Terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak pernah dia impikan membuat kehidupan Anik Saraswati menjadi rumit.
Pernikahannya dengan seorang dokter tampan yang bernama Langit Biru Prabaswara adalah sebuah keterpaksaan.
Anik yang terpaksa menjadi mempelai wanita dan Dokter Langit pun tak ada pilihan lain, kecuali menerima pengasuh putrinya untuk menjadi mempelai wanita untuknya membuat pernikahan sebuah masalah.
Pernikahan yang terpaksa mereka jalani membuat keduanya tersiksa. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Jika ingin membaca latar belakang tokoh bisa mampir di Hasrat Cinta Alexander. Novel ini adalah sekuel dari Hasrat Cinta Alexander
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Tak lama setelah Nikita pulang, Langit mencari keberadaan Anik. Istrinya kini tengah berdiri di dekat jendela dengan nampak termenung menatap keluar.
Anik memang tidak lagi menangis. Tapi itu justru membuat dadanya terasa sesak. Entah perasaan apa yang dia rasa, dia sendiri tidak bisa mengartikannya.
" Kenapa semarah itu? Bukankah kamu sudah tahu hubunganku dengan Niki?" suara pria itu membuat Anik menoleh.
Pria berwajah tampan dengan bertubuh tinggi atletis itu berjalan mendekat ke arahnya. Semburat ketegasan yang selalu terpancar dari wajahnya membentuk aura kharismatik.
" Apa aku harus membiarkan Mas Langit melakukan dosa di rumah ini? Maaf, meskipun ini bukan rumahku tapi aku tinggal di sini." jawab Anik. Kemarahan dalam hatinya membuat wanita itu nampak lantang dan tegar.
"Kami tidak akan sejauh itu. Kami sudah dewasa jadi kami sudah tahu batasan-batasannya." balasan Langit yang masih tidak ingin disalahkan.
"Apa kamu jatuh cinta padaku?" tebak Langit dengan lirikan mengejek.
Pertanyaan itu membuat Anik sedikit gugup. Untung saja kegugupan itu tidak terbaca oleh Langit.
Tanpa ingin mendengar jawaban Anik, Langit langsung berdecih dengan memalingkan wajah. Seolah-olah dia tidak peduli tentang wanita di depannya.
"Asal kamu tahu saja, jangan pernah bermimpi mengharap cinta dariku, atau pernikahan kita menjadi pernikahan yang indah." jelas Langit dengan penuh keyakinan.
Anik tersenyum miris saat mendengarnya. Dia merasa pria yang kini menatapnya tajam itu terus saja merendahkannya.
Sebenarnya Anik ingin menertawakan dirinya yang masih bertahan dalam pernikahan ini. Dia memang tidak punya apapun dan apakah dirinya akan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya.
Hening tercipta diantar dua insan kini saling melayangkan tatapan tajam," lalu untuk apalagi pernikahan ini? Bukankah, sebaiknya kita bercerai!" pinta Anik terdengar enteng di telinga langit.
Tidak ada jawaban dari Langit. Pria itu terus saja menatapnya dengan nyalang, bahkan wajah tampan itu terlihat merah padam menahan sebuah amarah.
"Apa diam-diam anda tertarik dengan saya, hingga Anda enggan melepas saya?" cecar Anik dengan kalimat terdengar formal dan frontal hingga membuat kemarahan dalam diri Langit pun semakin meledak.
"Baiklah, aku talak kamu Anik Saraswati, sekarang juga!" kalimat itu lepas begitu saja dari mulut Langit. Pria itu terus saja menatap Anik yang terlihat tersenyum tipis dan mengangguk samar meski matanya terlihat berkaca-kaca.
Anik sudah berusaha menahan tangis, tapi kalimat yang baru saja terdengar itu terasa menyakitkan. Ini seperti mimpi. Dirinya kini menjadi seorang janda untuk yang kedua kalinya.
Ponsel Langit berdering membuat kedua orang dewasa itu tersadar dari kenyataan yang seperti mimpi. Kejadian sore ini terasa cepat hingga status mereka sudah kembali berubah.
"Iya, Ma." jawab Langit sambil berjalan keluar dari kamar itu. Sebenarnya merasa di dalam dadanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ana ingin pulang, Lang. Dia nggak mau mandi jika nggak sama Mama Anik." ucap Mayang memberitahukan itu pada Ana.
" Iya, Ma. Langit akan ke sana." ucap Langit sambil mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas.
Hingga sesaat kemudian dia menutup panggilan mamanya. Seketika, dia meraup wajahnya dengan kasar. Kenapa dia seceroboh itu melepas kalimat maut itu. Bagaimana dengan Ana? itu yang dia pikirkan, sementara Ana masih sangat lekat dengan wanita itu. Ada secuil penyesalan yang mengorek hatinya.
Langit pun langsung melangkah pergi menuju mobilnya. Dia akan menjemput Ana sore ini juga.
Sementara itu, di dalam kamar Anik menangis sesenggukan. Dia tidak menyangka jika hidupnya akan setragis ini, menjadi janda hingga dua kali adalah beban yang harus dia pikul.
" Ya Allah seburuk apakah aku ini ya Allah?" gumamnya dalam hati. Saat ini adalah titik terendah dari mentalnya, hingga dia memutuskan untuk pergi saja.
Anik POV
Ana. Rasanya aku ingin mengucapkan seribu kali maaf untuk gadis kecil itu. Aku tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi ini. Bukan karena aku menyerah dengan luka hati ini, tapi aku berfikir ini akan jauh lebih baik jika tak ada aku lagi.
Ada dokter cantik itu yang akan menyayangi Ana. Aku yakin lambat laun Ana akan beradaptasi, aku yakin dokter itu akan bisa menerima Ana meskipun itu karena Langit.
Aku melihat selembar foto yang kemudian aku selipkan diantara baju yang sedang aku kemas. Pasti aku akan merindukan gadis yang sejak lahir hidup bersamaku.
Dan tidak mudah pula bagiku untuk berpamitan pada Ana. Bocah itu sudah melekat dalam hatiku. Untuk itu aku memilih pergi tanpa berpamitan.
Author POV
Anik menghentikan taxi yang sudah dia pesan. Hanya dengan membawa beberapa potong baju dan ijazahnya dia pergi meninggalkan rumah itu.
Dia juga sengaja meninggalkan apapun yang pernah diberikan Langit dan Bu Mayang setelah dia menikah. Anik hanya membawa beberapa tabungan saat dia bekerja dengan keluarga Rey.
" Mbak, sudah sampai stasiun." ucap si sopir mengingatkan. Pria yang ada dibelakang kemudi sedari tadi memperhatikan Anik yang hanya termenung menatap keluar jendela.
"Terima kasih, Pak." ucap Anik dengan menyerahkan uang pada pria yang mengantarnya itu.
Sebenarnya dia tidak punya tujuan, pergi semendadak ini dan tidak punya keluarga yang dia tuju membuat dirinya memilih duduk sejenak memikirnya.
Setelah mendapatkan tujuannya, wanita itu kemudian melakukan registrasi. Dia akan pergi ke suatu tempat kota yang mungkin membuatnya tenang. Kota yang tidak terlalu ramai dari jangkauan orang-orang.
Suara peluit membuat wanita itu langsung beranjak dari duduknya. Di tatapannya gerbong kereta yang nampak dari kejauhan dan berhenti tepat di depannya.
Gegas dia masuk mencari bangku yang sesuai dengan nomer karcisnya. Dengan tidak sabar dia mendudukkan tubuh lemahnya.
Hari Ini cukup menguras tenaga, bahkan dia juga lupa jika seharian dia belum memakan nasi. Semua seperti mimpi,tapi ini bukan mimpi. Hidupnya kembali dibantingnya tanpa ampun keadaan.
Selama perjalan dia terus menatap ke jendela. Terlihat suasana petang dengan kerlip lampu yang membuat hatinya semakin teras di dalamnya.
###
Ana terus menangis. Gadis kecil itu tidak lagi menjadi sosok yang biasanya. Dia terus saja merajuk karena Langit tidak mengajak Anik untuk menjemputnya.
"Sayang, Mama Anik sedang membuat kue kesukaan Ana jadi tidak bisa ikut, Oke!" ucap Langit dengan mengusap kepala Ana.
Meskipun sudah dibohongi, tapi nyatanya Ana masih saja cemberut. Untung saja mobil segera membelok ke halaman rumah membuat Langit sedikit lega.
Ana langsung keluar dari mobil. Dia pun segera berlari memasuki rumah yang masih nampak gelap. Sementara itu langit berjalan membuntut saat Ana berhenti di depan pintu utama.
"Mama Anik, buka!" teriak Ana berharap wanita kesayangannya itu keluar untuk membuka pintu.
"Mama Anik." panggil Ana sekali lagi dengan berteriak hingga akhirnya Langit membukakan pintu.
Melihat suasana suasana rumah yang gelap Langit langsung masuk dan menyalakan semua lampu. Dapur yang selalu terang itu pun hanya mendapatkan sinar dari lampu ruang utama.
" Mama Anik kemana?" tanya Ana, tapi pria yang dia tanya justru fokus memperhatikan halaman belakang. Biasanya Anik sering menghabiskan waktu di sana.
Tanpa berkata lagi, Langit melangkah menuju kamar untuk mencari keberadaan istrinya, mungkin pertengkaran mereka membuat Anik enggan keluar kamar.
" Ceklek." Langit membuka kamar yang juga gelap dengan perasaan gelisah. Entah kenapa dia merasa jantung berdebar semakin kencang saat tidak menemukan wanita yang baru saja dia talak.
Saat menelisik seluruh sudut ruangan, tatapannya tertuju pada sepucuk surat yang tersalip dibawah bantal yang sering dia tiduri.
NB:. Yang suka cerita ini tolong kasih bintang.
ahh.. minyak telon emang.. 🤣