Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bayangan di Ambang Pintu
Malam itu, Ye Fan baru saja selesai menstabilkan energinya setelah kenaikan ranah yang pesat. Namun, ketenangannya pecah saat indra pendengarannya yang kini setajam serigala menangkap suara keributan dari arah asrama pelayan bawah.
Ada suara isak tangis yang sangat ia kenali. Xiao Mei.
Ye Fan bergerak. Menggunakan teknik Langkah Bayangan Darah, ia melesat melewati pepohonan, nyaris tak terlihat seperti embusan angin malam yang dingin.
Di depan salah satu paviliun kayu, seorang murid luar bertubuh gempal bernama Guntur sedang mencengkeram lengan Xiao Mei dengan kasar. Guntur dikenal sebagai tukang pukul di faksi murid luar, seorang pria yang merasa memiliki hak atas apa pun yang ia inginkan.
"Lepaskan! Tuan Guntur, tolong lepaskan saya!" teriak Xiao Mei sambil meronta, air mata membasahi pipinya.
"Diam kau, pelayan rendah! Kau seharusnya bangga aku memilihmu malam ini. Ikut masuk ke kamarku sekarang, atau aku akan memastikan kau dihukum cambuk besok pagi!" Guntur tertawa mesum, menarik paksa Xiao Mei menuju pintu kamar yang terbuka.
Xiao Mei mencoba menahan dengan kakinya di ambang pintu, namun kekuatan Guntur terlalu besar untuk gadis selembut dia. Tepat saat Guntur hendak menyeretnya masuk dan mengunci pintu...
DUAK!
Sebuah batu kecil melesat dengan kecepatan peluru, menghantam pergelangan tangan Guntur hingga terdengar bunyi tulang retak yang tajam.
"AAAAAKH!" Guntur melepaskan cengkeramannya, memegang tangannya yang mendadak mati rasa dan bersimbah darah. "Siapa?! Siapa bajingan yang berani menyerangku?!"
Dari balik kegelapan pilar, Ye Fan melangkah keluar perlahan. Wajahnya tertutup bayangan, namun aura yang ia pancarkan membuat udara di sekitar asrama itu mendadak turun beberapa derajat.
[DING!]
[Misi Tersembunyi: Pelindung Bayangan Diaktifkan]
[Status Target: Guntur - Pengerasan Dasar Level 5]
[Rekomendasi: Eksekusi Tanpa Suara]
"Ye... Ye Fan?" Xiao Mei tertegun, melihat sosok yang ia kenal sebagai budak bisu itu berdiri tegak dengan aura yang begitu mengintimidasi.
"Kau?! Si bisu sialan?!" Guntur murka. Meski tangannya sakit, ia merasa terhina ditantang oleh seorang budak. "Kau ingin mati, hah?! Aku akan menghancurkan kepalamu!"
Guntur menerjang maju, mengepalkan tangan kirinya yang masih utuh dengan energi Qi yang mentah. Namun, di mata Ye Fan yang sudah berada di Pengerasan Dasar Level 7, gerakan Guntur tampak seperti siput yang merangkak.
Ye Fan tidak menghindar. Saat tinju Guntur hampir mengenai wajahnya, Ye Fan menangkap tinju itu dengan satu tangan saja.
Krak!
"Hanya... ini... kekuatanmu?" desis Ye Fan. Suaranya kini lebih jernih, berat, dan penuh dengan niat membunuh yang murni.
Ye Fan memutar lengan Guntur ke belakang dengan tenaga yang tidak masuk akal, lalu menghantamkan wajah pria itu ke dinding kayu hingga kayunya retak. Sebelum Guntur sempat berteriak, Ye Fan sudah mencekik lehernya dan mengangkat tubuh gempal itu ke udara seolah-olah dia tidak lebih berat dari segulung kain.
"Xiao... Mei... masuklah," perintah Ye Fan tanpa menoleh, matanya tetap terkunci pada mata Guntur yang mulai memutih karena kekurangan oksigen.
Xiao Mei gemetar, ia merasa takut sekaligus terlindungi. "Ye Fan... jangan... jangan membunuhnya di sini, nanti kau dalam masalah..."
Ye Fan terdiam sejenak. Benar. Membunuh di depan pintu asrama pelayan adalah langkah yang ceroboh.
"Masuk," ulang Ye Fan, suaranya tidak menerima bantahan.
Setelah Xiao Mei masuk dan menutup pintu dengan tangan gemetar, Ye Fan menatap Guntur yang sudah hampir pingsan. Senyum gila seorang psikopat perlahan muncul di sudut bibir Ye Fan.
"Kau... ingin... masuk... kamar?" bisik Ye Fan tepat di telinga Guntur. "Aku akan membawamu... ke kamarku. Kamar... yang abadi."
Dengan satu riak hitam dari Inventori, Ye Fan memasukkan Guntur yang masih hidup namun lumpuh ke dalam ruang dimensinya. Di sana, di dalam ruang hampa yang tak berujung, Ye Fan akan menyelesaikannya nanti tanpa ada yang bisa mendengar jeritannya.
Ye Fan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Ia menatap pintu kamar Xiao Mei sejenak, memastikan gadis itu aman, sebelum akhirnya menghilang kembali ke dalam kegelapan.
“Besok adalah seleksi murid dalam,” pikir Ye Fan sambil melangkah pergi. “Aku butuh status itu agar bisa memburu mangsa yang lebih besar di puncak sekte. Dan siapa pun yang menghalangi jalanku... atau menyentuh Xiao Mei... akan berakhir di dalam kegelapan dimensiku.”