Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. AMSALIR
Pangeran Wang Zihan tak lagi mampu membendung gejolak yang membakar dadanya. Dengan gerakan tangkas namun penuh damba, ia merebahkan tubuh Zhen Yi di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga.
Zhen Yi membiarkan dirinya pasrah, menyunggingkan senyum tipis yang seolah menyiratkan bahwa malam ini ia hanya milik sang pangeran. Keberanian mulai merayapi jemarinya, ia menarik kerah jubah Wang Zihan, membawa tubuh pria itu semakin merapat. Dengan gerakan halus namun pasti, Zhen Yi menarik tali pengikat jubah Zihan hingga tersingkap, memamerkan dada bidang yang kokoh di hadapannya.
Belaian lembut Zhen Yi menjadi pemantik yang membuat pertahanan Zihan runtuh. Zhen Yi mulai menggoda, memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat napas sang pangeran memburu menahan gairah. Ia menelusuri leher jenjang Zihan, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membuat sang pangeran kian terbuai dalam pesonanya.
Tak ingin kalah, Wang Zihan mulai melucuti helai demi helai sutra yang membungkus tubuh Zhen Yi, hingga akhirnya tak ada lagi penghalang di antara mereka.
Wang Zihan kian tak terkendali, jemarinya menelusuri setiap inci lekuk tubuh mulus di bawahnya dengan gairah yang membabi buta. Pergulatan panas itu terasa begitu memabukkan. Sementara itu, di koridor istana, Sang Kaisar melangkah tegap menuju kamar pengantin, tak sabar untuk menjamah istri barunya.
Zihan tak lagi peduli pada risiko maut yang mengintai. Baginya, Zhen Yi adalah miliknya, dan tak akan ia biarkan pria mana pun, bahkan ayahnya sendiri, menyentuhnya.
"Aku mencintaimu, Zhen Yi," bisiknya dengan napas yang terengah-engah.
Zhen Yi menyapu bulir peluh di pelipis Wang Zihan, menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku pun mencintaimu, Pangeran," jawabnya lirih. Namun di dalam hati, ia menyeringai penuh kemenangan, 'Kini kau benar-benar berada dalam genggamanku, Wang Zihan.'
"Kaisar memasuki peraduan!" seru penjaga di luar.
Derit pintu yang tajam memecah keheningan malam. Sang Kaisar melangkah masuk, namun langkahnya tertahan sejenak saat aroma dupa Huanhun yang menyengat menusuk indra penciumannya. Seketika, pandangannya mengabur dan suhu tubuhnya melonjak panas. Di balik tirai, ia melihat sosok wanita berpakaian pengantin lengkap dengan tudung merah yang duduk menanti.
Dengan langkah lebar yang goyah, ia mendekat. Diraihnya tudung merah itu, lalu disentaknya hingga terlempar kasar ke lantai.
"Zhen Yi, malam ini kau adalah milikku seutuhnya! Layani aku hingga aku puas!" serunya dengan suara serak yang dikuasai gairah dan pengaruh halusinasi.
Di balik tirai sutra yang bergoyang, Kaisar Wang Mo-Yuan yang telah kehilangan akal sehatnya akibat pengaruh dupa Huanhun mulai menjamah sosok wanita di hadapannya dengan liar. Di mata kaisar yang dikuasai halusinasi, ruangan itu tampak bersinar indah, menutupi kenyataan bahwa ia tengah menyalurkan nafsunya pada orang yang salah.
Sementara itu, di sudut lain istana, suasana kamar pribadi Wang Zihan justru diselimuti keheningan yang intim. Di atas ranjang luas miliknya, pergulatan hebat itu telah usai, menyisakan napas yang perlahan kembali teratur.
Zhen Yi menyandarkan kepalanya di dada bidang Zihan, membiarkan jemari pria itu membelai rambutnya yang terurai berantakan. Mereka saling berpelukan erat di bawah selimut sutra yang dingin.
Wang Zihan mengecup kening Zhen Yi dengan penuh kasih, merasa telah memenangkan permata yang paling berharga dari tangan ayahnya.
"Pangeran," bisiknya dengan nada pedih, "Malam ini ... aku merasa seperti pencuri di istanamu sendiri. Aku hanyalah seorang wanita yang dipaksa masuk ke istana ini untuk memenuhi nafsu Kaisar. Namun, mengapa hanya Anda yang memperlakukanku seperti manusia?"
Wang Zihan membelai rambutnya, hatinya dipenuhi rasa protektif. "Tenanglah, Zhen Yi. Di sini kamu aman. Ayahanda tidak akan tahu."
Zhen Yi mendongak, matanya berkaca-kaca penuh manipulasi. "Tapi sampai kapan, Zihan? Aku melihat cara Kaisar menatapku ... itu bukan tatapan cinta, melainkan penuh nafsu. Dan yang lebih menyakitkan adalah melihat bagaimana beliau memperlakukanmu."
"Tidakkah Anda merasakannya? Kaisar tahu Anda sangat mengagumiku, namun dengan sengaja dia menjadikanku selirnya. Dia seolah ingin menunjukkan bahwa apa pun yang Anda inginkan, beliau bisa merampasnya dengan satu jentikan jari. Ia tidak memandang Anda sebagai putra mahkota yang cakap, melainkan sebagai saingan yang harus diinjak harga dirinya."
Ia bangkit sedikit, menggenggam tangan Zihan dengan erat. "Aku takut, Pangeran. Bukan hanya untuk diriku, tapi untukmu. Jika dia bisa sekejam itu pada wanita yang baru dikenalnya, bagaimana dia akan memperlakukan putranya sendiri jika suatu saat Anda dianggap menghalangi ambisinya? Baginya, takhta dan nafsu jauh lebih berharga daripada ikatan darah."
Zhen Yi menunduk, membiarkan seuntai rambut menutupi wajahnya yang kini menyeringai tipis di balik kegelapan. "Andai saja dunia ini dipimpin oleh pria yang memiliki hati seperti Anda, mungkin aku tidak perlu hidup dalam ketakutan setiap kali mendengar langkah kaki Kaisar mendekat."
Rahang Wang Zihan mengeras. Kata-kata Zhen Yi bagaikan racun yang meresap perlahan ke dalam relung hatinya. Selama ini, ia memang selalu merasa berada di bawah bayang-bayang ayahnya yang tiran.
"Dia selalu mengambil apa pun yang dia inginkan," geram Zihan. "Sejak aku kecil, tidak pernah ada satu pun hal yang benar-benar menjadi milikku jika dia menginginkannya. Tapi aku tidak menyangka ... dia akan bertindak sejauh ini."
Zhen Yi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zihan, membiarkan bibirnya membentuk senyum dingin yang tak terlihat. Ia bisa merasakan kemarahan Zihan yang mulai memuncak.
"Mungkin karena dia tahu Anda jauh lebih dicintai oleh rakyat dan para jenderal daripada dirinya sendiri, Pangeran," bisik Zhen Yi lagi. "Dia takut pada kekuatan Anda, maka dia menghancurkan kebahagiaan Anda agar Anda tetap merasa kecil di hadapannya."
Zhen Yi melepaskan pelukannya perlahan. "Besok pagi, saat dupa itu habis dan halusinasinya menghilang, aku harus kembali ke sisinya. Aku harus berpura-pura menjadi miliknya sementara hatiku hancur. Zihan ... apakah ini takdir kita? Menjadi pecundang di bawah kaki pria yang bahkan tidak menghargai darah dagingnya sendiri?"
Zihan bangkit dari ranjang, berdiri dengan tubuh kokohnya. Ia menatap ke arah jendela yang mengarah ke istana peraduan kaisar.
"Tidak, Zhen Yi. Takdir bisa diubah," ucap Zihan. "Jika dia ingin bermain, maka aku akan menunjukkan padanya bahwa singgasana yang dia duduki tidaklah sekuat yang dia kira. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi."
Zhen Yi memperhatikan punggung Zihan dengan mata yang berkilat puas. Benih kebencian telah tumbuh menjadi pohon kemarahan yang besar. Kini, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menebas keduanya sekaligus.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏