Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Dimajukan
Akira sambil cemberut mencari unit apartment di gedung Amina yang kosong tapi sayangnya, semua sudah terisi. Akhirnya Akira mendapatkan kamar hotel yang bisa disewa bulanan lewat aplikasi dan dia pun segera ke lokasi yang hanya sepuluh menit jalan kaki.
"Aku akan ke hotel dulu Mina, buat check in nanti aku kemari," kata Akira.
"Hotel mana?" tanya Amina.
Akira menyebutkan nama hotelnya.
"Kamu kesini tanpa pengawal?" Amina menatap Akira bingung. "King Arsya tidak apa-apa?"
"Memang kenapa?" balas Akira.
"Kamu kan putra mahkota dan sudah sewajarnya kamu ada pengawal kan?" jawab Amina.
"Daddy tahu aku dimana, Mina. Aku ada GPS di jam tangan aku jadi tidak masalah kan?" Akira menatap Amina lembut. "Lagipula, aku kan juga tentara."
"Tentara yang nekad! Aku tahu, kamu itu sangat tidak bisa jika ada ketidakadilan tapi kamu itu tidak memikirkan akibatnya, Akira!" ucap Amina seolah mengeluarkan uneg-unegnya.
"Apakah kamu tidak sedih?" tanya Akira.
"Tidak sedih? Aku patah hati! Apa kamu tahu kalau Queen Mother hampir kena serangan jantung? King Father menangis! Aku tidak boleh masuk melihat kamu!" Amina menghela nafas panjang. "Memang sudah dua tahun lalu tapi rasanya seperti kemarin."
"Maaf Mina. Aku sudah membuat kamu sedih ... Tapi jujur padaku. Kenapa kamu tidak cerita kalau kamu mengajukan beasiswa disini?" Akira menggenggam tangan Amina.
"Karena aku tidak yakin akan lolos, Akira. Aku waktu itu hanya iseng mengajukan atas rekomendasi kepala sekolah tempat aku bekerja. Jadi sponsor dari kepala sekolah."
Akira tersenyum. "Dan ternyata kamu lolos."
"Aku juga tidak menyangka, Akira."
Akira tersenyum. "Karena Swiss pakai bahasa Jerman dan kamu sangat fasih. Tapi setidaknya, bahasa Belanda kamu sudah lumayan."
Amina cemberut. "Iya, aku memang payah di bahasa Belanda dan Perancis."
Akira tertawa kecil. "Tetap belajar ya."
Suara pintu terbuka dan Bea pun masuk membawa kantong makanan.
"Saya tahu My Prince dan Nona Amina pasti kelaparan. Jadi saya bawakan makanan halal," senyum Bea.
"Terima kasih Bea."
Ketiganya pun makan siang bersama.
***
Kamar Hotel Akira
"Jadi kamu diusir Amina usai makan siang?" tanya Violet geli.
"Iya Mommy. Padahal aku mau tidur sebentar di apartemennya," jawab Akira sambil manyun.
"Ya jelas Amina tidak mau kamu disana! Kamu itu keturunan Opa Sean dan Daddymu yang suka cari-cari kesempatan!" kekeh Violet.
"Dan aku hampir melakukan kesalahan yang dulu dilakukan Opa. Amina bisa lepas lagi kalau aku tadi tidak memperbaiki kebodohan aku," ucap Akira.
"Akira, karena Amina masih ada perasaan padamu, jangan pernah kamu memanfaatkan situasinya. Jika rasa Amina ke kamu sudah habis, maka kamu akan sulit bisa membuatnya kembali menerima dirimu. Seorang wanita itu bisa lembut tapi juga bisa keras hati. Jangan sampai kamu menjadikan Amina yang tidak percaya lagi padamu. Sekali kepercayaan itu kamu langgar ... Kamu akan mendapatkan masalah besar!" ucap Zinnia.
"Oma sudah pernah di posisi itu ya?" Akira menatap lembut ke Omanya.
"Iya. Karena itu, Oma wanti-wanti ke kamu ya."
Akira mengangguk. "Iya Oma."
***
Keesokan paginya, Amina dikejutkan dengan kedatangan Akira sembari membawakan makanan untuk sarapan. Mau tidak mau, Amina mempersilahkan Akira untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Bukannya di hotel ada sarapan ya?" tanya Amina saat Akira berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Ada tapi aku juga ingin sarapan bersama kamu. Apa kamu sudah persiapan untuk besok maju sidang?" balas Akira sambil meletakkan kantong makanan itu diatas meja.
"Ini aku sedang memantapkan untuk maju sidang karena ... Jadwalnya dimajukan," jawab Amina.
Akira membongkar kantong belanjanya sambil menatap Amina bingung.
"Kok dimajukan? Ada apa?" tanya Akira.
"Aku kurang tahu. Jadwal aku harusnya masih Senin depan tapi harus besok Kamis. Aku hanya ada waktu dua hari untuk persiapan!" jawab Amina.
"Aku akan bantu kamu."
Amina menatap Akira. "Bantu aku?"
"Hu um. Kamu pasti butuh seseorang yang bisa membantu kamu persiapan. Bagaimana? Hei, Omaku seorang psikolog jadi sejak kecil aku sudah biasa mendengar dan mempelajari psikologi. Oke Amina?" senyum Akira.
Amina mengangguk. "Oke Akira."
Bea melihat pasangan itu serius berdiskusi dalam persiapan Amina maju sidang magister usai sarapan. Diam-diam pengawal itu mengambil gambar keduanya dan dikirimkan ke Zinnia.
***
Dua hari Akira membantu Amina sebelum maju sidang. Dan sekarang, pria itu menemani Amina ke kampusnya untuk maju sidang. Guna tidak membuat orang-orang bertanya, Akira memakai masker. Amina tampak gugup saat hendak masuk ke dalam ruang sidang, tapi Akira tetap menggenggam tangannya.
"Bismillah saja. Yakin kamu bisa menjawab semua pertanyaan dan cecaran banyak dari para dosen penguji. Kamu pasti bisa, Mina!" senyum Akira lewat matanya.
"Tapi aku tetap saja gugup," bisik Amina.
"Wajar, Mina. Aku pun dulu juga begitu."
Keduanya menoleh saat mendengar nama Amina dipanggil. Amina pun berdiri dan membawa semua berkasnya lalu masuk ke dalam ruang sidang.
***
Akira menunggu sidang yang biasanya berlangsung satu hingga satu setengah jam sambil bermain ponselnya. Dia ingin tahu kemana adiknya pergi dan matanya terbelalak saat tahu adiknya naik mobil dengan Grady Daugherty menuju Philadelphia.
"Ya Ampun dik ... Kamu itu kemana?" gumam Akira.
"Seharusnya gadis bernama Arafat itu tidak maju sidang sekarang. Tapi gara-gara si Sunny ketahuan memakai AI jadi di drop lah!"
Akira mendengarkan percakapan dua orang gadis yang sedang menunggu masuk ruang sidang. Apa maksudnya?
"Sunny memang bodoh! Sudah aku bilang kalau mau pakai AI harus ada yang dibedakan. Tahu sendiri kan bahasa AI pasti ketahuan."
"Makanya si Arafat bisa maju sidang duluan. Eh, dengar-dengar, dia itu pacarnya pangeran Belgia ya? Jangan-jangan dia masuk sini juga karena campur tangan pangeran itu? Kita ingat pas dia ciuman dengan pangeran siapa namanya ... Akira Léopold?"
"Wajahnya saja cantik, tapi sepertinya masuk sini karena pengaruh pangeran Belgia itu dan demi menutupi, bilang pakai beasiswa!" cebik gadis B sementara gadis A hanya tercenung.
"Tapi aku sudah selidiki. Amina memang masuk kemari dengan beasiswa. Dia dapat sponsor dari dinas pendidikan Belgia. Bukan dari pangeran Belgia itu!" jawab gadis A.
Entah kenapa, Akira lebih tertarik dengan percakapan dua gadis itu. Apalagi topiknya Amina, gadisnya. Guna menutupi dirinya menguping, Akira seperti sedang asyik bermain game di ponselnya.
"Banyak yang naksir si Arafat tapi gadis itu menolak semua dan sombong !" cebik gadis B.
"Kalau aku jadi Amina, ya benar! Standarnya dia spek pangeran!" jawabnya.
***
Yuhuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pasti adalah Mina, pasti akan dicari cincin bermata hijaumya
pasti adalah Mina, pasti akan dicari cincin bermata hijaumya
thanks infonya mbak
nggak hanya cantik fosik tapi juga cantik hatinya ☺️☺️
nggak hanya cantik fosik tapi juga cantik hatinya ☺️☺️