Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Bukankah sudah kukatakan untuk menuruti semua perintahku!? Apa kau ini memang bodoh, Hah!? Jawab aku Despina!?" Seorang lelaki dengan kasar mencengkram dagu Despina. Lelaki itu adalah kakak tiri dari Despina.
Despina hanya diam dengan airmata yang mengalir dipipi gadis itu. Gadis remaja itu menahan sakit akibat cengkraman keras dari kakak lelakinya itu.
"Sepertinya kau memang perlu diberi pelajaran. Baiklah, hari ini kau akan kembali aku kurung dikamar ini. Aku akan memanggil Reza, bukankah bagus jika aku menjual tubuhmu padanya!? Nampaknya lelaki itu.memang sudah lama menyukaimu, tentu ini menjadi sebuah keuntungan baginya, dan juga keuntungan bagiku," Ujar lelaki itu sambil tersenyum sinis. Kemudian ia melepaskan cengkraman tangannya didagu Despina.
Despina menggelengkan kepalanya, lalu menjatuhkan tubuhnya dihadapan sang kakak. "Kak Leo, aku mohon. Jangan lakukan itu, aku berjanji akan menuruti semua perintahmu. Tapi, tapi jangan lakukan itu kak." Leo terkekeh pelan, lalu menarik Despina keranjang gadis itu dan menghempaskannya.
"Seenaknya saja kau menyuruhku, kau pikir dirimu itu siapa!!? Aku tidak peduli, aku tetap akan menjual tubuhmu itu. Tunggu saja, Reza sudah akan sampai." Ujar lelaki itu kemudian sambil meninggalkan Despina yang terus saja menangis.
Despina menatap pintu kamarnya yang dikunci oleh kakak tirinya itu. Gadis remaja itu kemudian menoleh pada pintu yang mengarah pada balkon kamarnya.
"Apa aku melarikan diri saja?" Tanyanya kepada diri sendiri. Gadis itu mengusap airmatanya lalu kemudian membuka lemari pakaiannya untuk mengganti baju.
Ceklek
Pintu kamar gadis itu terbuka, menampilkan seorang lelaki dengan postur tinggi, putih dan cukup tampan yang memasuki kamar gadis itu. Despina membulatkan matanya, gadis itu memundurkan tubuhnya perlahan ketika lelaki itu menutup dan kembali mengunci kamar gadis itu.
Lelaki dihadapannya itu tersenyum miring, "Mau kemana kau Baby? Jangan pernah coba-coba menolakku, huh!?" Lelaki itu mendekat kearah Despina lalu menarik paksa Despina keranjang tidur gadis itu.
Despina menggelengkan kepalanya sambil berusaha memberontak. "Aku mohon jangan Kak."
Namun ucapan gadis itu tak dihiraukan oleh lelaki tadi. Ia justru berusaha mencium paksa gadis itu, walau berulang kali kepala Despina bergerak ke kanan dan kekiri. Sampai akhirnya lelaki itu berhasil mencium bibir ranum Despina.
"Mpptthh, jang-an, aku mohon kak Reza."
Reza tidak peduli, lelaki itu sudah dipenuhi nafsu. Ia terus mencium Despina, tapi ia sedikit kewalahan ketika Despina terus saja memberontak.
"DIAM!!!" Bentak Reza, hal itu membuat Despina sedikit tenang. Reza tersenyum senang lalu mengelus pelan wajah gadis dihadapannya itu.
"Kalau kau tidak memberontak seperti ini aku tidak akan bermain kasar Baby," Ucapnya lalu kembali melumat bibir milik Despina yang sudah memerah akibat ulahnya.
"Aku mohon jangan Kak." Mohon Despina lagi ketika Reza melepaskan lumatannya.
Reza menatap gadis yang terlihat lemah dihadapannya itu. "Ssttt kau tenanglah Baby. Aku akan membuatmu nikmat kali ini, jadi ikuti saja permainanku."
Despina menatap lelaki itu sendu, ia meneteskan airmatanya tanpa henti. Rambutnya sudah acak-acakan, ditambah lagi ia merasakan jika bibirnya juga sedikit perih. Despina melihat Reza yang mengambil sesuatu dari saku celananya. Lalu lelaki itu memasukkan kedalam mulut dan kemudian kembali mencium bibir Despina. Bukan hanya itu, bahkan Reza mulai memasukkan lidahnya kedalam mulut Despina. Tanpa Despina sadari, lelaki itu tersenyum miring ketika Despina tanpa sadar memejamkan mata dan mulai menikmati permainannya.
Gadis itu sekarang benar-benar tidak sadar apa yang dilakukannya dengan lelaki yang merupakan teman sang kakak itu. "Nikmatilah Baby." Reza mulai melepas satu persatu baju Despina dan juga bajunya.
Despina hanya diam, sesuatu yang Reza masukkan kedalam mulut Despina ketika mereka berciuman tadi sudah bereaksi. Sehingga Despina tidak lagi bisa menolak dan hanya semua yang Reza lakukan padanya.
***
Keyvandi baru saja menyelesaikan pekerjaannya yaitu syuting iklan sebuah produk minuman soda disalah satu perusahaan terkenal. Lelaki itu berjalan menuju sofa yang disediakan oleh pihak perusahaan itu.
"Aku sangat lelah hari ini." Ucapnya ketika Lia sang manajer sekaligus asistennya itu sambil menyerahkan botol minuman dingin kepada Keyvandi dan diterima lelaki itu.
"Kau bisa istirahat full malam ini Rion. Jadwalmu hari ini sudah selesai."
Keyvandi bernapas lega, lelaki itu kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke apartementku dahulu. Kau pulanglah bersama supirku Lia." Keyvandi langsung meninggalkan ruangan itu dan berpamitan dengan orang-orang disana.
Lelaki itu keluar dari sana dengan masker hitam dan topi yang selalu melekat pada tubuhnya.
"Hallo," Sapa orang diseberang sana ketika menjawab panggilan dari Keyvandi.
"Apa kau sibuk?"
"Tidak, ada apa?"
"Bisa menjemputku didepan Hotel Asia?"
"Baiklah, tunggu 10 menit lagi."
"Ya."
Keyvandi mengakhiri panggilan telfonnya dan kemudian ia berjalan ketrotoar. Lelaki itu mengedarkan pandangannya keseberang jalan. Mata lelaki itu tanpa sengaja tertuju pada seorang gadis diseberang jalan yang terlihat ketakutan sambil berlari. Gadis itu terus saja melihat kearah belakang, sehingga kurang memperhatikan jalanan didepannya.
Ketika gadis itu akan menyebrang, Keyvandi membelalakkan matanya saat sebuah mobil melaju dengan kencang. Lelaki itu reflek berlari dan menarik gadis itu kepinggir jalan. Sehingga kedua orang itu terjatuh.
Keyvandi menatap gadis yang telah ditolongnya. Gadis cantik dengan mata bulat itu perlahan membuka matanya, pandangan keduanya bertabrakan.
"Ehemb, sampai kapan kalian akan terus bertatapan dengan posisi seperti itu? Ini tempat umum asal kalian tau."
Keyvandi dan gadis itu tersadar dan bangkit dari posisi mereka. Keduanya canggung karena ketahuan saking menatap, ditambah lagi banyak orang berlalu lalang disana.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Keyvandi kepada gadis dihadapannya itu.
Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, "Terimakasih telah menolongku." Ucap gadis itu sambil tersenyum tulus.
"Ya, tidak masalah Nona. Aku Vandi, siapa namamu?"
"Modus, modus ,modus." Celetuk sahabat Keyvandi yang tadi menegur keduanya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, laku menerima ukuran tangan Keyvandi. "Aku Despina Elara Faye. Panggil saja Despina."
"Nama yang cantik seperti orangnya. Aku Erlando Ferdiansyah." Keyvandi memutar bola matanya malas ketika sahabatnya itu dengan tidak tau malunya melepaskan tangan Keyvandi dan menjabat tangan Despina.
Despina tertawa pelan, hatinya terhibur melihat tingkah dua orang dihadapannya ini.
"Maaf Despina, tapi sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya." Ingat Keyvando sambil menatap intens gadis dihadapannya itu.
Despina mengerutkan keningnya bingung, "Dimana?"
"Mungkin kau salah Van, tidak mungkin gadis secantik Despina pernah berjumpa denganmu," Ujar Erlando mengejek Keyvandi.
Keyvandi tidak menghiraukan ucapan sahabat gesreknya itu. Lelaki itu masih mengingat-ingat kapan ia pernah bertemu sebelumnya dengan Despina.
"Ahh ya, aku ingat. Kau gadis SMA yang beberapa waktu tidak sengaja tertabrak oleh tubuhku di trotoar."
Despina membelalakkan matanya, "Jadi, kakak adalah orang yang waktu itu menabrakku?"
Keyvandi tersenyum, "Ya, ini pertemuan kedua kita. Benar saja, akhirnya aku tau namamu, nanti ketika pertemuan ketiga kita, aku pastikan kau memang ditakdirkan masuk dihidupku," Ujar Keyvandi, kemudian lelaki itu menarik baju Elnando meninggalkan Despina yang masih terdiam mencerna kata-kata Keyvandi.
Gadis itu menatap punggung Keyvandi yang sudah memasuki mobil sahabatnya itu. "Semoga kau ditakdirkan menjadi kebahagiaanku. Jika memang benar seperti ucapanmu tadi, kak." Batin gadis itu penuh harap. Setetes air mata menetes diwajahnya.
"DESPINA!!!"
Despina membelalakkan matanya, gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, di sana ia melihat dua orang yang sedang mengejarnya, dua orang itu adalah Reza dan juga Leo kakak tiri Despina.
Despina terus berlari, ia tidak ingin jika spai nanti tertangkap oleh kedua lelaki itu, hari ini penderitaannya sudah cukup. Bahkan, ia sudah kehilangan satu-satunya harta berharga yang ia punya. Despina berbelok ke sebuah gang sempit, dan bersembunyi di sana, di balik gerobak sampah.
"Sial!!! Di mana gadis itu!? Kita kehilangan jejaknya." Leo mengumpat dengan wajah kesalnya. Lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri karena tidak berhasil menemukan Despina.
Begitu pula dengan Reza, lelaki itu mengepalkan tangannya marah. "Despina, lihat saja sayang, jika sampai aku mendapatkanmu, tidak akan aku lepaskan sedikitpun, kau harus menjadi milikku seutuhnya, hanya aku tidak boleh orang lain."
Despina di balik gerobak sampah mendengar itu, ia benar-benar bergidik ngeri, bulu kuduknya merinding. Gadis itu ketakutan seorang diri, ia benar-benar dalam bahaya jika terus hidup di sekitar lelaki-lelaki tidak waras itu.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali dulu, nanti kita mencarinya lagi. Aku juga akan memerintahkan anak buahku mencarinya, Despina tidak boleh lepas begitu saja dari genggamanku." Reza mengajak Leo untuk kembali, kedua lelaki itu akhirnya beranjak dari sana.
Despina merasa lega, akhirnya ia terbebas dari dua lelaki itu, setelah kedua lelaki tadi tidak terlihat batang hidungnya, Despina langsung keluar dari persembunyiannya.
Ia menarik napasnya perlahan dan menghembuskannya. "Setidaknya aku aman untuk sementara. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak membawa ponsel, ponselku tertinggal di rumah seperti neraka itu," Ujar Despina, gadis itu hanya bisa menatap sendu jalanan, ia benar-benar sial hari ini, tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja, pasti ada cara untuknya.
"Aku harus ke rumah Delion, hanya dia satu-satunya orang yang bisa aku harapkan sekarang."
Despina langsung keluar dari gang sempit itu menuju jalan raya, gadis itu mencari kendaraan umum agar dapat digunakan untuk berkendara ke rumah Delion, sahabat satu-satunya yang ia punya.
***
"Aku sangat lelah." Keyvandi memasuki apartemennya dengan wajah lesu, di belakang lelaki itu ada Erlando sang sahabat. Erlando menenteng beberapa makanan yang baru lelaki itu beli saat di perjalanan pulang bersama Keyvandi tadi.
"Sudahlah, kau sebelum istirahat makanlah dulu Bro."
Keyvandi langsung memposisikan diri duduk di samping Erlando, kedua lelaki itu sekarang berada dir uang televisi dengan nenerapa pasta dan juga pizza, dengan tenang Keyvandi maupun Erlando memakan makanan mereka.
"Ngomong-ngomong gadis tadi siapamu.* Di sela makan keduanya, Erlando menanhakan perihal Despina pada Keyvandi.
Keyvandi menghentikan makannya sejenak, "Aku baru bertemu dengannya sebanyak dua kali."
Orlando membelalakkan matanya, "Lalu kenapa kau seperti menyukainya?"
Keyvandi menganggukkan kepalanya, "Entahlah, aku merasa ada yang menarik dari gadis itu Lan, aku seperti ingin selalu melindunginya."
Sahabat Keyvandi itu hanya tersenyum, ia senang melihat sahabatnya bahagia, ia tidak ingin Keyvandi hanya fokus terhadap karinya saja tanpa memikirkan kebahagiannya, "Aku senang mendengarnya, tapi bagaimana dengan karirmu?"
Ucapan yang keluar dari bibir Erlandu membuat Keyvandi terdiam, lelaki itu mencerna ucapan sahabatnya itu, "Aku akan fokus ke karirku, tapi aku juga harus lebih dekat dengan Despina, sepertinya aku menyukainya."
"Bukan itu maksudku Keyvandi Orion Eduardo."
Keyvandi memicingkan matanya, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. "Lalu?"
"Maksudnya aku takut jika kau terlalu dekat dengan Despina akan mempengaruhi karirmu di dunia entertainment, kau tau sendiri jika kau adalah seorang musisi, kau selebritis terkenal, semua langkahmu dan gerakmj menjadi sorotan publik, aku takut jika kau terlalu berdekatan dengan seorang gadis akan banyak gosip yang beredar, dan hal itu dapat mempengaruhi kepopuleranmu."
Ada kekhawatiran di mata Erlando, lelaki itu memang sahabat sejati dari Keyvandi, dari zaman keduanya masih di duduk di sekolah dasar, Keyvandi dan Erlando selalu menjadi sahabat yang tidak dapat dipisahkan.
"Aku mungkin akan memikirkan caranya, aku tidak ingin orang yang kusayang merasa terancam ketika denganku, aku menyukainya, jadi aku tidak akan membiarkan Despina berada dalam.masalah saat bersamaku."
Erlando menganggukkan kepalanya, kemudian lelaki itu menyesap Cola dari kaleng yang telah ia buka. "Aku harap juga begitu, kau tau, fans fanatikmu sangat mengerikan," Ujar Erlando bergidik ngeri. Bagaimana tidak, lelaki yang merupakan sahabat Keyvandi itu pernah merasakan sendiri bagaimana ia terkena pukulan dan cakaran penggemar Keyvandi ketika ia akan menjemput Keyvandi, padahal saat itu ia hanya berjalan dan menerobos desakan, tapi ia justru menjadi bulan-bulanan para penggemar sahabatnya itu. Jika saja bukan karena Keyvandi mengatakan jika ia adalah sahabat Keyvandi sejak berada di sekolah dasar dan ditugaskan untuk menjemput lelaki itu, mungkin ia akan pulang dalam keadaan tinggal nama saja akibat keganasan penggemar lelaki itu, dan jika itu sampai terjadi, ia mungkin akan membuat ibunya bersedih, membayangkan membuatnya ketakutan.
Keyvandi tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu, ia sendiri juga tidak mengerti mengapa penggemarnya sesadis itu, "Itu karena salahmu juga."
Erlando menatap tajam Keyvandi yang sedang menertawakannya, sama seperti saat ia menjadi bulan-bulanan penggemar fanatik lelaki itu, Keyvandi juga sama, ia justru tertawa bukan membantu, diakhir baru lelaki itu membantunya, ketika keadaannya sudah tidak karuan, wajah, tangan dan badan banyak cakaran, rambut acak-acakan, tidak berbentuk lagi, bahkan baju yang ia kenakan banyak sobekan.
"Mengapa kau jadi menyalahkan ku!?"
"Tentu saja itu salahmu, kau dengan percaya diri mengatakan "Hei kalian, jangan menyukai Keyvandi, kalian taukan, Keyvandi itu jelek, aku lebih tampan darinya" bagaimana tidak para fansku itu menyerangmu."
Benar, apa yang dikatakan Keyvandi adalah sebjah kebenaran, saat itu memang salah dari Erlando juga, sudah tau penggemar sahabatnya itu sangat mencintai sahabatnya, lelaki itu justru mengejek seperti itu, ya itulah yang akhirnya ia tuai.
"Baiklah, baiklah, tidak lagi aku menghinamu di depan umum, bisa mati diumur 25 tahun aku, nanti Mommy dan Daddy akan merasa kesepian tanpa anak semata wayangnya yang tampan ini."
Keyvandi mendengar ucapan dari Erlando justru tertawa, "Aku rasa Mommy Adeline bersyukur, anaknya yangbeban ini menghilang," Balas Keyvandi dengan tawa kencangnya, sedangkan Erlando memasang wajah juteknya.
Ting
Perhatian Keyvandi maupun Erlando teralihkan pada ponsel Keyvandi yang berbunyi notifikasi masuk.
0823xxxx
Tunggu kehancuranmu
.
.
.
TBC