NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kesekian

Satu cup besar kopi dingin berada di tangannya. Rasa pahit yang sudah cukup familiar di lidahnya, kembali menyapa malam ini. Tetes embun dari permukaan wadah yang membasahi tangannya seolah tak sedikit pun mengganggu lamunannya di petang berbalut gerimis.

Denting lonceng kecil yang menggantung di atas pintu kaca terdengar nyaring. Alana lantas memutuskan pandangannya dari rintik gerimis yang membasahi kaca di sampingnya. Dia tersenyum saat melihat seseorang yang dia tunggu sejak beberapa menit yang lalu.

"Lama ya, Lan? Maaf banget, tadi ada pasien darurat yang baru masuk. Jadi, aku harus bantu," ucap perempuan yang masih mengenakan seragam perawat dibalik jaketnya.

Alana tersenyum maklum. "Nggak kok, Tar. Pesanannya juga baru sampai," jawab Alana.

Betari mendudukkan dirinya di hadapan kawannya. Tangannya masih sibuk mengusap bulir air hujan yang masih belum sempat terserap oleh kain pakaiannya. Alisnya berkerut samar, tentu dia kesal karena hujan yang datang dengan tiba-tiba malam ini.

"Aku yang seharusnya minta maaf karena ganggu waktu kamu," lanjut Alana.

Mendengar itu, Betari lantas mendongak. Perempuan itu mencebikkan bibirnya dengan mata mendelik pada sahabatnya. "Nggak sama sekali! Aku cuma kesal gegara hujan nih. Padahal di ramalan cuaca bilang hari ini nggak bakal turun hujan."

"Jadi, kenapa kamu minta ketemu sama aku di sini? Tumben banget milih yang dekat sama rumah sakit," tanya Betari dengan senyum menggoda. "Kangen?"

Alana bergidik sejenak. "Nggak lah! Ngapain juga aku kangen sama kamu?"

Betari terkekeh kecil. Matanya menyipit akibat senyum lebar yang mengembang di wajahnya. Ocehan Alana menjadi salah satu suara favoritnya selain teriakan ibunya yang selalu membangunkannya setiap pagi.

Pemandangan yang sudah cukup lama tak menyapa penglihatannya. Alana dengan segelas kopi dingin di tangannya. Padahal, dia tahu bahwa Alana tidak terlalu menyukai minuman pahit itu. Sementara di hadapannya, segelas green tea latte yang masih menguarkan asap hangat.

"Aku baru sadar, kamu banyak diam dari dua hari yang lalu, Lan. Ada masalah?" tanya Betari.

Mendengar pertanyaan yang ditujukan untuknya, Alana tersenyum kecil. Dia mengangkat segelas americano dingin yang ada di tangannya. "Kamu nanya begitu karena ini, kan?" sahutnya.

Betari tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya pada kaca di samping mereka. Dia sangat mengenal Alana, dari hal yang dia sukai sampai hal yang dia benci. Hubungan pertemanan mereka dari masa kuliah tak pernah merenggang hingga keduanya bekerja di rumah sakit yang sama.

"Nggak usah ditutupin gitu lah, Lan. Dikira aku nggak tahu?" ucap Betari.

Tanpa disuruh, perempuan itu meraih gelas berisi minuman hangat di depannya. Dia buka tiup sebentar hingga asap hangat itu semakin samar terlihat. Rasa manis yang sangat pas menyapa lidahnya begitu minuman itu masuk ke dalam mulutnya.

Alana ikut kembali memandang ke arah kaca di samping mereka. Rintik hujan masih terus berderai indah di antara bias lampu jalan yang kekuningan. Bagai kristal ajaib yang jatuh dari langit.

Alana rasa, Betari adalah orang yang paling tepat untuk ini. Dia tak bisa menyimpannya seorang diri. Alana juga butuh teman untuk membantunya berpikir jernih.

"Kalau ada orang yang nggak kamu kenal, terus dia mau kamu nikah sama anaknya..., kamu bakal nerima permintaan itu nggak, Tar?"

Betari sontak menoleh dengan cepat begitu Alana membuka suaranya. Alisnya terangkat, mengambang di antara rasa terkejut dan keheranan yang tiba-tiba. Matanya tak lepas dari Alana yang masih terus memandangi rintik hujan di balik jendela.

"Dijodohin maksudnya?" tanya Betari.

Tak peduli dengan raut kebingungan di wajah Betari, Alana malah kembali menggigit sedotan yang semakin menipis. Dia hisap sedikit demi sedikit minuman pahit itu. Sesekali pula dia mengernyit lantaran rasa yang tak cocok di lidahnya.

Betari memajukan tubuhnya. Dengan suara pelan, dia kembali bertanya, "Kamu dijodohin? Sama siapa?"

Kepala Alana kembali lurus secara perlahan. Sedotan yang basah pun masih bertengger di antara giginya yang rapi. Matanya yang melebar memandang pada Betari yang entah bagaimana bisa menebak dengan tepat.

"Kok kamu tahu? Ibu cerita ke kamu?" Alana balik bertanya.

Mendengar itu, Betari meluruskan bibirnya. Matanya menatap malas pada Alana yang tampak lebih terkejut daripada dirinya. "Emangnya, apa lagi yang bisa disimpulkan dari pertanyaanmu tadi, selain kamu yang dijodohin?"

Bibir bawah Alana maju dengan pipi yang menggembung. Perempuan itu kembali menatap pada rintik hujan yang turun. Seolah tak bosan dengan pemandangan air langit yang membasahi bumi malam ini.

Hela nafas dalam yang menguar dari bibirnya sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Betari. Sosok yang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan siapa pun ini, kini harus segera mengambil keputusan menuju sebuah pernikahan.

Sorot iba lantas tampak dengan jelas dari mata Betari. "Kamu yang berhak memutuskan, Lan. Karena yang ngejalanin kehidupan pernikahan itu cuma kamu sama pasanganmu," tutur Betari.

"Kalau ditanya apa mauku, aku cuma mau hidup berdua sama Ibu, Tar." Alana bergumam, namun masih cukup terdengar di telinga Betari.

Perempuan itu kini menunduk, menatap jemarinya yang saling memilin di atas pangkuannya. Isi pikirannya sama kusutnya dengan sekumpulan benang yang berkumpul menjadi kain celana yang kini dia kenakan. Semrawut bagai tak ada ujungnya.

"Kamu mau nolak?" tanya Betari.

Alana mendongak, lalu menggeleng. "Aku mau, tapi nggak bisa."

Mendengar itu, Betari mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa?!"

"Kalau Ibu udah bahas tentang umur dan kematian, aku bisa apa? Kamu tahu sendiri, kalau ibuku udah ngomongin hal kayak gitu berarti dia lagi pesimis sama hidupnya sendiri," jelas Alana.

Setelah kalimat itu, Betari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Kamu udah diskusi sama cowok yang dijodohin sama kamu?" tanyanya.

Alana menggeleng. "Jangankan diskusi. Aku aja nggak tahu sekarang Pak Kinan di mana."

Setelah mengatakan itu, pandangannya terkunci pada satu titik. Di antara kilau genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan, ada hal lain yang cukup menarik perhatiannya. Sosok yang kini tengah memegang payung hitam dengan erat di antara padatnya jalanan kota.

Sementara, Betari yang terkejut dengan penuturan Alana itu mendelik cukup lebar. "Pak Kinan, bangsal 505?"

Entah sadar atau tidak, Alana mengangguk. Matanya masih tak lepas pada sosok pria yang tampak berjalan dengan pandangan kosong di atas trotoar yang basah. Langkahnya tampak putus asa, bahunya seolah menggendong banyak hal.

Alana buru-buru menanggalkan kopinya di atas meja. "Tunggu di sini ya, Tar. Aku keluar sebentar," pamitnya seraya berlari menjauh.

Tas hitam kecil yang seharusnya bergelayut di pundaknya, ditinggal begitu saja. Segelas kopi dingin yang baru saja diminum seperempatnya juga tergeletak mengenaskan di atas meja. Betari yang menyempatkan waktunya pun ditinggal begitu saja dengan keadaan bingung.

"Alana!" panggil Betari hingga beberapa pengunjung cafe menoleh ke arahnya.

Namun yang dipanggil seolah tuli. Alana terus memacu langkahnya dan menengadahkan telapak tangannya di depan dahi, menghalau hujan agar tak masuk ke dalam matanya. Dia hanya ingin segera berbicara dengan Kinan sekarang juga.

"Pak Kinan!" Suaranya teredam derasnya rintik hujan.

Namun saat tinggal beberapa langkah jarak di antaranya dengan tujuannya, Alana berhenti. Tubuh di bawah payung hitam itu menghentikan langkahnya, sementara payung yang sebelumnya ada di genggamannya jatuh begitu saja. Kedua tangannya menutup telinga dengan erat, seolah tak ingin mendengar apa pun yang berkeliaran di sekitarnya.

Di situlah Alana menyadari. Kinan yang ada di hadapannya saat ini, bukanlah Kinan yang biasa dia temui di bangsal 505 sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!