NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota yang Terenggut dalam Kabut

Gisel terbangun saat cahaya fajar baru saja menyentuh ventilasi kamarnya. Alarm tubuhnya, yang selama bertahun-tahun terlatih untuk segera bangkit dan menyiapkan keperluan rumah, mencoba menjalankan tugasnya.

Namun, kali ini ada yang salah. Saat ia mencoba menggerakkan pinggulnya untuk duduk, seluruh tubuhnya terasa remuk seolah habis dihantam beban ribuan ton. Ia meringis tertahan.

Rasa sakit yang tajam dan sensasi terbakar di pangkal pahanya membuatnya tersentak kembali ke kasur tipis itu. Kepalanya berdenyut hebat, seiring dengan rasa mual yang mengocok isi perutnya. Butuh waktu beberapa menit bagi Gisel hanya untuk sekadar menstabilkan napasnya yang memburu.

Ketika penglihatannya mulai fokus, Gisel mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dua kali dua setengah meter itu. Masih kamarnya. Namun, pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Pakaiannya berserakan di lantai, bercampur dengan kemeja biru navy milik Arlan. Ia melirik ke sampingnya; Arlan terlelap dengan napas teratur. Kenyataan bahwa mereka berdua berada di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benang pun membuat Gisel membekap mulutnya kuat-kuat. Ia takut isak tangis atau teriakannya akan membangunkan pria itu.

"Apa yang terjadi?" bisiknya lirih, suaranya hilang ditelan sunyi.

Gisel memejamkan mata, memaksa otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia ingat mereka telah sah menikah pagi kemarin. Ia ingat sedang berbicara dengan Arlan mengenai teknis perjalanan mereka ke Kota Flora untuk menjemput Keira.

Lalu, Reyhan sepupunya datang membawakan dua gelas air dingin. Arlan meminumnya, begitupun dirinya, untuk menghalau dahaga yang mencekat di tenggorokan. Setelah itu, kabur.

Gisel hanya ingat ia sempat merasa mengantuk luar biasa, sementara Arlan masih duduk merenung. Kemudian, sebuah gelombang panas yang tidak wajar menyapu sekujur tubuhnya. Ia ingat sempat menyalakan kipas angin, namun hawa panas itu seolah membakar dari dalam tulang. Sisanya? Hanya potongan-potongan bayangan kabur yang menyeramkan.

Semakin ia memaksa untuk ingat, denyut di kepalanya semakin menyiksa. Gisel menarik kedua lututnya ke dada, memeluk tubuhnya sendiri yang kini terasa asing. Mereka memang sudah sah sebagai suami istri. Secara hukum dan agama, apa yang terjadi semalam bukanlah sebuah dosa. Namun, mengapa hatinya merasa begitu kotor? Mengapa ia tidak ingat sama sekali telah memberikan persetujuannya?

Seketika, sebuah fragmen pembicaraan dengan Diana di kantin sekolah dulu terlintas. Diana pernah bercerita tentang "Obat Surga" yang sering digunakan oleh beberapa bunga di Jalan Bunga untuk menjebak laki-laki yang mereka incar. Obat yang membakar gairah sekaligus menghapus memori jangka pendek.

"Apakah air itu...? Om Arman..." Gisel berbisik, suaranya bergetar hebat.

Hatinya hancur berkeping-keping. Paman yang selama ini ia puja sebagai pelindung tunggal, pria yang menjaganya dari tangan-tangan kotor para preman, justru menjadi orang yang mengkhianati kesuciannya dengan cara yang paling hina.

Apakah Om Arman melakukan ini karena tahu Gisel sempat menyinggung soal perceraian? Apakah ini cara pamannya untuk merantai Gisel selamanya pada Arlan? Isakan Gisel tak lagi tertahan, memecah kesunyian kamar yang pengap itu.

Suara tangisan itu membangunkan Arlan. Ia mengerang, memegangi kepalanya yang terasa seberat timah. Butuh beberapa saat bagi Arlan untuk menyadari di mana ia berada. Berbeda dengan Gisel yang kehilangan memori, Arlan justru memiliki ingatan yang samar namun mengerikan tentang apa yang mereka lakukan.

Logikanya sempat bertanya, apakah semalam hanya mimpi buruk? Namun, saat ia melihat Gisel yang sedang meringkuk ketakutan dengan mata sembab, Arlan merasa seolah wajahnya baru saja ditampar oleh kenyataan yang paling pahit.

Bagaimana bisa ia melakukannya? Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Gisel.

"Maafkan aku... aku benar-benar tidak tahu apa yang merasukiku semalam," lirih Arlan, suaranya parau penuh penyesalan.

Sungguh, Arlan tidak pernah membayangkan pernikahan ini akan dimulai dengan cara sebrutal ini. Menjanjikan cinta saja ia tidak berani, tapi kini ia telah merampas sesuatu yang paling berharga dari Gisel dalam kondisi yang tidak sadar sepenuhnya dan menyakitinya secara bersamaan.

"Aku akan bertanggung jawab, Gisel. Aku bersumpah," ucap Arlan lagi.

Namun Gisel tidak merespons. Ia menyembunyikan wajahnya di antara lutut, bahunya berguncang hebat. Melihat itu, Arlan merasa perlu memberikan ruang. Ia menutupi tubuh Gisel dengan selimut, dan segera memunguti pakaiannya, mengenakannya dengan terburu-buru, dan melangkah keluar menuju kamar mandi.

Di balik dinding kamar, di sudut gelap dapur yang berbatasan dengan kamar Gisel, Om Arman berdiri mematung mendengar tangisan Gisel.

Ia tidak tidur semalaman. Ia mendengar segalanya, suara tangisan, rintihan kesakitan, hingga hening yang mencekam.

Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Air matanya memanas. Ia tahu, mulai detik ini, ia telah kehilangan hak untuk menyebut dirinya sebagai "Pelindung Gisel".

Arlan keluar dari kamar mandi setelah mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Air itu terasa perih saat menyentuh punggungnya. Lewat cermin kecil di sana, Arlan melihat beberapa bekas cakaran di punggungnya bukti pergulatan hebat semalam.

Logikanya berputar cepat. Ia ingat pergulatan itu bukan sepihak; mereka berdua seolah kehilangan akal sehat dan saling mendamba dengan cara yang liar. Ini konspirasi, batin Arlan.

Ia ingat air yang dibawa Reyhan. Ia ingat betapa haus dan panasnya suhu tubuhnya setelah meminum air itu. Hanya satu yang bisa ia simpulkan: Om Arman adalah orang dibalik konspirasi ini.

Saat Arlan melangkah ke ruang tengah, ia menemukan Om Arman duduk di meja makan dengan segelas kopi hitam yang sudah dingin. Aura di sekitar pria itu sangat berat.

"Om Arman," panggil Arlan dingin.

Om Arman mendongak. Tatapannya masih tajam, namun ada sisa-sisa kerapuhan di matanya.

"Kamu sudah merenggut kesuciannya," ucap Arman dengan nada rendah yang mengancam.

"Jika sampai kamu menyakitinya atau meninggalkannya setelah ini, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak main-main."

Arlan menarik kursi dan duduk di hadapan Arman. Ia menatap pria itu tanpa rasa takut. Entah ia mendapatkan keberanian dari mana.

"Aku sudah menikahinya secara sah. Untuk apa aku menyakitinya?” Arlan menjeda kalimatnya.

“Justru pertanyaannya adalah, apa yang Om berikan kepada kami semalam?"

Om Arman terdiam. Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Ia hanya menatap tangannya yang kasar di atas meja.

"Semoga kamu memegang perkataanmu untuk menjaganya," ucap Arman pelan.

Ia bangkit berdiri. Arlan menyadari sesuatu; punggung Om Arman tidak lagi tegap seperti biasanya. Bahunya merosot, langkahnya terseret. Pria itu tampak seperti pecundang yang baru saja memenangkan pertempuran namun kehilangan jiwanya.

Arman berjalan keluar rumah, meninggalkan Arlan yang kini harus menghadapi kenyataan baru.

Di dalam kamar, Gisel mulai mencoba berdiri. Di atas seprai putih gading yang terlihat bercak noda darah, ia menyadari bahwa hidupnya di Jalan Bunga telah berakhir, dan hidupnya bersama Arlan dimulai dengan sebuah luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

.

.

.

.

.

Maaf semuanya, gak tau kenapa babnya bs kebalik, padahal up nya berbeda tanggal. Urutan seharusnya: Tawaran terakhir sang penguasa gang, Benteng bernama pernikahan, Rencana gelap, dan Mahkota yang terenggut dalam kabut. Di komputer urutannya sama, tapi ternyata di HP berbeda. Sebagai permintaan maaf, hari ini author up dua bab. Semoga up berurutannya tidak terbalik lagi. Selamat membaca...

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!