NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:34.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.33

Di tengah Rawa Kabut yang berbau amis darah, Laba-laba Punggung Besi itu berhenti mengunyah sisa mayat si Pemimpin Bandit.

Delapan mata merahnya berkedut. Bulu-bulu di kakinya menangkap getaran halus di udara. Meskipun perutnya penuh dan satu matanya buta, ia tetaplah raja di rawa ini. Ia merasakan kehadiran serangga kecil lain yang berani mendekat.

Shen Yu berdiri sepuluh langkah di depan monster itu. Pedang rampasan di tangan kanannya terarah lurus ke tanah. Napasnya ia atur sedemikian rupa hingga menyatu dengan desau angin rawa.

"Su Ling," bisik Shen Yu tanpa menoleh. "Jadilah mataku."

Di balik semak berduri, Su Ling menutup matanya yang buta, memusatkan seluruh kesadarannya pada dunia suara.

"Dia bersiap melompat," suara Su Ling terdengar tajam dan jelas. "Otot kaki belakangnya menegang. Arah jam dua belas!"

KIIIEEEK!

Laba-laba itu melesat maju bagaikan bola meriam hitam. Kecepatannya mengerikan untuk makhluk sebesar itu.

"Kanan!" teriak Su Ling.

Shen Yu tidak berpikir. Tubuhnya bergerak refleks ke kanan.

BLARR!

Tempat ia berdiri tadi hancur berantakan dihantam sepasang kaki depan laba-laba yang setajam tombak. Lumpur muncrat ke segala arah.

Shen Yu berguling di lumpur, bangkit, dan langsung menebas kaki monster itu.

TANG!

Pedang bajanya memantul. Kulit laba-laba itu sekeras namanya. Besi. Getaran benturan itu membuat telapak tangan Shen Yu mati rasa, tapi ia tidak membuang senjatanya.

"Jangan serang kakinya!" teriak Su Ling. "Celah di leher! Tiga jengkal di bawah rahang! Tapi dia melindungi itu dengan dua kaki depan!"

"Aku butuh dia membukanya," batin Shen Yu.

Laba-laba itu berputar, menembakkan cairan hijau asam dari mulutnya.

"Tunduk!"

Shen Yu menjatuhkan dirinya rata dengan tanah. Cairan asam itu mendesis melewati atas kepalanya, mengenai pohon di belakangnya yang seketika meleleh dan berasap.

Monster itu frustrasi. Mangsanya terlalu licin. Ia mengangkat tubuh depannya tinggi-tinggi, bersiap melakukan hantaman area untuk meratakan tanah.

"Sekarang!" teriak Su Ling. "Dia membuka dadanya!"

Inilah momen yang ditunggu.

Alih-alih lari menjauh dari hantaman itu, Shen Yu melakukan hal gila. Ia melesat maju, masuk ke bawah bayangan tubuh monster yang terangkat itu.

Giok Retak berdenyut, memompa sisa tenaga terakhir ke otot kaki Shen Yu.

Shen Yu melompat vertikal, tepat saat tubuh monster itu turun menghantam tanah.

Shen Yu mendarat di atas kepala laba-laba itu, tepat di antara mata-matanya yang merah.

Laba-laba itu panik, mengguncang kepalanya dengan liar, mencoba melempar kutu manusia ini.

Shen Yu kehilangan keseimbangan. Kaki kirinya tergelincir.

Sret!

Salah satu bulu keras di kepala laba-laba itu menggores paha Shen Yu, merobek daging dalam-dalam.

Jika Shen Yu masih memiliki rasa sakit, ia pasti akan reflek menarik kakinya atau berteriak, yang akan membuatnya jatuh dan mati.

Tapi Shen Yu tidak merasakan apa-apa.

Wajahnya sedingin es. Ia memanfaatkan kakinya yang tertusuk itu sebagai pasak untuk menahan tubuhnya agar tidak terlempar.

"Mati kau," desis Shen Yu.

Ia memegang pedang dengan tangan kanannya secara terbalik. Mengincar celah sempit di sambungan antara kepala dan punggung besi titik yang ditunjukkan Su Ling.

Shen Yu menghujamkan pedang itu dengan seluruh berat badannya.

JLEB!

Bilah pedang itu amblas seluruhnya, menembus celah pelindung, langsung menuju pusat saraf monster itu.

KIIIIIIIIEEEEEEK!

Jeritan laba-laba itu memecahkan gendang telinga. Tubuh raksasanya mengejang hebat, membanting-bantingkan dirinya ke pohon bakau.

Shen Yu terlempar, jatuh berguling di lumpur.

Monster itu terhuyung-huyung beberapa langkah, kaki-kakinya menekuk satu per satu, lalu ambruk. Cairan hijau kental mengalir dari celah lehernya. Mati.

Shen Yu terbaring telentang di lumpur, menatap langit kelabu. Napasnya memburu. Darah dari punggung dan pahanya mewarnai air rawa di sekelilingnya menjadi merah.

"Shen Yu!"

Su Ling merangkak keluar dari semak, meraba-raba tanah berlumpur hingga menemukan tubuh Shen Yu. Tangannya gemetar saat menyentuh darah yang lengket.

"Kau... kau berdarah banyak sekali..."

"Aku masih hidup," kata Shen Yu datar. Ia bangkit duduk, seolah luka-lukanya hanyalah hiasan. "Dan kita punya bahannya."

Shen Yu berjalan tertatih mendekati bangkai monster itu. Dengan sisa tenaga, ia mulai melakukan pekerjaan menjijikkan: membedah punggung monster itu untuk mengambil tulang belakangnya yang berharga.

Dua Hari Kemudian - Bengkel Tuan Tie.

Tuan Tie menatap tulang punggung hitam berkilau yang diletakkan Shen Yu di meja kerjanya. Tulang itu sempurna, memancarkan aura dingin dan berat.

"Gila..." gumam Tuan Tie. "Kau benar-benar membunuhnya. Dengan tubuh serusak ini?"

Tuan Tie menatap Shen Yu yang kini duduk di kursi kayu. Luka-luka di tubuh pemuda itu sudah dijahit kasar. Wajahnya pucat seperti mayat hidup.

"Pasang," perintah Shen Yu.

Tuan Tie menyeringai. "Baiklah. Peringatan terakhir, Nak. Proses penyatuan Lengan Tulang Roh ini mengharuskan aku menyambungkan sarafmu satu per satu ke jalur Qi di tulang ini. Biasanya mereka mati karena syok rasa sakit."

"Lakukan saja," potong Shen Yu.

Su Ling menunggu di sudut ruangan, memeluk lututnya.

Selama berjam-jam, suara tulang, palu kecil, dan desisan besi panas terdengar di ruangan itu. Bau daging terbakar memenuhi udara.

Normalnya, ruangan itu akan dipenuhi jeritan yang mengerikan.

Tapi malam itu, bengkel Tuan Tie sunyi senyap.

Shen Yu duduk tegak, matanya terbuka, menatap langit-langit. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya sebagai reaksi, tapi mulutnya terkatup rapat. Tidak ada erangan. Tidak ada air mata.

Tuan Tie yang melakukan nya justru yang gemetar.

"Kau... kau makhluk apa sebenarnya?" gumam Tuan Tie saat menyambungkan serat saraf terakhir. "Bahkan iblis pun akan meringis."

"Selesai."

Shen Yu melihat ke sisi kirinya.

Di sana, tidak lagi ada ruang kosong.

Sebuah lengan baru terpasang. Lengan itu tidak terlihat seperti tangan manusia. Itu terbuat dari tulang hitam yang saling mengunci, dengan persendian dari logam perak. Ujung jarinya tajam dan runcing seperti cakar.

Shen Yu mencoba menggerakkannya.

Klik. Klak.

Jari-jari tulang itu bergerak kaku, lalu semakin lancar seiring Qi-nya mengalir masuk.

Lengan itu terasa dingin. Asing. Mematikan.

"Ini bukan tangan manusia," kata Shen Yu pelan. "Ini senjata."

Tuan Tie membersihkan tangannya. "Tentu saja. Di dalam lengan bawah itu, aku menanamkan mekanisme peluncur jarum. Dan tulang itu sendiri sekeras Artefak Tingkat Rendah. Kau bisa menangkis pedang dengan tangan kosong sekarang."

Shen Yu turun dari kursi. Ia melempar sisa kantong uangnya ke Tuan Tie.

"Kita lunas."

Shen Yu berjalan keluar, diikuti Su Ling.

Malam Hari - Di Atas Bukit Luar Kota.

Mereka berkemah di bawah pohon tua. Shen Yu duduk memandangi lengan barunya di bawah sinar rembulan.

Lengan itu tampak mengerikan. Hitam, beruas-ruas, seperti tangan monster yang dijahit ke tubuh manusia.

Shen Yu merasa jijik. Ia semakin jauh dari wujud manusianya. Ia takut menyentuh Su Ling dengan tangan ini. Tangan ini diciptakan untuk membunuh, bukan membelai.

"Shen Yu?"

Su Ling duduk di sebelahnya.

"Jangan mendekat," kata Shen Yu kaku, menyembunyikan tangan kirinya. "Tangan ini dingin. Tajam. Kau bisa terluka."

Su Ling tidak mendengarkan. Ia meraba-raba dalam gelap, mencari tangan kiri Shen Yu.

Saat jari-jarinya menyentuh permukaan tulang dingin itu, Shen Yu hendak menariknya.

Tapi Su Ling menahannya.

Gadis buta itu menggenggam tangan tulang iblis yang mengerikan itu dengan kedua tangan kecilnya yang hangat. Ia mengangkatnya perlahan, lalu menempelkan punggung tangan tulang itu ke pipinya.

Shen Yu terpaku.

"Dingin..." gumam Su Ling, memejamkan matanya sambil tersenyum lembut. "Tapi di baliknya, aku bisa mendengar detak jantungmu mengalir di sini. Pelan... tapi kuat."

Su Ling menggesekkan pipinya ke ruas tulang yang keras itu.

"Ini bukan tangan monster, Shen Yu. Ini tangan yang kau pertaruhkan nyawanya untuk melindungiku. Bagiku... ini tangan paling hangat di dunia."

Pertahanan hati Shen Yu retak.

Di tengah kejamnya dunia yang memaksanya menjadi monster tanpa rasa sakit, ada satu orang yang tetap melihatnya sebagai manusia.

Shen Yu perlahan memutar tangan tulangnya, dan dengan sangat hati-hati—menggunakan kontrol Qi yang presisi agar cakarnya tidak menggores ia mengusap air mata di sudut mata Su Ling dengan jempol tulangnya.

"Aku akan melindungimu," sumpah Shen Yu dalam hati, lebih kuat dari sebelumnya. "Dengan tangan iblis ini, aku akan merobek langit jika langit mencoba menyakitimu."

1
༄⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😈👿😈Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡🤬😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👻👻👻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👿😈👿Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😁😁😁Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄🙄🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🥹🥹🥹Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!