penampilan Rimba yang mencolok dengan motor besarnya di luar.

"Saya ingin buat tato, Bang," jawab Rimba tenang.

"Sudah ada gambarnya?"

Rimba mengeluarkan cetakan desain dari Aether yang ia bawa di ransel. Gambar Lara dan Cesar yang sangat realistis. Pria itu sempat tertegun melihat kualitas desain gambar tersebut. "Gila, ini desainnya sangat detail. Oke, bisa. Duduk di sana dan buka bajumu."

Pria itu mulai menyiapkan jarum dan tinta. Sambil bekerja, ia melirik ke arah Rimba. "Nggak mau sekalian piercing (tindik)?"

Rimba berpikir sejenak. "Boleh juga. Nanti saja kalau tatonya sudah beres, aku minta dipasang anting sekalian."

Saat Rimba melepas kemeja dan kaos oblongnya, suasana di studio tato itu seolah membeku sejenak. Meski tubuh Rimba tidak besar seperti binaragawan, namun bentuk tubuhnya benar-benar mahakarya. Kulitnya cerah, otot-ototnya tercetak sangat proporsional dan liat. Dengan tinggi badan yang kini mencapai 193 cm, posturnya sangat memukau. Beberapa pengunjung lain, baik laki-laki maupun perempuan, tak bisa menahan diri untuk tidak menatap kagum.

Pria penato itu kembali dengan peralatannya. Ia membersihkan lengan kanan Rimba, lalu menempelkan kertas karbon untuk mencetak pola samar. Setelah polanya menempel, pria itu mulai menyalakan mesin tato. Suara jarum yang berdengung mulai terdengar.

Namun, saat jarum itu pertama kali menghujam ke kulit lengan Rimba...

Klek!

Pria itu terdiam. Ia menekan lebih keras, namun jarumnya justru membengkok. Ia mencoba lagi di titik lain dengan jarum baru yang lebih tajam.

Krak! Jarum kedua patah.

Pria itu mengusap matanya, lalu menatap Rimba dengan tatapan tidak percaya. "Dek... kulit kamu... kenapa tidak bisa ditembus jarum tato?"

Rimba tersentak. Ia baru sadar dan mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Sial, aku lupa! Kulitku kan sudah menyatu dengan Kulit Naga Asura dan tulang besi hitam! Kulitnya secara alami menolak segala benda tajam yang mencoba melukainya.

"Jadi bagaimana, Bang? Berarti tidak bisa ya?" tanya Rimba dengan raut wajah pura-pura bingung.

"Iya, ini jarum-jarumku malah bengkok dan patah semua. Kulitmu ini... kenyal tapi keras sekali seperti baja," kata pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Walah... maaf ya, Bang. Ya sudah deh, tidak apa-apa kalau tidak bisa. Berapa aku harus ganti rugi untuk jarum-jarum yang rusak tadi?" tanya Rimba sambil merogoh ranselnya.

"Ah, tidak usah. Ini aneh sekali, jadi anggap saja pengalaman. Gratis saja," jawab pria itu masih dalam kondisi shock.

"Jangan, Bang. Nanti kamu rugi," Rimba bersikeras dan memberikan uang seratus ribu ke tangan pria itu sebagai tanda terima kasih. Akhirnya si pria bersedia menerimanya.

Sebelum beranjak keluar dari studio, Rimba memutuskan untuk membeli empat buah anting ring hitam yang keren. Jika kulitnya tidak bisa ditembus jarum tato, ia mungkin harus mencari cara lain di dimensi nanti untuk memasangnya.

Rimba kembali memakai pakaiannya, berpamitan pada pemilik studio yang masih bengong, dan berjalan keluar menuju motornya.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!