Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Mirip kamu
Setelah tadi malam berdebat dengan sang ibu,hari ini Intan dijemput oleh Aldy untuk tinggal di rumah yang dia beli secara kredit yang terletak di perumahan.Iya, bu Yuyun sangat tidak setuju Intan pindah rumah apa lagi status Intan tidak jelas nantinya.
Aldy tidak bersedia menikahi Intan. Dia hanya bertanggung jawab secara materi dengan memenuhi kebutuhannya selama dia hamil hingga melahirkan serta tangung jawab terhadap calon anaknya nanti.
Menurut bu Yuyun, jika Intan tidak dinikahi, mending gugurkan saja kandungannya. Apalagi Intan juga harus keluar dari pekerjaannya. Menurutnya itu sangat disayangkan.
Namun rupanya Intan lebih memilih tawaran Aldy. Walaupun hatinya sakit karena tidak dinikahi, setidaknya kalau dia pergi dari rumah dan tinggal di rumah Aldy, Intan tidak akan menjadi gunjingan warga akibat hamil di luar nikah. Sedangkan untuk menggugurkan kandungan, Intan jelas tidak mau. Karena dia tidak ingin menambah dosa.
Intan senang bisa keluar dari pekerjaannya yang membuatnya tidak nyaman dan malah membuatnya susah. Akhirnya mau tidak mau, bu Yuyun pun merelakan Intan pergi dari rumah. Karena bu Yuyun sudah malas berdebat dengan Intan dan pendapatnya tidak di dengar oleh Intan.
"Ayo masuk Intan..." ucap Aldy setelah membuka pintu rumahnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Aldy meletakkan tas Intan yang berisi pakaian di atas sofa. Sedangkan Intan melihat ke sekeliling rumah ukuran sedang dengan tiga kamar tidur, ruang tamu berukuran tiga kali empat meter, ruang tengah, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan. Dan ada garasi juga di samping.
Perabotan rumah pun sudah cukup lengkap. Iya, Aldy memang sengaja menyiapkan semua perabotan rumah agar Intan bisa nyaman tinggal di rumah ini.
"Kamu suka rumahnya Intan...? Maaf ya, kalau rumahnya nggak besar...'' tanya Aldy.
"Suka mas... Rumahnya besar kok..." jawab Intan yang langsung suka dengan rumah bergaya minimalis tersebut.
"Ayo, aku tunjukkan kamar kamu..." ucap Aldy.
Aldy lalu mengajak Intan ke kamar utama. Kamar yang lebih besar dari kamar lainnya yaitu berukuran tiga kali empat dan terdapat kamar mandi di sana.
"Nanti kamu tidur di sini ya..." ucap Aldy sambil meletakkan tas berisi pakaian di atas tempat tidur.
"Mas Aldy tidur di mana...?'' tanya Intan.
"Aku tidur di rumah orang tuaku..." jawab Aldy.
Intan mengangguk. Iya, sepertinya Intan lupa kalau dia hanya akan tinggal di rumah ini seorang diri. Tentu saja, mereka tidak ada ikatan pernikahan, jadi mana mungkin tinggal bersama.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Lima bulan berlalu, Intan menjalani masa kehamilannya di rumah seorang diri. Namun setiap Intan memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan, Aldy selalu menyempatkan diri untuk menemani Intan.
Sesekali jika pulang dari kantor lebih awal, Aldy juga menyempatkan diri untuk menengok Intan. Iya, bagaimana pun juga Intan sudah menjadi tanggung jawabnya. Apa lagi Intan dalam keadaan hamil besar tentu saja Aldy ada rasa khawatir terhadap Intan.
Iya, walaupun Aldy sendiri masih belum tahu apakah anak dalam kandungan Intan beneran anaknya atau bukan. Rencananya setelah anak itu lahir, mereka kan melakukan tes DNA. Iya, bukannya Aldy tidak percaya kepada Intan. Namun karena pekerjaan Intan lah yang membuat keluarga Aldy belum yakin dan perlu melakukan tes tersebut.
Walaupun sakit hati atas ketidakpercayaan Aldy dan keluarganya, namun Intan tetap merasa bersyukur Aldy mau bertanggung jawab atas semuanya. Walaupun sang ibu yaitu bu Yuyun menganggap Intan bodoh karena dia menurut saja apa kata Aldy.
"Bayinya sehat, berat badan bayi juga sudah cukup dan air ketubannya juga banyak... Karena sebentar lagi melahirkan, ibu harus menyiapkan diri dengan makan yang cukup dan mental yang kuat tentunya ya. Jangan stres..." ucap dokter kandungan.
"Iya dok..." jawab Intan yang ditemani Aldy.
"Oya, bayinya sering - sering ditengokin ya, biar jalan lahirnya terbuka..." ucap dokter.
"Ehm....ma..maksudnya dok...?'' tanya Intan tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh dokter.
Begitu juga Aldy yang bingung bagaimana cara menengok bayi yang masih dalam kandungan.
Dokter pun tersenyum kepada Intan dan Aldy. Ya tentu saja dokter perempuan yang bernama Herni tidak kaget melihat kebingungan Intan dan Aldy. Karena bagi pasangan yang baru akan punya anak masih tabu dengan istilah 'bayinya harus sering- sering ditengok' padahal masih ada di dalam perut.
"Maksudnya di usia kandungan yang sudah mendekati HPL, ayah dan ibunya harus sering berhubungan badan untuk membuka jalan lahir bayi..." jawab dokter Herni dengan senyuman di wajahnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Herni, Intan dan Aldy langsung tersenyum canggung. Bagaimana tidak, jangankan berhubungan badan , ciuman saja mereka tidak pernah karena diantara mereka tidak ada ikatan pernikahan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Aldy merasa panik saat Intan menghubunginya malam hari dan memberitahunya kalau perutnya mulas. Aldy segera menjemput Intan dengan mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.
"Oh ya ampun mas... Perutku melilit..." ucap Intan meringis sambil memegangi perutnya.
"Kamu tahan ya Intan.... Ayo kita ke rumah sakit..." Aldy memapah Intan dan membantunya masuk ke mobil.
Tanpa menunggu lama lagi Aldy langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.
"Tarik nafas ibu.... Iya...dorong..." ucap dokter Herni dan dua perawat yang sedang membantu Intan lahiran.
Bagitu juga dengan Aldy yang menemani Intan sambil memegangi tangan Intan.
"Mas... Sakit sekali... Rasanya Intan sudah tidak kuat..." ucap Intan dengan nafas memburu.
Dahi Intan berkeringat, separuh tenaganya sudah dia kerahkan untuk mengeluarkan sang jabang bayi. Namun belum berhasil. Dan tubuhnya terlihat mulai melemah
"Ayo Intan... Kamu harus kuat ya..." Aldy merasa tidak tega melihat keadaan Intan.
"Ayo bu Intan... Sekali lagi ya...." ucap.dokter Herni.
Akhirnya dengan sisa tenaga yang Intan miliki, bayi laki- laki yang tampan lahir dengan selamat. Aldy merasa lega. Sedangkan Intan butuh perawatan karena di kehabisan tenaga dan sempat pingsan.
Setelah dibersihkan, bayi laki- laki itu diserahkan kepada Aldy untuk diazani. Dengan suara bergetar dan mata berkaca- kaca, Aldy mengazani bayi mungil yang begitu mirip dengannya. Mulai dari hidung, pipi dan matanya mirip dengannya. Hanya bibirnya saja yang tipis seperti bibir Intan.
Aldy terus menatap wajah bayi mungil dan tampan tersebut. Iya ,tentu saja Aldy menyadari jika bayi itu mirip dengannya. Aldy merasa terharu sekaligus bersalah pada Intan karena sempat ragu padanya.
"Pak Aldy... Mari bawa bayinya untuk belajar menyusu pada ibunya..." ucap perawat.
"I..iya..." jawab Aldy sambil menyerahkan bayi itu kepada perawat.
"Oya sus... Apa Intan baik- baik saja...? Dia sudah bangun dari pingsan...?" tanya Aldy.
"Sudah pak... Mari kalau pak Aldy ingin menemui istri bapak..." jawab perawat.
Aldy mengikuti perawat ke ruang persalinan. Dan di sana ada Intan yang masih berbaring di ranjang persalinan.
"Bu Intan... Ini anaknya disusui dulu ya..." seorang perawat mendekatkan mulut bayi pada pay*dara Intan.
"Nggak papa bu... Adek bayinya masih belajar menyusui... Nanti lama- lama juga bisa..." ucap perawat melihat adik bayi masih kesusahan menghisap asi.
Setelah adik bayi sudah mulai nyaman menghisap asi Intan, dan kebetulan asi Intan langsung banyak, perawat itu pun meninggalkan ruang persalinan. Satu jam lagi baru Intan dan bayinya akan di pindahkan ke ruang perawatan.
"Intan... Makasih ya... Kamu sudah berjuang melahirkan bayi ini..." ucap Aldy mengusap kepala bayi yang sedang menyusu pada Intan.
"Bayi kita mas...ini bayi kita..." jawab Intan sambil tersenyum pada Aldy.
Aldy membalas senyuman Intan dengan senyuman canggung.
"Lihatlah mas, anak kita ini tampan sekali...mirip sekali sama kamu..." Intan menoleh ke arah Aldy kemudian beralih menatap sang buah hati yang sudah mulai tidur.
Lagi- lagi Aldy tersenyum canggung. Iya, tentu saja Aldy merasa tidak enak hati dan malu pada Intan karena telah meragukan Intan. Namun ternyata bayi yang Intan lahirkan begitu mirip dengannya yang artinya dia lah ayah biologis dari bayi tersebut.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
"Aldy..." panggil umi Fatimah begitu melihat Aldy keluar dari ruang perawatan.
Iya, sudah tiga jam Intan dipindahkan dari ruang persalinan ke ruang perawatan kelas satu.
"Umi...abi..." Aldy menyalami kedua orang tuanya.
"Anaknya Intan sudah lahir...?'' tanya umi Fatimah.
"Sudah Umi... Bayinya laki- laki, dia sehat, begitu juga dengan Intan. Mereka berdua sedang tidur..." jawab Aldy sambil tersenyum menampilkan kebahagiaan di wajahnya.
Iya, beberapa jam di ruang perawatan menemani Intan dan adik bayi, tak bosan- bosannya Aldy menatap bayi laki- laki mungil dan tampan tersebut. Iya, Aldy rasanya telah jatuh hati pada bayi yang begitu mirip dengannya sehingga Aldy merasa ingin terus- terusan menatap wajah mungilnya.
"Alhamdulillah kalau keduanya sehat dan selamat..." sahut abi Abdul.
"Aldy, kapan kamu akan melakukan tes DNA pada bayi itu...?'' tanya umi Fatimah.
Mendengar pertanyaan sang umi, Aldy menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Umi... bayi itu baru lahir, tidak usah memikirkan hal itu dulu. Intan juga masih butuh istirahat. Lebih baik kita tengok mereka..." sahut abi Abdul yang kurang suka dengan pertanyaan sang istri pada Aldy karena menurutnya itu terlalu terburu- buru.
"Bi... Yang mau dites DNA kan bayinya, bukannya si Intan. Lagian paling juga cuma diambil sample rambutnya saja, apa hubungannya dengan Intan yang masih harus istirahat..." jawab umi Fatimah.
"Umi.... Sepertinya kita harus membatalkan rencana tes DNA itu..." ucap Aldy.
"Apa...? Apa kamu bilang...? Membatalkan tes DNA...? Apa kamu sudah tidak waras Aldy...? Kalau tes DNA itu kita batalkan, lalu bagaimana kita bisa tahu siapa ayah biologis anak itu...?'' umi Fatimah nampak kesal pada Aldy.
Aldy kembali menghela nafas.
"Pokoknya sumua harus sesuai rencana. Anak itu harus melakukan tes DNA. Kalau ternyata anak itu bukan biologis kamu, kamu tinggalkan mereka, kamu suruh Intan dan bayinya pulang ke rumah orang tua Intan. Dan kamu tidak usah menanggung biaya hidup mereka lagi. Buang- buang duit saja menanggung hidup orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kamu..." ucap umi Fatimah.
Aldy menggeleng- gelengkan kepala. Iya, kalau bicara dengan umi, Aldy memang harus benar- benar menahan sabar. Karena jika umi sudah bicara, akan merembet ke mana- mana.
"Umi... Tanpa melakukan tes DNA pun, Aldy sudah tahu kalau bayi itu anak biologis Aldy. Bayi itu begitu mirip dengan Aldy umi..." ucap Aldy.
"Halah tahu apa kamu Aldy.. Yang namanya bayi itu wajahnya masih berubah- ubah. Bisa mirip si ini bisa mirip si itu. Jangan hanya karena bayi itu mirip sama kamu trus kamu percaya begitu saja kalau bayi itu anak kandung kamu..." sahut umi Fatimah.
Abi Abdul menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar semua ucapan sang istri.
"Mi, kalau Aldy sudah yakin bahwa bayi itu adalah anak biologisnya, biarkan saja dia mengakui anak itu sebagai anaknya..." ucap abi.
Umi menghela nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Trus kamu mau menikahi dia, begitu...?'' tanya umi sambil menatap kesal wajah Aldy.
Aldy terdiam.
"Apa rencana kamu selanjutnya Aldy...?'' tanya abi Abdul.
Aldy menghela nafas. Sepertinya Aldy belum bisa memberikan pernyataan atas apa langkahnya ke depan.
"Aldy... Abi percaya sama kamu, apa pun yang menjadi keyakinan kamu, abi akan percaya padamu. Dan apapun keputusan kamu tentang Intan dan bayi itu, abi akan mendukungmu. Abi yakin kamu punya keyakinan, dan sebagai laki- laki kamu harus bisa memutuskan apa yang sekiranya harus kamu lakukan..." sambung abi Abdul.
"Abi ini gimana sih, Aldy ini anak kita abi... Kita sebagai orang tua seharusnya mengarahkan dan membimbing Aldy agar dia tidak salah langkah. Dia sudah mengambil langkah yang salah menjalin hubungan terlarang dengan Intan. Jangan sampai dia salah jalan lagi abi..." sahut Umi yang menurutnya Aldy harus menuruti apa katanya.
"Tapi Aldy itu sudah dewasa umi, dia bukan anak kecil lagi. Dia berhak memutuskan apapun yang sudah menjadi pilihannya..." jawab abi Abdul.
Umi Fatimah mendengus kesal mendengar jawaban sang suami yang selalu bersebrangan dengan pendapatnya.
"Hei Aldi... Jadi kamu mau menikahi Intan tanpa melakukan tes DNA dulu pada bayi itu...?'' tanya umi Fatimah.
"Saat ini Aldy belum mau memutuskan apapun soal Intan Umi... " jawab Aldy.
"Dan untuk bayi itu, silahkan umi dan abi melihatnya. Dia itu mirip sekali dengan Aldy. Dan Aldy yakin dia itu anak Aldy. Dan ketika Aldy menatap wajah bayi itu, Aldy merasa ada ikatan batin dengannya..." ucap Aldy.
"Dan kalau Aldy melakukan tes DNA apa itu namanya tidak jahat...?'' tanya Aldy sambil menatap wajah umi dan abinya secara bergantian.
"Sudahlah Aldy... Untuk saat ini lebih baik kamu fokus untuk memulihkan Intan pasca melahirkan. Jangan membicarakan hal itu dulu. Perempuan yang baru melahirkan itu tidak boleh banyak pikiran, takutnya bisa berpengaruh pada asinya. Kasihan kan nanti bayinya jadi kurang susunya..." abi Abdul menepuk pundak Aldy.
"Dengar ya Aldy... Kalau kamu sampai menikahi Intan tanpa melakukan tes DNA dulu pada bayi itu, itu sih namanya kamu bodoh..." ucap umi Fatimah.
"Walaupun kamu melakukan tes DNA dan bayi itu terbukti anak biologis kamu, umi sih jijik ya kalau kamu menikahi Intan. Intan kan pelacur, sudah banyak laki- laki yang menidurinya. Memangnya kamu nggak takut Intan kena HIV, dan nanti menular ke kamu, ih kalau umi sih ogah ya..." sambung umi Fatimah sambil begidik merasa jijik.
Bersambung....