NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Ajudan Pribadi Menuju Sekolah

Ajudan pribadi menuju sekolah sudah membuka pintu mobil sambil memberikan hormat yang sangat kaku kepada nyonya muda di rumah itu. Lana melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma kulit mewah bercampur dengan wangi maskulin yang sangat tajam — bau yang ia kenali sebagai bau Adrian yang selalu menyertai kehadiran pria itu.

Ia duduk di pojok kursi sambil memeluk tas sekolahnya dengan erat seolah benda itu adalah pelindung terakhirnya. Tas itu sudah dipakai selama setahun, kusam di bagian pinggir dan tali penggantungnya sedikit menjuntai, namun bagi Lana ia lebih berharga dari semua tas branded yang pernah diberikan suaminya. Sesaat sebelum mobil melaju, kaca jendela di samping Lana diketuk pelan oleh jemari yang mengenakan sarung tangan kulit hitam.

Lana menurunkan kaca jendela tersebut dan mendapati Adrian berdiri di sana dengan sorot mata yang sulit untuk dibaca — ada campuran kekhawatiran dan kebencian yang saling bersilang di dalamnya. Sang Kolonel menatap Lana cukup lama hingga Lana merasa seperti semua rahasia di dalam dirinya terbaca jelas. Sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku seragamnya.

"Gunakan alat ini jika kamu merasa dalam bahaya, jangan pernah melepaskannya dari pergelangan tanganmu," ucap Adrian sambil memasangkan jam tangan pintar yang terlihat sangat kokoh. Logamnya berwarna perak tua yang kaku, dengan layar yang tidak menyala kecuali ketika Adrian menyentuh tombol tersembunyi di sisinya.

Lana hanya bisa terdiam saat merasakan jemari Adrian yang kuat bersentuhan dengan kulit tangannya yang sangat halus. Sentuhan itu singkat namun cukup untuk membuat dada Lana berdebar kencang. Jam tangan itu terasa sangat berat dan memiliki beberapa tombol yang tidak Lana mengerti fungsi sebenarnya — ada yang berbentuk lingkaran, ada yang seperti panah, semuanya terbuat dari logam yang dingin menyentuh kulit.

Adrian kemudian memberikan kode kepada sopir dan pengawal bermotor agar segera berangkat menuju gedung sekolah. Kata-katanya singkat dan tegas, seperti perintah yang tidak boleh dilanggar. "Terima kasih, Tuan Kolonel, saya akan menjaga diri dengan baik selama di sana," balas Lana dengan suara yang nyaris berbisik, takut suaranya akan gemetar jika terlalu kencang.

Iring-iringan mobil mewah itu mulai bergerak meninggalkan mansion megah yang terasa semakin menjepit jiwa muda milik Lana. Dinding batu besar mansion itu semakin jauh terlihat, namun rasa terkurung yang ia rasakan tidak pernah hilang. Selama perjalanan, Lana terus memandangi jalanan kota dari balik kaca mobil yang gelap dan antipeluru — dunia luar terlihat seperti gambar hitam putih yang jauh dan tidak tersentuh.

Ia merasa seperti seorang tawanan yang sedang dipindahkan dari satu penjara ke penjara yang lain dengan cara yang sangat elegan. Penjara pertama adalah mansion yang penuh aturan militer, penjara kedua adalah sekolah yang akan mengintai setiap langkahnya. Sesampainya di gerbang sekolah, suasana mendadak menjadi sangat riuh karena kehadiran kendaraan yang terlihat sangat asing dan intimidatif — mobil mewah dengan plat nomor khusus yang jarang terlihat di daerah sekolah itu.

Lana melihat teman-teman sekolahnya berhenti berjalan dan mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mobil yang ia tumpangi. Beberapa dari mereka membuka mulut dengan terkejut, yang lain mengangkat alis dengan curiga. Rasa malu yang sangat besar mulai menjalar hingga membuat wajah Lana terasa sangat panas dan memerah, seolah terkena matahari langsung meski hari itu mendung.

Ajudan pribadi tersebut turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Lana dengan sikap siaga yang sangat berlebihan. Badannya tegak lurus, matanya melirik sekeliling dengan waspada, seolah takut ada bahaya yang mengintai di setiap sudut gerbang sekolah. Lana keluar dari mobil dengan kepala tertunduk dalam sambil mencoba menyembunyikan identitas mewahnya di balik tas punggung yang sudah kusam.

Namun, semua usahanya sia-sia karena perhatian seluruh warga sekolah kini tertuju sepenuhnya kepada dirinya. Beberapa siswa yang sedang berjalan berhenti, guru yang sedang menuju kelas juga menghentikan langkahnya. "Nyonya, saya akan berada di sekitar area ini untuk memastikan tidak ada yang mengganggu jam pelajaran Anda," tegas sang ajudan dengan nada bicara yang sangat formal, sehingga suaranya terdengar jelas di tengah keramaian yang mulai membesar.

Lana hanya bisa mengangguk pelan dan segera berlari menuju koridor sekolah agar terbebas dari tatapan mata yang menghakimi. Kakinya terasa lemah dan berat, seolah membawa beban yang lebih besar dari tas yang ia punggungkan. Ia tidak menyadari bahwa di dalam tas sekolahnya tersimpan sebuah rahasia besar yang belum sempat ia buka sejak semalam — sesuatu yang Adrian letakkan di sana tanpa memberitahu, sebelum ia tidur kemarin malam.

Langkah kakinya terasa sangat berat saat ia memasuki ruang kelas yang kini terasa sangat sunyi dan penuh dengan aura kecurigaan. Semua mata di dalam kelas langsung beralih menuju dirinya, tanpa ada yang berani menyapa terlebih dahulu. Teman-teman sebayanya tidak lagi menyapanya dengan riang seperti biasanya, melainkan hanya menatap dengan pandangan penuh tanda tanya — ada keheranan, curiga, dan bahkan sedikit kebencian di dalamnya.

Lana duduk di bangkunya dan mencoba untuk fokus pada buku teks yang ada di hadapannya meski pikirannya melayang jauh. Ia membuka buku matematika namun tidak melihat apa-apa selain huruf dan angka yang bergerak-gerak. Ia meraba kalung di balik seragamnya dan menyadari bahwa ia sedang membawa rahasia di balik tas branded pemberian suaminya — dua rahasia yang sama-sama membuatnya terjebak dalam dunia yang ia tidak pilih sendiri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!