"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Pagi pukul 06.30 WIB.
Jakarta baru saja terbangun, namun hawa dingin di dalam kontrakan Abdi sudah terasa sejak subuh. Disa keluar dari kamarnya dengan langkah tegap. Ia mengenakan setelan kerja yang sangat elegan blazer hitam tajam dengan blouse putih bersih. Rambutnya tertata rapi, dan aroma parfum mewahnya memenuhi ruangan. Hari ini, Disa tidak berangkat dengan beban karena dia berangkat dengan semangat seorang algojo yang siap mengeksekusi keadilan.
Di ruang tamu, Abdi duduk di sofa dengan wajah kuyu. Abdi terlihat belum mandi, matanya merah karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan ancaman Disa. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin tampak tak tersentuh.
Tiba-tiba, suara gedoran pintu yang kasar merusak kesunyian pagi.
Braakk! Braakk!
"Mas Abdi! Buka pintunya, Mas!" suara melengking Amel terdengar dari luar penuh dengan nada menuntut.
Abdi menghela napas berat dan membukakan pintu. Amel berdiri di sana dengan wajah ditekuk tas tangannya tersampir di bahu dengan angkuh. "Mas, Ibu sakit kepalanya kumat! Katanya gara-gara kepikiran kamu yang sekarang pelit. Terus aku butuh uang buat bayar cicilan motor yang nunggak, Mas. Cepetan transfer, aku sudah ditagih orangnya!"
Abdi memijat pangkal hidungnya. "Amel, Mas nggak pegang uang sama sekali karena sekarang semua gaji Mas ada di Disa."
"Hah?! Apa Mas? Kamu bagaimana sih, Mas! Kok kamu jadi lembek banget sama istri sendiri?" Amel sewot, matanya menyapu ruangan dan mendarat pada Disa yang sedang berjalan dengan tenang menuju pintu depan, menenteng tas kerjanya.
Disa terlihat melewati Amel begitu saja. Tidak ada sapaan, tidak ada anggukan, bahkan tidak ada lirikan mata takut atau segan. Disa menganggap Amel seolah-olah hanya udara kosong yang tidak kasat mata.
"Heh! Mbak Disa! Nggak punya sopan santun banget kamu ya?!" teriak Amel, emosinya langsung tersulut. "Ada orang di sini, bukannya nyapa malah lewat begitu saja! Mentang-mentang sudah punya mobil baru jadi sombong ya?!"
Disa tidak peduli dengan ucapan Amel dan memilih untuk terus berjalan, tangannya merogoh kunci mobil dari saku blazer. Ia sudah berada di depan mobil SUV putihnya saat Amel berlari mengejar dan menahan pintu mobil Disa dengan kasar.
"Tunggu dulu Mbak! Mas Abdi bilang uangnya kamu yang pegang semua. Sini, bagi! Itu hak kami! Itu uang hasil kerja kakakku dan itu bukan uangmu!" bentak Amel tanpa tahu malu.
Abdi berlari keluar, wajahnya pucat pasi. "Amel! Jangan begitu! Lepasin tangan kamu dari mobil itu!"
Namun, sebelum Abdi sempat mendekat untuk melerai, Disa sudah berbalik. Ia menatap Amel dari balik kacamata hitamnya, lalu perlahan membukanya.
Tatapan matanya begitu tajam, membuat Amel sempat tersentak mundur satu langkah.
"Hak?" Disa mengulang kata itu dengan nada sarkas yang sangat kental. "Amel, kamu itu bekerja di bank, kan? Harusnya kamu tahu definisi hak dan pencurian. Uang yang selama ini kamu nikmati untuk gaya hidupmu itu bukan hakmu, itu adalah hasil merampas nutrisi anakku."
"Maksud Mbak apa?! Aku ini adiknya Mas Abdi, wajar kalau dia bantu aku!" balas Amel membela diri.
"Wajar itu ya kalau kamu punya rasa tahu diri," balas Disa tenang namun pedas. "Kamu kan juga kerja?, Adik kamu Andi juga punya tangan dan kaki yang lengkap buat cari uang. Tapi kenapa kalian masih merangkak seperti pengemis ke kakak kalian yang gajinya bahkan tidak cukup untuk menghidupi kalian semua? Kamu nggak malu, Mel? Pakai baju bagus, tas bermerk, tapi cicilan motor saja masih harus minta dari uang asuransi keponakan sendiri?"
Amel memang mempunyai dua cicilan mobil dan motor saat cicilan mobil dulu di cicil sama Abdi Amel memang yang membayar cicilan motor tapi sering nya Abdi juga nantinya yang ikut tebok cicilan Amel.
Amel terbelalak. "Itu... itu kan Mas Abdi yang kasih!"
"Iya, karena Mas Abdi bodoh dan kalian jahat," desis Disa. "Bakti Mas Abdi itu sudah kebablasan sampai-sampai Fikri hampir tidak tertangani saat sakit dulu karena uangnya kamu pakai buat foya-foya. Di mana hati nurani kamu sebagai perempuan?"
Amel yang merasa terpojok langsung berteriak histeris. "Halah! Itu salah Mbak sendiri! Mbak saja yang nggak becus atur pengeluaran! Jadi istri itu harusnya pinter ngirit, bukan malah nyalahin orang lain! Mas Abdi itu sudah kasih Mbak tiga juta sebulan, itu sudah banyak buat orang yang cuma di rumah saja! Mbaknya saja yang boros!"
Disa tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Abdi. "Tiga juta sebulan, Amel? Mari kita hitung di depan kakakmu yang hebat ini. Tiga juta untuk bayar listrik, air, beras, susu Fikri dan makan kami bertiga. Itu artinya seratus ribu sehari. Kamu tahu berapa uang yang kakakmu kirim ke rekening Ibumu dan kamu setiap bulan? Lima belas juta!"
Abdi menunduk dalam, tangannya gemetar.
"Tiga juta untuk istri dan anak, lima belas juta untuk parasit," sambung Disa, suaranya naik satu oktaf. "Dan kamu bilang aku nggak becus atur uang? Sini, aku kasih kamu tiga juta, coba kamu pakai buat bayar cicilan motormu, makanmu sebulan, dan bayar kosanmu. Bisa? Kamu bahkan makan satu porsi di restoran saja sudah habis dua ratus ribu, Amel!"
"Mbak sudah keterlaluan!" Amel yang sudah gelap mata karena harga dirinya diinjak langsung mengangkat tangannya, berniat mendaratkan tamparan keras ke pipi Disa. "Kurang ajar kamu!"
PLAAKK!!
Suara tamparan itu menggema di halaman kontrakan yang sepi. Tapi bukan pipi Disa yang memerah. Tangan Disa bergerak lebih cepat, ia menangkis tangan Amel dan membalasnya dengan tamparan yang jauh lebih keras hingga kepala Amel terlempar ke samping.
Amel terhuyung, memegangi pipinya yang panas. Ia shock, tidak percaya Disa benar-benar berani memukulnya.
"Satu tamparan itu untuk rasa sakit hati yang aku pendam selama tiga tahun," ujar Disa dengan nada bicara yang sangat dingin. "Jangan pernah berani angkat tanganmu padaku lagi atau aku pastikan laporan penggelapan asuransi itu sampai ke kantormu hari ini juga, biar kamu tahu rasanya jadi pengangguran."
"Disa! Sudah!" teriak Abdi, mencoba menahan Amel yang hendak maju lagi.
Disa memakai kacamata hitamnya, tidak peduli dengan Amel yang mulai menangis histeris atau Abdi yang memohon-mohon. "Mas, urus adikmu yang nggak tahu diri ini. Aku mau ke kantor. Oh ya nikmati pagimu hari ini ya Mas. Karena di kantormu nanti, ada kejutan yang jauh lebih besar dari tamparanku tadi ke adik kamu."
Disa masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan memacu SUV putihnya keluar dari halaman tanpa menoleh sedikit pun ke spion. Di belakangnya, Amel masih menjerit-jerit memaki, sementara Abdi terduduk lemas di aspal, menyadari bahwa kehancurannya baru saja dimulai.
Kantor PT Logistik, 09.00 WIB.
Abdi masuk ke kantor dengan perasaan was-was yang luar biasa. Pikirannya masih kacau karena kejadian tadi pagi. Namun, ketakutannya menjadi nyata saat ia baru saja duduk di mejanya, seorang staf HRD mendatanginya.
"Pak Abdi, dipanggil Pak Gunawan di ruang audit internal. Sekarang juga ya, Pak," ujar staf itu dengan wajah serius.
Seluruh badan Abdi mendadak dingin. Ia melangkah menuju ruang audit seolah-olah menuju tiang gantungan. Di dalam ruangan itu, sudah menunggu tim audit dengan tumpukan berkas yang sangat familiar.
"Abdi, ada temuan audit yang masuk secara anonim namun sangat akurat mengenai laporan pengadaan vendor selama dua tahun terakhir. Ada selisih dana yang sangat besar yang mengalir ke rekening atas nama... Ratna dan Amel," ujar Pak Gunawan sambil meletakkan bukti transfer di atas meja.
Abdi menutup matanya. Ia tahu, Disa tidak pernah main-main. Auditor senior itu sudah benar-benar melakukan "pembersihan" total.
Di kantornya yang megah, Disa menyesap kopi paginya sambil menatap pemandangan kota dari jendela lantai 15. Sebuah pesan masuk ke ponselnya dari Rio: "Dis, data audit logistik yang kamu kirim semalam sudah diverifikasi tim legal. Sepertinya hari ini bakal ada 'gempa' di kantor suami kamu."
Disa tersenyum tipis. "Ini baru pemanasan, Rio."