Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 21 wabah kelaparan dan bubur delapan harta
Tangga tulang yang menuju puncak Menara Penatua Agung terasa dingin di bawah telapak kaki Han Shuo. Setiap anak tangga mengeluarkan suara krek halus, seolah-olah tulang-belulang itu sedang mengerang menahan beban dosa sekte ini.
Di langit, bulan purnama yang biasanya putih bersih kini tertutup awan merah darah—efek dari formasi sihir yang diaktifkan Mu Chen. Udara di ketinggian ini tipis, berbau logam dan amis darah yang samar.
Han Shuo mencapai puncak. Sebuah pintu ganda raksasa dari kayu hitam terbuka sendiri dengan derit panjang.
"Selamat datang di ruang makan pribadiku," suara Mu Chen bergema.
Ruangan itu megah namun mengerikan. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lampu kristal yang cahayanya redup. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang yang terbuat dari batu giok darah. Di sekeliling meja itu, duduk dua puluh orang paling berpengaruh di Sekte Awan Merah: Para Tetua Senior, Murid Inti peringkat 1-10, dan beberapa tamu kehormatan dari sekte aliansi.
Mereka duduk tegak, kaku seperti boneka kayu. Mata mereka terbuka lebar, menatap kosong ke piring emas di depan mereka. Piring-piring itu kosong.
Di ujung meja, duduk Penatua Agung Mu Chen. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil berukir naga hitam—Kotak Bumbu Raja.
"Duduklah, Han Shuo," Mu Chen menunjuk kursi kosong di ujung meja yang berlawanan. "Tamu kehormatan harus duduk di kepala meja."
Han Shuo tidak duduk. Ia meletakkan Kuali Naga Merah-nya dengan keras di lantai batu. DONG!
"Aku tidak datang untuk makan, Mu Chen. Aku datang untuk membersihkan dapur ini dari kotoran sepertimu."
Mu Chen tertawa. Tawa itu terdengar salah. Mulutnya tidak bergerak sinkron dengan suaranya. Ada bayangan hitam yang menggeliat di belakang punggungnya, membentuk siluet raksasa dengan mulut lebar.
"Kau pikir aku kotor?" Mu Chen berdiri, matanya yang hitam pekat menatap Han Shuo. "Aku murni. Aku adalah wadah bagi Dewa Rakus (Gluttony God). Lima belas tahun lalu, ayahmu, Han Feng, mencoba mengurung Dewa ini di dalam kotak bumbu itu. Bodoh. Rasa lapar adalah kekuatan pendorong alam semesta!"
Mu Chen membuka kotak itu sedikit. Asap hitam tipis keluar.
"Lihat mereka," Mu Chen menunjuk para tamu yang kaku. "Mereka semua lapar. Mereka memiliki kekuasaan, kekayaan, wanita... tapi jiwa mereka kosong. Aku hanya memberi mereka sedikit 'bumbu' untuk membangkitkan nafsu makan mereka yang sebenarnya."
Wabah Kelaparan Dimulai
Mu Chen mengambil sejumput bubuk hitam dari kotak itu dan meniupnya ke arah meja makan.
"Bumbu Terlarang: Garam Kebangkitan Mayat Hidup. Selamat makan!"
Serbuk itu mendarat di wajah para tetua dan murid inti.
Hening sejenak.
Lalu, suara gemeretak gigi terdengar.
Salah satu Murid Inti, seorang pemuda tampan bernama Zhang, tiba-tiba memegang perutnya. "Lapar... Kenapa... kenapa aku lapar sekali?"
Matanya berubah merah. Urat-urat hitam menjalar di wajahnya. Air liur kental menetes dari mulutnya. Ia melihat piring emas kosong di depannya.
KRAKK!
Zhang menggigit piring emas itu. Giginya patah, darah mengucur, tapi ia terus mengunyah logam itu seolah itu kerupuk renyah. Ia menelannya bulat-bulat.
"Masih lapar! MASIH LAPAR!" teriaknya histeris.
Di sebelahnya, Tetua Wanita Sekte Pedang memandang Zhang. Bukan dengan ngeri, tapi dengan tatapan lapar. "Daging..." desisnya.
Kekacauan meledak.
Para tamu kehormatan itu berubah menjadi monster. Mereka bukan zombie biasa yang lambat. Mereka adalah kultivator tingkat tinggi yang kehilangan akal sehat dan dikuasai nafsu makan absolut. Mereka mulai saling menyerang, menggigit lengan, menarik rambut, mencoba memakan apa saja yang mengandung Qi.
Meja giok hancur berantakan.
"Ini adalah sifat asli manusia!" teriak Mu Chen kegirangan. "Tanpa moral, tanpa aturan, hanya mulut yang ingin diisi! Han Shuo, jika kau tidak memberi mereka makan, mereka akan memakanmu!"
Lima sosok murid yang sudah berubah itu menoleh serentak ke arah Han Shuo. Han Shuo memiliki Qi paling murni dan "lezat" di ruangan itu.
"MAKAN!"
Mereka melompat menerjang Han Shuo dengan kecepatan kilat.
Dapur Medan Perang
Han Shuo tidak menghunus pisaunya untuk membunuh. Mereka masih manusia. Mereka sakit. Sebagai koki, tugasnya bukan membuang bahan yang rusak, tapi memperbaikinya.
"Langkah Bayangan: Geseran Wajan!"
Han Shuo meluncur di lantai, menghindari cakar Tetua Wanita yang mencoba merobek lehernya. Ia menendang Kuali Naga Merah ke udara. Kuali itu berputar, menghantam dua murid gila hingga terpental.
"Ying!" teriak Han Shuo (meski Ying ada di bawah, dia bicara pada dirinya sendiri). "Aku butuh air!"
Han Shuo melihat akuarium hias besar di sudut ruangan yang berisi Ikan Koi Roh. Ia menebas kaca akuarium itu dengan Niat Pisau.
PRANG!
Air tumpah ruah. Han Shuo menggunakan Qi-nya untuk menangkap air itu di udara dan memasukkannya ke dalam kualinya yang panas.
"Masalah mereka adalah Api Yin Kelaparan yang membakar perut," analisis Han Shuo cepat sambil melompat menghindari gigitan Zhang. "Aku butuh sesuatu yang bersifat 'Pemberat' dan 'Penyejuk'."
Ia melihat sekeliling ruangan yang hancur. Makanan mewah yang tadi disajikan—Babi Guling, Buah-buahan Roh, Sup Sirip Hiu—semuanya berserakan di lantai.
"Semuanya bisa dimasak!"
Han Shuo melakukan sesuatu yang gila. Ia menggunakan Teknik Pusaran Angin. Ia menarik semua bahan makanan yang berterbangan di udara—baik yang masih utuh maupun yang sudah hancur—ke arahnya.
Zhang menerjang lagi, mulutnya terbuka lebar.
Han Shuo menyumpal mulut Zhang dengan sebuah lobak utuh. "Tunggu giliranmu!"
Han Shuo menendang Zhang menjauh.
Di tengah kekacauan, Han Shuo mulai memasak. Ini adalah Extreme Combat Cooking.
Tangan kirinya mengendalikan api di bawah kuali. Tangan kanannya memegang pisau Bulan Sabit. Kakinya terus bergerak melakukan tarian bela diri untuk menghalau serangan.
Sring! Sring!
Seekor Babi Guling yang melayang dipotong menjadi dadu kecil dalam sekejap mata.
Brak!
Meja kayu yang hancur ia tendang masuk ke bawah kuali sebagai bahan bakar tambahan.
"Bubur Delapan Harta Penolak Iblis!"
Han Shuo mencampurkan delapan jenis bahan sisa pesta:
* Daging Babi (Bumi/Pemberat).
* Beras Teratai (Air/Penyejuk).
* Kacang Merah (Api/Pembersih darah).
* Jali-jali (Logam/Penguat paru-paru).
* ...dan empat bahan lainnya.
Tapi masaknya terlalu lambat! Bubur butuh waktu untuk menjadi lembut. Sementara itu, dua puluh zombie kultivator semakin ganas. Mu Chen terus menaburkan garam hitamnya, memperkuat rasa lapar mereka.
Seorang Tetua berhasil mencengkeram bahu Han Shuo. Kuku tajamnya menembus daging. Darah Han Shuo menetes.
"Darah Koki..." desis Tetua itu, lidahnya menjilat luka Han Shuo.
Rasa sakit itu justru membuat pikiran Han Shuo makin tajam.
"Kalian mau makan cepat? Baiklah, aku akan gunakan teknik terlarang."
Han Shuo memusatkan seluruh Qi Pondasi Dasar Puncak-nya ke telapak tangannya. Ia menepuk sisi kuali yang membara.
"Teknik Koki Dewa: Ledakan Presto!"
Ia mengirimkan gelombang kejut bertekanan tinggi ke dalam bubur yang baru setengah matang. Tekanan itu menghancurkan struktur sel bahan makanan secara instan, memaksanya matang dalam hitungan detik, mengubahnya menjadi pasta halus yang sangat panas.
Kuali itu bergetar hebat, hampir meledak.
Han Shuo membuka tutup kuali. Uap putih tebal menyembur keluar seperti letusan gunung berapi.
"Makan ini!"
Han Shuo tidak menyendoknya. Ia menggunakan teknik Pengendalian Air untuk menerbangkan gumpalan-gumpalan bubur panas itu langsung ke mulut para zombie yang menganga.
SPLAT! SPLAT! SPLAT!
Bubur panas itu masuk ke tenggorokan mereka.
"PANAS!" jerit mereka.
Tapi itu bukan panas api. Itu adalah panas kehidupan.
Begitu bubur itu masuk ke perut, efek Beras Teratai dan Kacang Merah bekerja. Bubur itu mengembang, mengisi kekosongan yang diciptakan oleh sihir Mu Chen. Ia melapisi dinding lambung mereka dengan lapisan pelindung Qi, memadamkan api kelaparan.
Satu per satu, para zombie itu berhenti bergerak. Mata merah mereka memudar. Mereka jatuh berlutut, memuntahkan asap hitam pekat dari mulut mereka.
"Apa... apa yang terjadi?" Zhang sadar, melihat tangannya yang penuh darah (darah giginya sendiri). "Kenapa aku memakan piring?"
Ruangan itu dipenuhi suara batuk dan muntah. Aroma busuk mayat perlahan digantikan oleh aroma bubur kacang yang manis dan menenangkan.
Duel Koki vs Parasit
Mu Chen terdiam melihat pemandangan itu. Senyumnya hilang.
"Kau..." suaranya bergetar karena marah. "Kau merusak pesta makanku! Kau memberi mereka makanan murah?!"
"Makanan tidak ada yang murah atau mahal, Mu Chen," Han Shuo berdiri di tengah ruangan, napasnya terengah-engah, bahunya berdarah. "Makanan hanya ada dua jenis: Yang memberi hidup, dan yang membawa mati."
Mu Chen meraung. Bayangan hitam di punggungnya membesar, menelan cahaya lampu. Tubuh Mu Chen mulai berubah. Kulitnya robek, dan dari dalamnya keluar tentakel-tentakel hitam yang terbuat dari Niat Lapar.
"Jika mereka tidak mau makan, maka AKU YANG AKAN MEMAKANMU!"
Mu Chen melompat. Ia tidak menyerang dengan teknik bela diri. Ia membuka mulutnya. Rahangnya retak dan melebar hingga ukuran yang tidak manusiawi, siap menelan Han Shuo bulat-bulat.
Han Shuo tidak bisa menghindar. Kualinya terlalu berat untuk diangkat cepat.
Tiba-tiba, dari pintu masuk, sebuah belati hitam melesat.
JLEB!
Belati itu menancap tepat di mata kiri Mu Chen.
"ARGGHH!" Mu Chen mundur, menutupi matanya.
Ying berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Dia telah memanjat dinding menara dari luar karena tangga tulang itu dihadang sihir penghalang.
"Bos! Jangan jadi makanan penutup!" teriak Ying.
Kesempatan itu cukup bagi Han Shuo.
"Terima kasih, Ying!"
Han Shuo mengambil segenggam Garam Kasar dari sisa bahan di meja. Ia mengaliri garam itu dengan Jantung Api Perut Bumi di tangannya sampai garam itu membara menjadi kristal merah.
Han Shuo melompat ke arah Mu Chen yang sedang buta sebelah.
"Kau suka bumbu, kan? Coba yang ini!"
Han Shuo melemparkan segenggam Garam Api itu langsung ke dalam mulut Mu Chen yang masih menganga lebar.
Mu Chen tersedak. Garam itu bukan garam biasa. Itu adalah Garam Pemurni. Saat bertemu dengan Energi Yin parasit di dalam tubuh Mu Chen, garam itu bereaksi seperti air bertemu minyak panas.
BOOOOM!
Ledakan terjadi di dalam perut Mu Chen.
"TIDAAAAKKK! PANAS! ASIN! TERLALU ASIN!"
Bayangan hitam di punggung Mu Chen menjerit. Ia tidak tahan dengan kemurnian dan rasa asin yang tajam itu. Bayangan itu mencoba keluar dari tubuh Mu Chen, menarik diri secara paksa.
Tubuh Mu Chen kejang-kejang di lantai. Asap hitam keluar dari tujuh lubang di kepalanya, berkumpul menjadi gumpalan asap berbentuk wajah iblis di udara.
"Han Shuo!" suara iblis itu menggema. "Kau menang kali ini... tapi rasa lapar tidak akan pernah mati! Kami akan menunggumu di Benua Tengah!"
Gumpalan asap itu melesat menembus atap menara dan menghilang ke langit malam.
Akhir dari Mimpi Buruk
Mu Chen tergeletak di lantai, tubuhnya kurus kering seperti mumi. Ia masih hidup, tapi kultivasinya telah hancur total. Parasit itu telah memakan semua cadangan energinya sebelum kabur.
Han Shuo mendekatinya. Ia melihat wajah tua gurunya itu. Dulu, pria ini adalah koki yang dihormati sebelum tergoda oleh Kotak Bumbu Raja.
Mu Chen membuka matanya yang tersisa. Tatapannya layu, tapi waras.
"Nak..." bisiknya serak. "Kotak itu... jangan disentuh..."
"Kotak itu milik ayahku," kata Han Shuo dingin. Ia memungut kotak kayu hitam yang tergeletak di samping Mu Chen.
"Bukan..." Mu Chen batuk darah hitam. "Ayahmu... hanya penjaganya. Kotak itu... adalah kunci... untuk membuka... Gerbang Rasa Ilahi. Tapi di dalamnya... juga ada iblis."
Mu Chen mencengkeram jubah Han Shuo dengan sisa tenaganya. "Peramal Agung... dia hanya pion. Musuhmu yang sebenarnya... adalah Asosiasi Gourmet Kegelapan. Mereka... mereka yang membunuh ibumu... untuk mengambil resep... Sup Keabadian..."
Tangan Mu Chen terkulai lemas. Napasnya berhenti. Penatua Agung Sekte Awan Merah telah tiada, mati karena kelaparan di tengah ruang makan termewah.
Fajar Baru
Matahari terbit menyinari ruangan yang hancur itu. Para tetua dan murid yang selamat mulai sadar sepenuhnya. Mereka memandang Han Shuo bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai penyelamat. Tanpa bubur itu, mereka akan saling memakan sampai mati.
Tetua Li (juri turnamen sebelumnya) tertatih-tatih mendekati Han Shuo. Ia berlutut.
"Tuan Han Shuo... Anda menyelamatkan Sekte Awan Merah dari kepunahan. Kami... kami berutang nyawa."
Han Shuo tidak menjawab. Ia hanya memandang kotak hitam di tangannya. Kitab Rasa Semesta di jiwanya bergetar hebat, merespons keberadaan kotak itu.
[Misi Arc 2 Selesai: Runtuhnya Awan Merah]
[Hadiah Utama: Kotak Bumbu Raja (Tersegel)]
[Fitur Baru Terbuka: Inventaris Rasa (Menyimpan rasa masakan untuk digunakan sebagai serangan)]
[Kultivasi Meningkat: Pondasi Dasar Puncak -> Setengah Langkah Menuju Inti Emas (Half-Step Golden Core)]
Han Shuo menatap Ying yang sedang membalut luka di lengannya.
"Sudah selesai?" tanya Ying.
"Belum," Han Shuo menggeleng. Ia melihat ke arah cakrawala, ke arah pusat kekaisaran di mana Peramal Agung dan musuh yang lebih besar menunggu. "Kita baru saja menyelesaikan hidangan pembuka. Sekarang, kita masuk ke menu utama."
Han Shuo berbalik menghadap para penyintas Sekte Awan Merah.
"Mulai hari ini," suara Han Shuo tegas. "Dapur sekte ini berada di bawah aturanku. Tidak ada lagi pil rasa hambar. Tidak ada lagi politik dalam makanan. Jika kalian ingin makan, kalian harus bekerja."
Ribuan murid yang berkumpul di bawah menara (yang menyaksikan kejadian itu lewat proyeksi sihir) bersorak. Era tirani Mu Chen berakhir. Era kuliner baru dimulai.
Rangkuman Arc 2 & Transisi
Status Akhir Arc 2:
* Musuh: Penatua Mu Chen (Tewas), Wang Lin (Tewas).
* Sekutu: Putri Long Xi, Ying, Sisa Sekte Awan Merah, Monster Gou (Off-screen).
* Item Legendaris: Kuali Naga Merah, Api Jantung Bumi, Kotak Bumbu Raja.
* Kultivasi: Setengah Langkah Inti Emas.
Misteri Baru:
* Apa itu Asosiasi Gourmet Kegelapan?
* Resep Sup Keabadian milik ibunya.
* Iblis Parasit yang kabur ke Benua Tengah.
Preview Arc 3: Perang Koki Benua
Kekaisaran Naga Biru hanyalah satu negara kecil di pinggiran benua. Untuk mengejar Asosiasi Gourmet Kegelapan dan mencari tahu resep ibunya, Han Shuo harus pergi ke Ibukota Pusat Benua, tempat diadakannya Turnamen Koki Dewa setiap 10 tahun sekali.
Tapi sebelum pergi, ada masalah mendesak