Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*15
Mata Mika yang menatap Sinta penuh dengan tanda tanya, juga dengan raut yang penuh kewaspadaan membuat Sinta sadar apa yang saat ini ada dalam pikiran Mika. Sinta pun langsung melepas napas berat.
"Mik."
"Siapa yang akan kita temui, Sinta?"
"Jangan khawatir. Orang yang akan kita temui adalah orang baik. Bukan orang jahat, Mikaila. Jangan cemas. Aku ini sahabat baikmu. Jangan takut."
Belum sempat Mika menjawab apa yang Sinta katakan, pintu ruang VIP dari cafe tersebut terbuka. Seseorang muncul dari balik pintu dengan wajah yang tertutup masker juga memakai topi hitam sebagai penutup kepala.
Sinta menyambut orang tersebut dengan hangat.
"Mbak."
"Udah lama nunggunya, Sin? Maaf ya, aku telat datang." Naya berucap sambil membuka masker juga melepas topi yang dia kenakan.
Mika yang melihat wajah Naya langsung bangun dari duduknya. Siapa yang tidak kenal Naya? Dia 'kan model ternama. Wajahnya ada di majalah, juga di sosial media. Cukup terkenal lah wanita ini.
Bibir Mika ingin berucap untuk menyapa Naya. Namun, hatinya terasa cukup berat. Jadinya, Mika hanya bisa terdiam membisu dengan mata yang terus melihat ke arah Naya.
"Mbak. Kenalkan, dialah Mika. Sahabat baik yang aku ceritakan sama mbak Naya sebelumnya."
Senyum Naya langsung terkembang. Tatapannya pun terfokus pada Mika yang sedang berdiri di depannya. Uluran tangan langsung Naya berikan. "Halo, Mika. Aku Kanaya."
Mika mengangkat tangan dengan perasaan canggung. "M-- mbak ... Ka-- Kana yang model itu 'kan?"
Senyum Naya kembali terlukis. "Iya. Aku, Kana."
Mika terpaku. Batinnya benar-benar sangat mengangumi kecantikan wanita yang selama ini hanya bisa ia lihat dari poster, atau dari media sosial saja.
Wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang. Wajahnya bersih terawat. Yah, maklum. Dia ini adalah model. Fisiknya adalah aset yang sangat berharga. Jadi, wajarlah dia cantik karena perawatannya bukan main-main. Semua yang dia miliki harus dia jaga dengan sangat baik agar masa depannya terus terjamin. Itu jugalah yang membuat dia memilih untuk mengugurkan kandungannya kemarin. Tidak ingin terlihat membuncit di saat pemotretan luar negeri yang akan dia lakukan waktu itu.
"Sin."
"Iya, Mbak."
"Bisa tinggalkan aku untuk bicara empat mata dengannya?"
Sinta tidak langsung menjawab. Dia lihat wajah Mika sesaat. Barulah setelah itu, Sinta mengiyakan apa yang Naya ucap.
"Baik, Mbak. Saya keluar sekarang."
"Mik, aku keluar sebentar. Kamu bicara berdua dengan mbak Naya dulu ya."
Mika yang bingung hanya bisa diam membatu. Sementara Sinta, dia tetap beranjak walau hatinya agak berat untuk melangkah.
Setelah Sinta pergi, ruangan tersebut kembali hening. Sesaat kemudian, barulah Naya angkat bicara untuk memulai obrolan dengan Mika yang baru pertama kali ia temui.
"Mika. Singkat saja, aku punya tawaran untukmu."
"Tawaran? Tawaran apa maksudnya, mbak?"
"Aku tidak suka berbasa-basi ya, Mik. Aku sedang mencari wanita buat dinikahi oleh suamiku. Aku-- "
"Apa? Tawaran jenis apa ini?"
"Dengar dulu, Mika. Kamu harus mendengarkan apa yang aku katakan, barulah setelahnya, kamu bisa berpendapat."
Mika ingin membantah. Hanya saja, dia akan kehilangan adab jika dia melakukan hal tersebut. Bagaimanapun tidak sukanya dia, tetap saja, dia harus memberikan kesempatan untuk lawan bicaranya berbicara.
"Mika. Aku dan suamiku sudah menikah lebih kurang tiga tahun. Kau tahu apa profesi diriku, bukan? Aku seorang model. Aku tidak bisa punya anak karena aku harus menjaga tubuh ku agar tetap baik-baik saja."
"Namun, Mika. Suamiku sangat ingin memiliki anak. Aku tidak bisa memberikan suamiku keturunan lagi buat selama-lamanya. Karena setelah aku mengugurkan kandungan ku, aku di vonis man*dul oleh dokter."
Mika terus terdiam untuk mendengarkan apa yang Naya ucap. Tepatnya, dia tidak tahu harus menjawab dengan kata apa. Semua yang Naya bicarakan membuatnya sulit untuk mencerna.
Sementara itu, Naya sendiri tidak memperdulikan tanggapan Mika. Dia terus melanjutkan ocehannya. Menceritakan segala yang ingin dia ceritakan pada Mika.
"Karena itu, Mika. Aku berniat untuk mencarikan istri untuk suamiku. Aku tidak rela jika suamiku mencari istri sendiri. Aku lebih rela jika aku yang mencarikan istri untuknya. Soalnya, jika aku yang mencarikan sendiri istri untuk suamiku, aku lebih bisa rela berbagi dengan wanita itu."
"Tidak ada wanita yang rela berbagi, Mbak. Jangankan suami, barang pun tidak."
"Tapi aku punya alasannya, Mik. Aku ingin menebus kesalahan ku pada suamiku itu. Aku tidak bisa terus-terusan hidup dalam rasa bersalah. Aku akan merasa lebih tenang jika aku bisa memberikan suamiku istri baru. Aku anggap itu sebagai penebusan atas dosa-dosa yang telah aku lakukan sebelumnya."
Naya sontak langsung meraih tangan Mika. Mika yang baru saja ingin menjawab langsung tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Mik. Jadilah istri kedua dari suamiku. Aku sudah mendengar sedikit tentang kamu dari Sinta. Aku percaya, kamu adalah wanita yang tepat untuk aku jadikan adik madu."