NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Romansa
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.

Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan panjang dimulai

Gerbang Ibu Kota kekaisaran, Zhonghua, berdiri angkuh seperti raksasa batu yang menantang langit. Tembok-temboknya yang berwarna kelabu legam dilapisi oleh prasasti pelindung kuno yang memancarkan aura tekanan yang berat. Bagi Zhou Yu, Da Ge, dan Ling’er, berjalan memasuki gerbang ini terasa seperti melangkah masuk ke dalam mulut harimau yang sedang terjaga.

Dua tahun di desa harapan telah membentuk tubuh mereka, namun di sini, di pusat peradaban yang dipenuhi oleh para bangsawan dan jenius kultivasi, mereka hanyalah butiran debu. Zhou Yu merapatkan jubahnya, menutupi gagang pedang Han Shui yang sengaja ia bungkus dengan kain kumal agar tidak memancing kecurigaan.

"Ingat," bisik Zhou Yu, matanya waspada menatap barisan penjaga berbaju zirah perak. "Di sini, kita bukan pahlawan desa. Kita hanyalah pengembara miskin yang mencari peruntungan. Jangan panggil aku 'Pemimpin', dan jangan tunjukkan kekuatan Qi kalian kecuali terdesak."

Da Ge mengangguk, otot-ototnya menegang di balik pakaian kasarnya. Sementara Ling’er menggenggam erat lengan Zhou Yu. Status mereka sebagai suami istri yang baru saja diresmikan oleh adat desa menjadi satu-satunya pegangan batin di tengah hiruk-pikuk kota yang dingin ini.

Tujuan mereka adalah Akademi Naga Langit, satu-satunya tempat yang menyimpan rahasia teknik kultivasi tingkat tinggi yang mampu memperkuat perisai desa mereka. Namun, masuk ke sana tidaklah mudah. Ribuan pemuda dari berbagai penjuru kekaisaran berkumpul di depan tangga marmer akademi, masing-masing membawa ambisi dan kesombongan.

"Nama?" tanya seorang penguji dengan wajah datar dan mata yang tajam seperti elang.

"Jian Yu," jawab Zhou Yu singkat. ia menggunakan nama samaran untuk menghindari pelacakan dari sisa-sisa perompak atau antek kekaisaran yang mungkin mengenali wajahnya.

"Asal?"

"Lembah Barat. Petani."

Terdengar gelak tawa dari barisan pemuda bangsawan di belakang mereka. "Petani? Apakah mereka akan mengajari kita cara menanam ubi di akademi ini?" ejek seorang pemuda berpakaian sutra biru mewah dengan kipas di tangannya.

Zhou Yu hanya diam, tatapannya lurus ke depan. Ia telah belajar dari Han Shui bahwa kekuatan yang sesungguhnya tidak perlu diteriakkan. Namun, Ling’er bisa merasakan betapa kerasnya Zhou Yu menahan diri telapak tangannya terasa panas.

Ujian masuk dimulai dengan Batu Penguji Jiwa. Setiap calon murid harus meletakkan tangan di atas batu hitam besar yang akan bercahaya sesuai dengan tingkat kemurnian Qi mereka.

Satu per satu peserta maju. Batu itu bersinar kuning, hijau, dan sesekali biru terang menandakan bakat yang luar biasa. Hingga tiba giliran Zhou Yu.

"Bocah, tekan energimu," suara Han Shui bergema di benaknya. "Jika kau menunjukkan warna biru murni, para tetua di sini akan mengurungmu seperti burung dalam sangkar untuk mengambil kekuatanku. Tunjukkan hanya warna kuning redup."

Zhou Yu meletakkan tangannya. Ia mengendalikan aliran Qi-nya dengan presisi yang mengerikan, menahan ledakan energi dari bunga embun salju di dalam nadinya. Batu itu bergetar, lalu mengeluarkan cahaya kuning yang stabil namun tidak mencolok.

"Bakat rata-rata. Lulus," ucap penguji itu acuh tak acuh.

Da Ge dan Ling’er mengikuti. Dengan bimbingan Zhou Yu sebelumnya, mereka juga berhasil menyembunyikan kekuatan asli mereka dan masuk sebagai murid kelas rendah murid yang biasanya hanya dijadikan pesuruh bagi para jenius bangsawan.

Akademi Naga Langit bukan sekadar tempat belajar itu adalah cerminan dari kekaisaran yang kejam. Murid kelas rendah ditempatkan di asrama kayu yang reyot di kaki bukit akademi, jauh dari istana-istana megah murid elit.

Malam pertama di akademi terasa sangat berat. Mereka harus bekerja mencuci pakaian murid senior, membersihkan kandang kuda, dan membelah kayu bakar sebelum diizinkan menyentuh buku teknik dasar.

"Maafkan aku," ucap Zhou Yu malam itu di asrama mereka yang sempit. Ia duduk di lantai kayu, memijat kaki Ling’er yang kelelahan setelah seharian mengangkut air. "Aku membawamu dari rumah yang indah hanya untuk menjadi pelayan di sini."

Ling’er tersenyum, meski wajahnya tampak lelah. Ia mengusap pipi Zhou Yu dengan lembut. "Di mana pun kita berada, asalkan aku bisa melihat punggungmu setiap pagi, itu sudah cukup. Kita di sini untuk mereka yang ada di desa, bukan? Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding harapan warga kita."

Tiba-tiba, pintu asrama ditendang terbuka. Pemuda bangsawan yang mengejek mereka di gerbang masuk, yang ternyata bernama Tuan Muda Chen dari klan bangsawan kota, berdiri di sana dengan dua pengawal.

"Hei, Petani! Aku butuh sepatuku dibersihkan sekarang juga. Dan kau," mata Chen menatap Ling’er dengan tatapan yang menjijikkan, "wanitamu cukup cantik untuk ukuran orang dusun. Suruh dia membawakan teh ke kamarku."

Suasana mendadak menjadi sangat dramatis. Da Ge berdiri seketika, palu besar di punggungnya seolah siap meledak. Tekanan udara di ruangan sempit itu turun drastis.

Zhou Yu berdiri perlahan. Ia menarik Ling’er ke belakang punggungnya. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat dengan cahaya dingin yang mematikan.

"Sepatumu bisa kau bersihkan sendiri," ucap Zhou Yu, suaranya rendah namun bergetar dengan otoritas yang membuat langkah pengawal Tuan Muda Chen terhenti. "Dan jika kau berani menatap istriku sekali lagi dengan cara seperti itu, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari lagi."

Tuan Muda Chen tertawa meremehkan, namun di dalam hatinya, ia merasakan ketakutan yang tak dapat dijelaskan. Ada sesuatu di dalam diri pemuda 'rata-rata' ini yang terasa lebih berbahaya dari binatang buas manapun.

"Beraninya kau! Aku adalah putra gubernur!" teriak Chen. Ia mencoba melayangkan tamparan, namun sebelum tangannya sampai, Zhou Yu hanya menggerakkan satu jari. Aliran udara di ruangan itu memadat, membentuk dinding transparan yang memantalkan tangan Chen hingga ia terjungkal ke belakang.

"Pergi," perintah Zhou Yu singkat.

Chen dan pengawalnya lari terbirit-birit, meneriakkan ancaman balas dendam. Namun bagi Zhou Yu, ini hanyalah awal dari perjuangan yang lebih besar.

Setelah keributan itu, Da Ge pergi berjaga di pintu, memberikan ruang bagi Zhou Yu dan Ling’er. Mereka berdua berjalan ke balkon kecil yang menghadap ke arah lembah akademi yang diselimuti kabut.

"Kau terlalu berani tadi," bisik Ling’er, menyandarkan kepalanya di bahu Zhou Yu.

"Aku bisa menanggung hinaan untuk diriku sendiri, Ling’er. Tapi tidak untukmu," Zhou Yu memeluk pinggang Ling’er erat, menghirup aroma rambutnya yang selalu memberikan ketenangan di tengah badai. "Identitas kita mungkin terancam, tapi aku tidak akan membiarkan martabatmu diinjak."

Di tengah kesunyian malam itu, di antara bayang-bayang menara akademi yang megah, mereka merasakan kedekatan yang luar biasa. Meski mereka berada di tempat asing yang penuh permusuhan, ikatan mereka yang baru saja diresmikan di desa menjadi satu-satunya cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh siapapun.

"Kak Yu," panggil Ling’er pelan. "Apakah kita akan bisa kembali ke desa?"

Zhou Yu menatap jauh ke arah barat, ke arah perisai biru yang ia tinggalkan. "Kita akan kembali. Bukan sebagai pengembara, tapi sebagai pelindung yang tak tertandingi. Aku berjanji."

Ia mengecup kening Ling’er dengan penuh perasaan. Momen itu terasa begitu dramatis dua jiwa yang saling menguatkan di tengah kepungan serigala.

Tanpa mereka sadari, di atas atap asrama yang gelap, sesosok bayangan yang sangat familiar memperhatikan mereka. Pria bertopeng perak mata-mata perompak yang mereka temui dua tahun lalu ternyata telah mengikuti mereka hingga ke jantung kota.

Ia memegang sebuah bola kristal komunikasi. "Tuan, mereka telah masuk ke akademi. Pemuda itu menyembunyikan kekuatannya, tapi pedang tua itu masih ada padanya."

Suara parau terdengar dari balik kristal. "Biarkan mereka belajar. Biarkan mereka mengumpulkan sumber daya akademi untuk kita. Saat buahnya sudah matang, kita akan memetik pedang itu bersama nyawa mereka."

Mata-mata itu menyeringai di balik topengnya, lalu menghilang ke dalam kegelapan.

Zhou Yu tiba-tiba menoleh ke arah atap, instingnya yang tajam merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Namun, ia hanya melihat kegelapan. Ia mempererat pelukannya pada Ling’er, menyadari bahwa perjalanan di ibu kota ini akan menjadi tarian di atas mata pedang.

Esok hari, latihan yang sesungguhnya akan dimulai. Zhou Yu tahu ia harus mencuri ilmu dari perpustakaan terlarang akademi, sementara Da Ge harus menguasai teknik penghancur baja, dan Ling’er harus mempelajari pengobatan dewa. Mereka tidak lagi hanya bertarung untuk diri mereka sendiri, tapi untuk setiap jiwa yang bernapas di Desa Harapan yang jauh di sana.

"Mari kita tidur, Ling’er," ajak Zhou Yu lembut. "Besok, kita mulai menaklukkan tempat ini."

Lembah itu mungkin jauh, tapi detak jantungnya ada di setiap langkah yang mereka ambil di Zhonghua. Dan bagi siapa saja yang berani mengusik kedamaian itu, mereka akan segera menyadari bahwa seekor naga yang sedang bersembunyi tetaplah seekor naga yang mematikan.

...Bersambung.......

1
Ada badaknya
baru 1 bab udah cerita sedih/Sweat/
pinguin: author kejam👍
total 1 replies
Butet Kon77
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!