NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Tersinggung Dan Marah

Sementara Rayi ke ruang kerja Rio, segera kakek Brata menghubungi cucunya.

"Ya halo, Kakek ..." sambut Rio yang sedang duduk di depan jendela kaca memandang pada suasana jalan raya setelah menikmati kopi.

"Rayi mau nginep dua hari dua malam di rumah kakeknya katanya udah seijin kamu,"

"Seijin aku?" Rio agak terkejut kapan gadis itu minta ijin, tapi iya ajah, lagian mau balik ke rumahnya juga aku gak larang, "Oh ya biar saja, Kek nggak apa-apa," terpaksa Rio mengikuti jalur Rayi.

"Ya sudah lebih cepat urusanmu sekesai maka lebih cepat pula kamu berkumpul sama istrinya,"

"Ya, Kek,"

Saat itu Rayi mendekati kakek Brata.

"Rayi ke kampus sekalian pulang ke rumah Kakek Satya, kek,"

"Ya hati-hati,"

"Pak Amat nggak usah antar jemput selama dua hari Rayi di rumah Kakek Satya, ya, Kek biar Rayi ke kampus bawa mobil sendiri,"

Tentu saja Rio bisa mendengar suara Rayi karena dia belum mematikan handphonenya.

Hem kedengarannya dia santai dan udah cukup akrab sama kakek, padahal baru juga beberapa hari tinggal satu rumah. Apa jangan-jangan mereka sebelumnya memang sudah akrab, makanya tak canggung lagu pada kakek, batin Rio yang menangkap suara ceria Rayi. Lepas tanpa beban.

"Ya sudah Rio, tuh istrimu baru berangkat ke kampus dan pulangnya ke rumah dia sendiri,"

"Ya kek memang tadi sudah Rio ijinin ..." mau tak mau Rio jadi mengikuti permainan Rayi.

Berarti anak itu berbohong pada kakek tentang hubungan telepon kami. Kenapa dia berbohong?

Kenapa juga aku ikut permainannya. Bukankah ini membuat kakek salah paham. Pasti kakek mengira kalau kami harmonis.

Padahal kan nggak gitu?

Wah ini gak boleh dilanjutkan, bisa-bisa nanti kakek tak setuju jika aku ingin berpisah.

Tanpa berpikir dua kali segera menghubungi nomernya Rayi. Saat itu Rayi masih berada di dalam mobil menuju ke kampusnya.

Rayi terkejut saat masuk panggilan dari 'Kepedean'. Matanya melebar. Dia memang memberi nama Rio di handphonenya 'Kepedean' karena sikap dan ucapan lelaki itu saat mengintimidasinya setelah mereka menikah.

Sikap Rio yang menolaknya dan ucapannya yang membesarkan diri sendiri tapi menganggap Rayi bocil sungguh sangat percaya diri. Maka itu Rayi memberi nama Rio di handphonenya adalah Kepedean.

Rio menunggu panggilannya yang sudah berulangkali dia lakukan pada Rayi.

Karena berdering bikin kesel dan mengganggu, akhirnya Rayi pun menerima panggilan itu.

"Halo ..." saat mengucap halo wajahnya ditekuk alias tak senang hati karena pagi-pagi Rio membuat brisik.

"Halo ...."

"Ya ..."

"Aku mau tanya sama kamu kapan aku ngasih ijin kamu untuk menginap di rumahmu sendiri hah?" Seperti saat berbicara dengan Rayi pada hari pertama pernikahannya, suaranya bernada protes dan tak suka.

Rayi terkejut. Mulanya dia salah mengartikan ucapan Rio. Dari ucapannya seolah lelaki itu tak setuju jika Rayi meninggalkan rumahnya walau hanya dua hari.

Kenapa dia kayak nggak ngebolehin aku menginap di rumahku sendiri, dasar orang aneh!

"Hey cewek nggak usah ngebohong sama kakek aku ya, udah gitu fitnah aku lagi yang memberi kamu nginep di rumahmu. Kecil-kecil kang tipu ..."

Hah!

Rayi terkejut.

Tapi sebelum Rayi mengeluarkan suaranya Rio sudah mematikan handphonenya.

Rayi semakin geram saat tahu Rio sudah mematikan handphonenya.

"Dasar orang songong!" Rayi merengut dengan hati kesal. Udah bagus dibantuin supaya kakeknya senang hati, biar dianggap rukun, eh, malah dianggap tukang tipu.

Sial!

Rutuk Rayi tanpa suara.

Sopir Amat yang melihat Rayi merengut tersenyum.

Memangnya elo siapa senengnya nyalahi orang mulu!

"Maaf, Non apa Tuan Rio tak mengijinkan Non menginep di rumah kakek Non?" Amat yang sudah dikasih tahu kakek Satya kalau harus mengantar non majikannya nanti sepulang gadis itu kuliah ke rumah kakek Satya karena Rayi mau menginap di sana, bertanya hati-hati.

Sopir Amat terus menyetir sambil sesekali memandang Rayi yang terlihat merengut, dari kaca spion. Bukan mau ikut campur, tapi ujung-ujungnya nanti tuan mudanya itu akan menyemprotnya karena telah mengantar Rayi.

"Siapa juga yang mau perduli dia ...!" Sungut Rayi ketus.

Sopir Amat tersenyum memandang wajah cantik yang masih bersungut itu.

"Ngeselin amat, sih,"

"Jadi bagaimana, Non, nanti siang mau dianteri ke rumah kakek Non?" Sebenarnya dia mau ngasih tahu Rayi jika tuan Rio melarang jangan ditentang. Tuan mudanya itu memang kalem dan baik, tapi tak mau larangannya dilewati. Dia kan sudah tujuh tahun menjadi sopir keluarga kakek Brata.

"Tetap nanti siang aku antar ke rumah kakek, Mang Amat," ujar Rayi bersuara seperti biasa pada Amat, ramah walau hatinya kesal tapi tak perlu orang lain jadi sasaran.

"Baik, Non," angguk sopir amat.

Tapi bagi Rio peringatan itu supaya Rayi tidak berbohong atas namanya pada kakeknya. Dia tak mau berpikir tujuan gadis itu baik, atau bagaimana. Yang jelas tak mau namanya dicatut oleh gadis yang masih dianggapnya bocil itu di depan kakeknya.

Biar saja dia marah karena tadi dibilang kang tipu. Kalau dia marah kan jadi benci padaku. Kalau dia benci kan semakin gampang diajak pisah di hadapan kakek, pikirnya simple saja tak mau ruwet karena kosentrasinya adalah harus betul-betul waspada dengan tugasnya. Karena ini tak boleh dibuat main-main. Dalah menilai dan kurang teliti dampaknya bukan hanya menghancurkan nama Brata Corporation, tapi juga akan merugikan semua rumah sakit dan klinik yang memakai alat medis rekrutannya.

Ini berhubungan dengan jiwa manusia, jadi harus super ekstra hati-hati jangan sampai ada celah setitik pun, yang akan berakibat fatal untuk masyarakat banyak yang membutuhkan bantuan medis.

Sedangkan Rayi masih saja sangat dongkol oleh ucapan Rio.

Dia betul-betul nggak menganggap aku sama sekali. Oke Rio lelaki yang sangat kepedean, kirain dia doang yang tampan, kirain dia doang yang kaya raya.

"Pret"

Rayi berjalan bersisian dengan Yuni mau ke kantin.

"Halo ..." seseorang tahu-tahu menghadang langkah mereka. Pemuda itu adalah Didit.

Rayi menatap Didit, lalu mendekat pada Yuni "Ih nih orang sok akrab kelihatannya," bisiknya pada di telinga Yuni.

"Ngeganggu nggak?" Didit tak sabar dan tekatnya sudah bulat mau ngajak Rayi ke kantin.

"Oh nggak ..." justru Yuni yang menjawab.

"Boleh aku traktir kalian untuk makan siang di restaurant di seberang kampus?" Yang dimaksud restaurant di seberang kampus adalah sebuah restaurant yang cukup besar dan mewah, untuk ke sana harus menaiki jembatan penyeberangan atau memutar dengan mobil.

"Ribet ah udah lapar gini kudu jalan jauh dulu," jawab Rayi jujur karena untuk mengisi perut yang sudah keroncongan tak perlu mencari tempat mewah. Yang penting bersih dan perut kenyang.

"Oke terserah di kantin kampus saja, gimana nggak nolak, kan?"

Rayi menatap Yuni.

"Kita kan memang lapar Ray ..." celetuk Yuni.

"Ayo dong please aku traktir kalian ..." walau tujuannya Rayi tapi Didit tetap menjaga kesopanan mengajak Yuni juga.

Rayi pun mengangguk.

"Nah gitu dong ..." dan Didit pun mengiringi kedua gadis itu.

Mereka sepakat memesan menu yang sama. Soto Betawi lengkap dengan nasinya, serta tiga botol air mineral.

"Ray kamu nanti ke pacuan,, kan?" Didit menatap Rayi.

"Ya, dong ..." angguk Rayi.

"Ray kamu ternyata jago menunggang kuda, ya," tatap mata Yuni kagum pada Rayi.

"Dia juara, lho ..." ujar Didit.

"Oh ya ..." Yuni tersenyum pada Rayi tak menyangka sahabatnya yang bertubuh ramping dan berkulit putih bersih itu adalah joki handal di atas punggung kuda.

Rayi tersenyum, "Semua juga bisa kalau mau belajar," ujarnya merendah.

"Gimana Ibu Ketua nama Didit yang ganteng ini ada kan di buku keanggotaan ...?" Didit bercanda.

Rayi tersenyum, tapi emang ganteng, kok, batinnya."Oh ada dong ..."

"What Ibu Ketua?" Yuni menatap Rayi.

"Kebetulan dapat warisan dari kakekku," tersenyum Rayi.

"Wah keren warisanmu lapangan untuk pacuan kuda, wah pasti kakekmu tajir, Ray ..." ujar Yuni, tapi kalau kulihat dari mobil yang mengantar dan jemputnya ajah mobil mewah, batinnya tak tahu jika mobil yang mengantar dan menjemput Rayi adalah milik kakek mertua temannya.

"Seanggota-anggotanya diwariskan sama kakeknya ke dia ..." sambung Didit menggoda.

Mereka pun melanjutkan makan siangnya, dan tanpa setahu kedua gadis di depannya diam-diam Didit mengambil foto Rayi dan mengirimkan pada kakak sepupunya. Siapa lagi kalau bukan Rio.

Di Jepang di sebuah pabrik yang memproduksi alat medis kesehatan Rio yang sedang membaca nama-nama bahan dasar dari bagian produksi itu, meraih handphone yang bergetar tanda ada pesan masuk, dari saku celana panjangnya.

Dari anak itu ternyata, bisik hati Rio, hem dia kirim foto rupanya.

Klik.

Foto Rayi menghadapi semangkok soto terlihat jelas.

(Gimana, Kak, cantik, ya, ini kali kedua aku berhasil membujuk dia makan. Mauku di restaurant di seberang kampus, tapi dia gadis yang nggak mau ribet)

Rio menatap foto Rayi.

Cantik juga gadis yang mau dijadikan gebetannya, batinnya, masih remaja pula.

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!