Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Di Rumah Sakit
Malam yang dingin dan sepi, bau antiseptik begitu menyengat. Namun, Aiza masih terlihat sibuk membersihkan tubuh Warih menggunakan air hangat. Ia begitu telaten.
Sudah dua hari ini dia di rumah sakit, merawat sang nenek yang masih terbaring lemah itu sendirian.
Sarah biasanya akan datang sekali-sekali, namun dia hanya menjenguk, lalu pulang.
Sementara kondisi Warih mulai membaik, dan rencananya besok sudah dibolehkan pulang.
“Nduk…..ojo begadang. Istirahat dulu.”
Suara Warih membuat Aiza menoleh. Dia sedang membersihkan kulit jeruk sisa makan Sarah sore tadi, tersenyum hangat pada sang nenek.
“Sebentar lagi, Mbah.” Aiza kembali menyelesaikan pekerjaannya, lalu duduk di kursi disisi Warih.
"Mbah kok ndak tidur?” Aiza menggenggam tangan Warih, tersenyum lembut pada wanita tua itu.
"Mbah ndak bisa tidur, Nduk. Mbah khawatir sama kamu. Bagaimana kalau nanti mertuamu marah karena terlalu lama merawat Mbah?” Kelopak matanya yang mengendur itu tampak berkerut karena sedih.
Aiza tersenyum tenang, menggenggam tangan Warih dan memberikan tatapan keyakinan pada wanita tua itu.
"In syaa Allah ndak akan, Mbah. Mbah jangan khawatir ya."
Warih menghela nafas panjang, menatap sendu pada Aiza.
“Andai mertuamu itu bu nyai Khasanah, pasti__”
"Mbah…."
Bukan sebuah bentakan kasar, tapi panggilan lembut dan tatapan teduh. Namun hal itu mampu membuat Warih menghentikan ucapannya.
Warih melihat luka yang belum kering dari mata sang cucu. Dia sadar ucapannya hanya akan membuat luka itu kian menganga.
“Maafkan Mbahmu yang terlalu berharap ini, nduk," ujarnya sedih.
Aiza membalas dengan senyuman teduh, meskipun luka yang berusaha ia sembunyikan itu tetap terlihat jelas.
“Ndak papa, Mbah. Aiza paham. Tapi untuk sekarang, Aiza ingin belajar untuk ikhlas menerima semua takdir Allah."
“Ya Allah, nduk….. semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, anak shalehah.” Tubuh ringkihnya meraih Aiza ke dalam pelukannya. Ia menangis haru.
"Aamiin.”
Warih melepas pelukannya, menatap lekat pada sang cucu.
"Kalau begitu Mbah pengen minta karo Gusti Allah, semoga dipanjangkan umur, supaya Mbah bisa melihat kebahagiaanmu.”
"Aamiin.”
***
Pagi itu Aiza begitu sibuk berkemas. Rencananya Warih akan pulang pagi ini.
Di ruang rawat itu juga ada Sarah yang terlihat duduk santai sambil memperhatikan Aiza berkemas. Ia sama sekali tak ingin membantu walau sesibuk apapun keponakan angkatnya itu.
“Yang benar berkemasnya itu, Aiza! Lihat tuh, masih berantakan lipatannya. Nanti ndak muat lagi tasnya," grutu Sarah.
Sedari tadi hanya mulutnya saja yang membantu, tapi ketika dimintai bantuan dia malah marah.
“Ini sudah bener, Bibi. Kalau Bibi ndak suka sama lipatannya, silahkan Bibi yang lipatkan.” Aiza tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Sarah. Kamu itu loh, kalau ndak bisa bantu, setidaknya diem.” Warih yang tak terima lantas protes.
Sarah langsung menatap Warih kecewa. Ia tak terima jika dirinya disalahkan hanya karena Aiza.
"Mbok ini gimana! Saya nasehatin cucunya yang baik-baik malah ndak terima, dan sekarang nyalahin saya!”
Warih menghela nafas berat, tak menyangka bahwa Sarah jadi marah karena ditegur.
“Ndak gitu to. Mbok cuma kasihan sama Aiza, dia semalaman ndak karuan tidur, sekarang malah kamu bentak-bentak.”
Sarah yang tak terima lantas berdiri sambil berkacak pinggang.
“Oh, jadi maksud Mbok semua ini salah saya? Mbok lupa selama ini siapa yang nafkahi kalian? Saya!” Sarah menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan kecewa. "Cuma karena saya menegur Aiza, Mbok jadi menyalahkan saya? Ndak adil, Mbok!”
Warih tak bisa berkata-kata. Hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca, merasa tak habis pikir dengan respon Sarah padanya.
Aiza mengelus dada melihat Sarah yang begitu tega membentak orang tua yang sudah membesarkannya itu.
"Astaghfirullah hal adzim. Istighfar, Bi. Jangan sampai Bibi jadi durhaka cuma karena emosi sesaat.”
"Diam kamu!” Sarah beralih menatap tajam Aiza. "Jangan ikut campur! Lagian mbok juga bukan orang tua kandung saya. Ndak ada surga di kakinya!”
Jleb
Warih langsung memegangi dadanya. Air mata sudah membasahi pipinya yang sudah mengendur.
"Astaghfirullah hal adzim, Bi! Bibi sadar sama apa yang Bibi ucapkan? Walaupun mbah bukan ibu yang melahirkan Bibi, tapi mbah yang sudah membesarkan Bibi. Derajatnya sama.”
"Heleh! Tau apa kamu? Kamu ndak tau kan gimana sedihnya Bibi karena selalu merasa menjadi anak pancingan? Setelah ibumu lahir, nyatanya Bibi tersingkir.” Sarah tersenyum getir. Ada luka yang tak nampak, hanya dirinya sendiri yang tahu. “Dan sekarang sudah untung saya masih ingat kalian,”lanjutnya.
Sarah hanya menatap Aiza dan Warih dengan tatapan kecewa, lalu pergi tanpa sepatah katapun.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍