Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan istana
Di antara tumpukan buku-buku sejarah terbentuknya Kekaisaran Zuanxu. Selir Yu merebahkan tubuhnya dengan santai. Sudah hampir lima jam dia masih saja berada di perpustakaan istana. Tidak berniat untuk keluar malam itu juga.
"Kaisar pertama, Xiao Lan menghabisi seluruh klannya sendiri untuk membangun Kekaisaran baru. Menjadikan dirinya satu-satunya pemimpin Kekaisaran tanpa adanya musuh lain. Setelah usianya mencapai tujuh puluh tahun. Dia meninggal dalam kesendirian di pondok kecilnya yang ada di atas gunung. Dan baru di ketahui oleh para prajurit penjaga di bawah kaki gunung. Setelah satu tahun berlalu."
Membuka setiap lembaran buku tanpa henti.
"Tahta segara di gantikan putra sulungnya, Putra Mahkota Xiao Yize. Namun tahtanya hanya bertahan selama dua tahun. Karena adik ketiganya, yaitu Pangeran ketiga Xiao Lan melakukan pemberontakan. Dan pemerintahan berjalan silih berganti hingga tahta berada di garis keturunan keluarga Xiao yang ke dua belas. Yaitu Kaisar saat ini Xiao Chen."
Selir Yu menatap langit-langit ruangan itu. Dia menekan hatinya lebih dalam. Dan suara desahan pelan terdengar. "Apa ini benar-benar dunia novel? Atau dunia paralel yang mengikuti gambaran dari novel Asmara Dalam Istana?"
Wanita itu bangkit. Tumpukan buku-buku di tubuhnya berjatuhan. "Katakan. Ini sebenarnya di mana?"
Bruukkk
Ia jatuhkan tumbuhnya kembali. "Hahh..."
Krekekk...
Terdengar suara pintu di buka.
Selir Yu segera bangkit dan duduk dengan memegangi buku di tangannya. Punggungnya menegak dengan tatapan seperti seseorang yang sangat serius memperhatikan setiap detail isi dalam buku. Dia menoleh kearah langkah kaki yang semakin mendekat.
"Selir Yu." Seorang pria dengan jubah resmi memberikan hormatnya. "Saya tidak tahu anda ada di sini. Saya akan pergi sekarang juga."
"Kamu?"
"Saya Shen Qi, pejabat tingkat enam di pemerintahan."
"Kau ada perlu di perpustakaan ini?" Tanya Selir Yu.
"Ada beberapa buku yang harus saya baca untuk menambah pengetahuan dasar saya," ujar Pria itu sopan.
"Guyi." Selir Yu berteriak.
Pelayan Guyi yang ada di luar segara masuk kedalam. "Selir Yu."
"Kau tetap di sini. Aku tidak ingin di ruangan yang besar ini hanya tinggal aku dan pejabat Shen saja. Bisa-bisa semua fitnah akan di tujukan kepada kami berdua. Mudah bagiku menghindar. Tapi untuk pejabat dengan tingkat yang masih cukup rendah. Akan sulit baginya untuk terlepas dari kesalahan sekecil apapun. Oh iya, minta penjaga di luar untuk masuk dan ikut mengawasi dari ujung ruangan. Pintu utama juga jangan sampai tertutup," ujar Selir Yu memberikan perintah.
"Baik." Pelayan Guyi segera memerintahkan para pelayan wanita dan prajurit penjaga. Untuk ikut memantau semua pergerakan di dalam ruangan.
Pejabat Shen tersenyum tipis. "Selir Yu, cukup teliti dan cermat."
"Mungkin seperti halnya sedia payung sebelum hujan. Atau lebih tepatnya, sebisa mungkin menghindari masalah yang tidak semestinya ada. Pejabat Shen, kau bisa mencari buku yang kau inginkan selama yang kau mau. Selama mereka ada di sini melihat pergerakkan yang kita lakukan. Semua akan aman," kata Selir Yu.
"Baik." Pejabat Shen Qi berjalan pergi menuju kearah tumpukan buku di sebelah timur. Tempat di mana rak-rak tinggi menjulang setinggi empat meter.
Setelah pria itu pergi berjalan lebih dalam. Selir Yu kembali membuka setiap lembaran buku di tangannya. Dia masih mencoba melihat apakah dunia yang ia datangi. Benar-benar dunia novel atau dunia paralel. Di mana semua benar-benar nyata dan hidup seperti manusia pada umumnya. Bukan karakter dua dimensi yang ada di dalam novel.
Dan semua jejak yang tertinggal. Semua tertuang dalam buku sejarah yang telah ia baca satu malam penuh. "Semua sejarah ini terlihat sangatlah nyata. Dan seperti benar terjadi. Zhan Nuo, sekarang kau telah tamat."
Dia berguling-guling di atas tumpukan buku.
Hingga tubuhnya terhenti pada kaki yang telah berdiri tegap di depannya.
Selir Yu berbaring sembari membiarkan kedua tangannya sebagai bantalan. "Yang Mulia." Dia tidak memiliki niat untuk bangun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Kaisar Xiao Chen.
"Apa kau tidak lihat semua tumpukan buku ini?" Memalingkan wajahnya. Selir Yu berbisik pelan, "Tidak mungkin juga aku menyebutmu buta."
Tapi setiap ucapan wanita itu terdengar cukup jelas. Alis Kaisar Xiao Chen menyatu. "Bangun."
"Malas. Aku masih ingin rebahan." Selir Yu memiringkan tubuhnya. Dia kembali membaca buku di tangannya tanpa memperdulikan suaminya.
Dari arah ujung ruangan terdalam. Pejabat Shen Qi datang. "Yang Mulia." Memberikan hormatnya.
"Kau?" Kaisar Xiao Chen mengangkat alisnya. Dia tidak pernah menyangka akan ada orang lain di ruangan itu. Melirik kearah Selir Yu. Melihat wanita itu tidak melakukan pergerakan dari tempatnya. Ia lepaskan jubah luarnya lalu di lemparkan kearah tubuh Selir Yu. Sehingga membuat seluruh tubuh wanita itu terbenam oleh jubah miliknya.
"Yang Mulia, saya Shen Qi, pejabat tingkat enam. Mengurus tentang pembukuan kasus di Biro pemerintahan." Dia menundukkan kepalanya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Sebagai tanda hormatnya kepada pemimpin negeri.
Selir Yu mengeluarkan tubuhnya dari jubah suaminya. Dia menatap kesal kearah Kaisar Xiao Chen. "Jangan membuat karangan seakan aku berselingkuh dengannya." Bangkit dari lantai.
Kerutan kening Kaisar Xiao Chen semakin terlihat. Dia menyentil kening istrinya.
"Aaaa..." Selir Yu mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Kau bisa pergi," Perintah Kaisar Xiao Chen.
"Baik." Pejabat Shen Qi melangkah pergi setelah memberikan hormatnya.
"Kau mau kemana?" Kaisar Xiao Chen menarik kerah gaun Selir Yu yang ada di bagian leher belakang. Di saat wanita itu juga berniat pergi. "Tetap di sini."
"Aku sudah berada di sini semalaman. Tidak ingin lagi terlalu lama berada di sini," ujar Selir Yu. Dia ingin melepaskan tangan kekar pria itu yang masih meraih kerah gaunnya. "Yang Mulia, tolong lepaskan gaunku."
Kaisar Xiao Chen tidak memberikan tanggapan lagi. Dia menarik wanita itu menuju kearah ruangan yang lebih dalam.
Wanita itu tidak dapat melawan. Kedua tangannya di silangkan dengan mulut manyun.
Kaisar Xiao Chen melepaskan tangannya di saat dia telah berada di ujung paling dalam perpustakaan. Di sana terdapat tempat duduk dengan satu meja yang terlihat sangat rapi. Dia duduk setelah menyibak jubah yang ia kenakan. "Satu pelayan mu akan mati jika kau pergi dari sini."
Selir Yu yang sudah berniat pergi secara diam-diam. Langsung menghentikan langkahnya. "Yang Mulia, aku sudah benar-benar mengantuk."
Kaisar Xiao Chen diam. Dia mengambil satu buku lalu membuka lembaran pertama. Dan membaca setiap detail isi di dalamnya.
"Huh..." Selir Yu duduk tepat di depan suaminya. Dia membiarkan kepalanya berada di atas meja. Dengan tubuh yang sudah sangat malas untuk duduk tegak.
Tanpa wanita itu sadari, dia tertidur sangat pulas.
'Aku sendiri yang akan membuka setiap wajah yang kau sembunyikan. Akan ku buat kau jatuh bersama seluruh keluarga Yu.' Kaisar Xiao Chen menatap diam. Namun hatinya di penuhi kebencian yang dalam.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana