"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TARUHAN NYAWA DI ATAS MARMER
Moncong pistol hitam itu terasa dingin dan keras saat menekan dahiku. Bau mesiu dan keringat dingin Stevanus memenuhi indra penciumanku. Di sekeliling kami, polisi sudah mencabut senjata mereka, mengarahkan moncong ke arah Stevanus. Suasana di ruang tamu mewah itu kini berubah menjadi ladang pembantaian yang siap meledak kapan saja.
"Lepaskan senjatamu, Tuan Stevanus! Jangan memperburuk keadaan!" teriak Inspektur, namun suaranya terdengar jauh di telingaku.
Fokusku hanya satu: rasa sakit yang mengoyak perut bawahku. Darah yang mengalir di kakiku terasa hangat, kontras dengan lantai marmer yang sedingin es. Aku menatap mata Stevanus mata yang dulu kucintai, mata yang kini dipenuhi kegilaan dan ketakutan.
"Katakan!" Stevanus berteriak, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. "Widya Pratama tidak mungkin punya bekas luka ini! Hanya Yati yang memilikinya! Bagaimana kau bisa hidup?! Aku melihatmu hancur di dasar tangga itu!"
Aris mencoba maju, namun Stevanus menekan pistolnya lebih keras. "Mundur, Aris! Atau aku akan memastikan otak wanita ini berceceran di karpet barumu!"
Aku menarik napas pendek, menahan jeritan sakit dari rahimku. Di tengah maut yang mengintai, sebuah kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya bangkit. Kekuatan seorang ibu yang tidak akan membiarkan anaknya mati dua kali.
"Kau ingin tahu siapa aku, Stev?" suaraku keluar dengan tenang, hampir seperti bisikan hantu. Aku tidak lagi berakting sebagai Widya yang elegan. Aku menatapnya dengan tatapan Yati yang penuh dendam.
"Yati sudah mati, Stevanus. Kau sendiri yang membunuhnya," aku tersenyum pahit, membiarkan air mata jatuh dan membasahi pipiku. "Tapi kau lupa satu hal... hantu tidak akan pernah pergi sampai dia mengambil apa yang menjadi miliknya."
Stevanus gemetar. "Jadi... itu benar kau? Kau kembali untuk apa?!"
"Untuk melihatmu kehilangan segalanya, sama seperti aku kehilangan bayiku di tangga itu!" teriakku, melepaskan semua beban yang selama ini kupendam.
Tiba-tiba, rasa sakit di perutku mencapai puncaknya. Aku mengerang dan tubuhku merosot. Stevanus yang tidak siap dengan gerakan mendadakku, sedikit kehilangan keseimbangan.
DORRR!
Suara tembakan memecah keheningan. Namun, peluru itu tidak mengenai kepalaku. Aris telah menerjang Stevanus di saat yang tepat, membuat peluru itu bersarang di langit-langit kristal yang mahal. Pecahan kaca menghujani kami seperti hujan berlian yang mematikan.
Polisi langsung menyerbu. Stevanus diringkus di lantai, meraung-raung seperti binatang buas yang tertangkap. "Dia setan! Wanita itu setan! Dia kembali dari neraka!"
Aris mengabaikan kericuhan itu dan segera mendekapku. "Widya! Bertahanlah! Ambulans sudah di depan!"
Aku mencengkeram kemeja Aris, tanganku bersimbah darahku sendiri. "Aris... bayiku... selamatkan bayiku..."
Pemandangan di dalam ambulans terasa kabur. Lampu-lampu jalanan tahun 2026 yang berpijar terang di luar sana tampak seperti garis-garis putih yang memanjang. Aku bisa merasakan petugas medis memasangkan masker oksigen dan menusukkan jarum infus ke tanganku.
"Tekanan darah menurun drastis! Dia mengalami pendarahan hebat!"
Aku memejamkan mata. Di kegelapan batin, aku melihat bayangan seorang anak kecil berlari di taman bunga yang indah. Dia menoleh padaku dan tersenyum. Ibu, jangan menyerah, bisiknya.
Aku harus bertahan. Aku belum melihat Stevanus membusuk di penjara. Aku belum mengambil kembali tanah milik ayahku.
Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung dilarikan ke ruang operasi darurat. Aris terus memegang tanganku sampai pintu ruang operasi memisahkan kami.
"Lakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka berdua!" teriak Aris pada dokter yang masuk.
Di dalam ruang operasi yang dingin, di bawah lampu yang menyilaukan, aku merasakan kesadaranku perlahan menghilang. Hal terakhir yang kudengar adalah suara monitor jantung yang berbunyi sangat cepat, lalu... satu garis panjang yang konstan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit....
Dokter meletakkan alat pacu jantung (defibrilator) setelah percobaan ketiga gagal. "Waktu kematian, pukul 23:45," ucapnya lesu sambil melepas sarung tangannya yang berdarah.
Namun, di saat perawat hendak menutupi wajahku dengan kain putih, tiba-tiba dari arah perutku terdengar suara detak jantung yang sangat kuat melalui alat dopler yang masih menempel. Detak jantung yang bukan milikku, tapi milik janin yang menolak untuk mati.
Mata dokter terbelalak. "Tunggu! Bayinya memberikan stimulasi adrenalin kembali ke ibunya! Cepat, ambil alat pacu jantungnya lagi! Mukjizat ini sedang terjadi!"
Widya berada di ambang kematian namun diselamatkan oleh keinginan hidup janinnya! Di Bab 17, kita akan melihat bagaimana Widya bangkit dari maut sementara Stevanus mulai membusuk di balik jeruji besi, tidak menyadari bahwa rencana balas dendam yang sebenarnya baru saja dimulai dari ranjang rumah sakit.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...