NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlanjur Tenggelam

...****************...

Pagi ini rasanya canggung. Aku bertemu Linda di kantor seperti biasa, tapi tidak ada yang benar-benar biasa. Senyumnya masih sama. Suaranya masih selembut itu. Tapi ada sesuatu yang berubah di antara kami atau mungkin hanya di dalam diriku.

Aku masih merasa kecewa. Bukan marah yang meledak-ledak, tapi seperti bara yang tidak padam.

Semalam, kata-kata teman kost sebelah kamarku terus terngiang.

“Ka, kamu ini cupu banget.”

“Memang ada laki-laki yang bersih?”

“Setiap laki-laki punya nafsu. Jangan sok beda.”

Aku tidak menjawab waktu itu. Hanya tersenyum kaku. Tapi kalimat itu terus mengendap di kepala.

Apa aku memang aneh?

Apa prinsip yang kujaga selama ini cuma bahan tertawaan?

Aku frustasi memikirkannya.

Apakah aku sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada Linda? Atau aku sudah tenggelam, dan baru sadar ketika napasku mulai habis?

Saat live dimulai, aku dan Linda tetap profesional. Kamera menyala, lampu studio terang, komentar penonton mengalir seperti biasa. Kami bercanda, saling menimpali, tertawa pada timing yang tepat. Seolah tidak ada malam yang terlalu sunyi untuk dilupakan.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di balik layar.

Dan mungkin, memang tidak ada yang perlu tahu.

Namun setiap kali mata kami tanpa sengaja bertemu, ada jeda sepersekian detik yang tak bisa kami sembunyikan. Ada sesuatu yang tidak selesai.

Jam kerja akhirnya usai.

Biasanya aku langsung memesan ojek online. Duduk di belakang pengemudi, menatap jalan tanpa perlu berpikir tentang setir atau arah. Tapi hari ini aku sengaja membawa mobil sendiri. Entah kenapa, aku ingin memegang kendali. Setidaknya atas perjalanan pulangku.

Aku berjalan menuju parkiran, membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi pengemudi. Suara pintu tertutup terdengar lebih keras dari biasanya. Tanganku sempat terdiam di atas setir sebelum akhirnya menyalakan mesin.

Baru saja mobil hendak bergerak, pintu penumpang tiba-tiba terbuka.

Linda.

Ia masuk tanpa banyak bicara, lalu menutup pintu dengan pelan. Aroma parfumnya langsung memenuhi ruang sempit itu. Terlalu akrab. Terlalu dekat.

“Ka, aku ikut kamu.”

Aku menatap lurus ke depan. Jantungku berdetak lebih cepat dari yang kuinginkan.

“Oke,” jawabku singkat.

Mobil melaju perlahan meninggalkan parkiran. Jalanan sore itu cukup padat. Klakson bersahutan. Lampu merah menyala lebih lama dari biasanya.

Di dalam mobil, sunyi.

Linda menoleh ke arahku beberapa kali, seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu itu. Tapi aku belum siap mendengarnya.

Aku masih berusaha memahami diriku sendiri.

Apakah aku kecewa karena dia? Atau karena bayangan ideal yang selama ini kubangun terlalu tinggi?

Setiap laki-laki punya nafsu, kata temanku.

Kalau begitu, kenapa aku justru merasa kehilangan sesuatu setelah menyerah pada milikku sendiri?

Tanganku mencengkeram setir sedikit lebih kuat.

Perjalanan ini terasa lebih panjang dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya, duduk bersebelahan dengannya tidak membuatku tenang melainkan semakin sadar bahwa kami sedang berada di persimpangan yang tidak pernah kami rencanakan.

Lampu senja mulai turun ketika Linda tiba-tiba berkata pelan,

“Ka… berhenti bentar ya.”

Aku melirik sekilas.

“Kenapa?”

“Itu… tempat makan favorit kita.”

Aku mengikuti arah jarinya. Warung kecil dengan lampu kuning hangat yang biasa kami datangi sepulang kerja. Tanpa banyak pikir, aku menepikan mobil.

Kami turun tanpa banyak bicara.

Suasana di dalam tidak ramai. Hanya beberapa meja terisi. Aroma makanan yang dulu terasa akrab kini justru membuat dadaku semakin sesak. Kami duduk di meja sudut tempat yang biasanya penuh tawa dan cerita ringan.

Hari ini berbeda.

Linda memesan makanan seperti biasa, seolah tak ada yang berubah. Aku mengangguk saja, tak banyak komentar.

Beberapa menit kemudian makanan datang. Kami makan perlahan. Sendok dan garpu beradu pelan dengan piring. Tidak ada obrolan panjang. Hanya sesekali tatapan yang cepat-cepat dialihkan.

Aku sadar, aku sedang menjaga jarak.

Dan dia merasakannya.

Setelah hampir selesai, Linda meletakkan sendoknya pelan.

“Ka…” suaranya lembut, tapi ada sesuatu di dalamnya.

“Aku mau main dulu ke tempatmu ya. Pulang nanti malam aja… boleh?”

Aku berhenti mengunyah.

“Emang kamu nggak capek?” tanyaku datar. “Mending istirahat aja ya. Aku antar pulang sekalian abis ini.”

Linda menggeleng pelan. Lalu menatapku lebih dalam.

“Ka… nggak mau. Aku mau sama kamu.”

Nada manjanya keluar, seperti biasa. Biasanya itu membuatku luluh. Biasanya aku akan tersenyum dan mengangguk tanpa pikir panjang.

Tapi hari ini, ada beban di dadaku.

Aku menarik napas panjang.

Aku tahu kalau dia ikut, malam ini tidak akan sederhana. Dan aku belum sepenuhnya berdamai dengan pikiranku sendiri.

Namun melihat matanya ada ketakutan kecil di sana. Seolah ia takut aku benar-benar menjauh.

“Hmzz… oke,” jawabku akhirnya.

Linda tersenyum lega. Senyum yang membuatku kembali goyah. Kami kembali ke mobil. Jalan menuju kos terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit sudah berubah gelap, lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Di balik setir, aku bertanya pada diriku sendiri

Apakah aku mengizinkan dia ikut karena aku mencintainya?

Atau karena aku takut kehilangan sesuatu yang sudah terlanjur kumiliki?

Mobil terus melaju.

Dan aku tahu, malam ini bukan hanya tentang bersama tapi tentang seberapa kuat aku mempertahankan diriku sendiri.

Sesampainya di kos, Linda langsung menuju kamar mandi. Suara air mengalir terdengar dari balik pintu, sementara aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke dinding. Kepalaku penuh. Dadaku sesak. Ada marah, ada kecewa tapi juga ada rindu yang tak mau pergi.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

Linda keluar dengan rambut masih setengah basah, wajahnya segar, aroma sabun menyebar pelan memenuhi ruangan. Ia hanya tersenyum kecil, lalu duduk di ranjang sambil meraih ponselnya, seolah semua baik-baik saja.

Aku berdiri, lalu masuk ke kamar mandi menyusul. Air dingin menyentuh kulitku, tapi tidak mampu menenangkan pikiranku. Ada sesuatu yang bergejolak aku tahu ini salah, tapi tubuhku seakan tak mau mendengar logika.

Saat aku keluar, Linda masih di posisi yang sama. Matanya fokus pada layar ponsel, jemarinya menggulir tanpa sadar bahwa aku berdiri tepat di belakangnya. Entah apa yang merasukiku.

Aku melangkah mendekat. Terlalu dekat.

Aroma tubuhnya kembali menyentuh inderaku hangat, akrab, memancing sesuatu yang sejak tadi kutahan. Aku menunduk sedikit, menghirup napas dalam, lalu tanpa kata-kata, aku menyentuhnya.

Bibirku menemukan bibirnya.

Awalnya ia terkejut. Bahunya sedikit menegang.

Namun hanya sesaat.

Linda tidak menolak.

Ponsel itu perlahan turun dari genggamannya. Tubuhnya melembut. Ia membalas ciumanku dengan ragu yang cepat berubah menjadi keinginan yang sama besarnya.

Tidak ada kata.

Tidak ada pembenaran.

Hanya dua orang dewasa yang sama-sama tahu ini mungkin keliru namun memilih tenggelam sejenak di dalamnya.

Dan di sanalah aku sadar,

bahwa perasaanku padanya tidak sesederhana yang selama ini coba kuingkari.

Malam ini aku kembali melupakan logikaku.

Dan ketika semuanya terasa hangat dan dekat,

aku tahu… aku tidak sedang berenang.

Aku sedang turun lebih dalam.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!