Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PERANG DI BALIK SENYUMAN
Malam itu, meja makan kediaman Anantara terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Namun, ini bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang mencekam. Eliza duduk tegak, namun tangannya terus memainkan ujung serbet dengan gelisah. Berkali-kali dia melirik Alsya yang justru tampak sangat tenang menikmati makan malamnya.
Papa Saga berdehem, memecah keheningan. "Eliza, kenapa makanan kamu tidak disentuh? Kamu sakit?"
Eliza tersentak, hampir menjatuhkan garpunya. "Enggak, Pa. Cuma... tadi di sekolah agak capek karena persiapan ujian."
"Oh ya? Tadi supir bilang ada kejadian mobil disenggol orang di parkiran. Kamu dan Alsya tidak apa-apa, kan?" tanya Mama Luna dengan nada khawatir yang hanya ditujukan pada Eliza.
"Nggak apa-apa, Ma. Alsya kan tadi di UKS, jadi dia nggak tahu apa-apa," sahut Eliza cepat sambil melemparkan tatapan tajam pada Alsya.
Alsya meletakkan sendoknya perlahan. Dia menatap Eliza dengan senyum tipis yang jarang dia tunjukkan. "Iya, Ma. Di UKS tadi tenang banget. Rasanya kayak semua beban hilang sebentar."
Kalimat itu terdengar biasa bagi orang tua mereka, tapi bagi Eliza, itu adalah serangan telak. Eliza tahu Alsya sedang menyindir pelariannya bersama Samudera.
Setelah makan malam, saat Papa dan Mama sudah masuk ke ruang kerja, Eliza mencegat Alsya di depan tangga. Dia menarik lengan Alsya dengan kasar dan menyeretnya ke sudut koridor yang sepi.
"Loe sama Samudera punya apa soal gue?!" desis Eliza, suaranya gemetar karena marah dan takut. "Jangan harap loe bisa fitnah gue di depan Papa!"
Alsya melepaskan cengkeraman Eliza dengan tenang. Dia merasa jauh lebih kuat sekarang. "Fitnah? Bukannya itu hobi loe, El? Kenapa sekarang loe yang takut?"
"Gue nggak pernah macem-macem sama cowok sekolah sebelah! Samudera cuma ngarang!"
"Kalau emang cuma karangan, kenapa loe panik?" Alsya melangkah maju, membuat Eliza mundur hingga menabrak dinding. "Apa loe takut kalau Papa tahu sisi lain dari 'anak emas'-nya? Apa loe takut kalau Papa tahu loe sering keluar lewat jendela belakang pas tengah malam cuma buat ketemu cowok yang nggak bakal pernah disetujui Papa?"
Sebenarnya Alsya hanya mengulang tebakan Samudera, tapi melihat wajah Eliza yang mendadak pucat pasi, Alsya tahu mereka baru saja memenangkan lotre rahasia.
"Sya... tolong..." suara Eliza mendadak melunak, berubah menjadi nada memohon yang menjijikkan bagi Alsya. "Jangan kasih tahu Papa. Loe tahu kan gimana kerasnya Papa? Gue bisa habis."
Alsya tertawa getir. "Lucu ya. Pas gue hampir dikirim ke asrama gara-gara laporan loe, loe nggak mikir gimana perasaan gue. Pas gue dihina Papa di depan meja makan, loe malah senyum puas."
"Gue bakal lakuin apa aja! Gue bakal bilang ke supir buat nggak terlalu jagain loe, gue bakal tutup mulut soal Samudera... asal loe hapus semua foto itu!"
Alsya terdiam sejenak. Dia menatap kembarannya dengan rasa kasihan. Ternyata, hidup dalam kesempurnaan palsu membuat Eliza jauh lebih rapuh daripada dirinya.
"Gue nggak butuh bantuan loe buat nutupin rahasia gue, El. Karena sekarang, gue yang pegang kendali," ucap Alsya tegas. "Mulai besok, jangan pernah berani atur hidup gue lagi di depan Papa dan Mama. Kalau gue lihat loe mulai cari muka lagi... gue nggak bakal ragu buat kasih 'hadiah' ke Papa lewat email pribadinya."
Alsya berjalan melewati Eliza yang masih berdiri mematung. Begitu sampai di kamar, Alsya segera mengambil ponsel rahasianya.
Alsya: Sam, tebakan loe bener 100%. Dia beneran punya rahasia. Dia langsung ciut pas gue gertak tadi.
Hanya butuh beberapa detik sampai balasan masuk.
Samudera: Bagus. Nikmati kebebasan loe, Sya. Tapi tetep hati-hati. Orang yang terpojok biasanya bakal lebih nekat kalau dia udah nggak punya apa-apa lagi buat dipertahanin.
Alsya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa kamar ini bukan lagi penjara.
Namun, peringatan Samudera tetap terngiang di kepalanya. Dia tahu, Eliza tidak akan diam begitu saja selamanya.
Perang psikologis dimulai! Alsya akhirnya bisa membalas Eliza.
Bersambung...