Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan di malam hari
Bayangan hitam di atas tebing itu berkelebat, bergerak secepat hembusan angin maut. Pria bertopeng perak itu bukan sekadar prajurit biasa; ia adalah pengintai ulung dari kelompok perompak 'iblis merah', sebuah sindikat kriminal yang kekuasaannya menembus batas-batas kekaisaran. Di balik topengnya, ia menyeringai. Selama bertahun-tahun, kelompoknya telah mencari keberadaan pedang Han Shui, pusaka yang konon mengandung energi gelap yang dapat mengendalikan seluruh dunia.
"Dasar bocah malang," gumamnya dengan suara parau. "Kau pikir kau menemukan harta karun? Kau hanya menemukan kunci menuju kematianmu sendiri."
Ia segera berbalik, melompati dahan-dahan pohon dengan kelincahan yang mengerikan. Ia harus segera melapor kepada sang kapten, Jenderal Perompak yang haus darah. Ia tahu, menyerang Zhou Yu saat ini butuh perhitungan, karena roh pedang Han Shui bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Biarlah pasukannya yang maju terlebih dahulu untuk menguras tenaga pemuda itu, sementara ia akan mengambil keuntungan di akhir.
Matahari terbit dengan megahnya, membasuh Desa Harapan dengan sinar emas. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan kolam di bawah air terjun saat Zhou Yu mulai menggerakkan pedangnya. Setiap ayunan kini terasa lebih mantap. Energi Qi yang mengalir dalam tubuhnya mulai membentuk pola yang stabil, selaras dengan detak jantungnya.
Setelah latihan pagi yang melelahkan, Zhou Yu kembali ke desa. Ia melihat warga mulai sibuk. Da Ge sedang berteriak memberi instruksi untuk memperkokoh pagar desa, sementara Nyonya Liu tampak sedang menjemur jagung hasil barter dari desa sebelah.
"Kak Yu!" suara lembut itu memecah konsentrasi Zhou Yu.
Ling'er berjalan mendekat, membawa sebuah keranjang anyaman kecil. Pagi itu ia mengenakan pakaian sederhana berwarna biru pucat yang membuatnya tampak seperti bunga yang mekar di tengah hutan. Di dalam keranjang itu, terdapat beberapa buah hutan yang segar dan sepotong roti gandum hangat.
"Kau selalu lupa sarapan kalau sudah bertemu dengan makhluk air terjun itu," ucap Ling'er dengan nada yang pura-pura kesal, namun matanya memancarkan kasih sayang yang dalam.
Zhou Yu tersenyum, menyeka keringat di pelipisnya. "Han Shui adalah guru yang sangat galak, Ling'er. Sedetik saja aku melamun, dia akan menjatuhkanku ke kolam dingin."
"oh..nama nya Han shui baiklah jika dia berlaku kejam lagi padamu aku akan memarahi nya." ucap Ling'er kesal
Mereka duduk di bawah pohon rindang yang menghadap ke arah lembah. Di saat-saat seperti ini, Zhou Yu melupakan sejenak beban kepemimpinannya. Ia mengambil sepotong roti dan membaginya menjadi dua, memberikan bagian yang lebih besar kepada Ling'er.
"Ling'er," panggil Zhou Yu pelan. "Jika suatu saat tempat ini terancam... apakah kau akan tetap bersamaku?"
Ling'er berhenti mengunyah. Ia menatap mata Zhou Yu dengan tajam, lalu perlahan ia meletakkan tangannya di atas punggung tangan Zhou Yu. "Aku menghabiskan separuh hidupku di dalam gelapnya tambang karena aku tidak punya alasan untuk lari. Sekarang, alasan itu berdiri di depanku. Ke mana pun kau pergi, aku adalah bayanganmu, Kak Yu. Jangan pernah tanyakan itu lagi."
Sentuhan tangan Ling'er yang hangat memberikan kekuatan baru bagi Zhou Yu. Ia menarik napas dalam, mencium aroma rambut Ling'er yang wangi bunga melati hutan. Untuk sesaat, dunia terasa begitu damai, seolah-olah perang dan penderitaan hanyalah dongeng masa lalu yang jauh.
Kegembiraan siang itu berubah menjadi ketegangan yang mencekam saat rembulan mulai naik. Malam itu, udara terasa sangat berat. Bahkan serangga malam yang biasanya berisik, kini mendadak bungkam. Han Shui mendadak muncul dalam benak Zhou Yu, suaranya terdengar lebih waspada dari biasanya.
"Bocah! Bangun! Bau amis darah mulai mendekat!"
Zhou Yu terperanjat dari tidurnya. Ia segera menyambar pedang Han Shui. Belum sempat ia melangkah keluar gubuk, sebuah panah api melesat menembus kegelapan, menghantam atap jerami salah satu rumah warga.
"SERANGAN! SEMUANYA BANGUN!" teriak Zhou Yu dengan suara yang menggelegar.
Kekacauan pecah dalam sekejap. Dari balik kegelapan hutan, puluhan pria berpakaian hitam dengan senjata mengkilap menyerbu masuk ke jantung desa. Mereka adalah perompak iblis merah, dikenal karena kekejaman mereka yang tak mengenal ampun.
"Lindungi para wanita dan anak-anak! Da Ge, bawa mereka ke belakang air terjun!" perintah Zhou Yu.
Da Ge segera bergerak, memikul sebuah palu besar yang ia buat sendiri. Namun, jumlah perompak terlalu banyak. Mereka tidak hanya datang dengan pedang, tapi juga dengan bom asap yang menyesakkan dada.
Zhou Yu maju ke depan, berdiri di antara warga dan para perompak. Ia menghunus pedang Han Shui, dan seketika, bilah pedang itu memancarkan cahaya merah yang menyilaukan.
"Kalian salah tempat jika ingin mencari mangsa di sini!" geram Zhou Yu.
"Serahkan pedang itu, bocah! Dan kami mungkin akan membiarkan sisanya hidup sebagai budak kami!" teriak pemimpin perompak yang membawa kapak raksasa.
Pertempuran pun meletus. Zhou Yu bergerak seperti badai di tengah-tengah musuh. Teknik Arus Pemecah Karang yang ia pelajari semalam terbukti sangat mematikan. Setiap tebasan pedangnya diikuti oleh aliran energi air yang bisa memotong baju zirah musuh seperti pisau memotong mentega.
Namun, perompak itu bukan amatir. Mereka menggunakan taktik pengepungan. Saat Zhou Yu berhasil menjatuhkan lima orang, sepuluh orang lainnya datang menyerang.
"Gunakan teknik kedua, Zhou Yu! Gabungkan energi Dantian-mu dengan gravitasi air!" suara Han Shui bergema.
Zhou Yu melompat tinggi, pedangnya terangkat ke langit. Cahaya biru itu semakin pekat. Saat ia menghujamkan pedangnya ke tanah, sebuah gelombang kejut air yang dahsyat meledak dari titik sentuhnya, melontarkan belasan perompak hingga terkapar tak bernyawa.
Melihat anak buahnya dibantai, sang pemimpin perompak dengan kapak raksasa menggeram. Ia adalah seorang praktisi bela diri tingkat tinggi yang telah lama mengincar pedang Han Shui. Dengan satu lompatan cepat, ia menyerang Zhou Yu saat pemuda itu masih dalam keadaan lengah setelah mengeluarkan jurus pamungkasnya.
duarr!
Lantai tanah desa itu retak saat kapak besar menghantam bilah pedang Zhou Yu. Kekuatannya luar biasa. Zhou Yu terdesak, kakinya terbenam ke dalam tanah.
"Kau punya pedang dewa, tapi kau hanya memiliki tubuh manusia yang lemah!" ejek sang pemimpin perompak.
Ia memutar kapaknya, menciptakan pusaran angin hitam yang tajam. Zhou Yu berusaha menangkis, namun karena kelelahan, pertahanannya goyah. Kapak itu menyambar bahu Zhou Yu, merobek dagingnya hingga darah segar menyembur keluar.
"Kak Yu!" teriakan histeris Ling'er terdengar dari kejauhan. Gadis itu berusaha berlari ke arahnya meski Da Ge mencoba menahannya.
Mendengar suara Ling'er, amarah Zhou Yu memuncak. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di bahunya. Ia membiarkan roh Han Shui mengambil alih sebagian kesadarannya. Pedangnya kini tidak lagi berwarna merah, tapi berubah menjadi putih jernih yang mematikan.
Dengan satu gerakan yang hampir tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, Zhou Yu melesat maju. Ia melewati sang pemimpin perompak. Keheningan terjadi selama satu detik, sebelum akhirnya kepala pemimpin perompak itu jatuh ke tanah, disusul oleh tubuhnya yang ambruk.
Melihat pemimpin mereka tewas, sisa-sisa perompak lari kocar-kacir ke dalam hutan. Desa itu kini sunyi, hanya menyisakan suara api yang melalap beberapa rumah.
Zhou Yu masih berdiri tegak, pedangnya masih terhunus. Namun, perlahan-lahan cahaya dari pedang itu meredup. Tubuh Zhou Yu gemetar hebat. Darah terus mengalir deras dari luka di bahu dan dadanya yang ternyata juga terkena sayatan saat dalam pertempuran tadi.
Pedang Han Shui terlepas dari genggamannya, jatuh berdenting di atas bebatuan.
"Kak Yu!" Ling'er berhasil melepaskan diri dan berlari sekuat tenaga. Ia menangkap tubuh Zhou Yu tepat sebelum pemuda itu jatuh menghantam tanah.
Wajah Zhou Yu sangat pucat, napasnya pendek dan berbunyi. Ia menatap wajah Ling'er yang kini basah oleh air mata. Tangan Ling'er yang gemetar berusaha menekan luka di dada Zhou Yu untuk menghentikan pendarahan.
"Jangan... jangan menangis..." bisik Zhou Yu, suaranya hampir tidak terdengar.
"Tetaplah bersamaku! Kumohon, kak Yu! Jangan tinggalkan aku!" tangis Ling'er pecah. Ia memeluk kepala Zhou Yu di pangkuannya.
Nyonya Liu dan warga lainnya segera datang mengelilingi mereka. Nyonya Liu memeriksa denyut nadi Zhou Yu dan wajahnya berubah muram. Luka itu sangat parah; organ dalamnya terguncang hebat karena penggunaan energi Qi yang berlebihan di tubuh yang belum siap sepenuhnya.
Di tengah kesedihan itu, pedang Han Shui yang tergeletak di tanah tampak bergetar pelan, mengeluarkan cahaya biru yang menyelimuti tubuh Zhou Yu, seolah mencoba mempertahankan percikan nyawa yang masih tersisa. Namun, kondisi Zhou Yu tetap kritis. Ia telah memberikan segalanya untuk melindungi rumah barunya.
Malam yang seharusnya menjadi perayaan kedamaian, kini berubah menjadi malam penuh doa dan air mata. Di bawah langit yang kelam, harapan Desa Harapan tampak sedang meredup bersama dengan detak jantung pemimpin mereka yang semakin melemah.
...Bersambung.......