NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahan Masa Lalu

“Sya,” bisik Nina. Sudut bibirnya terangkat sebelah—tipis, tapi penuh arti.

Dada Tasya naik turun perlahan. Pandangannya terpaku pada Dimas yang merangkul Anti di sampingnya. Jemarinya mengencang tanpa sadar, panas merayap ke wajahnya, sesuatu yang tak sempat ia beri nama.

“Nggak,” jawab Tasya cepat. Terlalu cepat. Tatapannya belum juga berpaling dari punggung Dimas.

Nina hanya tersenyum kecil. Ia sudah terlalu lama mengenal Tasya untuk percaya begitu saja. Tiga tahun berbagi ruang, cerita, dan diam—cukup untuk membaca apa yang tak diucapkan. Tak lama kemudian, Dimas dan Anti kembali ke warung, menghilang sejenak di dapur.

“Udah gue bilang,” gumam Tasya, matanya melirik ke arah dapur tanpa benar-benar menoleh. “Modus doang ngajak kita ke sini.”

Nina merangkul pundak Tasya, hangat dan menenangkan. “Sya, gue cuma nggak mau lo capek sendiri. Kita nggak tahu apa yang sebenernya terjadi di tempat ini—kecuali…” Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Tasya penuh selidik. “Lo cemburu.”

“Ish,” Tasya mendengus, lalu memalingkan wajah. Hujan tipis di luar jendela tiba-tiba terasa menarik perhatiannya.

Dimas dan Anti kembali membawa dua gelas kopi susu hangat dan sepiring pisang goreng. Aroma kopi langsung memenuhi ruang. Mereka meletakkan sajian itu di meja, lalu duduk berhadapan dengan Tasya dan Nina.

“Bu Asna,” ucap Dimas pelan sambil mengangkat cangkir kopinya sendiri, “pemilik warung ini. Meninggal tahun lalu.”

Ia menunduk sesaat. Uap kopi menari di depan wajahnya.

“Harusnya gue lebih sering ke sini waktu itu.”

“Ibu udah tenang, Kang,” jawab Anti lembut, menatap Dimas dari samping.

“Lagipula, kalau waktu itu Akang nggak bantu ibu pas kedatangan para—”

“Ayo, Sya.” Dimas menyela cepat, cangkirnya diletakkan kembali. “Udah hampir tiga puluh menit.”

“Tapi, Kang—” Anti menahan lengannya.

Dimas menggeleng pelan, lalu mengusap kepala Anti singkat. “Gue pasti ke sini lagi, Ti.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dan melangkah menuju mobil.

Nina dan Tasya saling pandang. Ada sesuatu yang menggantung di udara—tak terucap, tapi terasa berat. Seolah Dimas baru saja menutup pintu pada cerita yang belum sempat mereka dengar.

Mereka masuk ke mobil. Kali ini Tasya memilih duduk di belakang bersama Nina. Dimas tak berkata apa-apa—mesin menyala, pedal gas diinjak, Jakarta disambut dengan deru panjang.

Di tengah hiruk pusat kota, mobil menepi mendadak.

“Gue turun di sini, Sya.” Dimas sudah membuka pintu sebelum kata-katanya benar-benar selesai.

“Dim, kenapa nggak sekalian sampe kosan?” Nina mencondongkan badan dari jok belakang. “Daripada lo ribet naik taksi lagi.”

“Gak apa-apa, Na.” Dimas sudah di bagasi, menarik tasnya. “Masih ada urusan.”

Tasya mendecak. “Aneh banget. Gengsi setengah mati.”

Nina tak menjawab. Matanya mengikuti Dimas yang kini berdiri di seberang jalan, ponsel menempel di telinga. “Sya… perasaan gue nggak enak.”

“Udah. Jalan aja,” kata Tasya, lalu berpindah ke kursi kemudi.

Belum sempat mobil melaju, suara knalpot memecah udara. Lampu motor menyilaukan. Satu per satu, belasan motor berhenti di sekitar Dimas. Seorang pria berjaket kulit dan helm bogo turun lebih dulu. Mereka bicara singkat—tegang—lalu Dimas naik ke salah satu motor.

“Gue bilang juga apa,” Nina menepuk bahu Tasya. “Ikutin mereka.”

Tasya membeku. Mesin masih menyala. Tangannya gemetar di setir. Amarah, cemburu, khawatir—semuanya berdesakan tanpa urutan.

“SYA!” teriak Nina. “Mereka keburu ilang!”

Tasya membanting setir. Mobil berbalik, mengejar dari kejauhan.

Rombongan motor itu sengaja menutup jalan. Tak ada yang berani menyalip. Di barisan belakang, dua orang menenteng balok kayu—cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali untuk menyalip mereka dari belakang.

Mereka berhenti di depan gudang tua. Cat dindingnya terkelupas, coretan liar memenuhi permukaan. Pagar besi terbuka. Beberapa pria bertubuh besar sudah menunggu.

“Sya!” Nina mencengkeram lengan Tasya saat Dimas ditarik turun dari motor.

Tasya merogoh tas. “Gue telepon polisi sekarang!”

Layar ponsel hitam.

“Sial.”

Nina mencoba ponselnya sendiri. Tak ada sinyal. Ia memutar badan, panik. “Ini serius nggak ada jaringan!”

Tiba-tiba Dimas muncul dari dalam gerbang, berjalan sendirian dengan wajah kusut.

“DIMAS!” Tasya meloncat keluar mobil, sambil melambaikan tangan. Suaranya pecah di antara deru mesin.

Dimas menoleh. Wajahnya berubah. Ia berlari, menarik Tasya kasar masuk ke mobil.

“Lo ngapain di sini!” bentaknya.

“Gue mau nolong lo, goblok!” Tasya menepis tangannya. “Kenapa lo malah kasar, hah!”

Dimas mencengkeram bahunya. Kuat. Terlalu kuat. “Dengerin gue, Sya. Lo nggak tau masa lalu gue. Dan jangan pernah—pernah—ngikutin gue lagi.”

Wajah mereka tinggal sejengkal. Napas Tasya tercekat. Jantungnya menghantam rusuk. Panas merambat ke pipinya.

Ia mendorong Dimas sekuat tenaga.

“Hei! Ngapain lo di sana!” teriak penjaga dari gerbang.

“Aman, Bang!” Dimas mengangkat tangan. “ini pacar gue.”

Ia langsung masuk ke mobil. Mesin pun meraung. Gudang itu tertinggal jauh di belakang.

Tasya memegangi bahunya. Bekas cengkeraman Dimas terasa perih.

“Sorry Sya,” suara Dimas terdengar dari balik jok. “Gue cuma nggak mau lo keseret.”

Tasya hanya diam. Kepalanya penuh pertanyaan yang tak sempat mencari jawaban.

Mobil kembali berhenti mendadak di gang kosan Dimas.

“Anjing, ngapain mereka disini!” gumam Dimas. Di ujung gang, empat pria berkulit gelap berdiri, diam—menunggu.

“Lo jangan turun,” kata Dimas cepat. “Pergi sekarang. Jangan sampe mereka catat plat lo.”

Ia keluar, lalu mengetuk kaca. Isyaratnya tegas untuk meminta Tasya segera pergi dari tempat ini.

Tanpa menoleh, Tasya menginjak gas. Mobil melaju beberapa puluh meter sebelum akhirnya melambat dan berhenti di sisi jalan. Ia memiringkan kaca spion luar, mata tak lepas dari sosok Dimas yang berdiri di ujung gang.

“Jangan bilang lo mau turun, Sya,” suara Nina menegang.

Tasya membuka sabuk pengaman. “Gue harus tahu siapa dia sebenarnya.”

Pintu terbuka. Tasya turun dan langsung menyusuri gang, langkahnya ringan tapi pasti. Nina mengumpat pelan sebelum ikut mengekor. Perutnya terasa kecut—nalurinya berteriak ingin segera pergi, tapi kakinya tetap harus melangkah.

Gang itu sempit dan remang. Tembok setinggi tiga meter menjepit kiri-kanan. Bau lembap dan cat tua menempel di udara. Tasya dan Nina berpindah dari bayangan ke bayangan, menempel pada dinding, menahan napas setiap kali suara langkah mendekat.

“Dim,” suara seorang pria terdengar jelas, “kenapa lo mesti berurusan lagi sama Albert?”

“Gue cuma mau tahu,” jawab Dimas. Langkahnya santai, tapi nadanya keras. “Kenapa Bu Asna bisa sampe meninggal. Dan kenapa warungnya sekarang—nggak kayak dulu lagi.”

“Inget, Dim,” suara itu menurun, “semua surat udah lo serahin ke Albert. Seharusnya lo nggak ikut campur urusan mereka pas—”

KRAAK!

Botol plastik kering remuk di bawah kaki Tasya.

Darah Nina langsung turun ke tumit. Dua pria berbalik bersamaan.

“Sya!” Nina menarik lengannya. “Masuk sini!”

Mereka menyelinap ke balik tong sampah besar di samping pos ronda. Tutupnya ditarik setengah. Bau busuk menyerang, tapi keduanya membeku, menahan napas.

Langkah kaki mendekat. Sepasang sepatu berhenti tepat di depan tong. Senter menyapu tembok, tanah, lalu menjauh.

“Kosong,” suara itu akhirnya berkata.

Langkah-langkah kembali menjauh.

Tasya menutup mulut, menahan muntah. Saat keadaan aman, mereka keluar perlahan.

“Ih… bau banget,” bisik Tasya, wajahnya mengeras. Tapi ia tak berhenti. Kakinya kembali melangkah, mengikuti Dimas hingga gerbang kosan.

“Lo nggak mau balik kerja lagi, Dim?” tanya pria itu—Reza..

“Gue udah cukup,” jawab Dimas sambil membuka gembok. “Sekarang gue beresin kuliah. Abis itu, gue cabut dari kota ini.”

Reza mengeluarkan amplop cokelat dari balik jaket. Ia menyodorkannya. “Gue cuma nganterin ini. Dan inget—pintu buat lo selalu kebuka.”

Dimas menerima tanpa kata. Reza menepuk bahunya, lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk pergi.

Begitu mereka beranjak, Dimas membuka amplop itu. Tumpukan uang lima puluh ribuan terlihat jelas. Tangannya berhenti di udara—lalu menutup amplop kembali, rahangnya mengeras.

Tasya menempelkan tubuh ke dinding saat Reza mendekat, jantungnya berdegup tak beraturan.

“Bos,” salah satu anak buah berbisik, “kayaknya Dimas udah kebawa sama cewek itu. Dia nggak bakal balik lagi.”

Reza menyeringai tipis. “Gue masih pegang rahasia besar,” katanya pelan. “Cukup buat narik dia balik ke tim.”

Tatapannya dingin.

Di balik tembok, Tasya dan Nina saling pandang. Tak ada yang bicara. Tapi satu hal jelas—masa lalu Dimas bukan sekadar kelam.

Tapi belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!