Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kecil Menuju Tegar
Keesokan paginya, ibu seakan tahu ada sesuatu yang berubah. Bang Randi tak lagi berisik seperti biasanya. Ia bangun lebih pagi, membantu di dapur tanpa diminta, mengaduk adonan dengan gerakan pelan, seolah takut menimbulkan suara. Ia duduk lebih lama dari perlu, dan setiap kali ibu menatapnya, kepalanya otomatis tertunduk.
Saat baki-baki kue mulai disusun, tangan Bang Randi gemetar kecil—bukan karena lelah, melainkan karena enggan kembali ke tempat yang kemarin melukainya.
Sekolah yang biasanya ia datangi dengan langkah ringan, kini terasa seperti ruang yang menyimpan banyak tatapan dan tawa yang belum tentu ramah.
Ibu memperhatikan semua itu dalam diam. Ia tak langsung bertanya, seolah takut pertanyaan justru membuka luka yang masih basah. Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi dan adonan terakhir telah digoreng, ibu memanggil Bang Randi mendekat. Tangannya yang berbau minyak dan gula mengusap kepala Bang Randi pelan, lama—usapannya hangat, penuh doa yang tak terucap.
“Kalau capek, bilang sama ibu,” ucapnya lirih.
“Sekolah itu penting, Ran… tapi hati kamu juga penting.”
Kata-kata itu menghantam dada Bang Randi lebih keras daripada ejekan kemarin. Ia menunduk, menelan ludah. Ia ingin berkata jujur, ingin menceritakan tawa yang menyakitkan dan tatapan yang membuatnya merasa kecil. Namun ia hanya mengangguk pelan. Ia tak ingin menambah beban di pundak ibu yang sudah terlalu berat sejak ayah pergi.
Hari itu, Bang Randi berangkat ke sekolah dengan langkah ragu. Baki kue ia titipkan pada Kak Rita. Di kelas, ia memilih duduk di bangku paling belakang, berbicara seperlunya, dan menunduk saat guru bertanya. Saat jam istirahat tiba, ia memilih tetap di dalam kelas. Setiap kali mendengar tawa dari luar, jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia belajar satu hal baru hari itu: diam bisa menjadi perisai.
Meski perisai itu perlahan mengikis keberanian.
Sore harinya, sebuah kabar datang. Bukan dalam bentuk uang atau paket, melainkan sepucuk surat sederhana dari ayah—dititipkan lewat seorang teman sekampung yang baru pulang dari rantau. Kertasnya sudah sedikit kusut, tintanya tak terlalu rapi, namun setiap kata di dalamnya terasa hidup.
Ibu membacanya pelan, berulang-ulang. Tentang ayah yang menjahit dari pagi hingga malam, tentang tangannya yang pegal dan matanya yang perih, tentang tempat tidur sempit dan makanan seadanya. Tapi di akhir surat itu, ayah menulis satu hal yang membuat ibu tak sanggup menahan air mata: harapannya agar kami tetap sekolah, tetap rukun, dan saling menjaga satu sama lain.
Ibu menggenggam surat itu erat. Air matanya jatuh—bukan hanya karena rindu, tapi karena ia tahu, di tempat yang jauh, ada seseorang yang sama lelahnya, sama kuatnya.
Malam itu, ibu memanggil kami berkumpul. Kak Rita,Kak Pipi, Kak Rini, Bang Al, Bang Ari, dan Bang Randi duduk melingkar. Ibu yang memeluk adik bungsuku membacakan beberapa baris surat dengan suara beRgetar, lalu tersenyum—senyum yang kali ini terasa berbeda. Ada lelah di sana, tapi juga ada harapan.
Bang Randi mendengarkan dalam diam. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, dadanya terasa lebih longgar. Ia tahu, perjuangannya tak sepenuhnya sia-sia. Ada tangan yang jauh di seberang kota yang bekerja keras untuk mereka, sama seperti ibu yang bertahan di rumah.
Malam semakin larut. Lampu sudah dipadamkan, hanya cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela. Bang Randi berbaring di samping Bang Ari. Ia memunggungi dinding, memeluk bantal kecil yang sudah mulai tipis.
Bang Ari menyadari napas adiknya tak teratur. Ia bergeser mendekat, lalu memeluk Bang Randi erat—pelukan yang jarang mereka lakukan, tapi malam itu terasa perlu.
“Kita laki-laki, Ran,” ucap Bang Ari pelan.
“Jadi kita harus kuat. Nggak boleh kelihatan lemah.”
Bang Randi diam, air matanya perlahan membasahi bantal.
“Kita yang harus jaga ibu,” lanjut Bang Ari.
“Jaga kakak-kakak, jaga adik-adik. Nanti, kalau kita sudah besar, jangan sampai ibu berjuang sendirian lagi.”
Pelukan itu menguat. Tak ada nasihat panjang, tak ada janji muluk—hanya kalimat sederhana yang lahir dari rasa tanggung jawab yang tumbuh terlalu cepat.
Bang Randi mengangguk pelan di dada kakaknya.
“Iya, Bang,” bisiknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ayah pergi, Bang Randi tertidur dengan perasaan sedikit lebih aman. Ia tahu hidup mereka masih akan berat, ejekan mungkin belum akan berhenti, dan kekurangan masih akan datang silih berganti. Tapi ia juga tahu satu hal yang pasti: mereka tidak sendiri.
Dalam sunyi kamar kecil itu, persaudaraan mereka tumbuh—diam-diam, sederhana, dan saling menguatkan.