Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12. berapa harga bayi nya?
Bella mengerjap dua kali, yakin ia pasti salah dengar.
“Maaf… apa?” ucapnya pelan, meminta pria itu mengulang perkataannya. Tidak mungkin, tidak masuk akal, ia pasti salah paham.
Namun Rafael tidak menunjukkan sedikit pun tanda ragu. “Aku akan membayar berapa pun. Begitu bayi itu lahir, kau bisa pergi.”
Kata-kata itu membuat darah Bella mendidih. Amarahnya langsung terasa hingga ke wajah. Pria itu bahkan berani mengulanginya, seolah yang ia tawarkan hanyalah transaksi biasa. Bella hampir tertawa pahit, tak percaya ia pernah berpikir Rafael layak diberi kesempatan kedua, bahwa ia mungkin masih punya sisi manusiawi.
“Apa yang membuatmu berpikir aku akan menjual bayiku?” desis Bella tajam.
Tatapan di dalam kafe mulai mengarah ke mereka. Beberapa pelanggan bahkan sudah mengeluarkan ponsel, entah karena penasaran atau mencari sensasi. Padahal mereka tidak berbicara terlalu keras. Bella tidak mengerti.
Apa pun alasannya, ini bukan percakapan yang bisa dilakukan di depan umum.
“Ayo selesaikan ini di luar,” katanya dingin. Bella menekuk jari telunjuknya, memanggil Bernard agar mendekat.
“Bisa kau jaga meja kasir sebentar?” katanya dengan senyum dipaksakan. “Aku perlu bicara dengan pria… baik hati ini.”
Ia hampir tersedak saat mengucapkan kata baik hati.
Bernard membalas dengan senyum kecil, matanya mengamati Bella sejenak seperti bertanya tanpa kata apakah semuanya baik-baik saja. Bella tidak menjawab. Ia hanya melangkah keluar dari balik konter dan, tanpa memberi pilihan, menuntun Rafael keluar dari kafe.
Sebuah bangku kayu berada tepat di depan kafe. Bella duduk di sana lebih dulu. Rafael menatap bangku itu beberapa detik, raut wajahnya menunjukkan keraguan, seolah benda itu adalah sesuatu yang menjijikkan.
“Duduk saja,” kata Bella kesal.
Rafael mengeluarkan saputangan dari sakunya, menyeka permukaan bangku dengan hati-hati, lalu tanpa ragu membuang saputangan itu ke tempat sampah yang berjarak beberapa meter dari mereka.
Bella menahan napas, nyaris tak percaya.
Benarkah pria ini sefobia itu pada kuman? Bahkan untuk sekadar duduk, ia harus membuang sesuatu yang bersih?
Akhirnya, Rafael duduk.
“Istrimu pasti sangat terpukul,” kata Bella, memulai pembicaraan.
Rafael menghela napas pelan. Sekilas, Bella menangkap keraguan di wajahnya.
“Isyana bukan istriku.”
Mata Bella membelalak. Ia menatap Rafael dengan bingung, kepalanya seakan dipenuhi pertanyaan baru yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Aku mempekerjakannya sebagai ibu pengganti," lanjut Rafael.
Penjelasan itu membuat Bella mengangguk pelan, pikirannya berputar cepat. “Itu menjelaskan banyak hal,” gumamnya lirih.
Rafael memang tidak pernah terlihat sebagai pria yang mudah puas dengan keadaan.
“Apa?” tanyanya kebingungan.
“Wanita mana pun yang mau bersamamu pasti benar-benar bodoh atau punya masalah serius,” ujar Bella mengejek.
Namun, melihat ekspresi Rafael yang sama sekali tidak tertarik bercanda, Bella memutuskan mengganti topik. “Mengapa kau ingin punya bayi?” tanyanya.
Rafael terdiam sejenak, seolah menimbang jawabannya. “Aku ingin berkeluarga. Aku belum menemukan orang yang tepat, dan kurasa aku juga tidak akan menemukannya.”
Bella terkekeh kecil. Pria seperti Rafael biasanya justru menghindari bayi dan segala bentuk tanggung jawab.
“Kenapa? Kau berencana membesarkan anak itu di bar?” sindirnya.
Rafael menggeleng acuh tak acuh. “Jadi, berapa yang kau inginkan?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada jauh lebih serius.
Kesabaran Bella yang sejak tadi ia tahan runtuh seketika. Semua amarah yang berusaha ia kubur kembali muncul ke permukaan.
Ia yakin Rafael sudah paham sejak awal, bahwa ia tidak akan menjual bayinya, dan tidak pernah berniat melakukannya.
“Aku tidak tahu apakah kau benar-benar mengerti atau tidak,” ucap Bella, berusaha menahan emosi, “tapi aku tidak akan menjual bayiku.”
Setiap saraf di tubuhnya menegang, nyaris ingin menampar pria itu karena berani mengucapkan tawaran tersebut.
“Tentu saja kau harus mau,” jawab Rafael santai sambil menyilangkan kaki di atas lutut.
“Apa yang membuatmu berpikir aku akan melakukan hal semacam itu?” tanya Bella tajam.
Rafael terlihat begitu yakin bahwa ia akan mendapatkan apa pun yang ia inginkan, seperti biasanya.
“Dengar, ambil saja uangnya. Aku tidak ingin berurusan denganmu lebih lama dari yang ku inginkan.”
Kesombongan dan sikap kurang ajarnya begitu nyata. Rafael memang tipe orang yang selalu merasa segalanya bisa ditentukan dengan harga.
Bella menyadari beberapa orang di dalam kafe masih memperhatikan mereka melalui dinding kaca.
“Kenapa semua orang menatap kita?” tanya Bella sambil menoleh sekilas ke belakang.
Saat itu, tatapan-tatapan tersebut belum terlalu mengganggunya, tetapi ia tidak ingin membuat keributan di depan para pelanggan.
“Jangan khawatir soal mereka,” jawab Rafael santai. “Aku sudah terbiasa.”
Bella mendekatkan tubuhnya dan berbisik, “Apa yang membuatmu merasa begitu istimewa?”
Rafael menatapnya sesaat, lalu tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu pernah naik maskapai Aerolux?”
“Tentu saja,” jawab Bella, alisnya berkerut. Ia tidak mengerti apa hubungannya pertanyaan itu dengan pembicaraan mereka.
Ia sempat berpikir pria itu mengira dirinya hanyalah perempuan malang yang tak pernah mampu membeli tiket pesawat. Jika tidak, untuk apa menanyakan hal seperti itu?
“Aku pemiliknya,” kata Rafael akhirnya. “Maskapai itu dinamai dari kakek buyutku.”
Untuk sesaat, mata Bella membelalak, berusaha mencerna ucapannya. Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari itu pasti lelucon. Tidak mungkin satu orang memiliki maskapai penerbangan sebesar Aerolux seorang diri. Kesimpulan itu membuat Bella tertawa terbahak-bahak.
“Kamu lucu,” katanya di sela tawa.
Rafael menatapnya dengan alis berkerut, ekspresinya kaku, hingga tawa Bella perlahan mereda. Bahkan setelah berhenti pun, Bella masih harus menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
“Aku tidak akan menjual bayiku padamu,” katanya kemudian, kembali pada topik utama.
Butuh beberapa saat sebelum ekspresinya kembali serius sepenuhnya.
“Kamu harus mengerti, aku tidak akan membiarkanmu membesarkan bayiku,” ujar Rafael dingin.
Bella menegang. Cara pria itu berbicara seolah-olah ia membutuhkan izin darinya untuk mempertahankan anaknya sendiri.
“Kenapa tidak?” balas Bella tajam. “Kamu punya jutaan sperma lain. Kamu masih muda, kamu bisa menghamili siapa pun. Kenapa tidak lupakan saja sperma yang ini?” katanya sambil menunjuk perutnya sendiri.
Rafael mendesah. “Aku sudah tiga puluh lima tahun. Aku tidak ingin suatu hari nanti ada anak-anak yang tidak kukenal datang mengetuk pintu rumahku delapan belas tahun dari sekarang.”
Bella menyeringai. “Kupikir umurmu empat puluh tujuh,” candanya.
Ia benar-benar tidak menyangka pria itu baru berusia tiga puluh lima. Dalam pikirannya, Rafael terlihat jauh lebih tua, bukan dari wajah, melainkan dari sikapnya.
Bella berdiri dari bangku. Dari dalam kafe, antrean mobil semakin panjang. Para pelanggan membutuhkan kehadirannya.
Percakapan ini jelas tidak akan membawa mereka ke mana pun.
Mereka hanya terus berputar di titik yang sama. Rafael tidak mampu memahami bahwa Bella tidak akan pernah menjual anaknya. Ia juga tidak memiliki niat membesarkan anak itu bersama pria yang bahkan tidak menunjukkan sedikit pun empati, apalagi kehangatan.
Tak bisa disangkal, Rafael punya uang. Mungkin ia benar-benar kaya meski Bella meragukan soal maskapai penerbangan itu. Namun ayah Bella adalah seorang pengacara, dan pengacara yang sangat hebat.
Jika perlu, Bella tidak akan ragu memperjuangkan hak asuh anaknya.
Tiba-tiba kepala Bella kembali terasa pusing. Sensasi itu bukan hal baru, ia pernah mengalaminya sebelumnya namun kali ini tidak mereda secepat biasanya.
“Aku harus kembali bekerja. Kita bisa membahas ini lain waktu. Aku bersedia berbagi hak asuh.”
Itu kebohongan. Bella mengatakan apa pun yang perlu ia katakan hanya untuk mengakhiri percakapan ini. Hari itu sudah terlalu penuh untuk diproses sendirian.
Jika perlu, ia akan kabur bersama bayinya. Tidak mungkin ia membiarkan anaknya dibesarkan oleh pria sombong yang jelas terbiasa mendapatkan segalanya dengan uang dan ancaman.
“Aku rasa kamu tidak memahami maksudku,” ujar Rafael sambil berdiri dari bangku. “Kita tidak akan berbagi apa pun. Aku akan melawanmu di pengadilan jika perlu.”
Bella tahu tidak ada gunanya berdebat lebih jauh. Rafael bahkan tidak mencoba berkompromi atau mencari jalan tengah. Ironisnya, Bella masih cukup berbaik hati untuk berbohong demi meredakan keadaan.
Ia berbalik untuk pergi, namun langkah Rafael mengikuti dari belakang. Sebuah pikiran mendadak melintas di benaknya. Bella berhenti dan berbalik menghadapnya.
“Bagaimana kamu bisa menemukanku?” tanyanya. Ia yakin mobil Rafael tidak mungkin hanya kebetulan mengikuti mobilnya. Pria itu tahu persis di mana menemukannya.
“Lebih baik kamu tidak perlu tahu,” jawab Rafael singkat.
Rasa pusing itu tiba-tiba semakin parah. Bella mengusap dahinya, tubuhnya goyah saat ia berusaha mempertahankan keseimbangan.
Lingkungan di sekitarnya mulai kabur. Suara-suara terdengar menjauh, seolah ia berada di bawah air.
“Apakah kamu baik-baik saja?” suara Rafael terdengar samar.
Bella tidak sempat menjawab. Pandangannya menggelap, dan tubuhnya ambruk tepat ke dalam pelukan Rafael yang refleks menangkapnya.
Kegelapan menelan segalanya. Yang ia sadari hanyalah suara bip yang terputus-putus, samar namun terus-menerus.
Apa yang terjadi? Dan mengapa ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya?
Bella membuka matanya perlahan. Cahaya terang langsung menyambar penglihatannya, memaksanya menyipitkan mata dan memalingkan kepala. Ia mendengar suara pergeseran di samping ranjang.
“Bella,” seseorang memanggil namanya berulang kali.
Bella berkedip, mencoba fokus. Ia tidak berada di kamarnya. Ia berada di rumah sakit.
“Kau sudah bangun,” suara itu terdengar lagi.
Bella menoleh perlahan dan mendapati Rafael berdiri di samping ranjang, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.
“Apa yang aku lakukan di sini?” tanyanya. Suaranya lemah, kelopak matanya terasa berat.
“Kamu pingsan. Kamu tidak sadarkan diri hampir dua jam,” jawab Rafael. “Aku akan memanggil dokter.”
Ia meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Sikap Rafael terlihat lebih tenang dan ramah dari sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Rafael kembali bersama seorang dokter yang berjalan di sisinya. Dokter itu memeriksa Bella, mengecek tekanan darahnya, lalu mengajukan beberapa pertanyaan singkat.
“Anda perlu banyak istirahat, Bu. Terutama dalam kondisi Anda sekarang. Stres adalah pemicunya, itulah sebabnya Anda pingsan.”
“Bagaimana dengan bayi saya?” tanya Bella cemas.
“Baik-baik saja. Usia kehamilan Anda sekitar dua minggu,” jawab dokter itu. “Namun Anda benar-benar harus menghindari kelelahan dan tekanan emosional.”
Dokter mengangguk singkat ke arah Rafael sebelum meninggalkan ruangan.
“Demi bayiku, kamu harus beristirahat,” kata Rafael. Ia menekankan kata bayiku seolah itu haknya. “Aku tidak ingin kamu stres.”
Bella mengangguk singkat. Ia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya, bukan karena ucapan Rafael, tetapi karena keselamatan anak itu sendiri.
“Itulah sebabnya kamu harus berhenti bekerja,” lanjut Rafael tanpa basa-basi.
“Apa?” Bella menegakkan tubuhnya sedikit, matanya melebar. Kini ia benar-benar sadar.
“Aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku pemilik kafe,” bantahnya.
“Justru itu lebih baik,” jawab Rafael terdengar lega.
“Kamu bisa menjualnya. Terlalu banyak tekanan untuk seseorang dengan kondisi sepertimu,” katanya, seolah keputusan itu sudah final.
Bella menatapnya tajam. Pria itu berbicara seakan-akan ia sakit parah, seakan hidupnya sepenuhnya berada dalam kendali Rafael.
“Kalau ada satu hal yang membuatku stres, itu adalah kamu,” ucap Bella dingin.
“Kita tidak akan membahas ini lagi. Kamu harus menjual kafemu. Aku hanya memberimu pilihan.” Rafael mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Ini akan terjadi, suka atau tidak.”
“Coba saja,” tantang Bella tanpa gentar.
Rafael menyeringai tipis, seolah ancaman itu justru menghiburnya.
Sebagian dari diri Bella merasa pria itu sudah selangkah lebih maju, sementara bagian lain menunggu, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
“Kamu perlu istirahat. Aku akan pergi sekarang,” katanya sambil menepuk kaki Bella sebelum keluar dari ruangan.
Bella memejamkan mata begitu pintu tertutup. Ia tidak sanggup menghadapinya saat ini. Ia butuh rencana, bahkan jika itu berarti melarikan diri ke negara lain agar Rafael tidak pernah menemukannya.
Ia akan melakukannya. Tidak mungkin ia mempertimbangkan untuk membesarkan anak ini bersama pria seperti Rafael. Itu tidak akan pernah berhasil.