"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan
Jeny melihat sekilas punggung Gilang.
"Aku tunggu di tempat tadi, " ujar Jeny sambil berlalu.
"Mau kemana? " tanya Indra bingung melihat Erwin bangkit dari duduknya dan berjalan menyusul Jeny sambil memakai hand protector.
"Erwin sparing latihan sama Jeny di belakang, kalian temanin ya. Kami lagi tunggu giliran tanding di sini, " sahut Bekti.
Indra mengangguk dan berlalu sambil menarik tangan Gilang yang terlihat enggan.
"Lihatnya nggak usah dekat-dekat, Ndra. Dari sini aja, " mohon Gilang.
"Hah?? Apa gunanya lihat dari jauh. Udah...biasa aja dong Lang. "
Gilang terpaksa mengikuti langkah Indra menuju tempat Erwin berdiri berhadapan dengan Jeny yang sudah memasang kuda-kuda.
Keduanya duduk di lantai, kaki di tekuk ke depan dengan lengan mengunci kaki untuk berpegangan.
Udara panas sangat terasa menyengat saat berada di luar. Jeny menatap tegas, sepoi angin mengayun rambutnya yang terlepas dari ikatan. Baju Erwin terlihat basah kuyup sisa tampilan KATA nya tadi.
Meski hanya latihan, Indra dan Gilang menatap mereka layaknya pertandingan sungguhan.
"Kenapa suasananya jadi tegang begini? " bisik Indra mendekatkan tubuhnya ke arah Gilang.
Gilang hanya mengendik bahunya.
"Apa jangan-jangan karena ada kamu, Jeny jadi seserius itu? " bisiknya lagi.
"Mungkin.. wah, kasihan Erwin. Apa bakal jadi samsak? "
Tengkuk Indra seketika bergidik ngeri. Mendengar cerita perkelahian Jeny dengan senior saja Indra sudah ciut nyali, apalagi melihat Erwin babak belur.
Jeny memulai serangan dengan gerakan berbeda dari sebelumnya. Erwin salah kira akhirnya sempat terkena tendangan di paha sampingnya, tapi ia sempat membalas dengan pukulan atas sayang Jeny mengelak lebih cepat.
Serangan dan tangkisan, gerakan Jeny sangat cepat. Bahkan mata Indra dan Gilang tak mampu mengejar setiap gerakan dengan sempurna.
Jeny mundur memberi jeda pada Erwin yang masih tersengal.
"Udahan, Jen..hhh..hhh..Bisa pingsan..aku."
Jeny mengangguk lalu berlalu meninggalkan Erwin yang membungkuk, tangannya bertumpu di lutut.
"Sukses ya, Jen, " seru Indra saat Jeny lewat di samping mereka yang sudah berdiri.
Jeny melirik Indra dan mengangguk kecil. Tak melihat Gilang sama sekali, seolah tak ada orang di samping Indra. Gilang hanya menghela nafas disikapi dingin seperti itu.
Mereka berdua menghampiri Erwin dan menyerahkan botol air mineral yang sudah dibuka sebelumnya.
"Gila!! Latihan aja sudah begitu gerakannya. Gimana sparing nanti? " tanya Indra berkacak pinggang sambil menatap Erwin yang menenggak air.
"Kalau latihan dia memang serius, kalau tanding...lebih Gila, tanpa ampun."
"Meski lawannya karateka putri? "
Erwin mengangguk.
"Lawan juga di ajarkan begitu, jadi...fair aja kan? Ayo ke dalam! "
Indra dan Gilang saling pandang. Indra menghembus nafas panjang dari mulut, Gilang mengangkat kedua alisnya. Terkesan dengan penjelasan Erwin barusan.
Saat mereka kembali ke gedung turnamen, banyak sosok mata yang menatap keduanya. Terutama pada Gilang.
Seperti biasa, kaum Hawa selalu antusias berkomentar kalau lihat yang bening. Apalagi saat itu Gilang tak memakai kacamata cupu nya. Wajahnya berubah lebih tampan dan dewasa.
Hari makin sore. Matahari di luar gedung turnamen mulai turun perlahan.
Setelah menonton beberapa pertandingan sparing putra termasuk Erwin, Dewa mengajak mereka untuk melihat pertandingan khusus sabuk hitam.
Entah mengapa, jantung Gilang ikut berdebar saat itu seolah dia yang akan bertanding. Sabuk Hitam selalu bertanding di akhir sesi. Kali ini hanya pertandingan KATA putri perorangan, karena waktu yang terbatas.
Dari lima puluh Dojo yang mengikuti pertandingan, untuk KATA Putri perorangan sabuk hitam hanya di ikuti 5 peserta. Dan...Jeny yang pertama tampil.
Ia berjalan mantap di atas matras.
Berhenti ditengah... membungkuk memberi hormat.
Tubuhnya tegak, kedua tangan lurus ke bawah.
"BASSAI DAI"
Teriakan Jeny membuka penampilannya, menghembus ketegangan di tempat itu.
Tak hanya juri yang menatap lekat, para penonton yang tadinya berdesakan meminta ruang ikut terpaku siap melihat pertunjukannya.
Pukulan bersama langkah ke depan, berbalik mengulang gerakan. Gerakannya sesekali melambat lalu cepat. Saat gerakan menendang...
"KYAAAI"
Suara teriakannya menggema dalam ruangan.
Setiap gerakan tegas dan sempurna. Tolehan cepat, ekspresi dingin dan serius. Juri terus mengangguk memberi nilai.
"Sejak kapan dia ikut Karate?" bisik Gilang pada Erwin yang berdiri di sampingnya.
"SMP kalau tidak salah, setelah dia pindah sekolah."
Gilang mengangguk mengerti.
'Mungkin ini awal perubahannya, ' batin Gilang.
Suara gemuruh tepuk tangan mengantar langkah Jeny kembali ke rekan-rekannya.
Karateka putri mengacungkan jempol pada Jeny yang masih tersengal. Jery mengusap kepala Jeny tanda puas.
Gilang hanya bisa menatap dari jauh, seakan Jeny perempuan yang sangat jauh dari jangkauannya.
"Kami pulang ya Win, " pamit Indra sambil bersalaman.
"Oke, terima kasih ya sudah mampir."
"Besok masih lanjut? " tanya Gilang.
"Iya, tadi baru kumite (sparing) penyisihan. Besok Jeny juga kumite. Mampir aja kalau mau lihat garangnya dia."
Indra melirik ke arah Gilang.
"Lihat nanti deh, kayaknya dia nggak suka aku di sini."
"Enggak..dia nggak bakal mikir begitu, kok. Dia cuma nggak suka di sorakin kayak lomba di kampus waktu itu, " jelas Erwin terkekeh.
"Loh, kamu bilang dia senang di semangatin. Gimana sih? " tanya Gilang kesal.
"Sory, aku iseng mau lihat reaksi kamu. Ku pikir kamu bakal dingin seperti ngadepin cewek lain kalau di goda. Nggak nyangka, kamu langsung nyorakkin dia begitu. "
Indra hanya bisa tertawa melihat kepolosan Gilang.
***
"Jeny, " panggil Rika sambil duduk di samping Jeny.
Jeny menoleh, tanpa suara. Ia sibuk me-lap keringat di lehernya.
"Gilang serius banget lihat tampilanmu tadi, " goda Rika.
"Semua juga serius kali, nggak cuma dia."
"Tatapannya beda Jen. Biasanya dia cuek sama cewek lain, sama kamu dia bener beda. Aku yakin dia tertarik sama kamu."
"Yang lain bilang aku harus hati-hati sama Mona, Kamu kok malah ngomporin? " tanya Jeny heran.
"Gilang itu nggak suka sama Mona, kok. Aku paling tahu bagaimana mereka di kelas. Monanya aja yang kegatelan mepetin Gilang. Serius, Jen. Makanya lihat Gilang sikapnya beda sama kamu aku nggak tahan buat diam."
Jeny hanya tersenyum.
"Makasih, Rika kamu peduli sama aku, tapi baiknya jangan di teruskan. Aku sudah minta Gilang jaga jarak denganku, aku terlalu banyak rumor negatif. Nggak baik buat dia yang anak dosen. Kamu tahu sendiri kan aku kuliah juga beasiswa, jadi aku nggak mau kena masalah."
Rika terdiam kecewa. Menyadari perkataan Jeny ada benarnya.
"Oke deh, aku ngerti maksudmu. Maaf ya jadi bikin canggung. "
"Nggak apa-apa."
Dari kejauhan Rika dan Jeny melihat Gilang yang berlalu pergi meninggalkan lokasi turnamen bersama Indra. Di belakang mereka ada beberapa karateka putri dari Dojo lain yang mengiringi langkah mereka, mencari momen yang tepat untuk minta nomer whatsapp Gilang.
"Padahal dia semenarik itu, Jen. Kamu justru menghindar. Apa kamu punya alasan khusus?"
" Selain alasan yang ku jelaskan tadi, sebenarnya Aku baru ingat akhir-akhir ini. Ada satu alasan yang membuatku mantap tak ingin dekat dengannya. Dia ternyata...pemilik sepatu yang sempat menuduhku mencuri sepatunya."
Rika terkejut, tak menyangka setelah mendengar alasan Jeny menghindar dari Gilang.
"Ternyata begitu."
Jeny tersenyum, lalu menghela nafas panjang seakan ingin membuang jauh ingatannya lewat udara yang baru saja ia hembuskan. Tapi memori itu terlalu lekat di ingatannya.