Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Dimas Minggat
Suara tamparan itu menggema di ruang tamu, tapi Dimas tetap berdiri tegak, tidak mundur, tidak membalas. Ia menahan sakit sejenak, lalu menatap ibunya dengan tatapan tajam.
“Lihat, Bu… aku nggak takut sama apapun. Aku akan melakukan ini, dan aku nggak peduli apa kata orang. Aku akan menikahi Nana. Dan kalau itu harus aku perjuangkan sendiri… ya sudah. Tapi aku nggak akan menyerah,” ucap Dimas, suaranya tegas, nyaris bergetar karena emosi yang menumpuk.
Ibunya menatapnya, napasnya tersengal, matanya berair, seolah marah tapi juga takut kehilangan kontrol atas anaknya sendiri. “Dimas… kamu… kamu nggak ngerti…” katanya terbata-bata, tapi Dimas sudah memalingkan wajah.
Dimas menatap keluar jendela sebentar, menelan napas panjang. Suasana di ruang tamu yang panas itu membuat kepalanya sakit, seolah setiap kata ibunya menempel di kulitnya. Ia tahu, berlama-lama di sini hanya akan membuat pertengkaran semakin memuncak, dan hatinya semakin sulit untuk tenang.
Tanpa sepatah kata lagi, Dimas bergerak cepat. Ia menoleh sekilas ke ibunya yang masih terdiam, wajahnya campur antara marah dan panik. “Aku nggak bisa nunggu lagi, Bu,” gumamnya pelan tapi tegas.
Langkahnya mantap menuju pintu. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka pintu depan rumah, merasakan angin sore yang hangat menerpa wajahnya. Aroma hujan semalam masih tersisa, memberi sensasi aneh—sejuk tapi penuh ketegangan.
Ibunya terkejut, menatap Dimas dengan mata membelalak. “Dimas! Ke mana kamu—”
Tapi Dimas sudah melangkah keluar, menutup pintu dengan tegas di belakangnya. Suara pintu yang menutup itu terasa seperti penegasan; ia tidak akan kembali sampai hatinya tenang dan jalannya jelas.
Di jalanan, Dimas berjalan cepat, langkahnya ringan tapi penuh tekad. Ia tidak peduli kalau harus menghadapi malam, hujan, atau dinginnya udara. Pikiran satu-satunya hanya Nana. Hatinya menuntun langkahnya ke arah yang ia anggap benar, tanpa menoleh ke belakang.
Beberapa meter dari rumah, Dimas berhenti sejenak di bawah lampu jalan. Ia menarik napas panjang, menatap langit yang mulai gelap. Meski hatinya panas karena pertengkaran tadi, ada rasa lega yang aneh—leganya karena ia sudah mengambil keputusan sendiri.
“Kalau ini harus aku lakukan sendiri… ya aku lakukan sendiri,” bisiknya pada diri sendiri. “Tapi aku nggak akan mundur. Aku nggak akan menyerah.”
Dimas memutar ponselnya, melihat nama Nana di layar. Matanya berkilat, namun ada senyum tipis yang muncul di bibirnya. Ia mengetik pesan singkat: “Aku akan ke sana. Tunggu aku.”
Dengan tekad itu, Dimas mulai melangkah lagi, meninggalkan rumah yang terasa sesak, menuju satu-satunya tujuan yang membuat hatinya tetap hidup. Ia tahu perjalanan ini tidak mudah. Tapi bagi Dimas, apapun yang terjadi, ia akan terus maju—untuk Nana, untuk cintanya, dan untuk dirinya sendiri.
Suara langkahnya bergema di jalanan yang sepi, seperti janji yang diucapkan pada malam itu. Tidak ada yang bisa menghentikannya.
Dimas terus melangkah di jalanan yang sepi, hatinya dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. Ia tidak peduli seberapa lelah atau berat langkahnya, pikirannya hanya tertuju pada satu tujuan—Nana.
Sesampainya di pusat rehabilitasi, Dimas menatap gedung itu dari luar sebentar. Lampu-lampu koridor menyala lembut, memantulkan cahaya di lantai yang bersih. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah masuk.
Namun begitu ia menghampiri resepsionis, seorang petugas muda menatapnya dengan sopan tapi tegas. “Maaf, Pak. Saat ini jam besuk sudah selesai. Tamu tidak diperkenankan masuk ke kamar pasien,” kata petugas itu, menahan senyum tipis namun tegas.
Dimas menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. “Tapi… aku harus menemui Nana. Ini penting,” suaranya terdengar serius, hampir memaksa.
Petugas itu menggeleng. “Maaf, Pak. Aturannya jelas. Hanya keluarga inti yang boleh bertemu di jam tertentu. Aku tidak bisa mengizinkan.”
Dimas menatap resepsionis itu lama, matanya berkilat, napasnya sedikit memburu. Ia merasakan frustrasi membuncah, campur marah dan cemas. “Tolong… ini bukan masalah biasa. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Nana. Hanya sebentar,” ucapnya lagi, nadanya lebih lembut tapi tetap mendesak.
Petugas itu menunduk sejenak, mencoba bersikap netral. “Maaf, Pak. Aku benar-benar tidak bisa. Aturan ini demi kebaikan semua pasien. Aku sarankan Bapak datang besok di jam besuk yang telah ditentukan.”
Dimas menutup matanya sejenak, menahan rasa kecewa yang besar. Ia sudah menempuh perjalanan panjang dari rumah, dengan tekad bulat untuk bertemu Nana, dan sekarang dihalangi oleh sebuah aturan. Jantungnya terasa sesak.
“Besok…” gumamnya pelan, suaranya nyaris terdengar sendiri. Ia menatap gedung itu lagi, lampu-lampu koridor yang tampak hangat kini terasa menjauh, seperti jarak yang tak bisa ia jembatani malam itu.
Dimas menekuk tangannya di dada, menahan emosi yang ingin tumpah. Ia tahu ia tidak bisa melanggar aturan, setidaknya untuk malam itu. Tapi hatinya tetap panas—tetap berapi-api untuk Nana.
Ia menatap pintu masuk gedung itu sekali lagi, lalu perlahan melangkah mundur, menuruni tangga, merasakan udara malam yang menampar wajahnya. Malam itu, ia pulang tanpa Nana, tapi tekadnya tidak pudar.
“Besok… besok aku akan kembali. Aku akan bertemu Nana, apapun yang terjadi!"
***
Bersambung...