NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 _Mahkota Untuk Aurora _

Suasana di aula istana peristirahatan itu mendadak membeku. Udara seolah berhenti mengalir saat Alistair menggenggam benda emas yang berkilau di telapak tangannya. Aroma kayu cendana yang menyeruak dari pulpen itu bukan sekadar wangi biasa bagi ketujuh pangeran; itu adalah aroma masa kecil mereka, aroma kedamaian yang terenggut delapan belas tahun silam.

"Pencuri? Kau bilang dia mencuri ini darimu, Morena?" tanya Alistair. Suaranya rendah, namun mengandung getaran emosi yang sulit disembunyikan. Matanya beralih dari pulpen emas itu ke arah Ara yang masih bersimpuh di lantai marmer dengan tubuh gemetar hebat.

"Benar, Pangeran!" Morena meratap, air mata buatannya kini membasahi pipi. Ia menatap Alistair dengan pandangan memelas, mencoba meyakinkan pria itu dengan segala daya tariknya. "Benda itu... Ayahku, Raja Malakor, memberikannya padaku saat aku masih sangat kecil. Beliau bilang itu adalah peninggalan Ibunda Ratu yang telah tiada. Aku selalu menyimpannya di kotak rahasia, tapi pelayan ini... dia pasti melihatnya saat membersihkan kamarku!"

Ara menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tidak... itu tidak benar," bisik Ara. Suaranya nyaris hilang karena rasa takut dan tenggorokan yang kering. "Benda itu... ada di bungkusan kain hamba sejak hamba ditemukan di hutan... hamba tidak pernah mencuri..."

"Diam kau, budak hina!" Morena berdiri dan melayangkan tamparan keras ke pipi Ara tepat di depan mata ketujuh pangeran. Plak! "Beraninya kau memfitnahku dan mengklaim harta kerajaanku sebagai milikmu!"

"Cukup!" bentak Benedict. Langkahnya yang lebar membawanya berdiri di antara Morena dan Ara. Aura kemarahan terpancar dari tubuhnya yang tegap. "Jangan ada lagi kekerasan di gedung ini."

L

Benedict menatap Ara yang tersungkur. Hatinya menjerit melihat gadis itu menderita, namun logika politik dan bukti di tangan Alistair membuat segalanya menjadi rumit. Pulpen Cendana Emas adalah simbol sah dari identitas Putri Aurora. Jika Morena mengklaim benda itu adalah miliknya, dan Ara—seorang pelayan yang tak memiliki bukti apa pun selain pengakuan lisan—mengklaim hal yang sama, maka posisi Morena jauh lebih kuat secara hukum.

Caspian mendekati Alistair. Ia mengamati pulpen itu dengan teliti. "Alistair, ukiran Phoenix ini... hanya keluarga Valerius yang memilikinya. Jika Morena memegang benda ini sejak kecil, mungkinkah..." Caspian menggantung kalimatnya. Ia menatap Morena dengan ragu, namun bukti fisik di depan mata sulit untuk dibantah.

Morena, yang menyadari keraguan para pangeran, segera melancarkan serangan terakhirnya. "Pangeran, jika Anda tidak percaya, lihatlah punggung tangan kiri saya. Ada bekas luka kecil akibat terkena api saat malam penyerangan itu... Ayahku selalu bilang aku selamat dari maut malam itu."

Morena menunjukkan sebuah bekas luka samar di tangannya bekas luka yang sebenarnya ia buat sendiri dengan besi panas beberapa tahun lalu hanya untuk memperkuat kebohongannya jika suatu saat diperlukan.

Alistair memejamkan mata. Jantungnya bergemuruh. Segala tanda fisik mengarah pada Morena, namun insting dan jiwanya justru tertarik pada Ara gadis malang yang kini sedang diseret paksa oleh pengawal Morena.

"Bawa dia pergi! Masukkan dia ke dalam jeruji besi di belakang kereta!" perintah Morena kepada pengawalnya. "Dia harus dihukum karena telah mencuri harta pusaka ini!"

Ara diseret keluar dari aula. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Matanya yang biru jernih menatap ketujuh pangeran untuk terakhir kalinya sebelum pintu aula tertutup. Tatapan itu penuh dengan keputusasaan, luka, dan harapan yang padam.

Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, ketujuh pangeran berkumpul di ruang rapat rahasia. Pulpen emas itu diletakkan di tengah meja.

"Aku tidak percaya," gumam Gideon. Pangeran termuda itu tampak sangat terpukul. "Bagaimana mungkin gadis kasar dan kejam seperti Morena adalah adik kita? Bagaimana mungkin Aurora tumbuh menjadi monster seperti dia?"

"Lingkungan bisa mengubah siapapun, Gideon," sahut Darian dengan nada getir. "Jika dia tumbuh di bawah asuhan Raja Malakor yang haus darah, mungkin saja sifatnya berubah. Namun... pulpen ini tidak bisa berbohong. Ini adalah benda yang hilang bersama Aurora."

Evander, yang memiliki hati paling lembut, hanya terdiam. Ia teringat luka-luka di tubuh Ara. "Lalu bagaimana dengan pelayan itu? Ara? Jika Morena adalah adik kita, mengapa hatiku merasa sangat sakit melihat pelayan itu disiksa? Mengapa mata Ara terasa begitu... akrab?"

"Itulah masalahnya," Alistair menyahut. "Kita terjebak antara bukti fisik dan insting. Untuk saat ini, kita harus mengikuti permainan Morena. Kita akan membawanya ke Kerajaan Aethelgard. Kita akan memperlakukannya sebagai putri yang hilang, namun kita juga harus membawa Ara. Aku tidak akan membiarkan pelayan itu lepas dari pengawasan kita."

"Kenapa?" tanya Caspian.

"Karena jika Morena berbohong, maka Ara adalah satu-satunya kunci yang kita miliki. Dan jika Morena benar, aku ingin tahu dari mana Ara mendapatkan keberanian untuk mengklaim pulpen itu," jawab Alistair tegas.

Sementara itu, di sebuah kandang besi sempit di belakang kereta kuda yang terparkir di halaman, Ara meringkuk. Tubuhnya kotor oleh lumpur, punggungnya perih akibat cambukan, dan hatinya hancur berkeping-keping. Satu-satunya benda yang membuatnya merasa memiliki identitas kini telah direnggut.

"Ibu... Ayah..." bisik Ara ke arah langit malam. "Apakah ini akhir dari hidupku? Dituduh sebagai pencuri di rumah pangeran-pangeran yang baru saja memberiku sedikit kehangatan?"

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki mendekat. Ara gemetar, mengira itu adalah pengawal Morena yang datang untuk menyiksanya lagi. Namun, yang muncul adalah sosok tinggi dengan jubah hitam. Pria itu membuka penutup kepalanya, menampakkan wajah Benedict.

Ara tersentak dan berusaha mundur ke sudut kandang. "Tuan Pangeran... hamba tidak mencuri... hamba bersumpah..."

Benedict terdiam melihat kondisi Ara. Ia mengeluarkan sepotong roti dan sebuah botol air dari balik jubahnya. Melalui celah jeruji, ia menyerahkannya kepada Ara. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk perjalanan besok."

Ara menatap roti itu, lalu menatap Benedict. "Mengapa Anda menolong seorang pencuri?"

Benedict menatap mata biru Ara dengan intensitas yang membuat napas Ara tertahan. "Karena matamu tidak menceritakan hal yang sama dengan mulut Morena. Aku tidak tahu siapa yang jujur, tapi sampai aku menemukan jawabannya, aku tidak akan membiarkanmu mati."

"Pulpen itu... itu benar milik hamba," ucap Ara dengan sisa keberaniannya. "Hamba tidak tahu apa itu Aethelgard, hamba tidak tahu siapa Putri Aurora. Tapi benda itu adalah satu-satunya yang menemani hamba sejak bayi. Putri Morena berbohong."

Benedict tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya. "Istirahatlah. Besok kita berangkat ke Aethelgard. Tempat di mana semua kebenaran biasanya terungkap di bawah cahaya matahari."

Keesokan harinya, perjalanan panjang menuju Kerajaan Aethelgard dimulai. Morena duduk di dalam kereta paling mewah bersama para pangeran, menikmati perlakuan sebagai seorang putri yang baru saja ditemukan. Ia tertawa, bersandar pada bahu Alistair, dan menceritakan kisah-kisah palsu tentang masa kecilnya yang sulit di Noxvallys.

Sedangkan di belakang rombongan, sebuah kereta kayu terbuka membawa kandang besi tempat Ara dikurung. Orang-orang di sepanjang jalan melihatnya sebagai pelayan yang berani mencuri pusaka putri. Ara menundukkan kepala, membiarkan debu jalanan menutupi wajah dan luka-lukanya.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!