"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rima dan Tari masih menangis ketakutan. Mereka sama sekali tidak rela jika apa yang mereka peroleh dengan susah payah, harus di rebut oleh orang lain. Apalagi yang mau merebut nya adalah anak laki-laki yang sangat di sukai oleh ayah kandung mereka.
Untung saja ada Restu yang sejak tadi terus memperhatikan Seruni dari jauh. Ia merasa tidak asing dengan wanita itu. Siapa sangka, karena hal itu ia bisa dengan cepat mendekat dan menyelamatkan Seruni dan dua anak nya dari makhluk tidak punya hati.
Seruni terus saja membujuk anak-anak nya supaya diam. Restu yang berada di sana, sama sekali tidak tahu bagaimana cara nya membuat dua anak itu tersenyum kembali.
Tadi nya, Restu mengira jika apa yang dikatakan oleh Tari hanya omongan anak kecil yang tidak bisa di percaya. Siapa sangka, ia melihat sendiri kekejaman Hamdan dengan anak kandung nya.
"Sudah anak-anak, jangan menangis lagi. Kan orang nya sudah pergi. Kalian tenang saja dan jangan takut. Nanti, kalau misal nya dia ganggu kalian lagi, maka Bapak akan lapor polisi. Kalau udah kita lapor ke polisi, nanti bisa di penjara."
Anak-anak itu diam. Sejak tadi wajah mereka memerah dan baru tampak biasa setelah Restu membujuk. Seruni berkali-kali mengucapkan terima kasih pada guru anak nya itu.
"Terima kasih, Pak Restu."
"Apa, suami Bu Seruni sudah biasa seperti ini? Dan wanita tadi itu...."
"Hmm,, ya begitu lah. Saya permisi dulu, pak. Saya akan membawa anak-anak jalan-jalan supaya mereka tidak sedih lagi. Permisi."
"Eh, biar saya antar, bagaimana?"
"Tidak apa. Taksi yang kami pesan sudah menunggu. Mari, Pak Restu."
Restu memandang kepergian wanita itu hingga masuk ke dalam mobil. Restu merasa kasihan pada nya. Sebenarnya, wajar jika Seruni tidak ingin membahas hal itu. Ia merasa malu karena rumah tangga nya sedang tidak baik-baik saja.
Sampai mobil yang di naiki oleh Seruni menghilang, baru lah Restu memalingkan wajah nya ke tempat lain. Wajah Seruni benar-benar tidak asing di wajah nya sama sekali.
Seperti nya ia harus mencari tahu tentang wanita itu. Rasa penasaran nya, membuat nya tidak bisa bersabar lagi.
*****
Seruni lebih dulu pergi ke rumah Adelia untuk menjemput dua anak nya yang lain. Ia sebenarnya merasa tidak enak dengan Adelia. Tapi wanita itu sendiri yang meminta untuk menjaga mereka.
"Bu, kita kemana? Kok rumah di sini besar-besar?"
"Kita mau ke rumah Tante Adel. Jemput adik kalian."
"Wah, ternyata Tante Adel tinggal di tempat seperti ini. Pantas uang nya banyak."
Seruni hanya bisa tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak-anak nya. Mereka berdua terus mengomentari setiap rumah yang ada di sana. Seruni sama sekali tidak iri.
Ia malah sangat berharap orang-orang yang tinggal di rumah besar itu bisa menjadi pribadi yang baik seperti keluarga Adelia.
Tidak alam kemudian, mereka pun tiba di gerbang rumah itu. Seruni dan dua anak nya turun lalu membayar. Ia dan anak-anak nya sudah di sambut oleh satpam penjaga gerbang.
"Selamat siang, Bu Seruni."
"Eh, Pak Karno. Selamat siang juga. Adelia ada di rumah?"
"Ada. Nyonya di dalam sedang bermain dengan anak-anak nya Bu Seruni."
"Wah, saya jadi merepotkan Adel."
"Tidak apa kata Nyonya. Mereka anak-anak yang baik dan penurut."
Pak Karno selalu satpam rumah itu, langsung mengajak Seruni masuk. Mereka lalu duduk di ruang tamu. Rima dan Tari cukup sopan walaupun ada rasa penasaran dari mereka dengan rumah besar layak nya istana itu.
"Loh, kok Kak Runi udah di sini aja? Nggak jadi ajak mereka jalan-jalan?"
"Jadi. Tapi jemput Ranti sama Sari juga. Kasihan kalau mereka tidak di ajak."
"Oh gitu. Hmmm,, padahal aku dan mereka lagi asyik-asyiknya bermain. Apa mereka tidak bisa menginap di sini saja, kak? Suami ku pun sedang dinas diluar kota. Aku kesepian."
"Tapi, kakak malu. Dan juga, tidak mau merepotkan mu. Bagaimana pun, anak-anak kakak ada dua. Takut nya nanti kamu kerepotan."
"Sama sekali tidak. Mereka hanya bermain dengan ku. Kami juga makan cemilan. Mereka tidak protes dan menurut pada ku. Oh Kak Runi, bagaimana bisa Kakak melahirkan anak-anak yang begitu istimewa."
"Istimewa di mata mu, Del. Tapi tidak bagi suami kakak."
"Sudah lah. Ngapain lagi bahas dia. Bikin mood ku berubah."
"Yasudah. Kalau tidak, kita pergi jalan-jalan sama-sama dengan kamu. Jadi, kamu tidak kesepian di rumah." Ucap Seruni memberi ide.
"Boleh juga ide mu. Ayo kita pergi kalau gitu."
Adel dan juga Seruni akhirnya pergi menggunakan mobil nya. Empat anak perempuan itu duduk di belakang dengan baik dan aman.
Mereka berencana pergi makan es krim dan juga makan siang di mall. Setelah itu, Seruni akan mengajak anak-anak nya bermain di dunia anak-anak.
"Bu, apa Ibu ada uang? Pakai aja uang Rima menang lomba. Ibu jangan paksakan jika tidak sanggup. Apalagi tempat ini mahal."
"Rima sayang, ibu punya uang kok. Malah sangat banyak. Ibu kan sekarang bekerja di tempat saudara nya Tante Adel. Jadi, kita tidak perlu lagi kekurangan uang."
"Horeee... Tante Adel kan kaya. Pasti kita nanti ketularan Tante Adel jadi orang kaya."
"Aaamiiiinnnn."
Seruni langsung mengaminkan perkataan baik itu. Tidak ada salah nya berandai-andai. Mana tahu, apa yang di ucapkan oleh anak nya itu, bisa jadi kenyataan.
Mereka semua masuk dan makan es krim. Di lanjutkan dengan makan makanan di sebuah restauran. Anak-anak itu di beri izin untuk memilih satu jenis makanan yang mereka suka oleh Seruni. Sedangkan minuman, Seruni tidak memperbolehkan mereka terlalu banyak mengonsumsi minuman manis.
"Wah..Wah...wah... Ternyata kalian bisa makan di sini juga. Aku kira, setelah kita berpisah, kamu jadi gembel."
Lagi-lagi mereka malah bertemu dengan Hamdan dan juga Susan. Seperti nya tempat mereka datangi juga di datangi oleh makhluk itu.
"Maaf, aku sedang tidak ingin di ganggu. Ayo anak-anak, makan."
Hamdan melihat di atas meja mereka di penuhi dengan berbagai macam makanan. Ia kesal sekali karena hal itu.
Seruni bukan nya mengemis kembali pada nya. Tapi, Seruni bahkan lebih baik hidup tanpa diri nya.
"Sombong sekali kamu. Bentar lagi juga jadi janda. Jangan-jangan, kamu jual diri ya, Runi. Ah, pantas saja uang mu jadi banyak sekarang."
Seruni yang marah, langsung bangun dari tempat duduk nya. Sudah sejak tadi ia menahan rasa kesal dan marah.
Lalu....
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri