Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Body memory
Halo teman-teman pembaca,
Selama beberapa hari ini othor tidak update karena sesuai dengan arahan editor, harus revisi di mulai dari bab 9. Ada penambahan detail tentang kondisi Kanara dan slow burn antara Nura dan Elang.
Karena itu untuk bab 16 dan 17 akan terasa seperti pengulangan di bab 14 dan 15 sebelumnya. Mohon maaf kalau jadi bingung dengan ceritanya. Kalau berkenan, teman-teman bisa mengulang dari bab 9 atau 10.
Terima kasih, dan selamat membaca 🙏🙏
🥀🥀🥀🥀
Hari itu, ruang konsultasi Bu Maya terasa lebih sunyi dari biasanya. Di atas meja rendah, sebuah kotak pasir besar telah disiapkan.
Nura duduk bersila di hadapan Kanara, namun hatinya diliputi kebimbangan. Ia teringat janjinya pada Elang untuk tidak lagi menggali masa lalu Kanara.
Ia melirik Bu Maya yang sedang mengamati dari balik mejanya. “Bu, apa kita harus benar-benar melakukan ini? Saya sudah berjanji pada ayahnya untuk tidak menggali masa lalu Kanara.”
Bu Maya memberikan senyum penguatan. “Kita tidak sedang menggali, Nura. Kita hanya memberi Kanara media untuk bicara tanpa kata-kata. Jika dia tidak siap, dia akan memberitahu kita dengan caranya sendiri. Percayalah padanya.”
Nura menarik napas panjang kemudian memulai sesi. “Sekarang, kita main pasir sama-sama, yuk!”
Kanara mengangguk. Jemari kecilnya mulai masuk ke dalam gundukan pasir yang dingin.
Nura meletakkan sebuah miniatur istana di tengah kota. “Ini istana Kanara,” ujar Nura lembut.
Wajah Kanara seketika menjadi cerah. “Istana…,” gumamnya dengan senyum lebar.
“Nah, Kanara mau ajak siapa untuk tinggal di dalam istana?” Nura menyodorkan kotak berisi berbagai fitur mainan.
Tanpa ragu, Kanara mengambil figur ayah dan anak, lalu menempatkan keduanya di dalam istana. Namun, tangannya tertahan saat melihat figur ketiga, seorang ibu. Ia menatap miniatur itu sangat lama.
Nura menunggu dalam diam.
Kanara tidak menyentuhnya, hanya memandangi figur itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak lama kemudian, suasana mulai mencekam. Napas Kanara mulai memburu, ia memalingkan wajah dan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Bahunya terangkat, dan wajahnya pucat. Ia menggigit bibirnya dengan kuat.
Nura menggeser duduknya agar lebih dekat. Ia mengusap punggungnya yang kaku. “Aman Kanara, nggak apa-apa. Kak Nura di sini.”
Kanara segera mendorong figur ketiga itu menjauh. Matanya terpejam rapat, seolah sedang menghalau bayangan buruk yang muncul di benaknya.
“Oke, cukup. Kita berhenti sekarang,” tegas Nura. Ia menoleh pada Bu Maya yang langsung mengangguk dan mencatat sesuatu dengan cepat.
Setelah Kanara tenang, dan sedang menggambar di sudut lain, Bu Maya mengajak Nura berbicara empat mata.
“Itu bukan sebuah kemunduran, Nura. Itu adalah batasnya untuk saat ini,” jelas Bu Maya tenang.
“Tubuhnya ketakutan, Bu. Padahal kita tidak menyebut nama atau sosok apapun,” sahut Nura dengan tangan yang masih gemetar.
“Itulah yang disebut dengan body memory,” jawab Bu Maya. “Trauma Kanara bukan lagi sekadar ingatan di kepala, tapi sudah menetap di sel-sel tubuhnya. Meski pikirannya mencoba memblokir, tubuhnya bereaksi lebih cepat sebagai mekanisme perlindungan diri. Baginya, sosok itu adalah ancaman bagi keberlangsungan hidupnya.”
Nura meremas jemarinya. “Apa ibu tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Kanara?”
“Aku tidak bisa mengatakannya, Nura. Itu adalah privasi klien. Tapi saran saya, jangan pernah membuka pintu yang dia kunci sendiri. Ada luka yang sangat dalam, yang jika dibuka sebelum waktunya, justru akan menghancurkan semua kemajuan yang sudah dia buat.”
Nura menarik napas panjang. Dalam hati, ia berpikir kalau nama itu bukan hanya tidak bisa disebut, tapi dia bahkan belum boleh dihadirkan.
**********
Sorenya, Nura membawa Kanara ke taman dekat rumah untuk menghirup udara segar. Kanara tampak sudah membaik. Ia duduk di ayunan sambil sesekali tertawa kecil saat kakinya mengayun pelan.
Nura mengawasi dari bangku taman.
Seorang wanita bersama anaknya datang mendekat, dan duduk di ayunan sebelah.
Suara krek krek krek dari keduanya terdengar.
“Hai,” ucap anak itu pada Kanara.
Kanara menunduk.
Anak itu mengedikkan bahu, kemudian mengayun dengan lebih kencang.
“Anaknya Mbak?” tanya wanita itu pada Nura dengan senyum ramah.
“Bukan.”
“Dia lucu sekali,” sambungnya. “Mirip ayahnya, ya?”
“Iya,” jawab Nura singkat, berharap pembicaraan berakhir di sana.
Namun, wanita itu tidak berhenti. Ia menatap Nura dengan gemas. “Ibunya juga pasti cantik sekali.”
Kalimat sederhana.
Tapi, Kanara berhenti mengayun. Tangannya mencengkram besi ayunan. Bahunya menegang. Matanya menatap ke depan tapi kosong.
Nura berdiri. “Kanara?”
Dia tidak menjawab.
Wanita itu tertawa kecil, tidak menyadari apapun. “Anak-anak memang pemalu ya kalau membicarakan ibu. Anyway, Ibunya sekarang di mana?”
Dua kali. Kata itu disebut dua kali.
Tubuh Kanara bergetar seperti menggigil. Ia terjatuh dari ayunan. Lututnya tergores tanah, namun ia tidak menangis. Sebaliknya, ia menunduk dan mulai muntah hebat. Keringat dingin membanjiri keningnya.
Nura segera berlutut di samping Kanara. Ia ingin memeluk, namun takut sentuhannya malah memperburuk syok anak itu. Tangannya gemetar menahan diri.
“Kanara, dengar suara Kak Nura,” ucap Nura sedikit tegas. “Kita pulang sekarang.”
Wanita itu akhirnya sadar ada yang salah. “Astaga!” serunya. “Aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud–”
“Maaf,” potong Nura dengan nada tajam yang tidak tertahankan. “Dia hanya tidak bisa mendengar nama itu disebutkan.”
Wanita itu terdiam. Mulutnya terbuka, lalu menutup lagi.
Setelah beberapa saat, Kanara mulai berhenti mengeluarkan isi perutnya.
“Kanara, kak Nura gendong, ya.”
Tanpa menunggu lama, ia segera mengangkat tubuhnya dan berlari ke rumah.
**********
Malam itu, Kamar Kanara sangat berat. Kanara sudah terlelap setelah kelelahan hebat. Sesekali tubuhnya masih tersentak kecil di balik selimut.
“Maafkan aku,” ucap Nura lirih. Suaranya serak karena rasa bersalah. “Aku tidak tahu….”
Mereka berdua duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur Kanara. Elang menatap Kanara dengan sorot mata yang teduh, tidak ada kemarahan di sana.
“Itu bukan salah siapa-siapa, Nura. Kita tidak bisa menyumbat mulut semua orang yang kita temui di jalan,” balas Elang pelan.
Nura mengehela napas. “ Tetap saja ini salahku. Aku seharusnya langsung memberhentikan, sebelum terlambat. Aku gagal melindunginya."
Elang mengambil tangan Nura, mengenggamnya hangat. Nura meneteskan air mata. Dengan lembut, Elang merangkul tubuh Nura, menariknya untuk bersandar. “Terima kasih sudah membawanya pulang dengan aman.”
Di tengah temaram lampu kamar, mereka terjaga. Menjaga sosok kecil yang jiwanya begitu rapuh, seolah jika mereka berkedip sebentar saja, jiwa Kanara bisa menghilang.
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍