NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

permintaan rea

Mobil SUV mewah itu mendadak berhenti dengan suara decit ban yang memekakkan telinga. Di depan mereka, tiga mobil hitam menutup jalan, dan belasan pria berbadan tegap keluar sambil menodongkan senjata.

Sial, mereka benar-benar belum menyerah, batin Galen geram. Matanya berkilat marah melihat ketenangan malamnya bersama Rea diganggu.

"Paman... itu siapa? Ada perampok ya?" suara Rea mulai bergetar ketakutan. Ia mencengkeram lengan jas Galen dengan erat.

Galen menoleh, wajahnya mengeras namun tatapannya melembut saat menatap Rea. Ia tidak ingin Rea melihat sisi iblisnya malam ini. Ia tidak ingin mata polos itu menyaksikan pertumpahan darah.

"Rea, tenanglah. Percaya pada Paman," ucap Galen rendah.

Tanpa menunggu jawaban, Galen melepas dasi hitamnya dengan gerakan cepat. "Maafkan saya, Rea." Ia kemudian menutup mata Rea dengan dasi tersebut dan mengikatnya dengan lembut namun kuat agar tidak terlepas. Tidak hanya itu, ia juga mengikat kedua tangan Rea di depan tubuhnya agar gadis itu tidak lari keluar mobil yang bisa membahayakan nyawanya.

"Paman? Kenapa Rea diikat? Paman mau ke mana?!" teriak Rea panik dalam kegelapan yang tiba-tiba.

"Tetap di sini, jangan bersuara, dan jangan buka penutup matamu sampai saya kembali," bisik Galen tepat di telinga Rea sebelum ia keluar dari mobil.

CEKLEK. Galen mengunci pintu mobil dari luar.

Galen dan Leon turun bersamaan. Udara malam yang dingin seketika berubah mencekam. Galen meregangkan lehernya, auranya sebagai penguasa dunia bawah meledak seketika. Di tangannya kini sudah tergenggam senjata api perak yang berkilat tertimpa lampu jalan.

"Habisi mereka semua, Leon. Jangan sisakan satu pun sampah yang berani menghalangi jalan saya malam ini," desis Galen dingin.

"Siap, Tuan!" sahut Leon.

Dalam hitungan detik, suara tembakan dan baku hantam pecah di jalanan sepi itu. Galen bergerak seperti bayangan maut, melumpuhkan lawan-lawannya dengan kejam tanpa belas kasihan. Sementara itu, di dalam mobil, Rea hanya bisa menangis sesenggukan sambil menutup telinganya, tidak tahu bahwa "Paman Tukang Kebunnya" sedang bertarung bagaikan monster di luar sana.

Galen masuk ke dalam mobil dengan napas yang sedikit memburu. Ia merapikan kemejanya yang sedikit berantakan sebelum menoleh ke arah Rea. Dengan gerakan lembut, ia membuka ikatan tali di tangan Rea dan perlahan membuka penutup matanya.

Mata bulat Rea yang basah karena air mata langsung menatap Galen dengan penuh kecemasan. "Paman... itu tadi suara apa? Kenapa berisik sekali? Paman tidak luka, kan?" tanya Rea sambil meraba-raba lengan Galen, memastikan pria itu baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Rea. Mereka sudah pergi," jawab Galen tenang, menyembunyikan fakta bahwa di luar sana aspal jalanan baru saja dibersihkan oleh anak buahnya dari sisa-sisa kekacauan. "Hanya orang-orang yang salah paham soal urusan... pupuk kebun."

Rea mengusap air matanya, masih sedikit sesenggukan. "Salah paham sampai sebegitunya ya, Paman? Kota ini menyeramkan sekali."

Galen menatap gaun indah yang dikenakan Rea, lalu melihat kondisi jalanan yang sudah tidak kondusif lagi. Ia menghela napas panjang, merasa bersalah karena malam yang seharusnya indah menjadi kacau di malam ini.

"Sepertinya malam ini kita tidak jadi pergi ke restoran itu, Rea. Suasananya sudah tidak enak," ucap Galen dengan nada menyesal.

Rea terdiam sejenak, lalu tersenyum manis meski matanya masih sembap. Ia menggenggam tangan besar Galen. "Tidak apa-apa, Paman. Rea juga masih sedikit takut. Kita pulang saja ya? Rea lebih suka di rumah bersama Paman."

Galen tertegun mendengar ucapan Rea. Di tengah dunia yang penuh kekerasan ini, kata "rumah" dan "bersama Paman" terasa jauh lebih menenangkan daripada kemenangan apa pun yang baru saja ia raih di luar tadi.

"Baiklah, kita pulang," ucap Galen lirih. Ia memberi tanda pada Leon untuk memutar balik mobil menuju mansion, sambil terus menggenggam tangan kecil Rea sepanjang perjalanan pulang.

Galen memandang Rea yang terlelap pulas. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh kecil Rea dan membawanya masuk ke dalam mansion. Galen melangkah menuju kamar Rea, memastikan setiap langkahnya lembut agar tidak membangunkan gadis itu.

Galen menghentikan langkahnya di tengah anak tangga yang besar. Tubuhnya membeku sesaat ketika mendengar gumaman lirih dari bibir Rea yang masih terlelap.

"Rea... pengen jadi istrinya orang kaya..." bisik Rea polos dalam tidurnya, mungkin ia sedang bermimpi tentang rumah megah yang baru saja ia tinggali.

Galen menatap wajah mungil itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada seringai tipis namun tajam di sudut bibirnya. Di bawah cahaya lampu kristal mansion yang mewah, ia berbisik tepat di telinga Rea yang masih belum sadar siapa sebenarnya pria yang sedang mendekapnya ini.

"Kalau begitu, keinginanmu terkabul, Gadis Manis," desis Galen dengan suara rendah dan serak. "Saya nikahi kamu. Detik ini juga, kau adalah milik Galen Alonso."

Galen melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan langkah yang lebih mantap. Ia membaringkan Rea di atas ranjang king size yang empuk. Tangannya mengusap pipi Rea lembut, namun tatapannya penuh dengan kepemilikan yang berbahaya.

"Besok pagi, jangan menyesal karena telah meminta hal itu, Rea," gumam Galen sambil menyelimutinya.

Ia kemudian keluar dan segera menemui Leon yang sudah menunggu di koridor gelap.

"Leon," panggil Galen tanpa menoleh. "Siapkan dokumen pernikahan dan cari pendeta yang bisa tutup mulut. Saya tidak butuh pesta, saya hanya butuh dia terikat secara sah dengan nama saya sebelum musuh-musuh itu menyentuhnya lagi."

Leon terbelalak. "Tuan... Anda serius? Menikahi gadis yang mengira Anda tukang kebun?"

"Sangat serius," jawab Galen dingin. "Dan pastikan dia tetap mengira saya tukang kebun sampai dia benar-benar menjadi Nyonya Alonso. Saya ingin tahu, apa dia tetap mencintai 'tukang kebun seniornya' setelah tahu betapa kotornya tangan ini."

Malam itu, takdir Rea Adelia terkunci rapat di dalam mansion hitam milik sang penguasa dunia bawah. Tanpa ia sadari, besok pagi ia akan terbangun bukan lagi sebagai asisten tukang kebun, melainkan sebagai tawanan sekaligus ratu di singgasana Galen Alonso.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!