NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aris selingkuh

Haru itu ,Hujan gerimis menyapu jalanan kota sore itu, menciptakan pantulan cahaya lampu kafe yang berkilau seperti permata murahan,indah dari jauh, tapi palsu bila didekati.

Kirana berdiri di balik semak dekat taman kota, tangannya mencengkeram erat ujung jaket tipis yang ia gunakan untuk menutupi daster lusuhnya. Kakinya basah kuyup, sepatu karet yang biasa ia pakai ke pasar kini penuh lumpur. Tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah pemandangan di balik jendela kaca kafe itu.

Di dalam, duduk Aris—suaminya,dengan senyum yang tak pernah ia lihat di rumah. Senyum itu tulus. Hangat. Memikat. Tangannya menggapai tangan wanita di seberang meja, seorang perempuan berkulit putih mulus, rambutnya lurus terawat, berpakaian rapi dalam setelan blazer elegan yang mungkin harganya setara dengan pendapatan Kirana selama tiga bulan. Mereka tertawa. Santai. Intim.

Kirana menahan napas. Dadanya sesak, seolah-olah udara kota tiba-tiba menghilang, digantikan oleh asap kebohongan yang menyesakkan.

Ia tak berniat mengikuti Aris hari itu. Tapi kebetulan saja ia lewat,hanya kebetulan,saat hendak menukar botol kecap di warung langganan. Ia terlambat pulang karena harus menunggu giliran di antrian bank untuk menarik uang gaji bulanan—tiga ratus ribu rupiah, hasil mengajar les privat dan mengaji di rumah tetangga. Dan di tengah perjalanan pulang, matanya tertangkap oleh sosok tinggi ramping yang terlalu familiar.

Ia mengikuti diam-diam. Tak berani terlalu dekat. Tak berani menangis. Bahkan tak berani menarik napas terlalu keras, seakan takut suara desahannya akan menghancurkan dunia kecilnya yang rapuh.

Kini, ia berdiri seperti patung. Tubuhnya beku, tapi hatinya berteriak.  

("Mengapa?")

Bukan pertama kali Aris pulang larut malam dengan aroma parfum asing. Bukan pertama kali ia menemukan nota hotel di saku celana Aris yang "lupa" dicuci. Tapi selama ini, Kirana memilih diam. Ia berdalih: mungkin hanya rekan bisnis. Mungkin hanya teman lama. Mungkin… mungkin… mungkin…

Harapan

Harapan itu adalah racun yang diseduh dengan air mata.

Dari kejauhan, Kirana melihat wanita itu menyentuh lengan Aris. Bukan sekadar sentuhan sopan,itu gerakan penuh kepemilikan. Dan Aris? Ia tak menarik tangannya. Malah, ia mencondongkan tubuh, berbisik sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil, lalu menyentuh pipinya dengan jari manis yang berkilau berlian.

Kirana menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air matanya akhirnya tumpah,hangat, asin, dan memalukan. Ia ingin berteriak. Ingin menyerbu masuk, menampar wajah wanita itu, menuntut penjelasan dari Aris. Tapi ia tak melakukannya.

Karena ia tahu, di mata Aris, ia bukan siapa-siapa.  

Ia hanyalah istri yang "terlanjur ada"—seorang perempuan desa yang dinikahi karena tekanan ibu mertua yang ingin punya cucu. Ia tahu itu sejak awal. Tapi ia tetap berharap. Ia tetap berusaha. Ia memasak, membersihkan, bekerja, menahan sakit kepala, menahan rasa hina saat tetangga bergosip tentang suaminya yang "naik kelas" sementara istrinya masih pakai sandal jepit.

Dan kini, pengkhianatan itu hadir bukan hanya dalam aroma atau nota hotel,tapi dalam bentuk nyata, duduk manis di kafe mewah, meminum kopi yang harganya setara dengan tiga porsi nasi bungkus untuk makan siang Gio.

Kirana perlahan mundur. Kakinya berat, tapi pikirannya mulai bergerak cepat.  

("Tidak sekarang.")

Jika ia mengamuk sekarang, Aris akan menyalahkannya. Menuduhnya cemburu buta. Menuduhnya tak tahu tempat. Dan Bu Widya,ibu mertuanya,akan datang keesokan harinya, memarahinya habis-habisan, menyuruhnya "jaga mulut dan jaga rumah, jangan ganggu karier suamimu."

Ia sudah terlalu sering dipermalukan. Tapi kali ini, ia tak ingin dipermalukan lagi. Ia ingin memilih waktunya sendiri.  

Ia ingin memastikan bahwa saat ia berbicara, seluruh dunia—terutama Aris dan ibu mertuanya,tak bisa lagi menganggapnya sebagai sampah.

Dengan langkah pelan, Kirana berbalik. Hujan mulai deras. Rambutnya

Dengan langkah pelan, Kirana berbalik. Hujan mulai deras. Rambutnya basah kuyup, bajunya menempel di tubuh kurusnya. Tapi ia tak merasa kedinginan. Ia merasa… terbakar.  

Dalam perjalanan pulang, ia melewati toko buku. Di etalase, ada poster buku bertuliskan:# "Perempuan yang Bangkit dari Luka adalah Perempuan yang Tak Bisa Dihancurkan." # Ia menatap poster itu lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahannya, ia masuk ke toko buku.

Ia membeli sebuah buku catatan kecil dengan uang receh yang tersisa—cuma cukup untuk itu. Di halaman pertama, ia menulis satu kalimat dengan tinta biru yang luntur karena terkena air hujan:

# *Aku bukan istri yang buta. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka mata mereka.#

Malam itu, Kirana tak langsung pulang. Ia duduk di bangku taman dekat halte dengan pikiran bercampur aduk

Kirana mearik nafasnya dalam - dalam menatap langit kelabu. Di pikirannya, ia merancang. Bukan dendam—tapi keadilan. Ia tahu Aris akan kedatangan tamu penting besok. Seorang investor dari luar. Aris sudah sibuk seminggu ini, meminta Kirana membersihkan seluruh rumah, membeli bunga segar, bahkan menyuruhnya bersembunyi di kamar kalau tamu datang.  

("Jangan sampai dia tahu aku menikah dengan perempuan seperti kamu,") kata Aris dengan nada jijik minggu lalu.

Kirana tersenyum getir.  

Baik. Kalau Aris ingin berpura-pura jomblo demi karier, maka biarlah tamu itu melihat kebenaran sesungguhnya.

Tapi bukan dengan cara menangis. Bukan dengan cara memohon.  

Melainkan dengan keberadaannya yang tak bisa diabaikan.

Saat tiba di rumah, Gio sudah tertidur di lantai ruang tamu, memeluk bantal kecilnya. Kirana mengangkatnya perlahan, menidurkan di kasur kecil mereka. Ia membelai pipi anaknya—wajah kecil yang mirip Aris, tapi matanya… matanya adalah miliknya. Mata yang jujur. Mata yang tahu kapan ibunya sedang berbohong bahwa "semua baik-baik saja."

Kirana duduk di lantai, memandangi foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding—sudah retak, tapi belum ia turunkan. Di foto itu, Aris tersenyum kaku, sementara ia tersenyum lebar, percaya bahwa cinta bisa tumbuh dari pernikahan paksa.

Kini, ia tahu: cinta tak tumbuh di tanah yang kering.

Ia bangkit, lalu menurunkan foto itu. Diletakkannya di dasar lemari, di bawah tumpukan pakaian Gio yang sudah kekecilan.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Kirana mandi air hangat—bukan karena ingin bersih, tapi karena ingin merasa layak. Ia mencuci rambutnya, menyisirnya perlahan, lalu menatap wajahnya di cermin retak kamar mandi.

Wajahnya lelah. MatanyaKulitnya kasar. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang baru: kejernihan.

Ia tak lagi ingin menjadi istri yang diabaikan. Ia tak lagi ingin menjadi "istri sah" yang dipermalukan diam-diam.  

Jika Aris ingin membuangnya, biarlah dilakukan di depan umum. Biarlah semua orang tahu siapa sebenarnya yang menjaga rumah ini selama ini. Siapa yang bekerja keras agar Aris punya uang tambahan untuk kencan rahasia. Siapa yang tetap tersenyum meski hatinya diinjak-injak.

Dan besok… besok, tamu itu akan datang.

Dan Kirana akan menyambutnya—bukan sebagai pembantu yang bersembunyi, tapi sebagai istri yang tak bisa dihapus begitu saja.

Ia tidur larut malam, setelah menulis rencananya di buku catatan kecil itu. Bukan rencana balas dendam. Tapi rencana keluar.

Karena ia tahu: rumah ini bukan lagi rumahnya.  

Dan besok, ia akan mulai mencari

Di balik jendela yang basah oleh hujan, Kirana menutup mata.  

Tapi hatinya terjaga.  

Dan untuk pertama

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!