Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Berani
Suasana di New York tak kalah panas dibandingkan Jakarta. Di dalam penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah kerlap-kerlip Manhattan, kemarahan Scott Aditama meledak.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kepala pengawal pribadinya. Scott berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena murka.
"Kalian ke mana saja sampai anak gadisku bisa kabur dari pengawasan ketat, hah?!" teriaknya hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan yang berlapis marmer itu. Para pengawal hanya bisa tertunduk diam, tak berani menatap mata pria yang dikenal bertangan besi itu.
Widia, istri Scott, tampak duduk di sofa panjang sambil memijat keningnya yang terasa pening. Ponselnya baru saja diletakkan setelah menerima kabar singkat namun krusial.
"Sayang, tenanglah... Kendalikan dirimu," ujar Widia dengan suara lembut namun tegas. "Hendra sudah memberi tahuku kalau Dona sudah berada di Jakarta. Brian sudah mengamankannya. Keponakanmu itu akan mengurus semuanya."
Scott berbalik, menatap istrinya dengan tatapan tajam yang tak berkurang kekesalannya. "Kau terlalu memanjakannya, Widia! Apa kau pikir aku tidak tahu anakmu itu sudah hilang akal? Dia kabur ke Jakarta karena tergila-gila dengan asisten itu! Bahkan asisten itu kabarnya akan segera menikah. Ini memalukan!"
"Namanya Frans, Scott. Frans," balas Widia dengan nada sedikit kesal karena suaminya terus merendahkan pria pilihan anaknya. "Dan ingat, dia bukan sekadar asisten. Dia tangan kanan kepercayaan Brian Aditama. Frans orang yang setia, dia pasti akan membawa Dona pulang dengan selamat."
"Oh, astaga! Aku bisa gila kalau begini terus!" Scott tidak mau mendengar pembelaan lagi. Ia menyambar gelas wiski nya, lalu berjalan pergi meninggalkan Widia sendirian di ruang tengah, menuju ruang kerjanya untuk menghubungi Brian secara pribadi.
...***...
Sementara itu, di dalam gudang yang gelap dan berbau debu, ketegangan antara Frans dan Dona belum surut. Lampu mobil yang sengaja dimatikan membuat suasana hanya diterangi oleh cahaya kilat yang sesekali menyambar dari luar.
"Frans, lihat aku!" tuntut Dona. Ia menarik kerah kemeja Frans, memaksanya berhenti mondar-mandir. "Ada apa? Kenapa kamu setakut itu pada Kak Brian? Dia cuma kakak sepupuku, bukan Tuhan!"
"Dia bukan Tuhan, tapi dia juga yang memegang kendali hidup saya, Dona!" balas Frans dengan nada tinggi yang jarang ia gunakan. "Jika dia atau Hendra sampai di sini, kamu akan langsung dideportasi ke New York, dan aku... aku akan kehilangan mu segalanya."
Dona justru tertawa menantang. "Tidak! Biar saja mereka datang. Dengan begitu, ayahmu tidak punya alasan lagi untuk memaksamu lagi untuk menikah."
"Kamu benar-benar gila," bisik Frans, namun ada binar kekaguman di matanya yang tak bisa ia sembunyikan.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat terdengar dari kejauhan. Cahaya lampu sorot yang sangat terang menyapu jendela-jendela tinggi gudang tersebut.
Frans langsung menarik Dona sisinya. "Mereka sudah sampai."
Tiga mobil SUV hitam berhenti tepat di depan pintu besi besar gudang. Hendra keluar dengan payung hitam yang dipayungi anak buahnya. Ia berdiri tenang di tengah hujan, menatap pintu gudang yang tertutup rapat.
"Frans!" suara Hendra menggema. "Keluar sekarang. Jangan membuat Nona Dona semakin sulit. Tuan Muda Brian ingin menyelesaikan ini tanpa ada pertumpahan darah."
Dona bersiap untuk berdiri dan membalas teriakan itu, namun Frans membekap mulutnya dan memeluknya erat dari belakang.
"Diam," bisik Frans tepat di telinga Dona. "Hendra tidak sendirian. Dia membawa sepuluh orang pengawal. Kalau kita keluar sekarang, semua selesai."
"Apa kau takut, frans."
"Tidak. Bahkan nyawaku akan ku pertaruhkan untuk mu," bisik Frans didepan wajah Dona. Dona tersenyum mengecup bibir Frans yang dibalas dengan lumatan lembut dan menggairahkan, hingga bunyi decakan lidah terdengar di ruang pengap itu.
Hendra di luar melihat ke arah jam tangannya. "Tiga puluh detik, Frans. Jika kamu tidak keluar, kami akan masuk dengan paksa. Dan kamu tahu sendiri, perintah Tuan Muda untukmu tidaklah semudah perintah untuk Nona Dona."
Dona melepaskan ciumannya dan menatap Frans dengan tatapan yang sangat dalam. "Frans, kalau kita harus tertangkap malam ini, biarkan mereka melihat bahwa aku sudah memilihmu. Dan tidak ada satu pun Aditama yang bisa mengubah itu."
Dona tiba-tiba berjalan menuju pintu besi besar itu sebelum Frans sempat mencegahnya. Ia menendang pintu kecil di samping pintu utama hingga terbuka lebar.
"Hendra! Berhenti berteriak seperti anjing penjaga!" seru Dona sambil melangkah keluar ke tengah hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup.
Hendra sedikit terkejut, namun ia segera membungkuk hormat. "Nona Muda. Mari pulang. Tuan Muda Brian sudah menunggu."
"Aku akan pulang," kata Dona sambil menunjuk ke dalam gudang. "Tapi hanya jika Frans yang mengantarku, dan tidak ada satu pun dari kalian yang menyentuhnya."
Hendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti bahaya. "Maaf, Nona. Perintah Tuan Muda berbeda. Anda ikut saya, dan Frans... dia punya urusan sendiri dengan Tuan Muda."
Hendra memberi isyarat pada anak buahnya untuk mendekat ke arah Dona, namun langkah mereka terhenti saat Frans perlahan keluar dari kegelapan gudang. Pakaiannya terlihat kusut, namun sorot matanya yang biasanya tenang kini terlihat sangat tajam.
Frans berdiri di samping Dona, memegang bahu gadis itu seolah menegaskan posisinya.
"Tuan Hendra," suara Frans terdengar berat namun tenang. "Saya akan membawa Nona Dona kembali ke kediaman Tuan Muda Brian. Tapi saya mohon, biarkan kami satu mobil. Saya yang akan bertanggung jawab penuh atas kehadirannya di sini."
Hendra menatap Frans cukup lama, mencoba membaca situasi. Ia tahu Frans tidak sedang mencoba melarikan diri, melainkan sedang mencoba menyelamatkan sisa martabat Dona.
"Kamu tahu konsekuensinya, Frans?" tanya Hendra pelan. "Begitu kau sampai di kediaman, bukan hanya Tuan Brian yang menunggumu. Tapi juga kemarahan Ayahmu dan Tuan Bagas yang sudah merasa dihina karena kamu meninggalkan persiapan pernikahanmu."
"Saya tahu," jawab Frans singkat.
Dona menggenggam tangan Frans erat, seolah tak peduli dengan suasana saat ini. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Frans. Bahkan jika Papi ku sendiri yang datang."
Hendra akhirnya mengangguk kecil. "Masuk ke mobil. Saya akan mengawal kalian. Jangan mencoba melakukan manuver apa pun, atau sepuluh senjata ini tidak akan ragu untuk bertindak."
Frans tidak melepaskan genggamannya sedikit pun. Jemarinya mengunci tangan Dona dengan erat. Mereka berjalan masuk ke gudang yang lembap menuju mobil Frans yang terparkir di tengah-tengah.
Di luar, lampu SUV hitam milik Hendra menyala, membelah kegelapan malam. Hendra sudah duduk di kursi penumpang depan, mengamati setiap gerak-gerik mereka melalui kaca spion. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Frans untuk melarikan diri lagi.
"Frans," bisik Dona saat mereka sudah berada di dalam mobil, sesaat sebelum Frans menyalakan mesin. "Kamu tahu kan, begitu kita sampai di sana?"
Frans menarik napas panjang, menatap lurus ke depan ke arah mobil Hendra yang sudah mulai bergerak pelan sebagai pemandu jalan. "Aku tahu, Dona. Tapi melarikan diri hanya akan membuat Anda menjadi buronan keluarga sendiri, dan saya menjadi seorang pengecut. Saya lebih baik menghadapi Tuan Brian sebagai laki-laki daripada bersembunyi seperti pencuri."
Mobil Frans bergerak mengikuti iring-iringan Hendra. Suasana di dalam mobil terasa sangat kontras, di luar hujan masih mengguyur deras, sementara di dalam hanya ada hembusan napas mereka yang berat.
Dona menyandarkan kepalanya di bahu Frans, mengabaikan fakta bahwa kemeja pria itu masih sedikit basah. "Kalau Papi atau Kak Brian mencoba memisahkan kita, aku akan melakukan sesuatu yang lebih gila dari sekadar kabur dari New York. Aku bersumpah."
Frans hanya bisa terdiam. Ia tahu Dona tidak main-main. Namun, dipikirannya saat ini bukan hanya soal cintanya pada Dona, tapi dampak dari keputusan gilanya.