NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah isak tangis yang menyesakkan itu mereda, aku membasuh wajahku di wastafel sudut ruangan. Mataku merah dan wajahku tampak sangat kuyu di bawah lampu neon yang kini menyala terang. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Jika aku membiarkan pekerjaan ini terbengkalai, aku hanya akan memberi Baskara alasan lain untuk memandang rendah diriku.

Aku kembali duduk di meja besar itu. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan kantor di lantai dua puluh dua ini terasa mistis, hanya suara dengung server dan detak jam yang menemaniku.

Satu per satu variabel data mulai kumasukkan ke dalam sistem. Jemariku menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah-olah dengan menyibukkan diri, aku bisa membungkam suara Baskara yang terus berputar di kepalaku. “Setahun, Aruna... aku seperti orang gila.”

Setiap angka yang kumasukkan terasa seperti duri. Aku membedah pola loyalitas pelanggan, padahal akulah subjek yang paling gagal dalam hal itu.

Pukul sebelas lewat lima belas menit.

Layar laptopku menampilkan progres 95%. Aku menyandarkan punggung, memijat pelipis yang berdenyut kencang. Di saat itulah, mataku tertuju pada kursi kosong di seberang meja—tempat Baskara duduk tadi. Ada sebuah pulpen perak tertinggal di sana. Aku mengenalinya. Itu pulpen yang kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya tiga tahun lalu, saat aku masih bersamanya namun hatinya tidak benar-benar kupedulikan.

Hatiku mencelos. Dia masih menyimpannya? Setelah semua kebencian yang ia tunjukkan, kenapa benda sekecil itu masih ada di tangannya?

Aku memaksakan diri untuk kembali fokus. Pukul dua belas tengah malam tepat, dokumen final itu berhasil kukirim ke email Pak Hendra dan kutembuskan ke alamat email kantor Baskara. Selesai. Secara profesional, tugasku tuntas.

Aku mengemasi barang-barangku dengan gerakan lambat. Tubuhku terasa sangat ringan namun jiwaku terasa seberat timah. Saat aku berjalan keluar ruangan dan melewati deretan meja divisi Analisis Data, aku melihat bayangan seseorang di ujung ruangan.

Lampu di meja Baskara masih menyala.

Ia duduk membelakangiku, bahunya tampak merosot lelah. Di samping laptopnya, ada secangkir kopi yang sudah dingin dan kotak bekal dari Rasya yang tampak belum disentuh. Ia tidak menyadari keberadaanku, atau mungkin ia sengaja mengabaikanku.

Aku berdiri mematung di kegelapan lorong selama beberapa detik, menatap punggung pria yang dulu pernah menjadikanku dunianya. Ada dorongan kuat untuk menghampirinya, meletakkan tangan di bahunya, dan membisikkan bahwa aku pergi karena aku merasa tidak pantas untuknya. Tapi ego dan rasa takut kembali menang.

Aku memalingkan wajah dan terus berjalan menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, aku menyadari satu hal: malam ini, di gedung tinggi ini, kami berdua sama-sama sedang menghukum diri sendiri dengan cara yang berbeda.

Lantai lobi yang sunyi menyambutku dengan embusan angin dingin yang menyelinap dari pintu otomatis. Begitu aku melangkah keluar, suara gemuruh air menghantam aspal terdengar memekakkan telinga. Hujan turun begitu deras, menciptakan tirai air yang membatasi pandanganku ke arah area parkir terbuka.

Aku merapatkan blazer, menatap rintik hujan yang seolah tidak memberi celah untukku melangkah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Tidak ada taksi yang mangkal, dan aplikasi ojek online di ponselku hanya menunjukkan tanda pencarian yang tak kunjung usai.

"Bodoh, Aruna. Harusnya kamu sedia payung," gumamku pada diri sendiri.

Aku menarik napas panjang, bersiap untuk menerjang hujan demi mencapai mobilku yang terparkir di sektor B-12. Baru saja satu langkah kakiku menyentuh aspal yang basah dan air mulai membasahi ujung sepatuku, tiba-tiba rasa dingin itu tertahan.

Sebuah payung hitam besar melingkupiku, menghalau rintik air yang nyaris membasahi kepalaku.

Aku tersentak dan menoleh. Jantungku mencelos.

Baskara.

Ia berdiri di sampingku, tangan kanannya memegang gagang payung dengan kokoh sementara tangan kirinya tenggelam di saku celana kerja. Tatapannya tidak tertuju padaku, ia lurus menatap ke depan, ke arah kegelapan parkiran yang diguyur hujan.

"Jangan bertindak konyol dengan menerjang hujan malam-malam begini. Kamu hanya akan merepotkan kantor kalau besok jatuh sakit," ucapnya dingin, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan, namun ketegasannya tetap terasa.

Aku mematung, lidahku kelu. Aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya udara malam kembali menyerang indra penciumanku. "Bas... kamu belum pulang?"

"Masih banyak yang harus aku periksa karena rekan kerjaku lebih sibuk menangis daripada bekerja," sindirnya tanpa ekspresi. Ia mulai melangkah, memaksaku untuk ikut berjalan di bawah perlindungan payungnya agar tidak basah kuyup.

Kami berjalan dalam keheningan yang menyesakkan di bawah satu payung yang sama. Hanya ada suara langkah kaki kami yang menginjak genangan air dan deru hujan yang semakin menggila. Jarak kami begitu dekat, bahuku sesekali bersentuhan dengan lengannya, menciptakan sengatan yang membuatku ingin menjauh namun sekaligus merasa aman.

"Aku sudah kirim laporannya ke emailmu," lirihku, mencoba memecah kekakuan.

"Sudah kuterima," jawabnya singkat.

Begitu sampai di samping mobilku, ia berhenti. Ia memposisikan payung itu sepenuhnya di atas kepalaku, sementara bahu kirinya sendiri mulai basah karena tidak tertutup payung.

"Masuklah," perintahnya.

Aku membuka pintu mobil, namun sebelum masuk, aku memberanikan diri menatap matanya. "Kenapa kamu masih peduli, Bas? Setelah semua yang aku katakan di ruang rapat tadi... kenapa kamu nggak biarkan aku basah kuyup saja?"

Baskara menatapku lama, kilat matanya tampak goyah sejenak di bawah temaram lampu parkiran. "Karena aku bukan kamu, Aruna. Aku tidak bisa membuang seseorang begitu saja hanya karena dia sudah tidak berguna lagi bagiku."

Ia berbalik pergi tanpa menunggu balasan dariku, menghilang di balik tirai hujan menuju mobilnya sendiri. Aku duduk di balik kemudi, menggenggam setir dengan tangan gemetar. Di jok samping, aku melihat pulpen perak miliknya tertinggal di tasku—aku baru sadar aku membawanya tanpa sengaja saat membereskan meja tadi.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!