NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Berdarah

Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu penderitaannya, Shasha mulai berusaha beradaptasi dengan situasi. Sejak siang tadi, ia menyadari sebuah perubahan kecil, bahwa pintu kamarnya tidak lagi dikunci dari luar. Hal ini memberinya sedikit ruang gerak, meskipun ia tahu para pengawal masih berjaga ketat di luar sana.

Malam sudah larut, tapi kantuk tidak kunjung datang menjemputnya. Shasha berdiri terpaku di depan jendela kamar, menatap dunia luar yang kini hanya berupa kegelapan pekat yang dibatasi oleh hutan. Jemarinya menyentuh permukaan kaca di balik teralis besi yang kokoh, mengusapnya perlahan sementara otaknya bekerja keras memikirkan jalan keluar.

Sebuah ide tiba-tiba melintas. Ia berpikir, jika kamar ini memang disiapkan khusus sebagai tempat penyekapan, maka kamar-kamar lain di mansion mewah ini mungkin tidak dipasang teralis serapat ini. Ia mengusap kaca itu sekali lagi, merasa bahwa materialnya tidak akan sulit untuk dipecahkan jika ia memiliki alat yang tepat.

Rencananya mulai tersusun. Ia akan menunggu hingga Jake meninggalkan rumah. Untuk para pengawal, ia harus memikirkan sebuah pengalih perhatian yang cukup kuat agar mereka lengah. Namun yang terpenting saat ini, ia harus meredam kecurigaan Jake. Ia harus terlihat seolah-olah sudah menyerah pada keadaan agar pria itu tidak waspada.

Ceklek.

Suara pintu yang terbuka memutus aliran pikirannya. Shasha menoleh dengan cepat, mendapati Kevin berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya.

“Tuan Jake meminta bantuanmu,” ucap Kevin tanpa basa-basi.

Shasha terdiam sejenak. Pikirannya langsung melayang pada tuntutan rendah yang diucapkan Jake di dapur.

‘Bantuan apa yang dibutuhkan pria berkuasa seperti dia dari tawanan sepertiku? Ini tidak mungkin soal... urusan ranjang, kan?’ Batinnya ngeri.

“Aku tidak mau,” jawab Shasha tegas, mencoba menyembunyikan getar ketakutan di suaranya.

Kevin menghela napas, berusaha tetap tenang meski sorot matanya menajam, “Kalau kau menolak, maka setelah ini kau yang akan menjadi makanan bagi harimau peliharaan Tuan Jake.”

“Harimau?!” Mata Shasha membelalak sempurna, “Pria itu... dia punya harimau?”

“Bahkan tidak hanya satu,” balas Kevin dingin.

Bulu kuduk Shasha langsung meremang hebat. Bayangan tubuhnya yang tercabik-cabik di dalam kandang hewan buas itu seketika membuat keringat dingin membanjiri pelipisnya. Keberaniannya yang tadi sempat terkumpul kini menguap begitu saja.

Ia menatap Kevin dengan tatapan penuh keputusasaan, “Bantuan apa... yang sebenarnya dia butuhkan?”

“Kau akan tahu nanti. Ikut aku,” jawab Kevin singkat, lalu berbalik dan keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban.

Shasha menarik napas panjang, berusaha meneguhkan hatinya yang dilanda ketakutan. Dengan langkah yang terasa sangat berat, ia berjalan mengikuti Kevin, merasa seolah setiap langkahnya membawanya semakin dekat menuju neraka yang siap menerkamnya hidup-hidup.

Langkah kaki Shasha terus menelusuri koridor mansion yang seolah tidak berujung. Dari lantai atas hingga bawah, ia hanya mengekor di belakang Kevin yang berjalan dengan langkah tegap tanpa suara. Mereka melewati deretan pintu yang tertutup rapat, melintasi koridor-koridor asing yang pencahayaannya semakin temaram.

‘Apa kamar pria itu tersembunyi?’ batin Shasha dengan rasa waswas yang semakin menjadi.

Kevin tiba-tiba menghentikan langkahnya di pintu baja di ujung koridor yang menyambung dengan sebuah tangga batu menuju ke arah bawah.

“Kau turunlah sendiri,” ucap Kevin tanpa menoleh.

Shasha memberanikan diri mengintip ke lubang tangga yang gelap itu, “Tempat apa itu?”

“Ruang bawah tanah.”

Mendengar kata bawah tanah, imajinasi buruk Shasha langsung bekerja. Ia menatap Kevin dengan cepat, matanya membelalak panik, “Apa bantuan yang kau maksud berbeda dengan tebakanku? Kupikir bantuan di kamar—“

“Hentikan pemikiran kotormu,” potong Kevin tajam.

Shasha tersentak, kata-kata pedas pria itu terasa seperti tamparan di wajahnya.

“Dasar wanita murahan,” desis Kevin sekali lagi sebelum ia berbalik dan meninggalkan Shasha seorang diri di ambang tangga gelap itu.

Shasha terpaku, menatap punggung Kevin yang menjauh dengan rasa sakit hati yang menusuk. Dadanya terasa sesak, ia bukan wanita seperti yang mereka tuduhkan.

“Aku hanya bertanya. Lagipula, apa mulutnya itu hanya bisa mengeluarkan kalimat pedas? Sangat menyebalkan,” gerutunya.

Namun ia tidak punya pilihan. Ancaman tentang harimau peliharaan Jake masih membayangi pikirannya. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai meraba dinding, dan menuruni satu demi satu anak tangga menuju ruang bawah tanah.

Akhirnya Shasha sampai di undakan tangga terakhir. Udara di sini terasa jauh lebih lembap dan dingin dibandingkan dengan bagian mansion lainnya.

Matanya berkeliling dengan ngeri, mendapati banyaknya ruang tahanan berjeruji besi yang berderet di sepanjang dinding batu yang kasar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik kemegahan mansion Jake, terdapat tempat yang begitu menakutkan dan menyeramkan seperti ini.

“Di mana dia?” gumamnya lirih. Suaranya bergema di lorong yang sunyi. Ia tidak melihat keberadaan Jake di area terbuka itu, “Apa mereka menipuku lagi dengan mengurungku di tempat ini?”

Ketakutan mulai merayapi benaknya. Shasha kembali mendongak ke arah tangga menuju lantai atas, berpikir bahwa ia harus buru-buru menyelamatkan diri sebelum pintu di atas sana tertutup selamanya. Namun tepat saat ia hendak memutar langkah, sebuah suara teriakan yang memekakkan telinga terdengar dari bagian dalam lorong.

“Suara apa itu?” gumamnya dengan jantung yang berdegup kencang.

Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan justru mendorong kakinya untuk melangkah semakin jauh masuk ke dalam kegelapan.

Shasha berusaha memelankan langkahnya saat ia mengikuti arah suara teriakan yang memilukan itu. Sepanjang lorong bawah tanah yang dingin, ia tidak hentinya mengintip ke balik deretan jeruji besi, merasa waswas jika ada sosok menyeramkan yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. Namun anehnya, sel-sel itu justru kosong melompong.

Ia langsung menghentikan langkahnya kala suara teriakan kesakitan itu kembali menggema, kali ini lebih jelas dan menyayat hati.

Dengan jantung yang berdebar kencang, ia mempercepat langkahnya melewati lorong yang berkelok. Cahaya temaram dari obor yang tertancap di dinding batu mulai menerangi sebuah ruangan besar di ujung lorong. Jeruji besi ruangan itu sedikit terbuka, dan dari sana, aroma amis darah serta keringat yang pekat mulai menyeruak masuk ke indra penciumannya.

Pandangannya langsung tertuju pada Jake. Pria itu duduk dengan posisi angkuh di atas kursi kayu, tepat di hadapan seorang pria asing yang terikat rantai dengan posisi mengenaskan. Tubuh pria malang itu disandarkan pada penyangga besi dengan kedua tangan direntangkan ke samping. Penampilannya benar-benar hancur, pakaiannya robek dan darah mengucur dari berbagai luka di sekujur tubuhnya.

Lutut Shasha langsung terasa lemas. Ia bahkan mundur selangkah tanpa sadar. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan buruk bahwa Jake akan melakukan hal yang sama padanya. Menyiksanya hingga tidak berdaya seperti pria asing itu.

Sebelum Jake menyadari kehadirannya, Shasha segera berbalik, berniat lari sejauh mungkin dari neraka bawah tanah ini.

“Kenapa pergi?”

Suara bariton yang dingin itu seketika membuat tubuh Shasha membeku. Kakinya seolah mati rasa, terpaku di lantai batu yang dingin. Di belakangnya, suara langkah kaki Jake yang mantap terdengar semakin mendekat. Pria itu keluar dari ruang tahanan dan dengan gerakan kilat menarik tangan Shasha, memaksanya untuk berbalik menatap wajahnya.

“Mau ke mana, gadis nakal?” desis Jake.

Shasha meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jake yang sekuat baja, walaupun sia-sia. Dengan mata yang berair karena takut, ia melirik sekilas ke arah pria asing di belakang punggung Jake.

“A-apa yang k-kau lakukan padanya?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Aku tidak melakukan apa pun,” jawab Jake datar.

Shasha menatap Jake dengan tatapan tidak percaya. Pria di hadapannya ini benar-benar sudah gila atau bahkan tidak memiliki nurani. Jelas-jelas pria di dalam sel itu sudah hampir meregang nyawa, tapi Jake dengan santainya mengaku tidak melakukan apa pun.

“Lepaskan aku! Aku ingin pergi dari sini!” teriak Shasha histeris, namun cengkeraman Jake justru semakin menguat.

“Apa Kevin tidak memberitahumu kalau aku butuh bantuan?”

“Sepertinya kau tidak membutuhkan bantuanku! Kau hanya ingin membuatku seperti pria itu, kan?!” tuduh Shasha sambil menunjuk ke arah sel.

“Salah,” jawab Jake cepat dengan senyum miring yang meremehkan, “Otak kecilmu itu memang tidak pernah berpikir dengan benar.”

Kening Shasha mengerut, bingung dengan maksud ucapan pria itu. Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, Jake sudah menarik tangannya dengan kasar, menyeretnya masuk ke dalam ruang tahanan yang pengap dan berbau darah itu.

“Lepaskan aku!” jerit Shasha, namun suaranya hanya memantul di dinding-dinding batu.

Jake menyentakkan tubuh Shasha ke depan dengan kasar, melemparkannya hingga ia berdiri tepat berhadapan dengan pria mengenaskan itu. Beruntung, Shasha masih bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak tersungkur ke lantai batu yang kotor.

Begitu menyadari betapa dekatnya ia dengan sosok yang penuh luka dan bau amis darah itu, Shasha langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan pemandangan seseram ini secara langsung.

Di sisi lain, Jake justru menyeringai puas. Ia tampak sangat menikmati kehancuran mental yang terpancar dari raut wajah Shasha. Dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan, Jake merogoh bagian belakang pinggangnya dan mengeluarkan sebuah pistol hitam yang berkilau tertimpa cahaya obor. Ia melangkah mendekati tawanannya, lalu dengan santai menyentuh dagu pria yang terikat itu menggunakan moncong pistolnya.

Shasha hanya bisa terpaku, memperhatikan setiap gerakan Jake dengan napas yang memburu karena ketakutan.

“Hei, bangunlah!” bentak Jake. Ia menggerakkan dagu pria itu dengan pistolnya hingga mata sang tawanan yang membengkak perlahan terbuka.

“Kumohon lepaskan aku, Tuan! Aku tidak melakukannya! Aku bersumpah!” Pria itu langsung meracau ketakutan begitu kesadarannya kembali.

“Ck, aku sudah sangat lelah menjelaskan bahwa aku sama sekali tidak suka kebohongan,” ucap Jake dingin. Ia menepukkan pistolnya ke telapak tangannya sendiri, memberikan efek suara yang mengancam. Tiba-tiba, ia mencengkeram leher tawanannya dengan kuat, membuat Shasha refleks menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan teriakan yang hampir lolos.

Tatapan mata Jake berubah menjadi setajam pisau. Urat-urat di lehernya menegang, dan bola matanya seolah memancarkan kilatan iblis yang siap mencabik siapa pun.

“Semua bukti mengarah padamu,” desis Jake tepat di depan wajah pria itu, “Aku tahu kau bersekongkol dengan bajingan itu.”

Sedangkan Shasha masih berusaha menahan isak tangisnya di pojok ruangan. Ia bahkan ikut menahan napas, merasa seolah oksigen di ruangan bawah tanah itu habis tersedot oleh aura kemarahan Jake.

Jake menghempaskan kepala tawanannya ke samping dengan gerakan meremehkan. Ia kemudian memutar tubuhnya, menatap lurus pada Shasha yang berdiri lemas dengan lutut yang gemetar.

“Aku butuh bantuanmu sekarang.”

Shasha perlahan menurunkan tangannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan napas yang terengah.

“A-apa maksudmu?” tanyanya dengan suara lirih yang nyaris hilang.

Jake menyodorkan pistol di tangannya ke arah Shasha. Sorot matanya tidak setajam sebelumnya, tapi penuh tuntutan.

“Bunuh dia untukku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!