NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam semakin larut, namun kedamaian yang menyelimuti kamar Ira terasa sangat tidak alami. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin, bahkan suara detak jam dinding pun seolah teredam oleh kesunyian yang tebal. Kedamaian ini justru terasa seperti tekanan udara yang berat, membuat Ira dan Dinda merasa was-was sebelum akhirnya kelelahan fisik memaksa mata mereka terpejam.

​Ira tertidur di sisi kiri Jelita, sementara Dinda di sisi kanannya. Mereka seolah sedang memagari Jelita dengan tubuh mereka sendiri. Namun, bagi sang Pangeran Kegelapan, tembok manusia itu tidak lebih dari sekadar bayangan semu.

Begitu Jelita jatuh terlelap, kesadarannya tidak menggelap. Ia justru merasa dirinya berdiri di tengah aula gedung tua, namun dalam wujud yang berbeda. Aula itu tidak lagi berdebu; permadani merah terbentang, lilin-lilin kristal menyala megah, dan wangi bunga melati menyerbak harum.

Arjuna berdiri di ujung aula, mengenakan jubah kebesaran seorang Pangeran dengan ukiran emas yang rumit. Wajahnya tidak lagi terlihat mematikan, melainkan sangat tampan dengan binar kerinduan yang mendalam di matanya.

Cup!

Arjuna melangkah mendekat, bayangannya yang besar menyelimuti Jelita. Ia mengambil tangan Jelita, mengecup jemarinya dengan lembut—sentuhan yang terasa nyata hingga membuat Jelita merinding di dalam tidurnya.

​"Lihatlah, Sayang... inilah dunia yang seharusnya kau tempati," bisik Arjuna, suaranya selembut sutra di telinga Jelita. "Tanpa rasa takut, tanpa gangguan dari lalat-lalat kecil itu. Hanya ada kau dan aku, dalam keabadian."

Di dunia nyata, tubuh Jelita yang sedang tertidur mulai bereaksi. Gelang hitam di tangannya berpendar biru redup, berdenyut mengikuti ritme napasnya yang mulai tidak teratur.

Tanpa disadari oleh Ira dan Dinda, tubuh Jelita perlahan bergerak. Ia duduk di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam, namun gerakannya sangat anggun dan terarah, seolah sedang dipandu oleh benang tak kasat mata.

Tanda kemerahan di leher Jelita bersinar terang di kegelapan kamar. Tulisan di cermin yang tadi sudah mencair, kini muncul kembali dengan kalimat baru: "Waktunya pulang, Ratuku."

Dalam mimpinya, Jelita merasa hatinya mulai goyah. Arjuna menariknya ke dalam pelukan yang hangat, bukan dingin seperti sebelumnya. Di sini, Arjuna adalah pahlawan, bukan monster.

​"Datanglah padaku sekarang, Jelita. Sebelum fajar menyentuh dunia manusia, kita bisa menyatu selamanya. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan... termasuk keselamatan sahabat-sahabatmu," janji Arjuna sambil membelai pipi Jelita, wajahnya perlahan mendekat untuk mencium bibir Jelita.

​Di kamar yang sunyi itu, tangan Jelita perlahan meraih gagang pintu kamar. Ia bergerak seperti robot yang dikendalikan oleh hasrat sang Pangeran. Ira dan Dinda masih terlelap dalam tidur yang terlalu nyenyak—sebuah tidur yang sengaja ditiupkan oleh Arjuna agar tidak ada yang menghalangi jalannya.

​Jelita berhasil membuka pintu kamar tanpa suara. Kakinya yang telanjang melangkah di atas lantai yang sedingin es, menuju pintu utama rumah Ira.

Tiba-tiba Suara teriakan Dinda yang melengking memecah keheningan kamar yang tadinya mencekam. Ia melompat dari tempat tidur dengan wajah pucat pasi, tangannya meraba-raba sisi tempat tidur yang sudah kosong dan terasa sedingin es.

​"Ira! Bangun, Ira! Jelita tidak ada! Hantu mesum itu menculiknya! Cepat, Ira!" teriak Dinda sambil mengguncang bahu Ira dengan panik.

​Ira tersentak bangun, matanya membelalak kaget. Ia segera melihat ke arah pintu kamar yang sudah terbuka lebar. Hawa dingin yang tajam langsung menusuk tulang mereka, menyisakan aroma bunga kenanga dan cendana yang sangat pekat di udara.

​"Dasar hantu sialan! Kenapa kau selalu berbuat yang tidak-tidak, sih?!" rutuk Dinda sambil terisak sekaligus marah, ia menendang bantal dengan kesal. "Kenapa tidak mencari kekasih sesama hantu saja, kenapa harus Jelita! Benar-benar hantu tidak tahu diri!"

Ira tidak membuang waktu. Ia menyambar botol air suci dari Kakek Wiryo di atas meja rias. "Dinda, berhenti mengomel! Bantu aku cari dia, dia pasti belum jauh!"

Di sepanjang lantai koridor rumah Ira yang gelap, terdapat jejak-jejak embun tipis yang membeku, membentuk tapak kaki kecil milik Jelita. Namun, di samping jejak itu, terdapat tapak kaki besar yang tidak kasat mata, hanya berupa tekanan berat yang menghancurkan debu-debu di lantai.

Lampu di ruang tamu berkedip-kedip liar. Di jendela kaca, mereka melihat bayangan Jelita yang berjalan dengan kaku di halaman depan, seolah-olah sedang dituntun oleh tangan besar yang memeluk pundaknya dari belakang.

​"Jelita! Berhenti!" teriak Ira sambil berlari menuju pintu depan.

Di luar rumah, Jelita sama sekali tidak mendengar teriakan sahabatnya. Di matanya, ia tidak sedang berjalan di halaman rumah Ira yang gelap, melainkan sedang menaiki tangga marmer menuju singgasana emas Arjuna.

Matanya terbuka, namun pupilnya mengecil dan hanya memancarkan warna biru redup. Ia terus berjalan dengan langkah anggun yang tidak wajar. Tangannya terulur ke depan, seolah sedang menggandeng tangan seseorang yang sangat ia cintai.

Tiba-tiba, angin kencang berputar di depan Jelita, membentuk pusaran kabut hitam yang menghalangi langkah Ira dan Dinda. Suara tawa Arjuna yang berat dan penuh kemenangan kembali terdengar, menggema dari segala arah.

​"Kalian terlambat, Manusia Kecil. Dia sudah memilih untuk pulang ke pelukanku," desis suara itu bersamaan dengan petir yang menyambar meskipun langit sedang bersih.

Ira mencoba menembus kabut itu, namun ia terlempar mundur oleh energi yang sangat kuat. Dinda yang ketakutan tetap mencoba melempar sandalnya ke arah kabut itu. "Lepaskan sahabat kami, dasar hantu gila! Pergi kamu ke neraka!"

​"Dinda, ambil kunci motor! Kita harus mengejarnya!" perintah Ira. "Dia tidak menculiknya secara fisik, dia menarik jiwanya menuju gedung tua itu. Jika Jelita sampai masuk ke gerbang gedung itu dalam keadaan seperti ini, kita akan kehilangan dia selamanya!"

​Jelita terus melangkah, ia mulai mendekati jalan raya yang sepi. Sebuah taksi tua berwarna hitam tiba-tiba muncul dari kegelapan, pintunya terbuka sendiri, dan Jelita melangkah masuk ke dalamnya seolah itu adalah kereta kencana kerajaan.

Dinda mengendarai motor dengan kalap, meliuk-liuk di jalanan yang sepi seolah nyawanya tidak lagi berharga. Di belakangnya, Ira berpegangan erat dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk memercikkan air suci dari botol pemberian Kakek Wiryo ke arah taksi hitam gaib yang melaju di depan mereka.

"Cepat, Ira! Siram lagi! Jangan sampai bajingan itu membawa Jelita menjauh!" teriak Dinda di balik helmnya yang miring.

"Sabar, Dinda! Aku sedang berusaha agar airnya tidak habis tertiup angin!" balas Ira dengan napas tersengal, matanya perih terkena debu jalanan.

​Namun, tepat saat jarak mereka hampir bersinggungan dengan taksi itu, mesin motor tiba-tiba mengeluarkan suara batuk yang kasar—brebet, brebet—dan seketika mati total. Kecepatan motor melambat drastis hingga akhirnya berhenti tepat di tengah kegelapan jalanan yang sunyi.

​Dinda mencoba menekan tombol starter berkali-kali dengan emosi yang memuncak. "Sialan! Hidup dong! Ayo hidup!"

​Taksi hitam itu terus melaju, perlahan menghilang ditelan kabut malam, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam. Dinda turun dari motor dengan langkah gontai, rambutnya acak-adakan keluar dari helm, riasannya luntur terkena air mata dan keringat—penampilannya benar-benar kacau.

​Ia menendang ban motornya dengan sisa tenaga yang ada. "Dasar hantu sialan! Apa kau meminum bensin ini sampai habis agar motornya mati, hah?!" teriak Dinda histeris ke arah kegelapan. "Benar-benar tidak punya modal! Cari pacar sesama hantu saja susah, sampai harus menyabotase motor kami!"

​Ira turun dari motor dan memegang pundak Dinda yang gemetar. Ia melihat ke arah tangki bensin. Jarumnya menunjukkan full, tapi mesin itu seolah membeku karena hawa gaib yang ditinggalkan Arjuna.

​"Dia sengaja, Dinda," bisik Ira, matanya menatap tajam ke ujung jalan tempat taksi itu menghilang. "Dia ingin kita melihat Jelita dibawa pergi tanpa bisa melakukan apa-apa. Arjuna sedang memamerkan kekuatannya."

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!