Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
“Duh, ke mana ini arahnya?” ujar Rifa sembari menoleh ke sana kemari di tengah hutan, “Kak Echaa? Kak Jeen? Ka Fiir? Kak Faraa? Bu Orvinaa? Triniaa? Dokter Maeveee? Oiii, di mana?!” teriaknya.
Ada rasa sesak yang Rifa rasakan tatkala sudah hampir setengah jam dia terpisah dari rombongan grupnya. Hari di mana mereka mengadakan kompetisi di sebuah hutan lindung wisata, entah bagaimana Rifa yang berhasil menemukan salah satu bendera tersembunyi malah terpisah dari rombongan. Pada akhirnya, dia yang sedari tadi berteriak pun terduduk lemas di salah satu pohon.
“Ma, takut, Ma. Rifa takut ini. Sudah jam sepuluh hampir siang belum ketemu yang lain,” keluhnya sembari menatap cahaya yang menembus selah pohon.
“Rifa~ya?”
Teguran itu sontak membuat Rifa terkejut setengah mati dan langsung mengambil jarak usai menoleh. Diantara minim cahaya, pada akhirnya Rifa bisa melihat wajah Kang Dong Ho yang sedikit berkeringat.
“Neo mwohae?” tanya Dong Ho yang kemudian mengulurkan tangannya membantu Rifa untuk berdiri.
“Oh! Kepala Tim?” ujarnya yang kemudian menerima uluran tangan Dong Ho, “aku kepisah dari rombongan. Padahal perasaan gak jauh, kok, dari tempat aku ngambil bendera sama tempat mereka nunggu aku. Bapak ngapain?”
“Sama, kepisah juga,” sahut Dong Ho sambil melambaikan bendera yang sama, dengan angka serta warna berbeda dari Rifa.
“Ih, kok, aneh. Terus Bapak habis keliling juga?” tanya Rifa.
“Lebih ke lurus aja ngikut arah matahari. Eh, malah ketemu kamu.”
“Iiih, Pak, saya gak tau harus ke mana ini,” ujar Rifa panik.
“Tenang aja. Coba susurin jalan lurus ini aja dulu.”
“Kalo ketemu pertigaan gimana?”
“Coba lurus aja tetep.”
“Iya, deh. Yok.”
Mereka pun berjalan beriringan sambil menikmati angin musim dingin yang lumayan sejuk.
“Tadi malam dingin banget, ya. Saya selaku makhluk Indonesia rasa mau mati,” celoteh Rifa disela langkah pelan mereka.
“Hahahaha…iya, sih. Kalo aku ke Indonesia malah rasanya bakal panas banget.”
“Eh, Bapak sudah pernah ke Indonesia?”
“Udah. Nemanin Min Seok survei apa gitu ke daerah yang namanya Yogyakarta. Panas luar biasa, mungkin pas musim panas juga kami ke sana jadi kaya kebakar.”
“Bisa jadi, Pak. Padahal di kita biasa aja, lho. Panas, sih, tapi, ya, biasa aja. Mungkin karena sudah adaptasi dari sebelum keluar dari perut Mama.”
Lagi, Baek Ho tertawa lepas, sampai di mana mereka ketemu pertigaan dan saling menatap.
“Lurus, nih, Pak?” tanya Rifa meyakinkan.
“Iya. Lurus aja sudah. Yang penting jangan misah lagi.”
“Gak, Pak. Kalo sama Bapak, saya ikuti ke mana aja, kok. Ehem.”
Tampak Baek Ho tersenyum geli melihat reaksi Rifa.
“Aku minta maaf, ya, Fa,” ujar Baek Ho tiba-tiba.
“Eh, apa pula? Kenapa?” tanya Rifa bingung.
“Gak. Soal kejadian tiga bulan lalu. Kamu hampir jadi korban amukan mantanku.”
“Oh! Ituu..hahaha..sebenernya kesal, sih. Tapi, liat Kak Echa nampar mukanya jadi puas banget.”
“Kayanya Echa bener-bener jadi tempat berlindung kalian, ya?”
“Ehehehe…dia orangnya ceplas-ceplos, mungkin beberapa orang gak suka. Tapi, saya suka. Karena orang yang begitu biasanya yang paling tulus. Kadang ada rasa kami juga mau lindungi sama bahagiain dia. Tapi, untuk sementara, mungkin cuma dengan ikut begini kami jadi bisa balas baiknya dia. Selama di sini, Kak Echa bawaannya seneng. Walaupun banyak nangisnya kalo sudah nelpon Rouwheen sama ingat mendiang suaminya. Kasian tau?”
“Iya. Mungkin karena itu dia belum bisa buka hati buat orang lain, ya?”
“Eh, Bapak suka sama Kak Echa?”
“Hahaha…gak. Ada yang lain yang suka.”
“Kalo Bapak, suka siapa?”
“Kamu.”
Mendengar jawaban tegas dengan senyum tulusnya, Rifa pun terbelalak.
“Dih, becanda.”
“Gak, Fa. Serius. Aku nyaman sama kamu dari hari aku buang cincin. Tiap hari ketawa bareng, kerja bareng. Masa iya gak ada rasa. Manusia, tuh, cuma perlu satu bulan untuk membiasakan sesuatu. Apalagi lebih dari itu.”
“IIih, Bapak, Mama saya maunya menantu orang Jawa,” keluh Rifa.
“Nanti aku ubah kewarganegaraan,” sahut Baek Ho asal.
Ada tawa yang terdengar diantara kesunyian setiap langkah yang mereka jalani dan perlahan, Baek Ho pun menggandeng tangan Rifa yang hanya bisa mengikuti alurnya dengan senyum sipu. Sementara, di sisi yang berbeda terlihat Min Seok tengah menggendong Fara di punggungnya.
“Dok, maaf, ya. Kepisah sama yang lain malah nyusahin Dokter,” ujar Fara tak nyaman.
“Badanmu kecil ini. Kalo badanmu besar juga aku gak bisa gendong,” sahut Min Seok, “memang pernah operasi apa?”
“THA. Jadi, memang Fara kemaren gak bisa bangun. Hampir enam bulan lebih. Sempet medis, ternyata gak detect. Katanya, sih, kalo di Indonesia, tuh, ada yang namanya guna-guna. Katanya kena itu.”
“Guna-guna? Ilmu hitam, gitu maksudnya?”
“Iya. Udah, kan, diobatin. Terus sempet masuk rumah sakit. Akhirnya beberapa kali terapi dan tarik darah juga CT Scan. Ketemu, alhasil operasi ganti sendi panggul, syukur bisa jalan lagi. Bisa kumpul lagi sama temen-temen klinik. Dokter Saputri baik banget tetep nyatat nama Fara jadi karyawan klinik walaupun belum bisa masuk.”
“Ini sekarang sakit?”
“Dikit. Kayanya kaget karena keduduk tadi.”
“Ya, udah, kugendong sampai ketemu yang lain.”
“Eh, jangan, Dok. Sebenernya bisa jalan. Gak perlu di gendong juga.Tapi…”
“Iya, aku yang mau. Gak apa-apa, lah. Itung-itung angkat beban.”
Diam, Fara yang memiliki kebiasaan tertidur di mana saja pun perlahan merebahkan kepalanya di bahu Min Seok. Dan Min Seok pun sempat terdiam, menghela napas pelan.
“Maaf, Dok, Fara agak lelah. Nyender bentar, ya.”
“Iya, gak apa-apa. Aku juga bingung ini kenapa kita kaya disesatin gini. Kaya ada yang ngubah arah jalannya.”
“Eh, iya,” sahut Fara yang langsung menegakkan kepalanya.
Tanpa aba-aba, Fara pun memaksa turun dari punggung Min Seok yang hanya bisa pasrah dengan sikapnya.
“Kita kaya disesatin, ya,” ujar Fara setelah berdiri tegak.
“Sini gandeng aku. Sambil jalan,” ujar Min Seok dan langsung diiyakan dengan Fara.
“Tapi, bisa keluar gak, sih, Dok. Takut juga,” ujar Fara sembari melangkah pelan.
“Harusnya bisa. Soalnya ini bukan hutan besar. Dua tahun lalu rombongan wisata juga ngadakan acara gini. Kalo cape, bilang aja, ya. Kita duduk dulu,” kata Min Seok tulus.
“Iya, Dok. Makasih.”
Setelah di sisi utara dan selatan berbincang. Dari sisi timur terlihat tengah malas-malasan, keduanya berbaring di rerumputan dan berguling ke sana kemari sampai saling terantuk satu sama lain.
“Haaa…cape. Ngapain ikutin?” omel Echa.
“Nyari keringet. Dingin, eh. Betahun-tahun di sini badanku masih belum biasa,” keluh Garra.
“Ini kita nyasar bedua, yang lain gimana, ya. Baik ajakah?” tanya Echa yang kemudian duduk.
“Coba tiduran lagi, Cha,” ujar Garra mengabaikan dan menarik tangan kanan Echa yang masih lemas.
“Bodo betul orang iniii,” umpat Echa yang tidak bisa melawan karena masih lelah dan akhirnya kembali berbaring dengan sekali tarikan lalu menendang cukup kuat pantat Garra.
“Haha…tiduran, Cha. Enak dingin tapi, anget.”
“Eh, tapi, kamu banyak duit gak mau lasik?” tanya Echa sembari menikmati cahaya matahari dari selah pepohonan.
“Gak bisa, Cha. Aku kena Xerophthalmia, mataku kering, kurang vitamin A. Gak dianjurkan buat lasik. Jadi, gak ada kepikiran juga mau kearah sana.”
“Ooooh, udah nyerah gitu?”
“Gak nyerah, Cha. Emang gak bisa. Jadi, cuma jalanin.”
“Ya, pasrah, kan? Sama aja.”
“Beda, Cha. Nyerah itu berarti, sebenernya masih ada jalan cuma kamu gak mau jalaninnya. Kalo pasrah sudah gak tau mau ngapain lagi. Cuma jalanin yang Tuhan mau. Kaya kondisiku ke kamu sekarang, itu pasrah namanya.”
“Mulaaaaiii…”
Mendengar sindirannya, Garra pun hanya tertawa geli sesaat.
“Tapi, gak kerasa, ya, Cha. Udah mau setahun dari meninggal Zayn, kita bareng. Ceritaan aneh-aneh kaya gini. Kamu gak ada niatan bersuami lagi gitu?”
“Males. Males ngurusin makan, ngelipet baju, cucian. Malaaassss…” ujar Echa kesal.
Lagi, Garra tertawa sesaat.
“Eh! Tapi, kenapa santai kali. Ini kita nyasar, lho. Udah mau setengah dua belas siang ini,” ujar Echa.
“Aku, nih, sebenernya bingung juga, Cha. Kenapa kita jadi kepencar gini.”
“Lah, bukan kamu yang naro-naro bendera kemaren.”
“Bukaaan…Jong Hwa sama panitia yang lain yang ngurusin. Aku, sih, mau enaknya aja.”
“Ih, tapi, jadi nyasar,” keluh Echa.
“Ya, tunggulah dulu sebentar lagi. Cape jalan dari tadi.”
“Di sini ada hantu gak, ya, kira-kira?” tanya Echa seraya menoleh ke sana kemari.
“Ada. Tapi, mungkin lebih cantik daripada di Indonesia,” sahut Garra seraya memejam.
“Serahmulah,” ujar Echa.
Namun, tidak ada jawaban, Echa pun menoleh dan melihat Garra memejam. Keningnya berkerut, bergegas ia bangun dan duduk, lalu mendekatkan daun telinganya ke hidung Garra. Diam, dia mendengar napas lembut Garra yang berhembus dan memperhatikan gerak perutnya yang naik serta turun perlahan.
“Malah tidur,” keluhnya kemudian, “haaa…”
Sesaat Echa melihat arah cahaya matahari yang tepat mengenai wajah Garra, perlahan ia menaruh kedua tangannya di atas wajah Garra, mencoba memayunginya namun, tanpa aba-aba, tiba-tiba air mata membasahi kedua pipinya.
“Eh,” ujarnya yang terkejut dan langsung mengusapnya.
Namun, semakin Echa mengusap, air matanya terus mengalir, dan perlahan rasa sesak menyelimuti dadanya. Tersentak tapi, pada akhirnya tangisnya semakin keras tatkala melihat Garra tiba-tiba bangun dan memeluknya erat.
“Keluarin, Cha. Kamu gak salah,” bisik Garra sambil menepuk pelan punggungnya, “kamu bukan cewe sial seperti yang kamu pikir. David memang harus pulang dan sakit itu sebabnya. Sama kaya Zayn yang memang sudah waktunya pulang. Bukan karena kamu.”
“Sakit, Ko,” ucap Echa disela isaknya.
Ada air mata yang tertahan dipelupuk mata Garra saat mendengar panggilan lama itu kembali terdengar dan membuat bayang kenangan lama, terbesit lagi dalam ingatannya.
“Kayanya emang enak manggil Koko, ya. Kaya David. Apalagi aku gak punya Kakak.”
“Hahaha…panggilah. Gak ada yang larang. Kamu Meme berarti. Aku gak punya Meme soalnya.”
“Boleh. David gak marah ini. Malah bilang, kamu kalo sama Garra, tuh, yang sopan. Dia gitu-gitu Kakakku, kamu, kan, pacarku.”
“Iya, iya, Me. Hahaha…”
Itu alasan kenapa aku sangat percaya Tuhan. Karena saat Tuhan telah bermain, bahkan yang tidak mungkin pun bisa jadi momen paling indah…
“Sakit banget, Ko,” keluh Echa lagi.
“Aku bantu sembuhin lukanya, Me. Nangis yang banyak. Tapi, besok harus kuat lagi. Demi Rouwheen,” ucap Garra tulus.
Dan disela isak Echa yang hampir memecah kesunyian hutan…
“KYAAA! AAAAAA….”
Belum selesai dengan teriakan.
DOR!
Tiba-tiba suara tembakan membuat mereka yang terpencar pun sontak bergegas mengikuti arah suara dari tempat masing-masing. Dan, Fara serta Min Seok yang tiba paling terakhir di tepi danau pun begitu terkejut melihat kondisi kaki Siska yang sudah berdarah. Sae Ra yang tampak dipenuhi amarah bersama Joo Heon serta Juh Yeon yang babak belur penuh dengan tatap kebencian pun, tengah dipegangi Kharis juga Fitra dibantu Hong Seok dan Jae Ho.
“Min Gyu~ya?” tegur Garra tatkala melihat Min Gyu yang tengah menggenggam erat sebuah pistol di tangan kanannya.
Namun, Min Gyu tetap menatap tajam Garra sebelum kemudian mengisyaratkan pada Da Hye untuk menyerahkan ponselnya. Garra tetap diam dan menyaksikan video yang sempat direkam Da Hye.
“Gak tau awalnya apa. Tapi, kayanya Sae Ra ngira Siska mau ngerebut Joo Heon. Jadi, dia sempet mukul kaki Siska pake batu lumayan besar. Sudah Siska gak bisa gerak, dia masih mau nyoba mukul pake batu lebih besar ke Siska tapi, Min Gyu sempet liat dan nembakkan batu kecil pake ketapel. Tangan kanan Sae Ra lecet kena tembakan ketapelnya jadi, gak bisa nyelakain lagi,” jelas Da Hyun, kembaran Da Hye.
“Terus, itu?” ujar Garra dengan kening berkerut menatap tajam kearah Juh Yeon.
“Joo Heon pengen ngebela Sae Ra. Tapi, Juh Yeon mau ngebela Siska. Mereka awalnya cuma adu mulut tapi, lama-lama malah adu jotos sampai Min Gyu ngarahkan tembakannya ke atas buat ngasi tanda ke yang lain sekaligus ngelerai mereka,” sahut Da Hye.
Terlihat Garra menghela napas keras. Dia melangkah mendekati Siska yang sudah di dampingi Jeni dan yang lain. Ia masih terduduk ketakutan menahan sakit di kakinya.
“Ige jinja aphona?(Ini pasti sakit banget, ya?)” ujar Garra usai berjongkok dan melihat kaki Siska yang sudah terbalut perban namun, masih dipenuhi darah, “yang lain bisa bawa Siska keluar. Bawa ke rumah sakit terdekat,” perintah Garra yang kemudian mengalihkan pandangan, “untuk Juh Yeon, kamu temani mereka bawa Siska.”
Segera, mereka yang memegangi Juh Yeon pun melepaskannya.
“Untuk Joo Heon sama Sae Ra, kalian berdua, diurus Min Gyu.”
Semua tidak ada yang membantah namun, setelah tangan Joo Heon dibebaskan. Dia langsung menghalangi jalan Garra.
“Wae na Min Gyurang? WAAAEEE?(Kenapa aku harus sama Min Gyu? Kenapa?)” teriak Joo Heon sambil mengguncang tubuh Garra yang hanya menatapnya kosong, “HYEEEONG!”
Seperti ada rasa takut saat Garra yang memiliki tinggi 185cm itu menatapnya dengan tatapan datar.
“NEO ARA IGE BULGONGPYEONGHANA! HYEEEOOONG!(KAMU TAU INI GAK ADIL!)”
Mendengar Joo Heon berteriak frustasi, Garra tetap diam.
“Bulgongpyeonghaneun eodiseo?” tanya Garra datar.
“GEUDEUL INDONESIA SARAM. URI…Hanguk saram(MEREKA ORANG INDONESIA. KITA...Orang Korea).”
Ada nada melemah diakhir teriakan amarah Joo Heon hingga membuatnya terduduk lemas, seakan menyadari sesuatu yang salah dan bahkan, membiarkan Garra yang sempat ia tahan meninggalkannya tanpa sedikitpun menoleh.
Bukan karena aku keturunan Tionghoa dan hampir mendekati rumpun yang sama dengan mereka. Tapi, karena aku…diajarkan untuk menghormati serta menghargai setiap makhluk yang Tuhan ciptakan dan selalu berharap, orang disekitarku pun memiliki prinsip yang sama…