Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dini berlari kencang meninggalkan rantang yang sudah jatuh terbalik. Tentu saja makanan yang ia masak pun tumpah ke lantai. Ia naik ke atas motor dengan cepat kemudian starter.
"Dini... kamu kenapa?" Aksa berusaha mengejar, tapi Dini menyentak gas motor hingga melaju dengan kencang. Sepanjang jalan ia menjadi perhatian warga, karena tidak biasanya Dini mengendarai motor seperti kesetanan.
Dalam perjalanan Dini ingat ekspresi neneknya sebelum berangkat tadi. Mbah Ambar tampak tidak merestui kedekatannya dengan Aksa, ternyata ini jawabannya.
Ketika berangkat tadi perjalanan ia tempuh kurang lebih 15 menit, tapi saat ini hanya lima menit sudah tiba di kediaman mbah Ambar. Dini ingin segera mendengar cerita mbah Ambar.
"Dini... kenapa kamu balik lagi, apa yang tertinggal?" Tanya mbah Ambar ketika Dini sudah masuk dengan wajah merah menahan emosi.
"Mbah, sekarang tolong ceritakan dengan jujur, apa hubungan Aksa dengan Burhan?" Dini menggoyang tangan mbah Ambar ketika menjatuhkan bokongnya di lantai. Ternyata yang Dini lihat di rumah Aksa tadi adalah pria tua yang akan dijodohkan dengannya satu tahun yang lalu.
Mbah Ambar menarik napas panjang, ia peluk kepala cucunya menempelkan di dadanya yang tak kalah sesak. Inilah yang ia takutkan ketika Dini berdekatan dengan Aksa.
"Mbah" Dini bangun dari dada mbah Ambar menatapnya seksama. Seolah menanti jawaban yang tak kunjung terucap dari bibir nenek.
"Aksa itu sebenarnya anaknya Burhan Dini..." Lirih mbah Ambar berat untuk berkata-kata.
"Apa? Tidak mungkin Mbah, aku tidak percaya," Dini seketika berdiri tidak mau mendengar cerita mbah Ambar selanjutnya.
"Dini... Mbah belum selesai bercerita sayang..." kata mbah Ambar lembut. Namun, Dini rupanya sudah tidak mau mendengar memilih berlari ke kamar.
Dini tidak mengerti apa rencana Ratna, jika memang Burhan tinggal di desa ini seharusnya ibunya tidak menyuruh pindah sekolah di tempat ini. Bukankah itu sama saja sang ibu menjadikan ia umpan untuk Burhan?
Dini pun meneteskan air mata, hatinya dirundung rasa kecewa. Tidak mungkin jika ibunya tidak tahu bahwa Burhan tinggal di tempat ini. Dengan perasaan kecewa Dini ambil handphone lalu menghubungi Ratna.
"Iya sayang... kamu sehat-sehat saja kan, Nak?" Tanya Ratna terdengar lembut di telinga Dini.
Tetapi tidak ada jawaban dari Dini, ingin marah tapi Ratna ibu yang melahirkan. Apakah salah jika ia curiga kepadanya? Benarkah ada persekongkolan antara Ringgo, Burhan, dan ibu kandungnya sendiri.
"Dini... kenapa kamu diam saja... kamu sehat-sehat kan, Nak?" Ratna mengulangi pertanyaan.
"Dini sehat kok bu" Dini sebenarnya ingin bertanya tentang semua ini, tapi mengapa terasa berat. Ya, jika yang ia pikirkan tentang ibunya adalah benar, jika salah Dini tidak mau menyakiti hati sang ibu. "Kalau gitu aku tutup ya bu..."
"Iya sayang... Kamu hati-hati, rajin belajar ya, supaya bisa masuk ke perguruan tinggi."
"Baik Bu" Dini menutup handphone, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia hanya bisa merenung entah mau tinggal di mana setelah ini. Cepat atau lambat Burhan dan Ringgo pasti akan mencarinya.
.
"Dini... Kamu kemarin kenapa?"
Banyak pertanyaan di hati Aksa. Dini kemarin tidak jadi masuk ke rumah bahkan berlari kencang seperti ketakutan. Dan yang membuat Aksa semakin bingung pagi ini Dini acuh tak acuh kepadanya.
"Tidak apa-apa Pak. Maaf, saya mau lewat" jawab Dini dingin karena Aksa berdiri menghalangi pintu, padahal semua guru dan teman-temannya sudah berkumpul di lapangan hendak menjalankan upacara bendera hari senin.
Tentu saja Aksa semakin bingung padahal ia tidak merasa berbuat salah kepada Dini. "Saya tidak akan pergi jika kamu tidak mau jujur, apa salah saya Dini?" Aksa justru merentangkan tangan menghalangi pintu.
Dini tidak berkata-kata, bahunya membungkuk lalu menerobos pagar tangan Aksa, bukan hal yang sulit baginya lalu pergi meninggalkan Aksa. Kenapa ketika Aksa baru mulai membalas perasaannya Burhan datang dan merampas semuanya. Dini sebenarnya tidak seharusnya marah kepada Aksa, tapi ia lebih baik menjauh karena Aksa nyata-nyata anak pria hidung belang yang akan menjadikan dirinya istri kelima.
Dini rasanya ingin menjerit, ia pendam rasanya sesak di dada. Ingin memaki-maki pun entah kepada siapa, yang ada justru merusak suasana. Dini tidak punya pilihan selain diam seperti ini.
Namun demikian ia profesional, pagi itu menjalankan upacara dengan baik dan belajar seperti biasa walau dengan wajah murung.
"Dini... kamu sakit?" Tanya Lestari ketika jam istirahat tiba. Lestari sejak pagi memperhatikan sahabatnya seperti itu.
"Tidak, kita ke kantin saja" Dini tidak mau berbagi kisah hidupnya meskipun dengan Lestari sekalipun. Mereka berjalan ke kantin, Dini duduk di kursi paling pinggir yang agak jauh dari teman-temannya.
"Dini... selamat ya..." Lestari mengulurkan tangan.
"Selamat untuk apa?" Dini tidak tahu apa maksud Lestari.
"Karena kamu sudah jadian dengan Pak Aksa" Lestari tersenyum lebar.
"Kamu tahu dari mana?" Dini tidak pernah bercerita kepada Lestari tentang kisahnya dengan Aksa.
"Aku kemarin sore ke rumah Pak Aksa Ni" Lestari menceritakan ketika disuruh ibunya mengantar makana. Lestari meletakkan makanan tersebut di atas meja belajar, tapi tidak sengaja menemukan kata-kata cinta yang ditujukan untuk Dini dan ditulis rapi dengan tangan.
Dini tersenyum kecut, selama satu setengah tahun ia memang tergila-gila kepada Aksa, tapi hari ini rasanya ingin membuang rasa cintanya itu sejauh mungkin agar masalahnya dengan Burhan tidak akan memulai babak baru.
"Kenapa Ni?" Lestari bingung karena Dini tampak tidak senang.
"Sudahlah aku mau minum" Dini meneguk air teh dingin tidak mau mengingat tentang Aksa. Namun, Dini segera membantah bahwa dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan Aksa, khawatir Lestari menceritakan kepada teman-temannya.
Jam pelajaran kedua pun dimulai, saat ini giliran Aksa yang mengajar. Begitu masuk kelas pandangan matanya tertuju kepada Dini yang tengah sibuk dengan buku tanpa melihat sekeliling. Aksa menahan diri untuk tidak memberi perhatian khusus kepada Dini hingga pelajaran pun selesai.
"Ni, sekarang aku tidak pulang bareng sama kamu ya" ucap Lestari mengatakan jika hari ini dijemput bapaknya.
"Oke..." Dini berjalan ke arah motor lalu melesat pergi.
Melihat kepergian Dini, Aksa yang melihat dari depan kantor pun segera berjalan ke tempat parkir hendak mengejarnya.
"Mas Aksa, aku mau bareng..." seru Lusi mengejar Aksa sembari menahan motornya.
"Sekarang saya ada urusan Lusi, sebaiknya kamu pulang sendiri," tolak Aksa halus. Dia tidak lagi mendengarkan kata-kata Lusi yang menggerutu, lalu meninggalkan tempat itu.
Dini yang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, Aksa berhasil mengejar dan berhenti di tapal batas.
"Mau apa Pak Aksa mengejar saya?!" Ketus Dini yang sudah turun dari motor. Ia berdiri di pinggir jalan menatap tanaman padi. Semilir angin sangat sejuk walaupun matahari baru bergeser ke barat.
Aksa pun ikut turun dari motor, kakinya bergerak dan berdiri di sebelah Dini. "Aku tidak akan berhenti mengejar kemana pun kamu pergi sebelum kamu memberi penjelasan Dini."
"Penjelasan apa?" Dini mendelik hingga wajahnya tidak indah dipandang lagi.
"Sekarang katakan apa salah saya sama kamu Dini. Jangan sampai saya salah menilai kamu," Aksa merasa jika selama ini Dini hanya mempermainkan perasaannya saja. Padahal Aksa bukan pria yang mudah jatuh cinta. Hanya Dini gadis yang mampu menaklukkan hatinya. Tetapi ketika Aksa benar-benar tahluk, Dini justru menjauhinya.
"Karena Pak Aksa adalah anak Burhan Adrianto. Puas?!"
...~Bersambung~...