Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 12
" YANG MULIA MAHARANI TIBA"
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
Peti-peti itu diletakkan di tengah aula samping di hadapan Mu Lian dan Shue Wang. Yuhan membuka tutupnya satu per satu.
Seketika, ruangan itu diterangi oleh kilauan kuning dari emas batangan yang murni. Shue Wang nyaris jatuh dari kursinya, sementara Mu Lian menyipitkan mata, menatap istrinya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.
KLANG!
Shue Wang nyaris terjatuh dari berdirinya. Matanya melotot menatap batangan emas yang berkilauan di bawah cahaya lilin. Mu Lian, meskipun lebih tenang, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap Yuhan dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
"Dari mana... dari mana Yang Mulia mendapatkan ini?" tanya Shue Wang dengan suara gemetar. "Hamba tahu gudang pribadi Anda telah dikosongkan oleh... ehem... pengeluaran masa lalu."
Yuhan duduk dengan tenang, menyilangkan tangannya di dada. "Anggap saja ini adalah harta tersembunyi yang aku simpan untuk hari pembalasan. Panglima Jenderal Shue, ambil emas ini. Gunakan untuk membeli pasokan makanan dari pedagang swasta yang tidak berafiliasi dengan Han Tan. Bayar gaji prajurit yang tertunggak. Aku ingin moral mereka kembali dalam tiga hari."
"Ini adalah emas untuk gaji prajurit dan operasional militer. Jenderal Shue, bawa semua emas ini dan tukar dengan uang kertas. Beli beberapa kebutuhan militer di perbatasan, seperti selimut, obat-obatan dan kain. Sisanya alokasikan untuk membuat baju jirah dengan kualitas terbaik dan senjata baru agar pertahan semakin kuat," ujar Yuhan datar. Ia kemudian menaruh beberapa kati bahan pangan, gabah, ubi jalar, ubi kayu, dan kentang di atas meja rapat.
Shue Wang memegang sebutir gabah yang dibawa Yuhan. "Yang Mulia... gabah ini... kenapa aromanya begitu harum dan butirannya begitu padat? Ini bukan gabah biasa."
Yuhan mengangguk. "Ini adalah gabah unggul. Dan ini..." Ia mengangkat sebuah kentang yang besar dan bersih. "Ini disebut kentang. Ia tumbuh di dalam tanah. Satu bijinya bisa menghasilkan banyak umbi dalam waktu singkat, dan ia sangat mengenyangkan. Prajuritmu tidak akan kelaparan jika mereka menanam ini di sekitar pos perbatasan."
Mu Lian mengambil ubi jalar dan mengamatinya. "Tanaman-tanaman ini... hamba belum pernah melihat jenis yang seperti ini di seluruh negeri. Dari mana Anda mendapatkannya, Yang Mulia?"
Yuhan menatap Mu Lian dengan tatapan menantang. "Ada banyak hal di dunia ini yang belum kau lihat, Pangeran. Yang perlu kau tahu hanyalah bahan-bahan ini telah aku beri 'berkah' khusus. Mereka akan tumbuh lebih cepat, lebih kuat, dan memiliki gizi sepuluh kali lipat dari gandum biasa."
DUK!
Shue Wang menitikkan air mata. Ia bersujud hingga dahinya berbunyi di atas lantai. "Hamba mewakili ribuan prajurit di perbatasan, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga! Dengan emas ini, hamba bisa membeli sisa pangan dari pedagang swasta, dan dengan bibit ini, kami akan memiliki masa depan!"
Yuhan berdiri, menatap peta perbatasan sekali lagi. "Bawa emas ini malam ini juga, Shue Wang. Jangan sampai Han Tan atau mata-matanya tahu. Aku ingin kau melakukan pengiriman secara rahasia melalui jalur gunung yang tidak biasa."
Suasana yang tadinya penuh harapan mendadak berubah menjadi tegang saat mata Jenderal Shue Wang tertuju pada salah satu bahan pangan yang diletakkan Shen Yuhan di atas meja.
Shue Wang mundur satu langkah. Wajahnya yang garang dan penuh bekas luka perang mendadak memucat, bibirnya bergetar. Ia menatap gundukan umbi yang memanjang dengan kulit coklat kasar dan daging putih di dalamnya.
"Ada apa, Jenderal Shue? Sepertinya kau melihat hantu di atas meja," celetuk Pangeran Mu Lian dengan nada menyelidik. Mata elangnya tak lepas dari reaksi sang Jenderal.
Shue Wang menelan ludah dengan susah payah. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba menahan emosi yang meluap. "Maafkan hamba, Yang Mulia Maharani... bukannya hamba tidak berterima kasih atas kemurahan hati Anda, tapi..."
"Katakan," potong Yuhan tegas. Ia duduk bersandar, melipat tangan di depan dada dengan keanggunan seorang predator. "Aku tidak akan menghukummu hanya karena kau menyatakan pendapat. Bicaralah dengan jujur."
Shue Wang menarik napas panjang, suaranya parau saat bertanya, "Maafkan hamba sebelumnya, Yang Mulia. Tapi apakah ubi yang berwarna coklat dan panjang ini... adalah ubi kayu?"
"Iya, benar. Memangnya ada apa dengan ubi kayu ini?" tanya Yuhan, dahinya berkerut heran. Di dunianya yang dulu, ini adalah singkong, makanan pokok jutaan orang.
Mendengar konfirmasi Yuhan, Mu Lian tersentak di kursi rodanya. Ia menatap Yuhan dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara keterkejutan dan keraguan. Apa mungkin Maharani Shen benar-benar masih bodoh, atau dia sengaja ingin meracuni pasukannya sendiri? batin Mu Lian pahit.
"Yang Mulia Maharani," Shue Wang berkata dengan nada putus asa, "Kami sebagai prajurit perbatasan lebih baik memasak dan memakan kulit kayu dari pohon liar daripada harus mengonsumsi ubi kayu ini! Ini adalah Umbi Kematian!"
Deg!
Jantung Yuhan berdegup kencang. Umbi Kematian?
"Lanjutkan," titah Yuhan, suaranya kini lebih rendah dan serius.
"Tahun lalu, saat kelaparan melanda pos perbatasan Barat, prajurit kami menemukan ubi ini tumbuh liar di hutan. Karena lapar, mereka memakannya. Hasilnya? Setengah dari satu batalion tumbang dalam hitungan jam. Mereka mengalami pusing yang luar biasa, sesak napas, hingga muntah-muntah hebat. Banyak yang tidak tertolong. Sejak saat itu, ubi kayu dilarang keras untuk dikonsumsi. Itu mengandung racun iblis!" terang Jenderal Shue dengan mata yang memerah karena teringat kawan-kawannya yang tewas sia-sia.
Yuhan terdiam sejenak. Otak medisnya bekerja dengan kecepatan penuh. Beracun? Pusing? Muntah?
"Jenderal Shue," Yuhan memecah keheningan dengan suara yang sangat tenang. "Bagaimana cara prajuritmu memakan ubi kayu itu saat itu? Apakah mereka mengupas kulitnya? Apakah mereka mencucinya? Ataukah..."
"Kondisi di sana serba terbatas, Yang Mulia," Shue Wang memotong dengan cepat. "Kami sering kali harus bergerak cepat. Prajurit hamba cenderung mengonsumsi makanan apa pun yang ditemukan dalam keadaan mentah tanpa proses memasak. Kami pikir ubi ini sama seperti ubi jalar lainnya yang bisa dimakan langsung setelah dibersihkan dari tanah. Tapi rasanya... rasanya sangat pahit dan getir, sangat berbeda dengan ubi jalar yang manis."
"Pantas saja," desis Yuhan. Ia memijat pelipisnya, merasa sedikit lega karena dugaannya benar.
"Apa maksudmu, Yang Mulia?" tanya Mu Lian, suaranya mengandung rasa ingin tahu yang besar.
Yuhan mengambil satu buah ubi kayu, mengangkatnya di hadapan kedua pria itu. "Jenderal, Pangeran... ubi ini memang memiliki 'pelindung' alami berupa racun jika dimakan mentah. Namanya adalah racun sianida atau mari kita sebut sebagai Racun Getir. Racun itu paling banyak terkumpul di kulitnya dan dalam dagingnya jika ubi ini tidak diolah dengan benar."
Yuhan bangkit berdiri, ia berjalan menuju nampan air bersih di sudut ruangan. Dengan gerakan tangkas, ia mengambil sebilah pisau kecil dan mulai mengupas kulit ubi kayu itu hingga bersih, menyisakan daging putihnya yang segar.