NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

"Terimakasih, Kak."

Dirga sangka bahwa ia sudah gila saat kata-kata sederhana Hita berhasil memenuhi kepalanya. Apa yang terjadi pada Dirga? Itu hanyalah ucapan terimakasih, yang bahkan banyak orang ucapkan padanya. Saat memberikan gaji, memberikan bonus tambahan lembur, ataupun sekedar membantu memberi sembako.

Tapi entah mengapa, begitu berbeda saat istri penggantinya itu yang mengucapkannya.

Di sepanjang jalan lorong rumah sakit, hanya kata-kata itu saja yang bisa ia pikirkan, sebelum suara Lian menyadarkannya.

"Kak Dirga mau kemana?"

Tiba-tiba saja Lian sudah berdiri di hadapan Dirga dengan tangan terentang dan ekspresi mengintrogasi. Mata gadis itu sembab karena menangis, rambutnya pula acak-acakan karena angin.

"Pulang," balas Dirga sesingkatnya.

"Pulang?" Lian menggeleng tak percaya. "Kak Pramahita masih ada di rumah sakit, tapi kakak malah pulang?"

"Memangnya kenapa?"

Lian menatap ekspresi dingin kakaknya itu dengan raut tak percaya.

Bagaimana bisa Dirga terlihat sesantai itu padahal istrinya baru saja mengalami insiden yang begitu parahnya?

Memang luka-luka di tubuh Hita tak separah yang terlihat, bahkan perempuan itu sudah boleh dipulangkan besok, tapi bukankah seharusnya Dirga cemas?

"Harusnya kakak tetap disini dan menemani Kak Pramahita." Lian mengangkat dagunya, menatap sang kakak dengan tatapan tajam. "Lagipula ini semua terjadi gara-gara kakak yang lalai. Kakak tau kak Pramahita tak mengenal tempat itu, tapi kakak malah meninggalkannya."

Mendengar dirinya disalahkan, Dirga sedikit tak terima, namun ia jelas tau bahwa itu memang salahnya.

Tapi tak sepenuhnya, karena Dirga juga berpikir karena itu kecerobohan Hita sendiri yang ingin bersikap sok pahlawan.

"Kau tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya," tekan Dirga. "Aku hanya pergi sebentar untuk menemui Wisnu, dan dia malah memilih berlagak menjadi superhero dan melukai dirinya sendiri."

"Lagipula lukanya tidak parah," lanjut Dirga, "Kakak sudah bicara pada dokter dan tidak ada yang perlu dicemaskan. Setidaknya perempuan itu juga harus belajar untuk berhenti ceroboh dan merepotkan orang lain."

Dengan itu, Dirga mendorong pelan tubuh Lian dari hadapannya dan melanjutkan langkah keluar dari rumah sakit.

Lian tentu saja tak percaya dengan apa yang dilakukan kakaknya itu. Bagaimana bisa Dirga berlagak seperti manusia tak berperasaan?

Lian tau betul kakaknya memang hanya mencintai Loria, tapi bukan berarti dia dilarang peduli dengan orang lain, kan? Lagipula Loria sendiri yang memutuskan untuk kabur dan meninggalkan Dirga hingga semuanya menjadi serumit ini.

Lian menatap punggung Dirga yang menjauh, helaan napas panjang lolos dari bibirnya.

Di sisi lain, setibanya di parkiran Dirga langsung membuka pintu mobil tepat di sebelah kemudi, bergabung dengan Wisnu yang sejak tadi menunggu.

Wisnu memperhatikan penampilan majikannya itu lekat-lekat, baru pertama kali melihat seorang Dirga Martadinata dalam keadaan tak rapi dan kacau. Kemeja kusut, bercak darah, rambut yang acak-acakan, itu terlihat sama sekali tidak seperti Dirga.

"Antarkan saya, Nu."

Dirga menutup pintu mobil cukup keras, memasang sabuk pengaman dengan gerakan terukur yang masih terlihat tenang. Padahal beberapa saat yang lalu, Dirga tampak kalang kabut saat menggendong tubuh lemas Hita keluar dari mall.

"Antarkan ke mana, Pak?" tanya Wisnu, mulai menghidupkan mesin mobil dan menggerakkan mobil keluar dari are parkiran.

Dirga tampak ragu sejenak, tatapannya tertuju pada gedung rumah sakit.

Ia teringat akan ucapan Hita sebelumnya, bagaimana dengan konyolnya perempuan itu mengatakan bahwa dia tak memiliki nomor telepon yang bisa dihubungi karena ponselnya yang bermasalah. Istri penggantinya itu memang konyol sekali.

Dirga beralih menatap ke depan saat mobil keluar dari area rumah sakit. Ia mengangguk pelan sebelum berucap :

"Antarkan saya untuk membeli ponsel."

...****************...

Hita benar-benar merasakan sakit di sekujur tubuhnya begitu terbangun dari tidur. Pagi hari datang begitu cepat.

Pelan-pelan Hita mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

Luka-luka pecahan kaca itu menggores sebagian besar kulit Hita, namun untungnya tak ada luka yang dalam.

Hita melirik ke sekeliling kamar, tak mendapati seorangpun di sana. Hanya ada beberapa tas yang berisikan camilan dan bungkusan kosong, yang disangka milik Lian atau Bram yang menemani sepanjang malam.

Sementara terlihat juga tas bermerek di atas nakas di dekat tempat tidur, tampak sederhana namun tentunya harganya tak mungkin murah. Itu pasti tas Nadia, mertuanya.

"Ehh... sudah bangun?"

Sambutan itu terlontar dari Nadia yang baru saja masuk ke dalam kamar, membawa handuk kecil yang digunakan untuk mengelap wajahnya yang basah. Sepertinya Nadia baru saja selesai mencuci muka.

"Sudah, Tante," balas Hita dengan senyum tipis di wajahnya.

Hita tau bahwa biasanya orang-orang yang sudah menikah pasti akan memanggil orang tua dari pasangannya dengan sebutan ayah ataupun ibu, tapi berbeda jika dibandingkan dengan Hita. Ia tau diri, bahwa ia tak pantas memanggil Nadia dengan sebutan ibu karena ia bukanlah sosok yang seharusnya menjadi istri Dirga.

"Tadi dokter sudah berbicara dengan Dirga, katanya kamu sudah boleh dipulangkan sekarang. Nanti biar Tante dan Lian yang mengurus semuanya, kamu dan Dirga pulang lebih dulu," ujar Nadia terdengar begitu halus dan hangat, tampak sekali seperti sosok yang penuh kasih sayang.

Kalau saja ibunya masih hidup, mungkin Hita bisa merasakan kasih sayang dari sosok seperti Nadia.

"Terimakasih, Tante." Hita menatap Nadia, rasa syukur terlihat jelas di matanya. "Maaf Hita banyak merepotkan."

"Jangan bilang seperti itu." Nadia menggeleng, melangkah mendekati Hita. "Kamu tidak merepotkan sama sekali, saya berhutang banyak dengan kamu."

Nadia mengelus surai panjang menantunya dengan kasih sayang, hal yang selalu ia lakukan pula pada ke tiga anaknya.

"Maaf karena kamu harus menerima nasib seperti ini," ucap Nadia dengan nada merasa bersalah. "Kamu harus di seret dalam masalah yang bahkan tidak kamu ketahui, pernikahan yang tidak kamu inginkan."

Tangan Nadia bergerak untuk menarik Hita ke dalam dekapannya, berhati-hati agar tak membuat perempuan itu kesakitan.

"Tante berjanji, kamu tidak akan berlama-lama dalam situasi ini. Setelah Loria ditemukan, Tante pastikan kamu hidup dengan layak dan mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan," lanjut Nadia, menempelkan bibirnya pada rambut Hita dan berjanji. "Kamu akan menjadi putri saya walaupun nanti kamu tidak lagi menjadi istri Dirga, walaupun nanti kamu tidak akan menjadi menantu saya."

Tanpa sadar air mata Hita menetes mendengar ucapan Nadia. Ini adalah kali pertama seumur hidupnya ia mendapatkan pelukan yang begitu tulusnya.

Kata-kata yang diucapkan Nadia menyentuh hati Hita, membuatnya menahan diri untuk tidak menangis.

Hita tak pernah diakui sebagai seorang putri oleh ibu tirinya, dan ayahnya pun mengakuinya karena merasa bersalah.

Arseno tak pernah menyayanginya dengan sungguh-sungguh, hanya merasa bersalah atas perselingkuhan yang ia lakukan saat itu yang membuatnya sedikit peduli dengan Hita.

Hita melingkarkan tangannya di tubuh Nadia, dagunya bersandar di bahu wanita itu saat tubuhnya mulai gemetar menahan tangis.

Nadia tak menghentikan Hita untuk menangis, karena Nadia tau apa yang selama ini Hita alami.

Menjadi bayang-bayang keluarga Wijaya yang terlihat begitu harmonis di depan media, menyembunyikan kemalangan seorang gadis tak bersalah di belakangnya.

Tangan Nadia bergerak mengelus punggung Hita, menenangkan perempuan malang itu saat menangis di pelukannya.

Cukup lama Hita menangis, terisak-isak dengan tubuh gemetar di pelukan Nadia. Semua emosi yang terpendam perlahan tersalurkan, membuat tubuh dan pikiran perempuan itu perlahan-lahan menjadi ringan dan tenang.

Suara derit pintu terdengar, menampakkan seorang perawat dan sosok laki-laki yang dikenal Hita mengikuti di belakangnya saat pintu terbuka.

Dirga berdiri di sana, dengan tampang datarnya yang biasa saat masuk ke dalam ruangan. Melihat pemandangan Nadia dan Hita berpelukan tak mengubah ekspresi laki-laki itu sedikitpun.

Hita pelan-pelan melepaskan pelukannya dengan Nadia, mengusap pipinya dengan punggung tangan.

"Sudah, sudah, jangan menangis," bisik Nadia menenangkan, menggerakkan ibu jarinya untuk menghapus air mata Hita yang membasahi pipi.

Perawat yang juga berada di sana tersenyum haru begitu melihat interaksi ke dua perempuan itu.

"Maaf mengganggu sebelumnya, izin mencabut infusnya ya, Bu."

Nadia mengangguk, bergeser untuk memberi jalan sang perawat untuk melepaskan infus di tangan Hita.

Dirga yang berada di dekat pintu memperhatikan, memasang tampang tak peduli meskipun matanya mengamati ekspresi Hita yang sedikit meringis kesakitan ketika infus dilepaskan.

"Dirga," panggil Nadia, membuat sang pemilik nama menoleh.

"Iya, Ma?"

"Mama dan Lian akan mengurus administrasi, kamu bawa Hita pulang. Nanti mama dan Lian akan pulang bersama Wisnu," ujar Nadia berpesan, menepuk pundak putranya sebelum melangkah keluar ruangan.

Dirga menghela napas, mengingat pesan sang ibu.

Laki-laki itu melangkah mendekat ke arah bangsal setelah perawat menyelesaikan pekerjaannya dan berpamitan untuk keluar dari ruangan, menyisakan sepasang suami-istri yang terpaksa statusnya.

"Kak," sapa Hita dengan senyum tipis. "Kata dokter aku sudah boleh pulang ya?"

Dirga mengangguk singkat. "Ya, kata dokter kau sudah bisa pulang," balasnya singkat, tangannya mengambil tas-tas belanjaan yang tercecer di lantai.

Tas-tas belanjaan itu adalah milik Pramahita kemarin, saat Dirga mengajaknya membeli pakaian. Awalnya pakaian-pakaian itu terlupakan, tapi pramuniaga dari toko menyerahkannya kembali pada Dirga melalui Wisnu.

"Biar aku saja yang bawa, Kak."

Hita menatap Dirga tak enak hati begitu melihat laki-laki itu membawa kantung belanjaan yang memenuhi satu tangan Dirga, padahal kalau Hita yang membawanya, pasti dua tangan tak akan cukup.

"Mau membawanya bagaimana?" tanya Dirga dingin, menatap perban-perban yang membalut lengan Hita. "Kau bahkan tidak bisa menggerakkan tanganmu, bagaimana mungkin bisa membawa belanjaan?" ucapnya terdengar lagi-lagi meremehkan.

Dirga melangkah mendekat, kali ini benar-benar di hadapan Hita. Bahkan, lutut Hita kini bersentuhan dengan kaki Dirga yang dibalut oleh celana panjang kantornya yang biasa.

"Maaf—"

"Mau minta maaf untuk apa lagi?" potong Dirga dingin, merasa jengkel dengan Hita yang terus saja meminta maaf.

Hita, di sisi lain menundukkan kepalanya begitu mendengar ucapan Dirga. Laki-laki itu selalu bisa membuatnya merasa takut untuk menentang.

Baru saja Hita dimarahi oleh laki-laki itu, tiba-tiba Hita terbelalak begitu merasakan tangan Dirga yang melingkari pinggangnya, menariknya ke sisi bangsal.

"Kak—"

"Lingkarkan kakimu," bisik Dirga memerintah, memotong ucapan Hita dan membuat perempuan itu menelan ludah.

"Tapi—"

"Lakukan saja," geram Dirga. "Ingin cepat pulang, kan?"

Saat mendapati Hita yang tak juga bergerak, Dirga mendengus kesal dan menggerakkan tangannya untuk membantu kaki Hita melingkari pinggangnya, berhati-hati agar tak menekan luka-luka perempuan itu.

Hita sontak melingkarkan tangannya di leher Dirga saat laki-laki itu mengangkatnya, membuat tubuh Hita sepenuhnya menempel pada tubuh keras Dirga.

"Jangan salah paham," bisik Dirga, napasnya terasa hangat di telinga Hita. "Ini adalah bentuk tanggungjawabku atas kelalaian ku kemarin," jelasnya dengan nada dingin yang entah mengapa berhasil membuat jantung Hita berdebar-debar.

Hita mengeratkan tangannya di leher Dirga begitu tangan laki-laki itu melingkari pinggangnya erat-erat, melangkah dengan begitu ringan keluar dari kamar rawat, bersama satu tangannya yang lain dipenuhi oleh kantung belanjaan.

Ingat, ini tak lebih dari sekedar tanggungjawab.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!