Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makmun Yang Paling Rajin
Suasana di kamar asrama mendadak jadi serius malam itu. Abigail baru saja selesai mengobati tangannya yang lecet, sementara Sarah dan dua teman sekamar lainnya, Zulfa dan Nisa, sedang duduk melingkar di atas karpet tipis sambil mengupas buah jeruk.
“Abby,” panggil Zulfa pelan. “Kamu tahu kan kenapa Ustadzah Najwa sepercaya diri itu kalau dia bakal jadi istri Gus Zayn?”
Abigail menyandarkan punggungnya ke lemari. “Ya, karena dia pintar, hafal Al-Qur'an, dan sudah lama di sini, kan? Standard boring stuff.”
Sarah menghela napas, lalu membuka sebuah kitab kecil. “Bukan cuma itu. Di sini, kami memegang ayat yang bunyinya: Al-khabitsatu lil khabitsin, wath-thayyibatu lith-thayyibin. Perempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.”
Nisa menyambung dengan suara lembut, “Makanya seisi pesantren mikir, Gus Zayn yang sudah bersih dan alim itu, jodohnya ya ustadzah yang sudah selevel sama dia dalam hal ilmu dan ketaatan. Kayak Ustadzah Najwa.”
Abigail terdiam. Kalimat itu terasa seperti tamparan keras baginya. “Jadi maksud kalian, karena aku dulu nakal, suka bolos, dan nggak tahu agama, aku cuma pantes dapet cowok yang... sama kacaunya kayak aku?”
Sarah melihat raut wajah Abigail yang berubah sedih dan langsung merasa tidak enak. “Bukan gitu, Abby! Maksud ayat itu sebenarnya tentang kualitas diri. Tapi ada satu hal yang orang sering lupa...”
Sarah mendekat, memegang tangan Abigail yang diperban. “Gus Zayn itu pernah di posisi buruk juga, kan? Dia pernah hancur. Tapi dia memilih untuk memperbaiki diri sampai jadi baik. Itu artinya, Allah kasih kesempatan buat setiap orang untuk naik kelas.”
“Tapi aku?” suara Abigail bergetar. “Aku bahkan belum bisa baca satu ayat pun dengan benar.”
“Justru itu, Abby,” sahut Zulfa menyemangati. “Kalau kamu terus belajar dan berubah jadi lebih baik, maka level jodohmu juga ikut naik. Jangan dengerin kalau Ustadzah Najwa bilang kamu nggak pantas. Di mata Allah, yang paling mulia itu bukan yang paling lama di pesantren, tapi yang paling sungguh-sungguh mau bertobat.”
Abigail menatap tangannya yang lecet. Kata-kata Sarah dan teman-temannya membuka sudut pandang baru di kepalanya. Selama ini ia mengejar Zayn karena merasa tertantang dan kagum, tapi sekarang ia sadar: jika ia ingin mendapatkan "pria berkualitas" seperti Zayn, ia sendiri harus menjadi "wanita berkualitas".
“Jadi,” Abigail menghapus setitik air mata di sudut matanya dengan gaya tangguh, “kalau aku mau Gus Zayn, aku harus lebih baik dari si Najwa itu, kan? Bukan cuma pinter ngaji, tapi juga pinter hatinya?”
Sarah tersenyum lebar. “Nah, itu baru Abigail yang kita kenal!”
“Oke,” Abigail berdiri dengan semangat baru. “Mulai besok, jangan panggil aku Abigail si pemalas. Panggil aku Abigail calon makmum yang paling rajin!”
Tanpa mereka ketahui, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Gus Zayn baru saja akan lewat untuk mengontrol asrama putri. Ia mendengar seluruh percakapan itu. Langkah kakinya terhenti. Sebuah senyum tipis, kali ini benar-benar senyum yang hangat, terukir di wajahnya.
Zayn berbisik dalam hati, “Innal-ladzina amanu wa ‘amilus-shalihati sayaj’alu lahumur-rahmanu wudda.” (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang dalam hati mereka).
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy Reading😍😍😍